
Sofie yang berada di balik kamar, melihat kebahagiaan keluarga Zovita, terbesit rasa iri dan kesal, padahal sebelumnya dia adalah seseorang yang baik dan pendiam, kehadiran Zovita ke rumah itu yang membuatnya berubah, apalagi dirinya yang tertarik kepada Alan sangat takut jika lelaki yang dia suka akan di ambil juga oleh Zovita.
Kebahagiaan Zovita bersama Ayah dan Ibu tirinya di meja makan membuat bi Wati juga ikut senang, bi Wati yang selama ini tidak melihat kebersamaan Zovita bersama keluarganya semenjak Ibu Zovita meninggal dunia.
" Kenapa mamah malah senyum-senyum gitu sih? aneh sekali," Sofie menggerutu sikap Ibu nya yang terlihat bahagia menyaksikan kebersamaan keluarga Zovita.
" Kamu ini, seharusnya kita ikut senang karena melihat orang bahagia Sof, kamu yang aneh." ujar bi Wati membalas ucapan Sofie.
" Ya kan itu keluarga mereka mah, bukan keluarga kita!" timpal Sofie tegas.
Sontak bi Wati kaget.
" Sofie!!! kamu harus ingat ya, kita hidup dari keluarga Zovita, sejak kamu kecil keluarganya lah yang menerima kita disini, sampai mamah bisa membesarkan kamu itu karena keluarga Zovita." bi Wati menegaskan kembali kepada Sofie, namun ternyata Sofie malah terlihat tidak senang.
" Mah, sampai kapan kita harus berhutang budi pada Zovita dan keluarganya? mamah kan sama dia cuma sebatas kerja, jadi sudah sepantasnya mamah mendapat bayaran." tegas Sofie lagi, sikap nya membuat Ibu nya tidak mengenali nya lagi, Sofie yang dulu lemah lembut, ceria dan pendiam itu kini berubah.
" Sofie!!! jangan asal bicara kamu, ini bukan sekedar urusan pekerjaan, Mamah juga hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka sebagaimana mereka selama ini yang memperlakukan kita dengan baik, apa salahnya?"
Bi Wati yang semakin tidak mengerti dengan pikiran Sofie itu kesal.
" Ah terserah mamah saja, lama-lama mamah juga akan memperlakukan Zovita itu seperti anakmu sendiri melebihi aku, anak kandungmu!" ucap Sofie dengan nada yang tinggi, kemudian pergi keluar dari kamarnya dengan langkah kesal dan marah.
Bi Wati hanya menghela napas dan mengelus dada, dia tak mau berdebat dengan anaknya sendiri, mungkin Sofie hanya sedang kesal saja, bi Wati berusaha mengerti dengan perilaku anaknya itu.
" Miss, akan kembali hari ini atau akan bermalam disini dulu?" bi Wati bertanya kepada Rika yang sedang menikmati udara segar di halaman belakang rumah itu.
Suasana di desa itu sangat sejuk, karena dekat dengan area pegunungan, meski tengah hari namun udara tidak panas sama sekali.
" Wati!!! saya mendapat kabar si Defa itu mau datang lagi kesini, saya khawatir saat saya kembali ke kota dia akan datang." ungkap Rika yang khawatir.
" Lalu, harus bagaimana Miss? haruskah kita pergi dahulu agar dia tidak bisa menemui Zovita?" jawab bi Wati memberikan saran kepada Rika.
Rika berfikir sejenak, pasti Zovita tidak akan setuju dengan ide itu. Dia tahu betul Zovita.
__ADS_1
" Zovita takkan setuju, apakah dia sempat bertanya saat Defa datang?" tanya Rika balik.
" Dia bilang hanya samar mendengar suara orang datang, karena waktu itu dia sedang tertidur pulas, Miss" sambung bi Wati.
Rika meraih ponsel nya dan menelepon seseorang, dia merencanakan sesuatu dan meyuruh anak buahnya agar menghalangi mobil Defa supaya tidak bisa masuk ke desa ini.
" Oke, saya sudah menyuruh orang untuk menghalangi si Defa agar tidak bisa kesini." ujar Rika memberikan isyarat kepada bi Wati untuk segera pergi dari hadapan nya.
Tak lama Irwan muncul, sambil mengelap kaca mata nya yang penuh kabut Irwan juga sesekali menghirup rokok di tangan nya.
" Apa yang kamu rencanakan?" tanya Irwan membuat Rika kaget, rupanya dia mendengan pembicaraan Rika dengan Wati.
" Kamu dengar saja , Mas. Aku hanya menyuruh beberapa orang untuk menghalangi si Defa kesini, itu saja." jawab Rika singkat.
" Siapa yang memberitahu alamat rumah ini kepada nya? dia tidak mungkin bisa begitu saja tahu, karena Indonesia itu luas." Irwan heran, mata nya yang melirik ke dalam rumah agar Zovita tidak mendengar dirinya yang sedang berbicara dengan Rika.
" Itu dia, Mas. Aku sedang mencari tahu," sambung Rika.
" Aku masih bingung, sepertinya aku masih tetap disini untuk beberapa hari, Mas. Lagi pula anak-anak di rumah sudah ku titip kepada Susi." ujar Rika yang sudah mempercayakan anak-anak nya kepada Susi, Ibu Alan sekaligus asisten pribadi nya.
" Baik, aku berkemas dulu." Irwan memasuki rumah dan segera mengemasi barang nya ke dalam mobil.
" Rika, aku titip Vita. Jika ada apa-apa kamu hubungi aku saja." sebelum pergi meninggalkan Rika, Irwan berpesan kepada istrinya itu.
" It's oke." jawab Rika.
Rika melepas kepergian Irwan dengan lambaian tangan, sementara mobil lain datang ke rumah itu yang tak lain adalah mobil pribadi Rika yang di bawa oleh sopirnya, yakni Ayah Alan.
" Wati, kamu suruh masuk si Jodi, dan siapkan kamar belakang untuk nya, selama disini dia yang akan mengantarkan saya kemana pun." Rika memerintah bi Wati.
Bi Wati menyambut Jodi, sopir pribadi Rika untuk masuk ke dalam rumah.
" Silahkan, pak Jodi. Saya siapkan kopi ya," bi Wati mempersilahkan Jodi masuk dan duduk di samping halaman rumah itu.
__ADS_1
Bi Wati berjalan menuju dapur, namun pikirannya saat melihat Jodi tidak asing, wajah nya sangat mirip dengan lelaki yang pernah datang ke rumah itu, Alan maksudnya.
Zovita melihat Jodi saat sedang mengejar kucing ke halaman samping rumah nya, dia tersenyum ramah.
" Nona Vita," sapa Jodi kepada Vita sambil tersenyum.
Zovita hanya membalas senyum nya.
" Bi, kenapa dia disini? untuk apa? bukankah Ayah sudah kembali?" Zovita menghentikan langkah bi Wati yang membawa sebuah cangkir kopi.
Bi Wati belum sempat menjawab, tiba-tiba Rika muncul.
" Pak Jodi mau ikut bermalam juga disini Vita, untuk menemani aku saat pergi kemana pun, selain sopir dia juga bodyguard ku," ujar Rika menjelaskan kepada Zovita tentang Jodi.
" Ibu akan bermalam disini? kukira tadi pergi bersama Ayah," jawab Vita sedikit bingung.
" Iya. Aku masih khawatir padamu, lagi pula tidak cukup bertemu kamu hanya dalam satu hari, iya kan?" timpal Rika tersenyum lebar.
Zovita sebenarnya cukup senang dengan kepedulian Ibu tiri nya itu, namun dia masih sedikit takut dengan kehadiran lelaki lain di rumahnya, dia masih ada rasa trauma dengan lelaki.
Zovita kembali ke kamar dan mengunci pintu kamar nya dengan rapat.
Sikap nya yang seperti itu membuat Rika mengerti bahwa Zovita masih belum bisa menghilangkan trauma nya itu.
" Wati, kamu siapkan kamarku di sebelah kamar Vita ya, di atas." ujar Rika.
" Iya, Miss." bi Wati segera menaiki anak tangga untuk merapihkan kamar Rika.
Sementara pak Jodi telah di siapkan kamar di bawah, dekat dapur.
Rika takut membuat Zovita mengingat kenangan buruk nya, makanya dia menjauhkan sosok lelaki di rumah nya itu.
_____
__ADS_1