
" Hei lan dari mana sih kau jam segini baru balik?"
Bagus segera bertanya kepada Alan saat Alan baru membuka pintu.
" Habis dari rumah Zovita," sahut Alan dengan perasaan lelah yang menyelimutinya.
" Ngapain? kita kan hanya di suruh untuk mengawasi lan bukan mendekati, gimana sih kamu." Bagus semakin terheran-heran oleh kelakuan Alan.
" Ini kan sebagian teknik aku gus, bukan mendekati lebih tepatnya mengawasi dari dekat." timpal Alan memberi Bagus pengertian.
" Halah, paling juga ada maksud kau ini, jangan bilang kau suka beneran lagi sama Zovita," ungkap Bagus yang takut kalau partner nya ini terjerumus ke dalam lubang yaitu cinta.
" Apa sih?? jangan aneh-aneh deh pikiranmu gus, aku hanya ingin melaksanakan tugas se detail-detailnya, udah ah capek aku mau tidur dah."
Alan menyangkal Bagus lalu berjalan menuju kamarnya sambil melambaikan tangan kepada Bagus.
Bagus hanya menatap Alan yang berlalu dari hadapannya, sebenarnya ada yang ingin dia sampaikan namun sepertinya Alan sangat lelah, mungkin sebaiknya besok saja saat Alan bangun.
Alan yang lelah tanpa membuka pakaiannya langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Alan terbayang-bayang oleh ucapan Bagus, apa yang dikatakan Bagus itu sebenarnya cukup masuk akal, untuk apa dia berusaha mendekati Zovita jika hanya untuk mengawasi, tapi Alan selalu penasaran dan entah kenapa dia ingin selalu melihat senyum Zovita. Ada rasa bahagia ketika dia tersenyum.
Alan menatap langit-langit kamarnya, dia tiba-tiba malah teringat senyuman Zovita, kenapa sangat cantik sekali dia ketika tersenyum, pikirnya.
Alan langsung menepis pikiran anehnya dengan kedua tangannya.
" Ah tidak tidak." Alan berdecak dan merubah posisinya langsung tengkurap dengan kepala yang dia tutup pakai bantal.
*****
Di rumah Irwan Suryadarma.
" Rika, kurasa kita harus mengunjungi vita, aku mau lihat kondisinya langsung saat ini," Irwan membuka percakapan dengan Rika yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin kamar nya.
Rika langsung berhenti menyisir, dia melihat wajah suaminya dari arah cermin.
" Ide yang bagus, Mas. Kapan kamu mau mengunjungi vita, besok?" sahut Rika dengan sedikit senyuman di sudut bibirnya.
" Ah tidak. Kalau besok aku ada kerjaan, mungkin minggu depan, kamu jangan ajak anak-anak sebaiknya cukup kita berdua saja." sambung Irwan yang terus berbicara kepada Rika namun matanya masih terfokus dengan ponsel di tangannya.
" Loh memang kenapa? kan mereka juga mau melihat kakaknya mas, mereka juga pasti sangat merindukan kakaknya."
Rika dengan wajah kesalnya bertanya-tanya kenapa anak-anak tidak boleh ikut.
" Ada sesuatu penting yang mau ku bicarakan dengannya, aku hanya mau bicara berdua dengannya, anak-anak tidak bisa ikut karena ini privasi orang dewasa, kamu paham?" jelas Irwan sangat rinci.
Rika semakin dibuat penasaran, apa maksud privasi orang dewasa dan mengapa dia tidak diberi tahu? Rika langsung cemberut.
__ADS_1
Rika menutup laci dengan keras. Dia kesal.
Irwan melirik Rika, dia sudah paham sikap istrinya jika sedang kesal padanya.
Melangkah keluar kamar dan membawa ponselnya keluar, terlihat hendak menelepon seseorang.
Rika yang masih kesal segera membuka handphone dan dia mendapati pesan dari nomor yang tidak dikenal.
'Miss, sepertinya ada yang tidak beres dengan anak dari asisten rumah tangga di rumah Zovita, kemarin dia mengikuti Alan saat bertemu Miss dan menguping pembicaraan kalian'
Wajahnya tertangkap cctv di cafe itu.
Dia mencurigakan.
Sontak membuat Rika kaget, itu adalah pesan dari orang suruhan dia juga yang di perintahkan untuk selalu mengawal dia kemanapun dia pergi di mobil yang lain, karena Rika merasa di intip oleh seseorang saat di cafe, dia menyuruh anak buahnya untuk memeriksa cctv di cafe tersebut.
Rika tidak merespon pesan itu, dia menaruh handphone nya lalu berfikir sejenak.
Apa yang dimaksud adalah Sofie, anak bi Wati? Rika bertanya-tanya.
Jika dia menguping pembicaraan dirinya dengan Alan berarti dia tahu semuanya, dia harus segera memberitahu Alan.
Rika segera menelepon Alan dan memberitahukan semuanya, dia juga memperingati Alan untuk berhati-hati terhadap Sofie.
Di pagi hari, Alan pun terbangun dengan rambutnya yang acak-acakan dan sepatu yang berserakan di kamarnya.
Alan menyusuri sudut ruangan masih tak terlihat dimana si Bagus, sampai di pintu depan dia mendengar suara ketukan mengira bahwa itu Bagus.
Alan segera membuka pintu.
Wajahnya dibuat kaget oleh kehadiran wanita di depannya, ternyata Sofie membawa beberapa makanan di tangannya, dia tersenyum.
" Pagi Alan!!!" Sofie menyapa Alan dengan memberikan senyuman bahagia kepada Alan.
Alan melongo, dia merasa bahwa apa yang di ucapkan Miss Rika memang benar, Sofie sepertinya sengaja ingin memata-matai dia.
Karena dia terus muncul di hadapan nya.
Alan harus berhati-hati dengan Sofie.
" Hei, kenapa bengong, ini ada makanan buat kamu sarapan Alan," Sofie segera memberikan makanan itu ke tangan Alan.
" Apa yang membuatmu pagi-pagi sekali kesini?" Alan bertanya heran.
" Ya aku mau memberi kamu makanan, memang salah? kan berbagi kepada tetangga itu baik loh," ujar Sofie masih berdiri tegak sambil memelintir ujung rambutnya yang sengaja dibiarkan terurai.
__ADS_1
Alan berfikir, apa Sofie sengaja menggodanya.
Tapi Alan sama sekali tidak tergoda.
" Oke makasih, udah mau apalagi? aku udah terima makanannya," Alan menarik pintu tanda dia menyuruh Sofie untuk segera pergi.
Namun Sofie masih memasang senyum imutnya di depan pintu.
Alan menggaruk kepalanya, padahal tidak gatal, dia bingung.
" Mau di temenin sarapannya?" Sofie membuat Alan kaget karena sangat berani menawarkan diri untuk mengajak sarapan bareng.
" Ah, tidak. Aku ini loh sedang mencari si Bagus dia belum pulang, aku bisa sarapan sama dia he he," Alan langsung menolak Sofie, Alan hanya menyeringai bagai kuda.
" Ooh si Bagus itu dia ketiduran di mobil, itu!!!" Sofie menunjuk ke arah mobil yang sedang terparkir di halaman rumah yang Alan tempati.
" Hah?" Alan langsung menuju ke arah mobil itu dan benar saja dia melihat Bagus tertidur pulas masih dengan sabuk pengaman nya di kursi mobil.
" Yaudah Sofie, Sofie kan? makasih ya, kamu bisa pulang ini si Bagus udah ketemu," Alan menyuruh Sofie untuk segera pergi, Sofie membalas ucapan Alan dengan senyuman.
Alan heran apa yang membuat si Sofie terus tersenyum kepadanya, bahkan Alan malah mengiranga aneh.
" Oke, dadah." Sofie berpamitan dan melambaikan tangan kepada Alan.
Alan hanya mengangguk.
Alan mengetuk pintu mobil dengan keras agar Bagus terbangun.
Bagus yang gelagapan karena ternyata hari sudah siang.
" Duh udah siang ya lan?" Bagus segera turun dan membuka pintu mobilnya.
" Ngapain tidur di mobil? dari mana sih gus semalam?" Alan langsung bertanya kepada Bagus yang terus berjalan ke dalam rumah sambil terus menguap.
Alan mengikuti langkah Bagus ke arah kamar.
" Nanti saja tanya nya lan, aku masih ngantuk mau tidur lagi, hoaaammmm." Bagus pun menjatuhkan tubuhnya di kasur dan melanjutkan tidurnya.
" Dasar, bukannya ini sarapan dulu, tuh di bawain makanan." Alan menyodorkan bungkusan makanan kepada Bagus.
" Makan saja lan, kalau kamu gak mau makan taruh saja di lemari es nanti kumakan." ucap Bagus yang matanya sudah tidak sanggup melek lagi.
Alan menatap makanan itu, dia takut jika makanan itu sudah di guna-guna, akhirnya dia menaruh makanan yang di berikan Sofie ke lemari es.
" Biar saja si Bagus yang makan, nanti juga dia yang kena guna-guna hi hi."
__ADS_1
Setelah menaruh makanan, Alan langsung meraih handuknya dan lanjut mandi.
______