
"Vita, aku besok mau kembali ke kota, kau tidak mau ikut?" tanya Rika yang menghampiri kamar Zovita, Rika duduk di atas kasur Zovita.
"Tidak, Bu. aku butuh waktu lebih lama lagi, karena aku mulai betah disini," ujar Zovita yang sedang menatap wajahnya di depan cermin.
"Tapi kamu tetap harus kembali ke kota, kamu perlu menyelesaikan kuliahmu, bukankah kamu ingin jadi lawyer?" timpal Rika yang mengingatkan kembali Zovita tentang cita-cita nya.
"Sepertinya kini sudah tidak, itu cita-cita mendiang Ibu ku dulu, sementara aku sangat ingin menjadi dokter," ujar Zovita, wajahnya tertunduk sedih mengingat Ibu nya.
"Dokter? kukira ayahmu takkan setuju, bukankah lebih baik kamu ikut seperti ayahmu saja?" tanya Rika kembali menegaskan kepada Zovita.
"Tidak, itu sangat tidak cocok dengan kepribadian aku, aku ingin menjadi apa yang aku mau, Ibu." Zovita tetap bersikukuh dengan cita-cita nya, dia tak peduli ayah nya akan setuju atau tidak, takkan mempengaruhi nya.
"Baiklah, aku takkan memaksa apapun, selama itu membuatmu bahagia, aku akan mendukung." Rika tersenyum menghampiri Zovita di depan cermin, sebelum berlalu meninggalkan Vita di kamar, Rika mengelus rambut Zovita.
Zovita melihat Ibu sambung nya yang berlalu, dan tersenyum ke arahnya.
Di luar kamar, Sofie yang berada di sebelah kamar Zovita, mengintip Rika yang baru saja keluar dari kamar Zovita, Sofie segera keluar kamarnya dan menutup pintu secara perlahan, dia melangkah dengan sangat hati-hati agar tak ada yang mendengar nya.
"Mau kemana kamu?" sapa Rika yang muncul secara tiba-tiba, Sofie segera menoleh di belakang nya sudah ada Rika yang sedang berdiri menatap nya dengan serius.
Sofie bingung, dia hanya menggigit bibi bawah nya karena merasa telah kepergok oleh Rika.
"Eh, Miss, aku mau turun ke bawah," sahut Sofie sambil menunjuk ka arah tangga.
"Oh, ya? kenapa harus diam-diam seperti takut ketahuan?" tanya Rika membuat Sofie semakin bingung untuk menjawab.
"Saya takut mengganggu istirahat Vita dan anda, Miss. saya hanya mau ke kamar Ibu," timpal Sofie lebih lega karena punya alasan yang cukup kuat.
"Tapi arahmu itu ke kamar Vita? kamu pikir saya buta?" desak Rika semakin kesal dengan jawaban yang dia dengar dari Sofie.
Sofie, mungkin belum tahu seperti apa sikap Rika, Sofie terkejut mendengar nada Rika yang kesal kepada nya.
"Apa maksud anda? saya hanya mau lewat, kenapa anda berburuk sangka, Miss?" ujar Sofie yang terus mengelak.
Rika segera mendekat ke arah Sofie.
"Saya tahu apa yang kamu lakukan di belakang saya! jangan pernah melangkah lebih jauh, jangan mengganggu Vita!!" bentak Rika kepada Sofie, Sofie menatap Rika dengan perasaan kesal namun sepertinya Rika tidak main-main.
__ADS_1
"S-saya tidak mengerti maksud anda? saya juga tidak mengganggu Vita," kilah Sofie yang kali ini memasang wajah sedih karena merasa di tuduh oleh Rika.
"Sofie!!!"
Rika lebih dekat lagi dengan Sofie, lalu meraih ujung rambut Sofie yang terurai panjang dengan jari nya.
Kini wajah Rika dan Sofie sangat dekat.
Detak jantung Sofie semakin tidak beraturan.
"Kamu harus ingat posisi mu!" ejek Rika sembari menarik sedikit ujung rambut Sofie yang dia raih, Sofie melirik Rika dengan tatapan sinis, dia merasa Rika telah menghina nya karena status mereka yang berbeda.
"Saya sudah tahu semuanya, Miss." Sofie mengeluarkan ucapan yang membuat langkah Rika terhenti, Rika berbalik ke arah Sofie.
" Apa maksudmu? apa yang kau tahu?" cecar Rika, kali ini Sofie tersenyum lebar membuat Rika merasa di permainkan.
"Miss, saya tahu hubungan antara anda, pak Jodi dan Alan, lelaki suruhanmu itu kan?" seru Sofie, Rika tertawa kecil menanggapi ucapan gadis muda di hadapan nya itu, jadi Sofie mau mulai megajak nya berperang?
"Sebaiknya kamu simpan apa yang kamu tahu itu, jika tidak kamu akan tau sendiri akibatnya," pekik Rika yang menatap Sofie dengan penuh amarah.
Rika segera meninggalkan Sofie di bawah sinar lampu yang terang, wajah Sofie langsung berubah, ingin memaki wanita paruh baya itu, namun dia masih harus menahan nya, Sofie sangat membenci sikap Rika yang semena-mena.
Dengan wajah emosi, Sofie menuruni anak tangga, langkah kaki nya sangat kencang membuat telinga bi Wati mendengar langkah nya.
Bi Wati keluar dari kamar nya, dan memeriksa suara itu.
"Sofie! jadi kamu yang tengah malam begini sangat berisik sekali?" bentak Wati memarahau Sofie karena membuat nya terbangun.
"Apa yang kamu pikirkan? kamu sudah gila ya? lihat ini jam berapa?" imbuh Wati yang memandang wajah anak nya, akhirnya membuat Wati mengerti bahwa Sofie terlihat sedang kesal.
"Aku sedang kesal, Mah, karena aku merasa di hina hanya karena posisi aku anak seorang pembantu." Sofie melontarkan kata yang membuat Wati syok.
"Maksud kamu? siapa? apa yang sedang kamu bicarakan?" tanya bi Wati bingung.
"Ah sudah lah, suatu saat juga mamah tahu, aku hanya mau minum untuk mendinginkan perasaan aku yang panas," kelit Sofie yang segera membuka pintu kulkas.
Bi Wati hanya menggeleng dengan sikap putri nya itu, dia kembali ke kamarnya dan melanjutkan mimpi indah nya.
__ADS_1
Sementara Sofie masih duduk di meja dapur dengan lampu yang remang-remang.
***
Nikita yang sedang menikmati secangkir kopi di sebuah cafe, di datangi oleh tiga wanita yang tak asing lagi untuknya.
"Hei wanita j*lang!! berani kamu nongkrong di cafe sini?" teriak salah satu dari wanita itu.
Mereka adalah teman Zovita yakni Rara, Uli dan Seli.
"Siapa yang kau sebut wanita j*lang? aku? ha ha ha," sahut Nikita lalu tertawa kencang.
"Iya, siapa lagi? jelas-jelas kamu wanita yang tak tahu diri, kamu bertunangan dengan pacar teman mu sendiri, lantas di sebut apa?" pekik Uli lalu melempar segelas air yang berada di atas meja ke arah Nikita.
"Awww." Nikita terkejut dan mengusap wajahnya yang telah di siram oleh Uli.
"Kurang aj*r, apa yang kamu lakukan? dasar gila!" Nikita memaki Uli karena telah menyiramnya.
"Bukankah kamu yang gila? bahkan kamu tidak pantas disebut manusia!" tambah Seli ikut kesal.
"Wanita apa namanya yang bertunangan dengan pacar teman nya, saat teman nya sedang tertimpa musibah? brengs*k!!" imbuh Rara tak memberi waktu Nikita untuk menyangkal.
Nikita masih terus membersihkan air di wajahnya, lalu berdiri segera meraih tas dan ponsel nya untuk meninggalkan cafe itu, karena dia pasti akan di keroyok oleh teman-teman Zovita dan pernah menjadi teman nya di kampus.
"Awas ya kalian, aku pasti akan balas." Nikita segera pergi dengan sepatu heels nya yang sangat tinggi.
"Mau pergi kemana j*lang?? lain kali kau takkan lolos ya," seru Rara yang sengaja membiarkan Nikita pergi.
Rara, Uli dan Seli pun segera mendapat tempat duduk, lalu memesan tiga cangkir kopi favorit mereka.
"Coba ada Vita, ya?" timpal Uli mengingat kebersamaan mereka saat Zovita masih ada di kota.
"Eh Rara, katamu mau mengunjungi Vita? kapan?" tanya Seli sangat ingin melihat sahabat nya itu.
"Nanti ya, aku belum mendapat persetujuan nya, aku tidak bisa asal datang, karena Vita bilang dia butuh waktu." Rara menjelaskan kepada kedua teman nya itu alasan mereka belum bia menemui Zovita, meski mereka sangat rindu ingin bertemu.
Rara, Uli, Seli dan Zovita hanya berinteraksi lewat grup chat saja, namun Vita jarang sekali online karena dia sekarang sangat asik dengan dunia baru nya bersama Katy, kucing kesayangan nya.
__ADS_1
____