
Wanita yang sudah menginjak kepala 4 namun selalu memiliki penampilan elegan itu, berjalan di lorong apartemen, langkahnya sangat cepat karena khawatir ada yang melihatnya. Rika berhenti di depan pintu kamar lalu segera membukanya.
Di dalam kamar, Nikita terkejut dengan kedatangan Rika, Nikita langsung berdiri dan menghampirinya.
"Miss?"
"Kamu terlalu terlena dengan uang, Nikita! aku menyuruhmu menjaga suamimu itu agar tidak menemui Vita." Rika dengan penuh emosi meneriaki Nikita di apartemen dimana Nikita bisa bertemu dengan Rika.
Nikita dengan wajah kesal menatap Rika, meski ia memang senang bekerja sama dengan Rika, di hatinya Nikita sangat membenci sikap Rika yang semena-mena, Rika sangat persis dengan Ayahnya yang selalu mengandalkan uang, kalau saja Ayah Nikita tidak berada dibawah Ayah Rika, Nikita tak mau menuruti Rika.
"Miss, kita sudah membuat kesepakatan, isinya hanya aku bersedia menikahi Defa dan membuat Defa membatalkan pernikahannya dengan Zovita, jadi selebihnya tidak ada dalam kesepakatan kita." Nikita dengan lantang berani mengatakan sesuatu yang membuat Rika naik pitam.
"Wanita sial*n. Maksudmu kesepakatan kita sudah berakhir? tidak Nikita!" pekik Rika, dengan tatapan emosional Rika menghampiri Nikita yang berdiri di dekat jendela apartemennya.
"Saat ini, Defa bisa saja menceraikanmu dan kembali ke pelukan Zovita. Kamu jangan senang dulu, ini bukan tentang kesepakatan, ini tentang bisnis, selesaikan pekerjaanmu sampai tuntas!" Rika menatap tajam wajah Nikita, posisi nya sangat dekat, Rika mendongak melihat langit-langit.
"Maksudmu apalagi yang harus aku lakukan? bukankah dari awal anda hanya menyuruhku untuk menikahi Defa? mengapa jadi begini?" Nikita kesal karena ia merasa telah terjebak dalam kubangan permainan Rika, setelah apa yang ia lakukan ternyata belum membuat Rika puas.
"Kamu menginginkan kehancurannya? aku akan lakukan! namun aku perlu waktu, ini tidak mudah," ucap Nikita penu telah menyetujui bekerja sama dengan wanita angkuh ini.
"Aku tunggu! jangan menganggap ini sudah selesai, sementara Defa masih berada di puncak, kamu belum berhasil, Nikita," tegas Rika membalikkan tubuhnya dari Nikita, Rika berjalan menuju pintu.
Rika meraih pegangan pintu untuk segera keluar dari apartemen Nikita, tapi kembali berbalik menatap Nikita yang masih berdiri.
"Jangan mencoba untuk mengkhianatiku, Nikita. Ingat karir Ayahmu berada di tanganku." Rika membuka pintu dan melangkah keluar.
Nikita meluapkan kekesalannya dengan melemparkan sebuah botol minuman yang ada di atas meja. Nikita berteriak histeris memaki, "Dasar wanita jal*ng!"
Nikita terduduk di atas kasur dengan emosi yang meledak, teringat dengan kedua orang tua nya, sekarang Nikita baru menyadari mengapa Ayahnya terus bergabung dengan Ayah Rika, pasti Ayahnya sangat tertekan.
'Maafkan aku, Ayah. Aku tahu kamu pasti menderita karena terus berada dibawah tekanan Surya cs.'
Nikita menangis histeris, menangisi kebodohannya, kini ia akan terus berada dalam kubangan manusia-manusia kejam yang mendewakan uang.
__ADS_1
Rika dengan wajah tenang, memasuki mobil yang sudah terparkir di depan Loby apartemen.
"Kita langsung kerumah, Miss?" tanya Jodi sambil menyalakan mesin mobil itu.
"Iya."
Rika membuka ponselnya dan melihat foto acara Irwan di yayasan, satu persatu Rika terus mengusap layar ponsel itu, namun segera terhenti.
"Jodi, kenapa Alan tidak hadir? bukankah ia seharusnya mendampingi Irwan?" tanya Rika sangat penasaran, Jodi terkejut mendengarnya karena sama sekali tidak tahu mengapa Alan tidak ikut bertugas.
"Saya tidak tahu, Miss. Mungkin dia tidak enak badan, nanti akan kutanyakan," sahut Jodi dengan sedikit perasaan cemas mengemudikan mobilnya.
Rika melihat bibir Jodi sedikit bergetar, sepertinya tahu jika Jodi menyembunyikan sesuatu darinya, namun Rika telah kehilangan tenaga untuk mengeluarkan beribu pertanyaan kepada Jodi, Rika bersandar di kursi dengan menarik nafas panjang.
"Jangan-jangan Alan sudah tidak ingin kerja padaku lagi." Rika berkata dengan pelan, Jodi melihat Rika dari kaca kecil diatasnya.
Jodi tidak merespon ucapan Rika, ia takut jika salah berucap yang akan membuat Rika semakin geram.
***
"Vita ini kue dari siapa?" tanya bi Wati muncul dari pintu belakang, Zovita sedang memberi makan Katy.
Zovita menjawab pelan, "Tadi Alan datang."
"Alan? pasti dia sedang berbahagia," timpal bi Wati tersenyum menyeringai.
"Dia habis interview di sebuah perusahaan, jadi sebagai ucapan senangnya, dia membelikanku kue," ucap Zovita dengan wajah yang berseri-seri.
Bi Wati melihat wajah Zovita yang semakin terlihat bahagia dari sebelumnya, apalagi semenjak kehadiran Alan di hidupnya menambah motivasi Zovita, kini akhirnya ia bisa bangkit dari keterpurukannya karena peristiwa menyakitkan itu.
"Kamu suka kue nya? atau orang nya Vita?" ledek bi Wati lalu tertawa kecil.
"Apa sih, Bi. Kue nya sangat cantik, tentu aku menyukainya, apalagi rasanya sangat enak," ujar Zovita mengelak, namun ia tersipu malu.
__ADS_1
"Kamu tahu Alisa teman masa kecilmu dengan Sofie?"
"Alisa?" Zovita mencoba mengingat seseorang yang dulu sempat menemani masa kecilnya bersama Sofie.
Bi Wati mengangguk.
"Oh iya, aku ingat. Yang hidung nya mancung itu? seperti apa dia sekarang?" Zovita akhirnya mengingatnya.
"Iya, dia lah pemilik toko kue ini, Vita. Dia sangat anggun dengan hijabnya sekarang, dia sudah semester 2 di universitas xx."
"Oh ya? di fakultas apa?" tanya Zovita semakin penasaran dengan cerita bi Wati.
"Ekonomi," jawab bi Wati singkat.
"Kapan-kapan aku ingin mampir ke tokonya, aku penasaran denganya," celetuk Zovita.
Bi Wati mengangguk pelan.
"Kamu habiskan kue nya, Vita, ini sangat nikmat untuk jadi pajangan di atas meja," ujar bi Wati menyuruh Zovita menghabiskan kue nya.
"Aku sudah kenyang, Bi. Makan saja, habiskan! lagi pula kue nya sangat lebar aku tidak mungkin menghabiskannya sendirian," timpal Zovita sambil mengelus perutnya.
Zovita sudah selesai memberi makan kucingnya, lalu meninggalkan nya bermain sendiri karena ia mendengar ponselnya berbunyi, Zovita segera berlari ke lantai atas.
"Hati-hati, Vita!" teriak bi Wati mengingatkan Zovita agar tidak berlari menaiki tangga.
Bi Wati meraih kue pelangi itu, menatap nya dalam, ia menelepon Sofie untuk segera datang karena ada kue kesukaannya, bi Wati mencoba mengingat momen masa kecil Sofie saat masih berusia 5 tahun, saat itu Sofie merengek minta dibelikan kue yang berwarna seperti pelangi, kemudian Irwan yang saat itu belum bercerai dengan Ibu Zovita memberikan kue itu.
Irwan membuat Sofie yang sedang menangis menjingkrak senang, Sofie yang lugu dan polos kala itu berhasil membuat Irwan tertawa karena tingkah lucunya.
'Seandainya kamu tahu siapa ayahmu, Sofie, pasti kamu akan bahagia mendengarnya. Kelak kamu juga akan tahu dimana keberadaan ayahmu. Maafkan Ibumu Sofie.'
Tak sengaja air mata bi Wati tumpah di pipinya yang sudah muncul kerutan halus.
__ADS_1
____