
'Sebagai tanda senang dan ucapan syukur aku ingin membelikan Vita kue, semoga dia suka'
Alan turun dari sebuah mobil lalu memasuki sebuah toko kue dekat pasar, dengan langkah penuh kegembiraan Alan tak sabar ingin memberitahu Zovita tentang dirinya yang baru saja melakukan interview di perusahaan yang ia impikan.
"Permisi!" Alan membuka pintu, melihat kanan kiri lalu datang seorang wanita dengan wajah yang sangat teduh, melemparkan senyuman kepadanya.
"Mau mencari kue apa ya?" Wanita yang tak lain Alisa, mempersilakan Alan untuk melihat-lihat beberapa kue yang ada di depannya.
Alan masih tertegun, selama berbulan-bulan ia berada di desa itu, baru kali ini melihat nya.
"Mau yang ini saja," pinta Alan sambil menunjuk kue dengan berbagai warna seperti pelangi di etalase.
Alisa segera membuka dan mengambilkan kue itu, kemudian menaruh tepat di depan Alan. "Yang ini?"
Alan mengangguk.
"Mau berapa? satu atau dua?" tanya Alisa lembut, suaranya membuat Alan mengingat sebuah melodi yang mendayu-dayu di telinganya.
"Satu saja, Mba," jawab Alan sedikit canggung.
Alisa terus tersenyum, ternyata ada pemilik senyum terindah setelah Zovita di desa itu, pikirnya.
"Wah, pasti buat orang special ya?" Alisa memasukan kue itu kedalam papper bag kecil, menyerahkan kepada Alan.
"Bukan, hanya berbagi kebahagiaan." Alan meraih kue itu dan memberikan sejumlah uang kepada Alisa.
Alisa dengan sigap mengambil uang itu dari tangan Alan, lalu menuju laci karena berniat ingin mengambil kembalian namun saat melihat ke depan Alan sudah berjalan keluar toko, Alisa segera mengejarnya.
Alisa tergopoh-gopoh terus mengejar langkah Alan yang sangat cepat. "Tunggu!"
Alan menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dimana Alisa tengah mengejarnya.
"Ada apa?" tanya Alan yang mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Kembalian mu belum ku kasih, kenapa kamu langsung pergi begitu saja?" sahut Alisa menyerahkan beberapa uang receh kertas kepada Alan.
Alan menatap uang di tangan Alisa lalu tertawa kecil, "Oh, kukira ada apa."
Alan meraih uang itu, lalu memasukannya ke dalam saku nya, melihat itu Alisa hanya terdiam. Alan berbalik melanjutkan langkahnya, namun tiba-tiba kembali menghentikan langkahnya dan berbalik lagi melihat ke arah Alisa. "Terima kasih ya."
Alisa terkejut karena ia pikir Alan tidak akan merespon, lalu tersenyum dengan sebuah anggukan. Alan kembali berjalan menyusuri trotoar jalan itu sambil menenteng satu kantong berisi kue.
Setelah Alan berlalu, Alisa dibuat penasaran dengan nya, karena baru kali ini ia melihat Alan, mungkin karena kesibukannya yang membuat Alisa jarang melihat orang-orang asing yang datang ke desa nya.
Saat memasuki toko nya, Alisa tertegun melihat benda kecil yang terjatuh di bawah etalase, Alisa berjongkok dan mengambilnya, lalu menatapnya dengan seksama, ternyata benda di tangannya adalah sebuah pemantik rokok, sepertinya milik lelaki tadi, Alisa menaruhnya ke dalam saku. Ia tahu pasti lelaki tadi akan kembali untuk mencarinya, karena dilihat dari modelnya pemantik itu sangat mahal.
'Dasar lelaki, hanya sekedar alat untuk menyalakan rokok saja harus sebagus ini, ini pasti sangat mahal.'
***
Alan mengetuk pintu rumah Zovita beberapa kali, karena tak kunjung ada yang membukanya, Alan menunggu sejenak karena masih berharap pintu itu segera dibuka.
Alan mengambil ponsel di dalam sakunya, lalu membuka chat di dalamnya, saat Alan tengah serius membaca sebuah chat, Alan mendengar suara pintu dibuka.
"Alan, kamu sudah lama?" tanya Zovita yang menatap penampilan Alan dari atas ke bawah.
"Tidak, apa yang kamu lihat?" tanya Alan sedikit heran dengan ekspresi Zovita.
Zovita sangat terkesima dengan penampilan Alan yang semakin terlihat gagah bak seorang pangeran, tidak biasa melihat Alan berpakaian seperti itu.
"Heran saja, kamu dari mana berpakaian seperti ini?" Zovita masuk ke dalam dan memersilakan Alan masuk.
Alan mengikuti langkah Zovita di belakangnya, lalu duduk di sofa dekat jendela besar.
"Aku membawa ini, juga ingin memberitahumu jika aku baru saja datang ke perusahaan XX untuk interview," sahut Alan yang menyerahkan sekantong kue kepada Zovita.
Zovita menerimanya sambil tersenyum, Zovita tidak sabar mendengar penuturan Alan, melihat wajah Alan yang gembira.
__ADS_1
"Oh ya? lalu bagaimana hasilnya?" Zovita ikut merasa gembira dengan kabar yang dibawa Alan.
"Katanya aku akan di hubungi dalam 72 jam," jawab Alan senang.
"Semoga kamu bisa diterima di perusahaan itu ya, aku senang mendengarnya." Zovita kembali tersenyum.
"Semoga saja. Kemana bi Wati? aku tidak melihatnya," tanya Alan yang menaikkan badannya mencari ke arah depan karena tidak melihat keberadaan bu Wati.
"Sedang melihat warungnya, karena Sofie sudah mendapatkan pekerjaan baru," timpal Zovita.
"Oh begitu, kalau gitu aku permisi dulu karena kebetulan ada urusan, juga tidak enak hanya berdua dirumah ini," Alan berdiri, menyingsingkan kemeja biru nya.
Zovita hanya tersenyum, lalu mengangguk pelan, ia dibuat takjub dengan sikap Alan, selama ini Alan selalu menjaga sikapnya, bahkan meski tahu keadaan Zovita, ia tetap ingin berteman dengannya.
"Iya, terima kasih, Alan. Maaf merepotkanmu," Zovita berjalan menuju teras berdampingan dengan Alan.
Alan melihat senyum bahagia Zovita, tangannya sangat ingin meraih tangan Zovita namun ia urungkan karena khawatir Zovita akan berfikir yang tidak-tidak, padahal Alan hanya ingin mengungkapkan rasa bahagi nya.
"Aku yang harus berterima kasih padamu, Vita. Kamu terus memberi aku motivasi," ujar Alan, kali ini Alan memberanikan diri meraih tangan lembut Zovita.
Zovita tertegun melihat Alan menggenggam tangannya, mendadak degup jantung nya berdetak lebih kencang dari biasanya, Zovita sedikit gemetar karena tidak biasanya dia begitu, Zovita menatap wajah Alan, mereka berdua saling melemparkan pandangan beberapa detik, lalu Zovita segera tertunduk.
"Aku permisi, Vita." Alan melepaskan genggaman tangannya, ada rasa takut menghampirinya, tubuhnya berbalik lalu melangkah menuju gerbang.
"Iya, hati-hati!"
Zovita berdiri mematung di teras itu, melihat Alan tanpa berkedip, saat berkedip ia tak sadar jika air matanya jatuh. Sebelum menutup pintu gerbang, Alan melihat Zovita lagi, Alan memberikan salam dengan senyum yang menyeringai di sudut bibirnya.
'Vita, mungkinkah ini cinta? saat berada didekatmu, jiwaku terasa melayang. Aku ingin sekali mengungkapkan apa yang aku rasakan, namun takdir tidak akan memihakku, aku hanya akan menyimpan nya di dalam hatiku.'
Alan terus berjalan sampai rumahnya, perasaan sedih itu muncul karena sebentar lagi ia akan meninggalkan desa itu, yang artinya Alan tak akan melihat Zovita lagi, kecuali jika Zovita bisa masuk ke universitas nya.
Alan langsung merebahkan tubuhnya yang penuh keringat di atas kasur, menatap jam di dinding, teringat dengan Bagus yang belum kembali, Alan khawatir Rika maupun Irwan mendengar kabar kedekatan nya dengan Zovita.
__ADS_1
___