Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Sebuah rahasia


__ADS_3

Di cafe asia, tempat kerja baru Sofie, sering bertemu dengan bermacam-macam sifat orang, sering menonton drama seorang istri yang melabrak suaminya sedang berselingkuh, bahkan sering menjumpai wanita sebayanya berkencan dengan lelaki yang lebih tua.


Langit terlihat sangat gelap, cafe yang biasanya ramai pengunjung, sore itu semua orang seperti sedang mengurung diri di rumahnya masing-masing, Sofie yang jenuh karena tidak ada kesibukan, memilih duduk santai menunggu pengunjung datang.


Di pojokan cafe tertutup tiang yang menjulang, Sofie menyelinap mengeluarkan ponsel dari sakunya, mengambil kesempatan di waktu sepi. Dengan wajah serius, Sofie menoleh ke kanan kiri berharap manager nya tidak menemukan ia yang sedang bersantai, saat menoleh kearah kiri Sofie menyadari telah melihat sosok laki-laki yang tidak asing, ia seperti sedang menunggu seseorang, Sofie berniat ingin menghampirinya namun tiba-tiba muncul wanita paruh baya menghampiri lelaki itu.


'Bukankah itu Alan? dan wanita itu sepertinya ibu tiri Vita, wanita yang menjengkelkan. Apa yang mereka lakukan disini?'


Sofie merasa ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk mengambil foto, Sofie yang terlalu ceroboh tidak tahu jika saat dirinya mengambil foto ternyata lampu ponselnya menyala, sontak saja Alan menoleh, dengan sigap Sofie segera bersembunyi, khawatir Alan telah melihatnya


Sofie bergegas menuju dapur, kepada temannya meminta untuk menggantikan sementara karena Sofie beralasan sakit perut.


"Duh, putri aku minta tolong ya, perutku sakit sekali, tolong gantikan aku sebentar, aku perlu meminum obat," pinta Sofie menghampiri temannya yang tengah beristirahat.


"Kamu habis makan apa? istirahatlah jangan pikirkan pekerjaanmu! segera minum obat ya!" Putri, akhirnya menggantikan Sofie di meja kasir.


Sofie tersenyum menyeringai, telah berhasil mengambil foto Alan dan Rika yang tengah berduaan, Sofie berfikir yang tidak-tidak, sudah dari awal ia tak percaya jika Alan dan Rika tidak ada hubungan, pasti tidak mungkin hanya sebatas wawancara, sangat tidak masuk akal pikirnya.


Sofie terlalu asik memandangi foto di ponselnya, tiba-tiba dari arah belakang seseorang muncul lalu merebut ponsel yang sedang ia pandangi, sontak saja Sofie terkejut lalu berlari mengejar lelaki yang telah mengambil ponselnya. "Hei, kembalikan ponselku!"


Lelaki itu terus berlari semakin kencang, membuat Sofie kewalahan untuk megejarnya. "Siapa dia? mengapa dia begitu lancang mengambil ponselku, brengs*k."


Nafas Sofie tersengal-sengal, dengan tubuh yang lelah, ia bersandar disebuah kursi belakang yang berada di persimpangan jalan, Sofie kehilangan jejak lelaki yang telah merampas poselnya.


Lelaki misterius yang mengenakan masker hitam itu, memasuki sebuah mobil lalu menyerahkan ponsel Sofie.


"Bagus, ini bayaranmu." Terlihat wanita cantik yang memiliki warna bibir sangat merona itu memberikan beberapa lembar uang kepada lelaki itu.


Lelaki itu pergi setelah menerima uang, ia segera berlari.

__ADS_1


Alan dan Rika muncul bersamaan menghampiri Nikita, wanita yang menyuruh lelaki itu untuk merampas ponsel Sofie.


Nikita tersenyum puas, menyerahkan ponsel itu ke tangan Rika, "Ini Miss."


Rika segera memasuki mobil yang ditumpangi Nikita, kemudian Alan menyusul dari pintu sisi kiri.


"Aku mau melihat apa saja yang sudah wanita itu dapatkan," ujar Rika membuka ponsel Sofie satu persatu.


"Hancurkan saja ponselnya!" seru Nikita.


"Tidak, kita lihat dulu apa isinya," imbuh Alan.


Rika menjelajahi isi ponsel Sofie, ia memulai untuk membuka galeri nya, ternyata Sofie beberapa kali memotret Alan dan Rika yang sedang berbincang, Sofie juga merekam video.


Rika tercengang, dengan wajah liciknya Rika tersenyum, "Ibu dan anak sama saja, sama bodoh dan gampangan."


"Maksudnya, Miss? siapa yang gampangan?" tanya Nikita penasaran sambil melepas kacamata nya.


"Jadi itu gadis yang kau maksud, Miss?" tanya Jodi yang masih di posisi memegang kemudi ikut nimbung.


Nikita tersenyum. Alan dibuat bingung dengan situasi itu, ia seperti orang bodoh yang terus mendengar omong kosong. Seandainya ia tak menghargai ayahnya, mungkin Alan lebih memilih meninggalkan keluarga Irwan karena penuh dengan manusia licik di dalamnya.


"Kamu buang saja ponselnya, lemparkan saat mobil melaju kencang!" perintah Nikita yang menyerahkan ponsel itu kepada Alan.


"Tapi, Miss. Aku tahu bagaimana kondisinya, untuk memiliki ponsel ini Ibunya sangat bekerja keras," ucap Alan yang mengiba didepan Rika, Rika yang terkejut langsung tertawa cekikikan membuat Nikita menutup telinga nya. Jodi segera melajukan mobilnya.


"Aku tak peduli, kamu bahkan mengira bahwa Ibunya sangat polos ya?" Rika memberi Alan teka-teki, lalu kembali tertawa, namun Alan melihat mata Rika yang berkaca-kaca.


Jodi melihat Rika dari jendela kecil diatasnya, kemudian melirik kearah Alan yang duduk disampingnya, Jodi menggelengkan kepala memberi isyarat kepada Alan untuk tetap diam.

__ADS_1


"Miss, kau bilang Ibunya bekerja sudah lama pada nenek Zovita, sangat setia sekali ya?" Nikita kembali menyinggung tentang bi Wati, Ibu Sofie.


"Menurutmu apa yang membuatnya setia melayani keluarga Irwan?" tanya Rika semakin membuat Alan dan Nikita bingung.


"Mengapa setelah neneknya meninggal, lalu Ibunya Zovita meninggal, dia masih terus bekerja dirumah itu?" Nikita terus menerus bertanya, seakan memancing Rika agar menguak semuanya.


"Menurutmu siapa yang memperkerjakan dia?" tanya Rika.


Alan dan Nikita menjawab bersamaan. "siapa?"


Alan melirik ke ayahnya, sepertinya tidak penasaran sama sekali, ayah Alan mungkin menyimpan rahasia keluarga Irwan dan Rika karena suda menjadi supir keluarga Rika sejak Rika masih sendiri.


"Tentu saja Irwan Suryadarma." Rika menyebutkan nama suaminya dengan ucapan yang lantang sekali, Rika menyembunyikan sesuatu dibalik mata nya dengan terus melihat keluar jendela mobil yang sedang melaju kencang.


Nikita tidak meneruskan lagi pertanyaannya, Alan menatap pemandangan hijau di balik jendela, Jodi terus mengemudi dengan wajah ringan dan santai.


Sore itu, Alan ikut Rika ke kota, karena sebelumnya Alan tidak menjalankan tugas untuk mengawal Irwan bersama Bagus.


"Jodi ke apartemen dulu, biarkan Nikita pulang, lalu kita kembali ke rumah!" perintah Rika, Nikita melihat kali ini Rika sangat lemah tidak menggebu-gebu seperti biasanya.


Nikita sangat penasaran dengan kisah Rika dan wanita yang sudah bekerja pada nenek Zovita, bi Wati.


'Aku yakin, ada sesuatu diantara kalian, aku berjanji akan segera mengetahuinya, mungkin saja ini cara untuk meruntuhkan Surya Grup.'


Nikita terus tersenyum menyaksikan kejadian hari ini, tidak sia-sia ia melakukan perjalanan panjang untuk menemani Rika bertemu dengan Alan.


Alan menatap ponselnya, membuka beberapa pesan, dari Bagus, ada juga dari Zovita, rasa rindu itu tiba-tiba muncul, Alan dibuat gelisah sepanjang hari oleh perasaan itu, aneh sekali namun ia sangat ingin merasakannya setiap hari.


'Vita, aku tidak tahu kenapa sosokmu selalu muncul dalam ingatanku, aku benar-benar merindukanmu.'

__ADS_1


___


__ADS_2