
Hari itu, Defa dan Nikita melangsungkan pernikahan, tepat di sebuah gedung yang tak jauh dari tempat tinggal nya, terlihat banyak tamu yang hadir di pesta pernikahan Defa dan Nikita, begitu pun rekan kuliah nya dulu.
Di atas pelaminan, Defa, yang berdiri di samping Nikita selalu memasang wajah sedih, wajah murung, sebaliknya Nikita terlihat sangat bahagia, dia tak peduli apa perasaan Defa, yang penting hari itu adalah hari yang sangat dia nantikan.
"Defa, senyum dong! kamu ini aneh, jangan memasang wajah seperti itu terus, nanti apa kata tamu undangan," bisik Ibu Defa yang dengan sengaja menghampiri Defa di atas pelaminan.
Defa tak menyahut, dia sendiri tidak menginginkan pernikahan ini, namun dia tetap harus menjalankan nya hanya untuk menyenangkan perasaan Ibu nya, Defa merasa bahwa dirinya tak berhak memilih kebahagiaan nya, selama ini hanya Ibu nya yang terus mengatur hidup nya.
"Defa, aku tak peduli apa perasaan mu, aku hanya ingin hari ini kamu menahan nya, dan jangan perlihatkan wajah mu yang kusut itu." Nikita tiba-tiba ikut berbisik di telinga Defa, Defa melirik sinis wanita di samping nya itu, namun Nikita membalas lirikan Defa dengan senyuman.
"Berpura-pura lah terlihat bahagia, Defa," imbuh Nikita, tak henti-henti nya melemparkan senyum bahagia sambil melirik Defa.
Defa ingin sekali pergi jauh, kini dia sangat membenci dirinya sendiri, yang tak bisa menolak keinginan Ibu nya, Defa bagaikan boneka yang sedang di mainkan oleh Ibu nya, meski sadar tapi Defa tak bisa berkutik.
Defa harus menerima alasan Ibu nya menikahkan dirinya dengan Nikita, karena untuk membayar rasa malu keluarga nya, yang batal menikah dengan Zovita, padahal undangan sudah di sebar, hanya menghitung hari, semua rencana nya sia-sia.
Nikita muncul, tepat sehari setelah insiden yang di alami Zovita di rumah nya, dengan alasan ingin menyampaikan ucapan duka untuk Zovita, dan pernikahan nya yang gagal.
Kehadiran Nikita lah yang membuat Ibu Defa muncul ide untuk menjodohkan nya dengan Defa, untuk menutupi aib Defa dan keluarga nya.
***
Di rumah Rika.
Rika sedang memandangi sebuah chat dari seseorang di ponsel nya, kemudian tertawa kecil.
__ADS_1
"Hari ini adalah awal dari derita mu, selanjutnya setiap hari yang kamu lewati akan terasa seperti neraka," ucap Rika yang berbicara sendiri, tertawa puas memainkan ponsel nya di tangan nya.
"Siapa yang kau maksud?" Irwan mengagetkan Rika dari belakang.
Irwan berdiri tegak menatap wajah Rika, Rika segera menoleh.
"Ah, aku hanya sedang menonton drama, kamu sudah pulang?" tanya Rika mengelak.
"Drama apa hingga membuat mu tidak mendengar suami mu datang?" Irwan kembali bertanya dengan wajah heran.
"Drama yang sangat menguras emosi, omong-omong, apa Vita memberi tahu mu bahwa dia ingin menetap disana?" tanya Rika.
"Apa? menetap di sana? untuk apa?" Irwan tak sempat melangkahkan kaki nya, langsung di buat kaget.
"Kamu sebaiknya segera menemui nya, jika ingin lebih jelas lagi dengan kemauan anakmu itu," ujar Rika lembut.
Rika menatap wajah Irwan yang selalu di penuhi dengan banyak alasan, yang sedikit membuat Rika muak.
"Pasti Vita sangat membutuhkan sosok ayah, kamu belum mendengar secara langsung apa yang dia mau, lagi pula selama ini hanya aku yang terus berbicara dengan nya," timpal Rika dengan tegas.
Irwan terdiam, menarik nafas panjang.
"Kamu kan juga ibu nya, kalian sesama wanita lebih mengerti, dia tak akan mendengar kan aku," celetuk Irwan yang begitu saja pergi menaiki tangga, meninggalkan Rika yang sedang mengajak nya berbicara.
'Dasar pecundang' Rika berdecak pelan.
__ADS_1
"Mengapa mamah menikahi seorang pecundang?" Rachel tiba-tiba datang dari luar dengan membawa buku di tangan kanan nya.
"Sayang, kamu sudah pulang?" sapa Rika menghampiri Rachel, putri pertama nya bersama Irwan.
"Aku dengar, kalian sedang membicarakan kak Vita, memang nya dia kenapa?" tanya Rachel, kali ini dia sangat penasaran.
Rachel mengajak Rika duduk di sofa.
"Tidak, mami hanya menyuruh papi untuk menemui nya, tapi dia selalu beralasan banyak urusan," jawab Rika sambil membelai rambut panjang Rachel.
"Dia hanya peduli dengan pekerjaan nya, bahkan meskipun aku serumah dengan nya, aku tidak pernah melihat papi duduk santai, makan di rumah bersama anak-anak nya," celetuk Rachel yang ikut kesal dengan sikap Irwan.
"Kenapa mami mencintai nya? lelaki yang hanya memikirkan diri nya sendiri, tidak memperlakukan mami dengan kasih sayang?" sambung Rachel terus berbicara kepada Rika, Rika hanya menarik nafas.
"Sayang, kelak kamu akan mengerti, pernikahan itu tidak melulu tentang cinta, ada yang lebih besar dari itu," ucap Rika menjelaskan kepada Rachel tentang arti pernikahan.
"Apa? keuntungan? bisnis?" Rachel bertanya dengan wajah yang kesal, lalu pergi meninggalkan Rika yang masih duduk manis di sofa.
Rika terus menarik nafas, ternyata selama ini anak-anak nya pun memperhatikan nya, Rika menganggap selama ini kedua anak nya sangat cuek, tidak memikirkan apa yang terjadi di rumah nya, rumah yang bagi Rika sangat besar dan terdapat halaman yang luas tidak menjamin suatu keluarga harmonis.
Di depan televisi, di luar rumah, semua orang menganggap kehidupan keluarga Irwan sangat bahagia, hidup dengan tahta dan kejayaan, padahal kenyataan nya Rika sangat membenci hidup nya yang penuh dengan kepalsuan, menikahi seorang lelaki untuk bisnis keluarga nya.
Kedua orang tua Rika, menikahkan Rika dengan Irwan untuk bisnis, karena Irwan adalah orang yang sangat di percaya oleh ayah Rika untuk melanjutkan karir politik nya, dulu nya Irwan merupakan anak buah ayah Rika yang sangat loyal di bidang yang sama, setelah menikahi Rika, Irwan juga menjalankan bisnis keluarga Rika.
Kehidupan Irwan berubah drastis, dan membuat nya punya nama besar dari keluarga Rika, Irwan kerap tampil di televisi karena membangun sebuah yayasan panti sosial, Irwan di kenal ramah dan dermawan.
__ADS_1
_____