Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Kunjungan Alan


__ADS_3

Zovita yang kini di sibukkan dengan kucing nya seperti nya sudah mulai bangkit dari keterpurukan nya, berbulan bulan lama nya dia mengasingkan diri dari orang - orang, rekan kerja nya bahkan teman kuliah nya dia dia tak mau menemui nya.


Selama itu juga dia harus hidup di bawah ketakutan, kepedihan, dan rasa benci kepada diri nya sendiri. Orang akan mengira bahwa dia telah di telan bumi, tak akan menampakan diri lagi ke dunia ini, karena bagi Zovita manusia itu hanya hidup untuk diri nya sendiri, tak akan ada yang peduli dengan kesedihan orang lain, kini dia tak mudah begitu saja untuk mempercayai orang yang datang dengan berpura - pura simpati padanya.


Sudah cukup derita dan luka yang dia rasakan sendiri, dia lebih suka bercerita lewat tulisan dan mengubur dalam - dalam mimpi nya.


Masih di seberang halaman rumah yang di tempat Zovita, lelaki yang di anggap oleh bi Wati orang misterius itu masih tetap wara wiri di sekitar rumah nya.


Sofie pun sudah tak asing lagi dengan lelaki itu, dia tahu dari cerita Ibu nya.


"Maaf, jika kamu mau bertamu ke rumah itu lantas kenapa hanya menatap di seberang sini?"


Alan di kejutkan oleh kedatangan Sofie yang muncul dari arah belakang.


"Oh iya, apa kamu juga tinggal di rumah itu?" Alan malah balik bertanya.


"Ha? tidak. Hanya ibu ku yang tinggal disana, apa mau ku antar kamu? mari sekadar untuk minum teh atau berteduh dari panas terik matahari." Sofie tanpa rasa malu mengajak Alan untuk masuk ke dalam rumah, dan Alan mengikuti langkah Sofie dari belakang.


Sofie mengetuk pintu dan tak lama bi Wati membukakan pintu.


Bi Wati terbengong melihat kedatangan anaknya bersama dengan seorang lelaki yang tidak asing lagi bagi nya, bi Wati mempersilahkan masuk.


"Sofie??? kamu sama siapa? silahkan masuk," dengan sopan bi Wati menggiring Alan untuk mempersilahkan nya duduk.


"Ini mah, katanya ada yang mau bertamu tapi dia tak berani masuk hanya melihat dari seberang jalan, aku ajak saja kesini seperti nya dia pemalu," jawab Sofie yang sudah banyak menjelaskan kepada Ibu nya, padahal maksud tujuan Alan bukan itu.


"I-Iya benar, aku tidak mau lancang bertamu ke rumah orang." Alan mengiyakan saja agar bi Wati percaya.


"Iya kamu kan si mahasiswa yang ngekost dekat warkop itu kan? sebentar saya buatkan minum."


Bi Wati menuju ke arah dapur dan kembali membawa dua gelas minuman.


Sofie terus memandangi lelaki yang ada di hadapan nya itu, sepertinya Sofie yang penasaran dan ingin tahu tentang lelaki itu.


"Siapa namamu? apa kamu benar mahasiswa?" tiba-tiba Sofie bertanya, mata Alan langsung terbelalak.

__ADS_1


"Panggil aku Alan, iya aku datang ke desa ini karena ada tugas kampus." jawabnya santai.


"Sudah kuduga, kamu beneran mahasiswa, karena kemarin orang desa sini banyak yang menanyakan tentang kehadiran mu disini, apa kamu masih lama di desa ini?"


Bi Wati hanya memandang sedikit malu karena Sofie terus bertanya, padahal menurutnya itu hanya basa basi Sofie.


"Lumayan lama, soalnya aku belum menyelesaikan tugasku," sambung Alan.


"Duh, Sofie kamu ini terus bertanya, pertanyaan kamu ini terlalu banyak, seharusnya saat pertama kali kamu bertemu seseorang kamu jangan banyak memberinya pertanyaan," ujar Bi Wati yang memotong agar Sofie tak lagi banyak bertanya.


Di tengah perbincangan mereka bertiga, Katy kucing Zovita tiba-tiba muncul, aneh nya kucing itu langsung menghampiri Alan seolah dia mengenal nya.


" Husss Katy husss." Bi Wati mencoba mengusir Katy.


"Loh Katy, kamu ngapain ? sini baby." Zovita muncul.


Alan mengalihkan pandangan nya ke arah Zovita, baru kali ini dia benar-benar melihat wajah Zovita sangat dekat, padahal dia pernah melihatnya sewaktu Zovita hampir tertabrak mobilnya, tapi kali ini yang dia lihat di depannya berbeda, tepat di depan wajah Alan, Zovita mengambil kucing itu dari pangkuan Alan.


Alan menyadari sesuatu, ternyata Zovita sangat cantik, kulitnya yang putih bersih serta memiliki mata yang indah membuat Alan tertegun untuk beberapa detik.


"Eh tunggu, Siapa nama kucing nya? dia sangat cantik." Sebelum Zovita melangkah dari hadapan Alan, Alan bertanya.


"Namanya Katy, terima kasih," ujar Zovita menjawab Alan namun tak melihat ke arahnya.


Alan masih mau menahan Zovita, tangan nya hampir meraih tangan Zovita namun Sofie tiba-tiba saja muncul memutuskan pandangan Alan pada Zovita yang berlalu menuju kamarnya.


"Ini minumnya, di minum dulu, Alan." Sofie memberikan segelas minuman kepada Alan, padahal Alan masih mau bertanya pada Zovita.


"Iya terima kasih, dia siapa namanya? waktu itu aku belum sempat tanya?" Alan membuat Sofie sedikit kecewa karena yang dia tanyai bukan dirinya malah Zovita.


Sementata dirinya sama sekali tidak ditanya.


"Zovita, anak pemilik rumah ini hanya mau berlibur sementara waktu disini." Bi Wati yang mencoba menjawab pertanyaan Alan, dan menatap wajah Sofie sambil memberikan isyarat mata nya kepada Sofie agar Sofie segera pergi.


"Oh namanya Zovita?" Tentu Alan sudah paham betul namun dia berhasil memainkan drama seolah dia belum tahu.

__ADS_1


"Lalu tujuanmu kemari ada apa? kamu ada perlu dengan nya atau-- ?" lanjut bi Wati bertanya.


Sofie malah menyerobot ucapan Ibu nya.


"Ih si mamah, jelas-jelas aku tadi bilang kalau dia ini aku ajak kesini untuk minum teh dan bertamu saja agar lebih mengenal warga sini," ucap Sofie seperti tak ingin Alan cepat pergi.


"Sebenar nya mau menyapa dia (Zovita) dan menanyakan kabar nya saja, karena aku melihat dia seperti orang yang sedang sakit," jawaban Alan mematahkan perasaan Sofie.


Sofie sepertinya tak ingin mendengar ini, dia yang penasaran dan mau mengenal lebih jauh lelaki itu namun Alan malah punya tujuan lain.


"Kamu lihat sendiri kan, dia baik-baik saja dan maaf Zovita ini tak mau di temui oleh siapapun, dia hanya ingin sendiri," ujar bi Wati kepada Alan, Alan tentu sudah lebih tahu hanya sekedar basa basi.


"Memangnya kenapa? apa dia ada masalah? apakah dia sedang ingin menenangkan diri?" Alan bertanya banyak.


Bi Wati melirik Sofie memberi tahu lewat matanya bahwa Sofie harus segera membawa lelaki ini pergi.


"Alan, kalau hanya untuk bertamu sekedar minum teh atau ngobrol sama kita, kamu boleh, tapi tidak tentang Zovita, kita ini di tugaskan untuk menjaga Zovita dan perasaan nya."


Sofie memberi tahu Alan karena menurut nya Alan sudah semakin jauh ingin tahu tentang Zovita, selain Zovita yang di larang untuk berhubungan dengan siapapun, Sofie dan Ibu nya juga si tugaskan untuk memberi jarak kepada Zovita dan orang asing yang ingin menemui nya.


Alan tersenyum di sudut bibirnya, dia harus berpura-pura menjadi orang asing yang tidak tahu apapun tentang keluarga itu, padahal dia juga bekerja untuk orang yang sama.


Bi Wati mempersilahkan Alan untuk segera keluar jika sudah selesai dengan urusannya. Sementara Sofie, menggiring Alan menuju pintu keluar.


Sebelum memasuki mobil nya, Sofie mengejar Alan.


"Alan, jika kamu ingin bertanya dan ingin tahu sesuatu, kamu bisa bertanya padaku, bebas mau tanya apapun, tapi tidak bisa di rumah ini," ujar Sofie menahan pintu mobil Alan.


"Apapun?? kamu yakin? lantas dimana kalau tidak di rumah ini?" Alan bertanya lagi, sepertinya Sofie bisa dia manfaatkan untuk kepentingan nya.


"Ini nomorku, kamu hubungi saja, dahh." Sofie meninggalkan Alan dengan memberi nya secarik kertas.


Alan menatap isi kertas itu, tersenyum lebar dan sebelum pergi dia menatap jendela kamar Zovita.


Senyum Alan memberi pesan bahwa dia akan kembali ke rumah ini dan bagaimana pun, Zovita akan menyambut kedatangan nya.

__ADS_1


______


__ADS_2