
" Sofie, kamu harus ingat! kamu boleh tinggal disini tapi jangan macam-macam ya, jangan buat ulah." bi Wati berbicara kepada Sofie yang sedang bahagia karena dia akan tinggal bersama Ibu nya, Sofie terus tersenyum dan melirik ke sudut kamar Zovita.
" Mah, memang aku mau buat ulah apa? aku kan hanya mau tinggal bersama ibuku sendiri," jawab Sofie sambil menenteng ransel berisi baju ke kamar yang sudah di siapkan oleh bi Wati.
" Ya kamu jangan berbicara yang membuat hati Zovita terluka, kamu harus menjaga ucapanmu, paham?" tegas bi Wati lagi.
" Mah, percaya padaku!" ucap Sofie sekali lagi dia terus merekahkan senyum nya.
Sofie langsung mengeluarkan seluruh isi ransel nya ke dalam lemari kamar nya itu, memang ini yang dia inginkan selama ini, dia ingin menempati rumah yang megah itu.
Sofie merebahkan tubuhnya di kasur.
" Ahhh empuknya, coba dari dulu aku bisa tinggal disini, betapa senangnya." ucap Sofie yang terus mengelus kasur itu.
" Hai Sofie!!! kamu sudah beres?" suara Zovita mengagetkan hayalan Sofie.
" Eh Vita, bikin kaget saja. Iya sudah," timpalnya.
" Aku senang kamu bisa tinggal disinu, rumah ini tidak sepi lagi, dan Sofie.. Maaf ya untuk sikapku selama ini yang cuek," ujar Zovita yang sangat ramah.
Sofie merespon senyuman ramah Zovita dengan senyuman sinis, dia merasa bahwa Zovita mungkin pura-pura ramah terhadapnya.
" Kamu kemana saja Vita? sekarang kamu sudah bisa tersenyum ya?" celetuk Sofie.
Wajah Zovita langsung berubah datar.
" Iya Sof, aku harus selalu tersenyum mulai sekarang, untuk apa aku terus mengurung diri." Zovita menjawab Sofie penuh percaya diri.
" Ya bagus lah." timpal Sofie singkat.
" Semoga kamu betah ya disini, jangan sungkan jika kamu perlu sesuatu." tambah Zovita masih berusaha memberikan senyuman nya kepada Sofie yang terus memasang wajah jutek.
" Tentu saja aku betah, aku tinggal bersama ibuku sendiri, mana mungkin aku tidak senang, iya kan?" celetuk Sofie membuat Zovita menghela napas, dia teringat Ibu nya sendiri.
Memang betul, tinggal bersama Ibu itu adalah suatu kebahagiaan.
" Ya sudah Sofie, aku mau kembali ke kamar." Zovita mengucapkan pamit kepada Sofie.
Sofie hanya melontarkan sedikit senyum di sudut bibirnya.
***
Di halaman rumah, terdengar suara mesin mobil yang baru saja berhenti, bi Wati bergegas ke luar dan segera menyambut nya.
__ADS_1
Rika dan Irwan, ayah Zovita datang.
Mereka ingin melihat Zovita, karena selama berbulan-bulan tidak melihatnya.
Rika turun dari mobil nya, di susul Irwan.
" Wati, ini tolong bawakan barang saya!" Rika menyuruh bi Wati membawakan barang-barang nya ke dalam.
" Iya Miss," jawab bi Wati yang segera membopong barang yang di bawa Rika.
" Dimana Vita wat?" tanya Irwan sepertinya sangat rindu kepada putrinya.
" Ada di kamar pak, nanti saya panggilkan," ujar bi Wati.
Rika dan Irwan pun segera memasuki rumah dan menuju ke ruang tamu.
Tak lama Sofie pun muncul namun hanya mengintip di pintu tengah, dia enggan mau keluar menemui Rika dan pak Irwan.
" Hei Sofie!! apa yang kamu lakukan, bantu mamah bawakan air untuk pak Irwan, cepat!" pinta bi Wati menarik tangan Sofie ke dapur.
" Duh mamah, aku nggak mau ah mamah saja." ujar Sofie menolak.
" Hei jangan begitu kamu, kita harus patuhi sopan santun selama di rumah ini, ini bawa!" timpal bi Wati menyerahkan nampan berisi air minum ke tangan Sofie.
Sofie dengan wajah kesal membawakan minuman itu kepada Irwan.
" Kamu Sofie ya?" Irwan bertanya kepada Sofie.
Sofie hanya mengangguk.
" Sudah besar ya kamu ternyata," sambung Irwan mencoba basa-basi.
Sofie membalas Irwan dengan Senyuman dan langsung bergegas menuju dapur.
Tak lama Zovita keluar untuk menemui ayahnya.
" Vita sayang.." ucap Irwan menyambut Zovita dan segera memeluknya, Zovita pun membalas.
Rika yang masih duduk hanya tersipu.
Rika menarik tangan Zovita untuk segera duduk di sampingnya.
" Kamu bagaimana kabarnya? Ayah senang melihatmu sudah lebih baik, Vita." ujar Irwan terlihat bahagia.
__ADS_1
" Aku seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja bukan?" sahut Zovita lirih sekali.
" Zovita, kamu masih mau disini atau mau kembali?" tanya Rika tiba-tiba.
Zovita tercengang, bingung mau menjawab apa, dia sendiri belum ada rencana.
" Aku belum punya rencana ke depannya, aku bahkan tidak tahu harus memulai dari mana," jawabnya masih dengan suara yang sangat lembut.
Rika menatapnya penuh haru, sebagai sesama wanita dia merasakan apa yang Zovita alami, bahkan mungkin dia takkan sanggup untuk seperti Zovita sekarang.
" Vita, aku tahu apa yang kamu rasakan, jangan terlalu memikirkan yang jauh dulu, yang penting kamu tenang dulu pikirannya." ujar Rika secara bijak membuat Zovita tenang.
" Iya betul, apapun keputusanmu Ayah pasti dukung, Vita" sambung Irwan bersemangat.
" Ayah yakin? apapun keputusanku?" Zovita bertanya kembali kepada Irwan.
Irwan memandang wajah Zovita, dia tidak mau di ragukan oleh putrinya.
" Apa kamu menganggap Ayah ini tidak seirus? seorang Ayah pasti akan mendukung putrinya," ungkap Irwan dengan tegas.
" Benar, Vita. Kamu tahu? Ayahmu ini sangat menyesal setelah kepergian Ibumu, dia mencoba lebih bertanggung jawab sama kamu, setiap malam dia hanya menangisi kamu, putrinya." pungkas Rika yang melebih-lebihkan cerita, Irwan hanya melirik ke arahnya.
" Jika begitu, terima kasih Ayah. Namun saat ini aku belum bisa ikut bersama mu, aku tidak terbiasa tinggal bersama mu," timpal Zovita pelan namun sangat menusuk, Irwan masih belum memenangkan hati nya.
Rika hanya menatap halus wajah Suaminya.
Dia sudah tahu apa yang akan dia dengar dari Zovita.
" Tidak apa, Vita. Kita tidak memaksa, kamu pasti perlu waktu, kamu harus tahu bahwa meskipun aku tidak melahirkanmu, aku tetap menjadi Ibu mu, kamu mengerti?" ujar Rika yang selalu mengeluarkan kata bijak dari mulutnya, meski hatinya kesal dia tak pernah mau terlihat.
Rika menatap layar ponsel nya, dia mendapat pesan dari Alan bahwa ternyata Defa akan kembali ke rumah itu untuk menemui Zovita.
Rika mengepalkan tangan nya, namun di depan Zovita dia harus terlihat tenang.
" Terima kasih, Ibu." Rika kaget mendengar suara Zovita yang mmanggilnya dengan sebutan Ibu, karena selama ini dia hanya memanggil nya tante.
Rika tersenyum haru dan memeluk Zovita erat, Irwan mengelus kepala putrinya menghapus air mata yang keluar di balik kaca mata nya.
" Miss Rika, pak Irwan makanan sudah siap di meja makan." ucap bi Wati yang muncul di tengah suasana haru di ruang tamu.
" Baik ayo kita makan siang, Vita sudah lama sekali kita tidak makan bersama," ajak Irwan dan segera berdiri.
Rika berdiri, masih menggenggam tangan Zovita lalu mengajaknya ke ruang tengah untuk makan siang bersama.
__ADS_1
Siang itu, Zovita untuk pertama kali nya merasakan makan bersama setelah berbulan-bulan selalu makan sendiri dan kesepian.
____