Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Mengungkap identitas


__ADS_3

Sofie yang terus tersenyum bahagia, berjalan menuju halaman depan rumah, udara pagi yang sejuk itu meneduhkan suasananya. Bi Wati segera menyusul Sofie ke arah depan.


Bi Wati keluar dengan tas selempang di bahunya, lalu mengunci pintu depan dan mengajak Sofie pergi.


"Loh, kenapa di kunci mah? nanti si Vita bagaimana?" Sofie berbalik badan dan menatap pintu itu.


Bi Wati memasukan kunci itu kedalam tas nya sambil tersenyum, "Dia bisa lewat pintu samping kan? ayo keburu siang, panas loh."


Bi Wati dan Sofie berjalan menuju pintu gerbang, saat melangkahkan kaki nya keluar bi Wati dikejutkan oleh kedatangan Alan yang berdiri tepat di depan pintu gerbang.


Sofie terkejut dan menarik nafas dalam, "Alan? sedang apa kamu disini?"


Bi Wati terdiam memandang wajah Alan dengan sedikit ketus, ada sesuatu yang Alan tidak tahu tentang bi Wati. Alan mengira bahwa bi Wati adalah sosok wanita polos dan lugu, padahal selama ini bi Wati berpura-pura tidak mengetahui apapun tentang hubungannya dengan Rika.


"Kalian mau kemana? terburu-buru sekali." Alan masih berdiri menghalangi langkah bi Wati dan Sofie.


"Kamu sendiri mau apa?" tanya bi Wati dengan wajah ketus nya.


"Aku mau menemui Vita, ada kan?" tanya Alan lagi lalu menyeringai halus.


Sofie tersenyum sinis lalu menatap penampilan Alan dari atas hingga ke bawah, "Aku sepertinya kemarin melihatmu dengan pakaian ini, di cafe asia. Benarkan?"


Alan mengernyitkan dahi, tidak terkejut sama sekali, lalu kembali tersenyum.


"Lalu? kenapa kamu tidak menyapaku?" jawab Alan merespon ucapan Sofie dengan santai dan tidak terkejut sedikitpun, Sofie yang terkejut dengan pernyataan Alan.

__ADS_1


"Jadi benar kamu adalah orang nya si wanita brengs*k itu?" Sofie bertanya dengan bersungut-sungut.


Bi Wati mengangkat satu alisnya, mendengus kesal memandang Alan.


"Apa maksudmu orang nya? memang apa salahnya aku bertemu dengan orang penting? ini namanya bisnis," timpal Alan.


"Sudahlah Alan, itu urusanmu, ayo Sofie kita pergi jangan membuang waktu," ajak bi Wati yang menarik tangan Sofie.


Sofie meringis kesakitan karena tangannya ditarik cukup keras oleh Ibunya.


"Kalau kamu mau bertamu, ketuk saja!" imbuh bi Wati yang berbalik badan.


Alan menoleh ke arah bi Wati yang terus menarik tangan Sofie, "Tunggu! apa kalian mau pergi membeli ponsel baru?"


Teriakan Alan membuat bi Wati dan Sofie berhenti lalu menoleh ke arah Alan, Sofie terkejut dengan sesuatu yang ditunjukan oleh Alan di tangan kanannya.


Sofie berusaha meraih ponsel di tangan Alan namun Alan dengan sigap menariknya ke dalam saku, Alan tersenyum melihat wajah bingung Sofie dan Ibunya.


"Alan, kenapa ponsel Sofie ada padamu? apa kamu orang yang telah mencurinya di cafe itu?" tanya bi Wati yang kesal menghampiri Alan.


Alan berjalan dua langkah ke depan, mengeluarkan ponsel itu lalu menyerahkannya tepat didepan wajah Sofie.


Sofie mengambil ponsel itu, namun Alan enggan melepaskannya, Alan terus menahan meski tangan Sofie sekuat tenaga menariknya.


"Lepaskan Alan! apa yang kau mau?" pekik Sofie yang berusaha menarik ponselnya di tangan Alan.

__ADS_1


Sofie berhasil mengambil ponsel itu dengan tubuh yang sedikit terpental, karena Alan sengaja melepaskan ponsel cukup kencang.


"Alan kamu benar-benar mau menunjukan wajah aslimu ya?" Bi Wati melangkah tepat dihadapan Alan, Alan hanya membalasnya dengan senyuman manis.


Sofie memeriksa isi ponselnya lalu terkejut, karena ponselnya dalam keadaan layar yang remuk sehingga tidak bisa lagi menyala. Sofie merasa sedang dipermainkan oleh Alan, Alan bahkan tidak menunjukan gestur khawatir sama sekali.


"Anda juga sepertinya, mulai memperlihatkan wajahmu bi," sahut Alan membuat bi Wati kebingungan, Sofie menoleh ke arah Ibunya.


"Apa maksudmu?" Sofie terheran-heran menatap Alan.


"Lebih baik kita segera pergi, Sofie. Kita hanya membuang waktu jika terus disini, jangan pedulikan dia!" Bi Wati kembali menggandeng tangan Sofie dan mengajaknya meninggalkan Alan.


Alan tersenyum dan melambaikan tangan kepada Sofie dan bi Wati, bi Wati menatap Alan kesal penuh amarah dari jarak jauh.


'Awas kamu ya Alan, berani mengusikku.'


Alan melihat ke dalam halaman rumah dari pintu gerbang lalu menelepon Zovita agar segera keluar.


Setelah berhasil membujuk Zovita agar keluar rumah, Alan bersender di mobilnya, sesekali melihat jam tangannya, Alan bersiap memberi penjelasan kepada Zovita karena ia tahu Sofie pasti sudah memberitahu Zovita tentang pertemuannya dengan Rika di cafe, itu juga yang membuat Zovita salah paham kepadanya.


Alan selalu menyiapkan rencana cadangan setiap beraksi, karena pengalamannya. Ia juga sudah menyiapkan kata-kata untuk Zovita, berupa sanggahan atau bisa dibilang kata pembelaan agar Zovita tidak membencinya karena telah dibohongi.


Beberapa menit kemudian, Zovita keluar dari pintu gerbang dengan memakai setelan kaos polos dan jeans. Alan menatap takjub melihat Zovita, meski wajahnya sedikit cemberut namun dimata Alan wanita yang ada di depannya itu sangat mempesona.


"Vita..."

__ADS_1


Alan terus tercengang menatap Zovita tanpa berkedip, hanya beberapa hari tidak melihatnya membuat Alan sangat merindukannya.


____


__ADS_2