Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Percakapan serius bersama Alan


__ADS_3

Alan yang semakin terhanyut oleh kebersamaan nya bersama Zovita, dia merasa ingin lebih banyak tahu tentang sisi hidup Zovita.


" Zovita, kamu akan stay disini? atau suatu saat nanti akan kembali?" tanya Alan yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Entah, aku sendiri belum yakin dengan tujuan hidup ku, kini aku telah kehilangan arah dan tujuan untuk menggapai mimpi, semuanya telah sirna," ucap nya dengan lirih sekali, Alan jadi ikut sedih mendengarnya.


" Kamu harus berjuang, kamu tidak boleh lemah, tidak boleh kalah oleh keadaan, hanya dirimu sendiri yang mampu menyelamatkan hidup mu." tegas Alan sangat bijak, Zovita melihat ke arah Alan, kini dia memberikan senyuman nya kepada Alan yang membuat Alan jadi salah tingkah.


" Kamu benar, kita tidak boleh mengandalkan orang lain, hanya diri ku sendiri yang harus berjuang untuk hidup ku ini," balas Zovita.


" Kamu pasti bisa!!! aku melihat, kamu adalah orang yang cerdas, kamu punya semangat yang tinggi, tidak mudah menyerah," sambung Alan terus menyemangati Zovita


Zovita terenyuh, mungkin baginya Alan lelaki pertama yang memberi nya terus semangat setelah kepahitan yang dia alami.


" Terima kasih, Alan. Semoga apa yang kamu katakan itu benar, semoga saja aku benar-benar kuat untuk terus melangkah di balik keadaan yang aku alami." ujar Zovita semakin lega setelah ada orang yang memberi nya semangat.


Alan mengangguk, kemudian tersenyum malu.


Wajah nya seketika memerah, tanda bahwa Alan di buat salah tingkah oleh Zovita.


Tiba-tiba, Rika muncul menuju ke arah Alan dan Zovita.


" Vita!!!! sedang apa kamu disini?" kemunculan Rika membuat Zovita dan Alan kaget.


Alan langsung memalingkan wajah nya, dia takut Rika berpikir yang tidak-tidak tentang nya.


" Aku sedang mengajak Katy bermain?" jawab Zovita sembari menunjukan kucing nya kepada Rika.


" Katy???" Rika menatap kucing yang tak asing itu, kucing itu sebenarnya adalah umpan yang di siapkan oleh Rika untuk Zovita.

__ADS_1


Rika menatap wajah Alan, tatapan nya sedikit sinis, Alan yang melihat tatapan Rika seperti itu langsung segera berpamitan kepada Zovita.


" Zovita, aku pergi dulu ya ada sedikit urusan." pamit nya sambil tersenyum ke arah Rika.


" Tunggu!!! siapa dia Vita?" Rika mencoba menahan Alan yang hendak melangkah pergi.


Alan yang seolah belum mengenal Rika hanya tersipu.


" Perkenalkan, dia Alan. Dia mahasiswa yang sedang kkn di desa ini," Zovita memperkenalkan Alan kepada Rika, sontak saja membuat Rika geli.


" KKN??? Oh ya?" balas Rika dengan nada geli nya itu, apa yang membuat Alan mengelaui nya dengan menjadi seorang mahasiswa yang sedang KKN?


" I-iya, saya Alan." sahut Alan yang memberikan tangan nya ke arah Rika untuk memperkenalkan diri, Rika tidak membalas tangan Alan, dia hanya tersenyum sedikit.


" Maaf sebelumnya, Vita. Aku harus segera pergi karena sedang di tunggu oleh orang, aku permisi, ya." Alan kembali berpamitan kepada Zovita dan Rika.


Rika hanya menatap Alan dengan menaikkan bibir atas nya.


Zovita menatap Alan dengan senyuman.


Alan semakin jauh dari pandangan nya.


" Vita, kamu tidak boleh sembarangan bergaul dengan seseorang, kamu tidak tahu tujuan dia apa, dia orang baik atau bukan," Rika menasehati Zovita yang sudah dia anggap seperti anak kandung nya sendiri.


" Ibu, aku tahu dan aku juga bisa melihat siapa saja orang yang tulus kepadaku," jawab Zovita membuat Rika menarik napas.


Dari situ, Rika melihat bahwa Alan semakin dekat dengan Zovita, meskipun niat awal nya dia menyuruh Alan mengawasi Zovita, namun ada perasaan khawatir jika Zovita menyimpan perasaan kepada Alan, Rika jelas melihat senyum Zovita yang penuh harap kepada Alan.


" Vita, apa kamu masih meimikirkan Defa?" tiba-tiba Rika memberi pertanyaan yang membuat Zovita spot jantung.

__ADS_1


" Aku sudah membuang dia jauh-jauh dari hidupku, seandainya bisa aku hanya ingin hilang ingatan saja," jawab Zovita yang tidak sadar air mata nya terjatuh, padahal tadi dia sangat ceria.


" Kamu tahu kan selama kamu berduka, selama kamu terkena musibah, dia malah melangsungkan pertunangan dengan teman kuliah mu dulu, nama nya Nikita." ucap Rika, Zovita yang sedang menangis langsung kaget mendengar nya.


" Apa??? jadi wanita nya itu Nikita? aku sudah menduga nya, karena dia selama ini sangat bersikeras mendekati keluarga Defa, biarkan saja, lagi pula aku takkan peduli lagi dengan nya," sahut Zovita mencoba tetap kalem, sakit hati nya terhadap Defa sudah memuncak sehingga sudah tak ada lagi cinta yang tersisa untuk Defa.


" Bagus, memang kamu harus tegas, Vita. Kamu harus tunjukan padanya kalau kamu bisa tanpa dia, kamu berhak mendapat kan kebahagiaan juga tentunya bukan dari lelaki seperti nya." sambung Rika yang selalu berapi-api mengingatkan Zovita.


Zovita merenung, meski di bibir nya dia terlihat sangat kuat, di dalam hati nya dia sangat rapuh, dia tak memungkiri bahwa dia masih menyimpan rasa terhadap lelaki yang sudah 3 tahun bersama nya, sulit untuk menerima orang baru.


" Vita, jika suatu saat nanti Defa datang menemui mu, jangan beri ruang untuknya, dia hanya akan menambah luka baru, jangan peduli kan dia lagi." tegas Rika lagi, dia tahu bahwa cepat atau lambat Defa akan segera menemukan Zovita.


" Aku sudah memblokir semua akses nya, nomor nya, akun sosial media nya, serta email nya. Aku disini untuk memulihkan diri, aku sadar bahwa dia memang tak menginginkan aku." timpal Zovita lagi, kali ini Zovita terlihat sangat tegar mungkin karena dia juga tekah menerima ucapan semangat dari Alan.


Rika tersenyum lebar, Zovita berlalu dari pandangan nya meninggalkan Rika yang masih berada di taman halaman belakang rumah Zovita.


Rika ingin mengatur waktu untuk bicara dengan Alan, dia hanya ingin memberi peringatan kepada Alan untuk tetap menjaga jarak kepada Zovita, dan Alan tidak boleh melewati batas.


Pak Jodi yang muncul langsung berbisik ke telinga Rika, Rika seketika menyeringai.


" Memang gadis itu mencurigakan, saya sudah memperingatkan Alan dan yang lain untuk berhati-hati, pak Jodi batalkan pertemuan ku dengan Alan, aku yakin putri si Wati itu akan terus mengikuti ku." ujar Rika yang sudah mengetahui bahwa dirinya di ikuti oleh Sofie, gerak gerik nya di awasi oleh Sofie.


" Oke, Miss." jawab pak Jodi.


" Oh ya, pak Jodi. Kamu juga harus memperingatkan putra mu itu untuk menjaga jarak dengan Zovita, ku lihat dia semakin dekat saja, tugas dia hanya untuk mengawasi Zovita, paham?" tambah Rika, pak Jodi langsung menoleh ke samping dimana Rika segera berlalu pergi.


" Iya, Miss." jawab pak Jodi singkat, dia juga tak mau anak nya itu dekat dengan putri dari keluarga Irwan, dia tahu betul seluk beluk Irwan sekeluarga.


Pak Jodi segera mengeluarkan ponsel nya dan menelepon Alan.

__ADS_1


____


__ADS_2