
Sofie mengetahui kedekatan Alan dan Zovita, semakin membuat nya tidak suka dengan Zovita, berbagai cara sudah dilakukan agar Alan tertarik padanya, namun hasil nya nihil, bahkan Alan untuk sekedar menjawab telepon nya saja tidak pernah.
Sofie tidak menyerah begitu saja, kali ini dia harus mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sofie pun mencari tahu tentang informasi kampus Alan, Sofie berencana masuk ke kampus Alan agar bisa lebih dekat dengan Alan.
Siang itu, Sofie berkunjung ke kediaman Zovita, menemui Ibu nya yang sedang menyiram tanaman.
"Mah, si Alan kemarin mau apa datang kesini?" tanya Sofie kepada Bi Wati.
"Kok kamu tahu Alan kemari? memang nya siapa yang memberitahu mu?" sahut bi Wati bingung, mengapa Sofie bisa tahu Alan datang.
"Aku lewat sini kemarin, melihat mobil nya keluar dari sini," timpal Sofie, padahal Sofie diam-diam mengikuti Alan kemana pun Alan pergi selalu muncul.
"Ingin bertemu Vita, sepertinya Vita mencari tahu kampus disini kepada Alan,"
Bi Wati memberi tahu Sofie maksud kedatangan Alan kemarin, karena bi Wati yang berada di ruang tengah sengaja mendengarkan Alan dan Vita berbincang.
"Kampus? mengapa dia bertanya kepada Alan? alasan saja, paling juga Vita sengaja, biar semakin dekat dengan Alan kan?" Sofie menimpali dengan ketus, membuat bi Wati heran pada sikap anaknya.
"Untuk apa Vita sengaja mendekati Alan? Vita itu mau menetap disini, makanya mencari informasi kampus terdekat, siapa lagi kalau bukan Alan?" ucap bi Wati dengan jelas.
"Apa? Vita mau menetap disini? memang si Alan mahasiswa mana sih, Mah?" tanya Sofie sekaligus terkejut mendengar kabar Zovita akan menetap disini, artinya Zovita nanti semakin sering bertemu dengan Alan.
"Oh, mamah lupa bilang, dia anak Unp*d ternyata, kampus impian kamu loh," sahut bi Wati memberi tahu Sofie dengan wajah sumringah.
"Oh ya? pantas saja, tapi mah untuk apa Vita tinggal disini? bukannya lebih enak ya tinggal di Ibu Kota, dari pada disini," ujar sofie mendengar dua kabar yang membuat nya senang, namun di sisi lain kabar buruk bagi nya karena Zovita takkan kembali lagi ke Ibu Kota.
"Itu kan hak dia, mungkin dia disini lebih nyaman, lagi pula kan Ibu nya sudah meninggal," ujar bi Wati dengan bijak.
Sofie hanya bergumam kesal di dalam hati nya, sebenarnya dulu Sofie cukup dekat dengan Zovita, bermain bersama, setiap Zovita mengunjungi nenek nya, Sofie pasti akan menyambut nya dengan bahagia, Sofie selalu tertawa ceria jika bertemu Zovita, saat Zovita akan kembali ke kota, Sofie pasti menangis tidak mau di tinggal.
Kini, Sofie merasakan bahwa dirinya ternyata tak seberuntung Zovita, Zovita sangat sempurna, lahir di keluarga yang kaya, hidup tanpa kekurangan seperti dirinya, Sofie merasa keadaan dirinya sangat jauh dengan Zovita, bak langit dan bumi, seandainya Sofie berasal dari keluarga yang tidak kekurangan, dia takkan rela melayani keluarga Zovita.
__ADS_1
***
Rara menyusuri sebuah desa yang di tujukan oleh Zovita di akun media sosial nya yang baru, bersama sopir nya, mobil Rara melaju perlahan dan berhenti di sebuah warung kopi.
Sopir Rara turun dari mobil dan bertanya kepada seseorang di warung itu, kemudian sopir Rara di arahkan ke sebuah rumah dengan pagar yang tinggi menjulang di belokan jalan.
"Apa benar ini alamatnya, Pak?" tanya Rara kepada sopir nya, lalu sopir Rara segera turun dari mobil.
"Sebentar, non, saya bertanya dulu," ujar sopir Rara.
Sopir Rara memencet bel di samping pagar, setelah dua kali dia pencet bel, muncul lah seorang perempuan baruh baya dari dalam rumah itu, dia bi Wati.
Bi Wati menghampiri pintu pagar.
"Maaf, anda mencari siapa ya?" tanya bi Wati kepada sopir Rara.
Belum sempat menjawab, Rara tiba-tiba muncul dari arah belakang sopir nya.
"Kamu siapa?" Bi Wati balik bertanya kepada Rara, karena bi Wati tidak boleh mengijinkan sembarangan orang masuk.
"Saya teman nya, dari Kota, bisa buka kan pintu gerbang ini dulu, biarkan saya masuk," sahut Rara yang meminta bi Wati segera membuka kan pintu gerbang nya.
"Maaf, saya tidak bisa membiarkan orang asing menemuinya," ucap bi Wati menolak untuk membuka pintu gerbang.
"Kamu bi Wati?" tanya Rara, bi Wati terkejut karena wanita di depan nya tahu nama nya.
"Saya tahu dari Vita, saya teman dekat nya, lagi pula yang memberikan alamat ini, Vita," ujar Rara dengan memberikan senyuman hangat kepada bi Wati.
"Apakah kamu tidak berbohong?"
"Tentu, tidak," seru Rara sambil menggeleng.
Bi Wati segera membuka kan pintu gerbang agar mobil Rara bisa masuk ke halaman rumah itu, bi Wati mempersilahkan Rara masuk ke dalam.
__ADS_1
"Sebentar, saya panggil Vita dulu."
Bi Wati segera menaiki tangga untuk memanggil Zovita.
"Tidak perlu, Bi." Langkah kaki bi Wati langsung berhenti karena mendengar suara Zovita yang baru masuk dari halaman belakang.
Rara langsung menoleh ke arah Zovita, kemudian berlari menghampiri Zovita.
"Vita!!!" teriak Rara langsung memeluk Zovita.
"Kamu baik-baik saja kan?" Rara masih belum melepaskan pelukan sahabat nya itu, Zovita terharu karena sangat rindu sekali kepada teman-teman nya selam beberapa bulan tidak berjumpa.
Zovita mengangguk, Rara menarik tangan Zovita untuk duduk di sofa.
"Vita, aku kangen," ujar Rara yang terus memegang tangan Zovita.
"Aku juga, kamu apa kabar?" sahut Zovita lembut.
"Baik, selama disini apa kamu mengalami kesulitan, Vita? aku sangat mengkhawatirkan mu, aku terus mencari dimana kamu," timpal Rara yang melepas rindu bersama Zovita.
"Bohong kalau aku bilang baik-baik saja, selama ini aku sangat sulit sekali untuk bernafas," ujar Zovita, tak terasa air mata Rara terjatuh, dia tak bisa membayangkan betapa sakit nya yang di alami Zovita, sementara dia tak berada di samping nya.
"Vita, maafkan aku tidak ada di sisimu saat kamu kesulitan," ucap Rara yang ter bata-bata.
"Ra, aku sendiri yang menutup semua akses ku, aku bahkan tak mengijinkan siapa pun untuk tahu keadaan ku," tambah Zovita.
Rara kemudian kembali memeluk Zovita, Rara dan teman Zovita yang lain tak di ijinkan bertemu Zovita setelah persitiwa itu, bahkan pemakaman Ibu nya dilakukan dengan pengawalan sangat ketat oleh Irwan, hanya sanak saudara yang boleh menghadiri nya.
Irwan memerintah anak buah nya untuk menjaga rumah Zovita malam itu, saat Zovita terus mengurung diri di dalam kamar nya, tidak mengijinkan siapa pun untuk berbicara dengan Zovita, semua akses yang terhubung dengan Zovita di putus oleh Irwan.
Irwan melakukan semua itu dengan alasan, agar putri nya tidak tenggelam dalam kesedihan.
____
__ADS_1