
Defa memasuki rumah nya dengan raut wajah yang kesal dan tidak senang, membuat Ibu nya tergerak untuk menghampiri nya.
"Defa, kenapa dengan wajahmu? apa yang membuatmu kesal?" Ibu Defa segera menghampiri Defa yang hendak membuka lemari es, Defa mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya.
"Mah, mamah serius mau punya menantu seperti Nikita? apa nanti tidak akan menyesal?" Defa kembali menaruh botol minum nya ke dalam lemari es.
"Kamu ini aneh, undangan sudah di sebar loh, memangnya kenapa dengan Nikita? dia cantik, dan pekerja keras," sahut Ibu Defa yang kemudian duduk di sofa di ruang keluarga.
"Itu saja tidak cukup, Mah, aku masih belum begitu mengenalnya lebih dalam, bahkan kita hanya melihat dari luarnya saja," tambah Defa yang duduk di samping Ibu nya.
"Ah, itu mah kamu saja yang belum bisa membuka hati untuknya, sejauh mamah dekat dengannya, dia tidak ada masalah, bahkan track record keluarga nya juga baik," celetuk Ibu Defa yang terus membuat Defa yakin.
"Mamah yakin sudah mengetahui semua tentang nya? aku merasa, bahwa dia tidak tulus, ada sesuatu yang sedang dia incar," ujar Defa mulai mencurigai sikap Nikita.
"Sesuatu itu, ya kamu! masa kamu tidak peka sih, dia itu mencintai kamu sejak kuliah, Defa." Ibu Defa terus membela Nikita.
"Mah, aku menikahi dia karenamu, bukan karena aku mencintainya, aku mau membayar semua kekecewaan mamah kemarin di pernikahan aku yang gagal." Defa dengan tegas memberitahu Ibu nya, lalu Defa berdiri dan meninggalkan Ibu nya yang masih duduk di ruang keluarga.
"Defa!!" Ibu Defa terus memanggil Defa, namun sangat cepat langkah Defa sudah menaiki tangga untuk menuju ke kamar nya.
Ibu Defa menarik nafas dengan pelan dan mengelus dada nya, dari raut nya sebenarnya dia tak ingin melakukan ini kepada putra nya, tapi dia lebih menjaga nama besar nya dari pada perasaan anak nya sendiri.
Defa adalah anak tunggal, sedari kecil Defa selalu di manja, sampai Defa tumbuh dewasa, Ibu nya masih terus mengatur hidup Defa, bahkan Ibu Defa tidak rela jika putra satu-satu nya setelah menikah, akan lebih memilih tinggal bersama pasangan nya.
Ayah Defa adalah seorang Tentara, yang jarang mengunjungi nya, Ibu Defa selalu merasa kesepian, maka dari itu Ibu Defa tak ingin jika Defa juga pergi dari rumah nya, meski nanti Defa menikah.
***
__ADS_1
Di rumah Alan.
"Lan, ada apa dengan mu? lantas apa yang kau bawa itu? kamu ini mata-mata apa tukang dagang sih, malah bawa jajanan banyak sekali." Bagus penasaran dengan Alan yang pulang ke rumah dengan membawa satu tas makanan ringan.
Alan melempar tas berisi makanan ringan itu ke arah Bagus yang sedang duduk di ruang tamu, Bagus refleks menangkap nya.
"Aduh, malah di lempar sih, kamu kenapa sih? bukan nya jawab pertanyaanku," celetuk Bagus kemudian segera membuka tas dan mengeluarkan makanan ringan itu.
Bagus yang hobi makan sangat senang melihat banyak makanan yang di bawa oleh Alan, Bagus langsung membuka satu persatu makanan itu dan segera memakan nya.
"Makanan aja nomor satu kau," celetuk Alan memandang Bagus.
"Lan, jadi tadi kamu belanja? terus tidak jadi ikuti si Vita?" tanya Bagus sambil mengunyah makanan, hampir tak jelas suara nya karena mulut nya terisi penuh oleh makanan.
"Ya jadi, aku ikuti dia ke minimarket, dia malah memergoki aku, aku jadi pura-pura belanja," timpal Alan sambil melirik ponsel nya di atas meja.
"Ha ha ha, kocak kau, terus?" lanjut Bagus.
Bagus menatap Alan serius.
"Wah, hati-hati nanti kau jatuh cinta sama dia, ngapain segala di temani jalan?" celetuk Bagus lagi, Alan terdiam, ada satu hal yang Alan takuti yaitu semua perkataan Bagus itu akan jadi nyata, sebab Alan merasa bahwa dia sangat Aneh akhir-akhir ini.
Alan lalu menyandar kan kepala nya ke sofa, menatap atap rumah kemudian tersenyum sumringah, semua itu di saksikan oleh Bagus, Bagus menatap ke arah yang di tatap oleh Alan, lalu menggaruk kepala nya, Bagus merasa ada yang aneh dengan tingkah sahabatnya.
"Lan!!" Bagus berusaha memanggil Alan yang masih terus menatap langit-langit.
"Woi, Lan!!!!" teriak Bagus.
__ADS_1
Alan yang terkejut langsung melonjak, karena Bagus berteriak di telinga nya.
"Brengs*k kau, bikin telingaku sakit," ujar Alan yang mengorek telinga nya.
Alan langsung meraih ponsel nya.
"Aku dari tadi panggil-panggil kau loh, Lan, kau kenapa sih? terus ada apa sama atap itu? kenapa kau pandangi terus lalu tertawa?" imbuh Bagus terus bertanya, Alan menepuk bahu Bagus yang lebar.
"Ah, kau aja yang aneh, siapa juga yang memandang atap sambil tertawa? mata kau itu yang rabun, coba besok periksa mata!" Alan sambil berlalu menuju kamar mencoba meledek Bagus.
"Hei, Lan, kurasa kau ini yang sakit, apa tadi kesambet ya? jelas-jelas kau ini aneh malah bilang aku yang aneh, curiga aku, Lan," teriak Bagus yang masih sibuk mengunyah makanan sambil melirik ke kamar Alan.
"Curiga apa?" Alan menimpali Bagus dari dalam kamar nya.
"Kamu sedang kasmaran ya?" celetuk Bagus sedikit pelan, Alan langsung mendengarkan ucapan Bagus dengan serius.
Kasmaran? Alan terus berpikir, mengapa Bagus bisa berpikir begitu ya? gumam nya.
"Benar kan, Lan?" tambah Bagus yang masih belum berhenti meledek Bagus.
Alan tidak merespon ucapan Bagus, Alan menatap layar ponsel nya, membuka galeri, Alan diam-diam menyimpan foto Zovita lalu terus memandangi wajah nya dengan fokus, tiba-tiba perasaan itu muncul lagi, darah Alan mengalir sangat deras, jantung nya berdegup lebih kencang, Alan memperbesar gambar itu selama beberapa detik, lalu tersenyum.
"Aneh, ada apa denganku? kenapa rasanya sangat ingin melihatnya, padahal baru tadi bertemu, kenapa wajah nya terus muncul di kepalaku, ah sialan." Alan bergumam, berbicara sendiri dengan lirih.
Alan langsung mematikan layar ponsel nya dan memaruhnya di samping tempat tidur nya, Alan terus mengusap wajah nya, karena bayangan Zovita terus muncul.
Sampai malam tiba, Alan tidak bisa memejamkan mata nya, lagi-lagi bayangan Zoviya terus menari-nari di kepala nya, Alan mengeluarkan ponsel nya, ingin mengirim chat untuk menyapa Zovita, namun kembali dia hapus, Alan terus meulis lagi kemudian dia hapus kembali.
__ADS_1
Alan dibuat sakit kepala, kemudian melemparkan ponsel nya ke kasur, kedua tangan nya memegang kepala nya, ada apa dengan dirinya? perasaan apa ini? pikir Alan terus memberikan tanda tanya pada dirinya sendiri.
_____