
Di panas yang terik, Zovita tak sengaja bertemu dengan Alan dan Bagus yang sedang belanja di minimarket, Bagus terlihat sedang menunggu antrian ATM, sementara Alan berada di depan pintu minimarket sambil memainkan ponsel nya.
"Alan!" sapa Zovita dengan membuka pintu minimarket.
Alan terkejut, menoleh ke arah Zovita.
"Hai, Vita," sahut Alan langsung memandang Zovita dengan senyuman manis nya.
"Kamu sedang apa? mengapa hanya berdiri disini?" tanya Zovita melemparkan senyum manis juga kepada Alan, Alan menatap nya tak berkedip.
"Oh, ini aku sedang mengantar temanku si Bagus," jawab Alan dengan menunjuk ke arah Bagus, Zovita menoleh kepada seseorang yang di tunjuk Alan.
Tak lama, Bagus pun menghampiri Alan.
"Oh, ya, Vita kenalkan ini Bagus temanku." Alan memperkenalkan Bagus kepada Zovita, Zovita tersenyum.
"Bagus." Bagus menyalami Zovita.
"Wajahmu seperti tidak asing, apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" ungkap Zovita membuat Bagus terkejut, Bagus mengingat sebelumnya apakah dia pernah bertemu dengan Zovita atau tidak.
"Oh ya? sepertinya kita baru bertemu, apakah wajah saya sangat pasaran?" timpal Bagus.
Zovita tertawa, Alan melirik Bagus.
"Memang temanku ini sangat pasaran wajahnya, Vita, kamu kemana saja pasti akan bertemu seseorang yang mirip dengan nya," celetuk Alan sambil meledek Bagus.
Zovita dan Bagus pun ikut tertawa.
"Oh ya, kamu mau membeli apa?" tanya Alan.
"Sebenarnya hanya mampir, tadi aku sedang berkeliling, lalu diluar sangat panas," sahut Zovita yang menyibakkan rambut nya di depan Alan.
__ADS_1
Alan menatap wajah Zovita dengan antusias, seperti belum pernah melihat wanita cantik, Bagus menepuk bahu Alan, karena Bagus melihat Alan yang mulai aneh di depan Zovita, padahal di depan wanita mana saja, Alan tak pernah begini.
"Oh gitu, berkeliling? sendirian?" tanya Alan kaget.
Zovita mengangguk, lalu mengelus Katy yang dia gendong.
"Memang kamu tahu jalan?" sambung Alan.
"Kemarin Sofie mengajakku berkeliling, aku jadi tahu jalan disini, Sofie juga mengajakku untuk menyusuri tempat-tempat indah," ujar Zovita.
"Sofie? tidak biasanya kamu berdua dengan Sofie?" Alan masih penasaran.
"Iya, kebetulan aku lewat depan rumah nenek nya, Sofie langsung menghampiriku dan menemani aku," tambah Zovita.
Bagus yang keberadaan nya merasa tidak di anggap, hanya menatap Alan dan Zovita secara bergantian, Bagus memberi kode lewat kedipan mata kepada Alan, namun Alan tak merespon, terus saja mengabaikan nya, asik berbicara dengan Zovita, Bagus pun mulai jenuh, tangan nya mencubit pinggang Alan, Alan memekik kesakitan.
"Ayo lan, kita masih ada tugas loh," bisik Bagus di telinga Alan, Alan tersenyum ke arah Zovita dengan sedikit merasakan sakit karena cubitan Bagus.
"Tidak, oh iya, Vita, maaf kita lagi banyak tugas, jadi aku duluan ya, atau kamu mau ku antar pulang?" Alan menawarkan untuk mengantar Zovita pulang.
"Tidak usah, Alan, aku masih ingin membeli sesuatu, kamu duluan saja," timpal Zovita menolak.
"Tapi, kamu tidak apa-apa?" sambung Alan yang mengkhawatirkan Zovita.
Zovita menggeleng, Bagus yang tidak sabar berpamitan kepada Zovita lalu bergegas membuka pintu untuk keluar dari minimarket.
"Vita, mungkin nanti sore aku akan ke taman, jika kau sempat datanglah." Alan pamit kepada Zovita dengan menyampaikan pesan untuk Zovita agar mau menemui nya sore nanti di taman.
"Aku usahakan," sahut Zovita.
Alan melambaikan tangan diikuti dengan senyuman, Zovita membalas senyuman Alan.
__ADS_1
Bagus sudah menunggu Alan di dalam mobil, menyaksikan Alan yang terus melihat ke arah Zovita meski sudah diluar minimarket, sepertinya tebakan Bagus tentang Alan dan Zovita itu benar, namun Alan selalu mengelak bahwa dia tak ada perasaan apapun kepada Zovita.
Alan memasuki mobil nya, melihat Bagus yang terus memandangi nya.
"Apa yang kau lihat?" Alan penasaran dengan tatapan Bagus yang sangat aneh.
"Lan, kamu menyukai wanita itu ya?" tanya Bagus, Alan yang terkejut melirik Bagus, lalu mengambil sebatang rokok dari saku nya.
"Maksudmu?" Alan mencoba mengelak di depan Bagus.
"Tidak usah kau tutupi, aku melihat dari mata mu, kamu juga sangat peduli pada nya," tambah Bagus dengan meraih rokok yang di pegang Alan, lalu menaruhnya kembali ke dalam saku, Bagus sangat tidak suka jika ada yang merokok saat berada di dalam mobil.
Alan tidak merespon ucapan Bagus, Bagus mengemudikan mobil melaju dengan cepat ke jalan raya.
Alan terus menatap spion mobil itu, memikirkan ucapan Bagus, Alan juga bingung dengan gejolak di dalam hati nya, dia tidak bisa membedakan antara rasa cinta dengan kasihan, di satu sisi Alan sangat mengasihani Zovita karena peristiwa yang menimpa nya itu sangat berat, di sisi lain, Alan tidak bisa berbohong bahwa dia mengagumi Zovita yang lembut dan memiliki aura yang positif, setiap kali memandang nya pasti akan dibuat terpesona.
"Jangan melamun kau, orang kalau sedang jatuh cinta itu kaya gini, pasti dibuat bucin," ledek Bagus yang menyadarkan lamunan Alan.
"Apa itu bucin?" tanya Alan, Alan berusaha menyembunyikan apa yang dia rasakan, tetapi di depan Bagus, Alan takkan bisa.
"Bucin pun kau tak tahu, banyak-banyak buka medsos makanya, biar gak kuper," ledek Bagus lagi.
"Medsos? aku juga main medsos kok, cuma kau ini bahasa nya kaya anak jaman sekarang saja," timpal Alan.
"Memangnya kau bukan anak jaman sekarang? oh iya kau ini jaman purba, ya." Bagus terus meledek Alan lalu tertawa terbahak-bahak melihat wajah Alan yang serius.
Alan tak menanggapi Bagus, Alan kembali menatap jalanan di atas mobil yang melaju kencang itu.
Bagus yang mengendarai mobil itu, teringat dengan ucapan Zovita bahwa ternyata dia secara tidak sengaja pernah mengawal Irwan, ayah Zovita saat menghadiri pemakaman nenek nya.
_____
__ADS_1