Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Defa dan Nikita


__ADS_3

Defa yang masih penasaran dengan alamat Zovita sekarang tinggal, masih tidak menyerah, dia terus mencari informasi untuk bisa menemukan Zovita.


Sebenarnya hanya bukan penasaran, namun memang Defa yang masih sangat mencintai Zovita.


Nikita yang kini menjadi tunangannya, semakin jengah melihat Defa yang belum melupakan Zovita, bagaimana pun Nikita tak akan membiarkan Defa menemui Zovita, Nikita juga yang selama ini membuat Defa gagal menemukan alamat Zovita.


" Aku takkan membiarkan mu menemui Zovita lagi Def, akan ku lakukan berbagai cara untuk membuatmu membenci Zovita." Nikita terus bertekad kepada dirinya sendiri.


Sementara ibu Defa sangat mendukung langkah Nikita, dia yang sangat bangga akan punya menantu super model.


Nikita berjanji untuk membuat Defa jatuh cinta padanya.


" Def, kita mau makan apa?" tanya Nikita.


Nikita yang sedang berada di cafe untuk makan malam bersama Defa.


" Terserah kamu, aku ikut saja." jawab Defa singkat.


" Ah aku tidak tahu apa yang kamu suka? kamu mengajak aku makan lalu kamu tidak tahu mau makan apa?" ujar Nikita jengkel, awalnya memang Defa yang mengajaknya untuk makan malam di cafe.


" Aku mengajak kamu makan karena disuruh Ibuku, sebenarnya aku sangat lelah namun dia terus memaksa aku untuk mengajakmu pergi," sahut Defa.


" Haa?!! jadi kamu mengajakku hanya karena ibumu ya? kenapa sih Def, kamu terus mencari sesuatu yang seharusnya tidak kamu lakukan?" Nikita menimpali nya dengan kesal.


" Apa? sesuatu apa? aku melakukan itu atas dasar kemauanku sendiri, apa ada yang salah? aku dari awal memang seharusnya sudah menemui Zovita, karena Ibu yang selalu mengekang aku jadi begini kan!" ujar Defa tak kalah kesal.


" Untuk apa Def??? kamu seharusnya segera melupakan dia karena sebentar lagi kita akan menikah, kamu harus menerima fakta itu." tegas Nikita lagi.


Defa semakin tidak sabar dengan apa yang Nikita ucapkan.


" Kamu mau menikah dengan orang yang tidak mencintaimu?" tanya Defa membuat mata Nikita melotot seperti mau loncat keluar.


" Apa??? makanya kamu buka hati kamu lebar-lebar Def, dan lupakan dia!" Nikita semakin mengatur Defa.


Defa tersulut emosi.


" Siapa kamu berhak mengatur aku? kita hanya akan menjalani hubungan di atas kertas, tidak untuk hatiku, kamu mengerti!!! aku sangat tidak suka diatur oleh siapapun." sahut Defa yang beranjak bangun dari kursinya dan segera pergi meninggalkan Nikita sendirian.


" Aaaaa... mau kemana kamu???" Nikita memanggil Defa berteriak membuat seisi cafe menatapnya, dia tak peduli, dia hanya merasa bahwa Defa sudah membuatnya malu malam itu, sebelumnya tidak ada yang berani melakukan itu padanya.

__ADS_1


Defa tak menghiraukan teriakan Nikita, dia terus melangkah pergi.


" Kamu lihat saja Defa, kamu akan membayar untuk malam ini, kamu membuatku kehilangan martabat, dasar brengs*k kamu!" Nikita memaki Defa terus menerus.


Nikita meninggalkan cafe itu dengan rasa yang penuh emosi, dia akan melaporkan nya pada Ibu Defa dan pastinya Nikita sudah membayar orang untuk mengintai Defa jadi Nikita selalu tahu posisi Defa.


Nikita segera menelepon Ibu Defa.


" Haloo tante!!! aku tidak terima ya dengan perlakuan Defa malam ini, ingat tante aku tak akan tinggal diam dengan nya, bahkan dia tak bisa menghargaiku." Nikita berbicara kepada Ibu Defa dengan nada yang sangat kesal.


" Nikita.. Nikita, sabar!!! kamu ini belum apa-apa, Defa itu perlu waktu, kamu tidak bisa dengan cara instan dan memaksa Defa untuk cepat bisa mencintai kamu." jawab Ibu Defa mencoba menenangkan perasaan kesal Nikita.


" Butuh waktu berapa lama tante??? selama ini aku cukup sabar dengan sikapnya, bahkan Defa masih terus mencari keberadaan Zovita, ternyata keadaan nya yang seperti itu tak membuat Defa membencinya." sahut Nikita.


" Sudah soal Defa biar tante yang urus, biar tante yang kasih dia pelajaran karena sudah membuatmu kesal, kamu fokus saja memikirkan cara agar Defa tak bisa menemukan wanita itu."


Ibu Defa menyuruh Nikita untuk membuat Defa tak bisa menemukan Zovita lagi.


" Baik pokonya tante urus tuh anak tante!!!" timpal Nikita yang membuat telinga Ibu Defa kesakitan karena terus berbicara dengan teriakan.


Nikita segera menginjak gas mobilnya dan meninggalkan cafe dengan perasaan kacau.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu di rumah Zovita di malam hari yang membuat bi Wati heran, siapa yang bertamu malam begini?


Bi Wati segera membukakan pintu.


Bi Wati terkejut dengan kedatangan Alan yang di tangannya membawa sesuatu sepertinya makanan.


" Ada perlu apa ya malam begini?" tanya bi Wati.


" Malam bi, maaf ya mengganggu malam-malam, saya hanya mau memberikan ini untuk Zovita, kebetulan tadi habis dari luar mampir ada tukang martabak," ujar Alan memberikan bingkisan makanan kepada bi Wati.


" Oh gitu, kamu mau masuk dulu?" bi Wati menerima bingkisan dari Alan.


" Terima kasih bi, saya masih ada perlu tidak bisa masuk hanya menitipkan makanan saja, saya permisi ya." Alan pamit dan menolak untuk masuk.


" Yaudah, terima kasih ya." bi Wati mempersilahkan Alan.

__ADS_1


Bi Wati segera membuka martabak dari Alan, menaruhnya di piring dan segera memberikan ke Zovita.


Zovita yang sedang asyik menulis pun dibuat kaget oleh bi Wati yang datang membawa makanan ke kamarnya.


" Apa itu bi?" tanya Zovita menunjuk makana yang dibawa bi Wati.


" Ini vita tadi ada Alan datang bawa makanan, kamu ingat lelaki yang tempo hari kesini?" ujar bi Wati memberitahu Zovita.


" Iya saya ingat. Makanan apa bi?" Zovita lalu melihatnya, ternyata martabak.


Zovita dibuat ingat dengan kenangan bersama Ibunya tentang martabak itu, dia langsung tertegun hanya menatapnya seakan makanan itu membawa dia mengingat Ibunya.


" Kenapa Vita? kok bengong?" bi Wati menyadarkan lamunan Zovita.


" Tidak bi, iya bi makasih ya tapi kenapa harus martabak ya bi? aku jadi ingat dulu ibu sering membeli ini untukku, saat aku kecil sering makan martabak yang ibu bawa dari tempat kerjanya." jelas Zovita.


" Oh ya? bagus dong, kamu berarti suka sama martabak ini?" bi Wati melihatnya senang.


" Iya bi aku suka, apalagi dengan topping keju di atasnya itu favorit aku banget." sahut Zovita sambil tersenyum.


Bi Wati hanya menatapnya dengan senyuman.


" Aku ingat bi, saat kecil ketika Ayah meninggalkan kami, Ibu suka membelikanku martabak untuk menghibur aku yang sedih," Zovita mencoba mengingat masa kecilnya bersama ibunya yang untuk menghiburnya hanya bisa membelikannya martabak.


Padahal Ayahnya adalah orang yang bisa membelikan dia apa saja. Namun ketika menikah lagi Ayah Zovita seolah melupakan dia, tak pernah mengunjunginya sekadar untuk makan bersama, Ayahnya hanya fokus berkarir di dunia politik setelah menikahi Ibu tirinya yang memang keluarga terpandang.


" Yasudah vita di makan dulu ya, bibi tinggal jangan lupa dihabiskan." pinta bi Wati kepada Zovita lalu meninggalkan kamar Zovita.


" Iya makasih bi." sahut Zovita.


Namun begitu mau menyantap martabak itu tiba-tiba Zovita berfikir bahwa Alan ini apakah orang baik? apa dia ada maksud memberikannya makanan? lalu bagaimana jika makanan nya mengandung racun? Zovita terus berfikir yang aneh-aneh. Dia tidak boleh begitu saja percaya pada orang asing.


Zovita kembali meletakkan martabak di atas piring.


Sedikit rasa penasaran bi Wati yang langsung mengingat Alan, kenapa Alan bisa tahu bahwa Zovita bersama Ibunya punya kenangan dengan makanan itu?


Ah mungkin hanya kebetulan saja!


____

__ADS_1


__ADS_2