Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Pertemuan di taman


__ADS_3

Alan yang setiap hari melintas di taman depan rumah Zovita, seperti candu jika sehari saja tidak lewat rumah itu dia akan kepikiran, dibuat gelisah dan tak bisa tidur dengan lelap.


Dia dibuat bingung dengan rasa itu, namun dia hanya menganggap itu mungkin sebagian rasa karena tugas yang diberikan oleh ibu tiri Zovita.


Sering kali Alan hanya memandang Zovita bersama kucingnya dari jauh, ingin mendekat tapi pasti akan di semprot oleh Zovita, entah kenapa Zovita galak kepadanya.


" Hei, apa yang kamu lakukan disini setiap hari? kamu memata-matai aku ya, kenapa setiap aku disini bersama katy kamu ada disini juga," Alan di kejutkan oleh suara Zovita dari belakang, Alan yang sedang sibuk melihat handphone nya itu segera menoleh.


" Kamu ini bertanya atau apa sih? panjang sekali, untuk apa aku mata-matai kamu, memangnya kamu ini selebritis gitu?" sahut Alan untuk mengelak Zovita, padahal memang sebenarnya dia sedang mengawasi Zovita.


" Lalu kenapa kamu selalu ada disini? kan bisa di tempat lain," ujar Zovita heran.


" Ah disini kan tidak ada taman lagi kecuali taman ini, memangnya cuma kamu yang mau main di taman, aku juga. Aku kan sedang mencari inspirasi," timpal Alan tak kehabisan alasan.


" Aneh saja, setiap aku bermain disini bersama katy selalu ada kamu, seperti sedang mengawasi aku gitu." ucap Zovita membuat mata Alan terbelalak, ternyata selama ini Zovita mencurigainya.


" Kamu yang aneh, sebelumnya kamu tidak main diluar bersama kucingmu itu, baru sekarang-sekarang ini kulihat kamu main disini, benarkan?" Alan malah balik bertanya.


" Aku main kesini karena ada katy, sebelumnya kan tidak ada katy, paham kan?" jawab Zovita dengan nada yang sedikit kesal menatap wajah Alan.


Alan yang ditatap seperti itu langsung gugup, sempat kehilangan kata-kata, padahal dia sangat lihai dalam mengeluarkan argumen.


" Oh ya Zovita, kemarin malam aku bawakan makanan buat kamu, apa dimakan? kamu suka tidak?" Alan langsung mengalihkan pembicaraan yang lain.


" Oh jadi itu dari kamu? aku tidak makan, mungkin bi Wati," Zovita berpura-pura tidak tahu makanan itu dari Alan, padahal dia tahu sekali.


" Memang bi Wati tidak bilang itu dari aku? kan makanan itu buat kamu," ujar Alan mendengarnya kesal.


Zovita terdiam melirik Alan, dia tahu bahwa Alan kesal karena dia berbohong. Entah kenapa wajah Alan yang seperti itu membuat Zovita senang, mungkin kalau sedang berada dikamar dia ingin tertawa tapi dihadapan Alan dia harus jaga image.


Zovita melebarkan sedikit senyum di bibirnya.


" Kenapa kamu bawakan makanan untuk aku? kita kan bukan teman, aku takut jika makanan itu mengandung racun makanya tidak kumakan." jawaban Zovita yang langsung membuat Alan menarik nafas, kali ini Alan benar-benar kesal, niatnya baik malah di curigai seperti itu.

__ADS_1


" Gila kamu!! apa maksudnya aku mau meracuni kamu? apa gunanya? aku hanya memberi makanan sebagai salam perkenalan kita malah mikir yang tidak-tidak,"


Alan balik melihat wajah Zovita yang tidak menunjukan penyesalan, padahal Alan tidak tahu bahwa Zovita hanya mengerjainya.


" Ha ha ha kamu ternyata bisa kesal juga ya? padahal aku bercanda, aku hanya mau melihat wajah kesalmu." ucapan Zovita lalu membuat Alan perlahan tenang, nafasnya kini kembali normal.


" Jadi ternyata kamu makan? lalu apa maksudnya berbohong? lagi pula ya untuk apa aku meracuni kamu? buang-buang tenaga, uang juga untuk membeli racun." ujar Alan sedikit lega.


" Siapa tahu kamu suruhan orang untuk membunuh aku, bisa jadi kan? apa salahnya aku hanya waspada," ujar Zovita menimpali Alan.


Alan terdiam, lalu berfikir baru kali ini wanita yang ada di hadapannya ini banyak berbicara, biasanya sikapnya yang dingin dan wajahnya yang selalu di tekuk membuat Alan hari ini bahagia, karena menurutnya karena kehadiran dia, Zovita kembali dengan senyumannya.


" Waspada boleh tapi berprasangka buruk terhadap orang lain gak boleh lah," timpal Alan.


Zovita yang masih menggendong kucingnya itu belum sempat duduk, dia langsung melihat kehadiran Alan lalu menghampirinya.


" Oke sorry sorry, bukan maksud berprasangka buruk, tapi mm-makasih ya," akhirnya ucapan yang di tunggu Alan itu keluar dari Zovita.


" Its oke, Zovita sepertinya kamu bukan warga asli sini, boleh aku tahu asal kamu?" Alan tiba-tiba langsung membuat wajah Zovita berubah, Zovita yang sedari tadi bibirnya mengeluarkan senyum kini langsung menghilang.


Wajah Alan menunjukan rasa penasaran, yang seolah dia tidak tahu apapun tentang Zovita.


" Mengasingkan? untuk apa? memang apa yang lakukan sampai harus mengasingkan diri?" tanya Alan.


Zovita sepertinya sudah tidak nyaman, dia tidak mungkin menceritakan apa yang dia alami kepada orang yang baru dia kenal, pasti jika tahu, semua orang tak akan mau mendekatinya lagi.


" Kamu tidak harus tahu sesuatu yang tidak perlu kamu tahu!!! maaf Alan aku permisi, hari sudah mulai gelap." Zovita langsung memperingati Alan dengan nada kesal, sambil menggendong Katy, Zovita pergi meninggalkan Alan sendirian.


" Zovita!!!! aku tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu, maaf jika aku lancang, aku hanya mau menjadi teman kamu." Alan berusaha megejar langkah Zovita yang semakin jauh, namun terhenti mungkin Zovita butuh waktu untuk bisa bercerita.


Alan menyerah pada langkahnya, dia tak seharusnya membuat topik pembicaraan yang menyinggung Zovita, seharusnya dia menanyakan hal-hal yang ringan saja atau membuat sedikit lelucon agar Zovita tertawa.


Saat Zovita yang kembali ke dalam rumahnya, di halaman rumah ada Sofie, sepertinya Sofie memperhatikan Alan dan Zovita dari dalam rumah.

__ADS_1


" Vita, kamu dari mana?" Sofie bertanya kepada Zovita yang baru saja melangkahkan kakinya di pintu.


" Sofie? aku habis main sama Katy." jawab Zovita singkat sambil berlalu.


" Main sama Katy?"


" Sofie!!!!" tiba-tiba Bi Wati muncul di hadapan Sofie, sengaja agar Sofie tidak terlalu banyak bertanya kepada Zovita.


" Mamah kenapa sih suka tiba-tiba muncul kalau aku mau berbicara sama Zovita? aneh banget." Sofie menimpali Ibunya dengan sangat kesal, dia merasa bahwa Ibunya selalu melindungi Zovita, padahal anaknya itu dia.


Sofie segera pergi meninggalkan Bi Wati.


" Sofie, kamu apaan sih? lagian kamu juga suka nongol tiba-tiba kalau masuk kesini, kan kamu bisa salam dulu atau ketuk pintu," ujar Bi Wati mengejar Sofie yang melangkah ke luar rumah.


" Mah, aku kan anak mamah bukan tamu!!! aku kesini mau ketemu mamah, malah gini!!" jawab Sofie berhenti sejenak lalu pergi lagi.


" Mau kemana lagi kamu Sofie?" teriak bi Wati yang melihat Sofie berlari ke luar halaman rumah kemudian menyeberang jalan.


" Semuanya gara-gara si Zovita, aku bahkan mau ketemu ibu kandungku saja susah, wanita sialan!!!!" maki Sofie yang terus berjalan tanpa rem, langkah kakinya sangat cepat dan mulutnya yang terus memaki tak berhenti.


Saat terus melangkah menyusuri jalan, Sofie tak sengaja melihat sebuah mobil yang sedang berhenti, tampak seorang lelaki di dalam sedang bertanya kepada orang lewat.


Sofie penasaran, mungkin sebaiknya dia dekati mobil itu.


Sofie langsung mendekati lelaki di mobil itu, dan bertanya.


" Maaf? anda sedang mencari siapa?" Sofie langsung menanyakan kepada lelaki itu.


Lelaki di dalam mobil itu memakai kaca hitam lalu melepasnya.


" Saya sedang mencari seseorang." jawabnya.


Sofie semakin penasaran.

__ADS_1


_____


__ADS_2