Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Masa lalu yang kelam


__ADS_3

"Kamu dari mana? malam-malam begini baru sampai rumah?" Rika yang baru saja memasuki pintu depan rumahnya, dikejutkan oleh sapaan Irwan yang tengah berdiri memandangi dirinya dari atas tangga.


"Tumben kamu sudah dirumah, Mas?" balas Rika kembali bertanya pada suaminya.


Irwan tersenyum, "Kenapa kamu sepertinya tidak senang melihat suamimu ada dirumah?"


"Baguslah, akhirnya kamu sadar bahwa kamu memiliki seorang istri," timpal Rika dengan nafas tersengal-engal.


Irwan turun dari tangga, menghampiri Rika yang merebahkan tubuhnya di sofa panjang diruang keluarga, "Kali ini siapa yang kau temui?"


"Untuk apa kamu bertanya? biasanya kamu tidak peduli," ucap Rika sambil memijat kepalanya sendiri.


"Kamu terlihat sangat lelah, apa telah menempuh perjalanan jauh?" tanya Irwan masih dengan senyuman nya yang terus di lemparkan kepada Rika.


"Kenapa malam ini kamu terus bertanya? kamu pasti belum meminum obatmu," jawab Rika.


Rika memang sangat lelah, seharian ini ia benar-benar tidak diberi jeda untuk bersantai ria, sebelum melakukan perjalanan ke rumah Zovita ia juga sempat mengunjungi kampus Nikita untuk mengadakan rapat.


"Apa kita perlu liburan? kamu pasti sangat suntuk dengan rutinitasmu, kan?" ujar Irwan.


Rika terperangah, perlahan menatap wajah suaminya itu yang duduk disebelahnya. "Apa?"


"Kamu tidak senang?" Irwan kembali bertanya lalu menoleh dan menertawakan raut wajah Rika yang terlihat tidak percaya.


"Jangan bercanda kamu!" Rika mendengus melihat Irwan menertawakannya.


"Aku sedang tidak bercanda, kamu tinggal bilang mau kemana, nanti langsung beritahu sekretaris Mery biar dia urus semuanya," ujar Irwan, Rika menatap Irwan lagi dengan lebih serius.


Rika masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar, berusaha tidak menganggapnya serius lalu memanggil Susi untuk memijit bahunya yang sangat pegal.


Irwan menatap layar ponselnya lalu menunjukan sesuatu kepada Rika, "Lihat aku sudah mengosongkan semua jadwalku, aku melakukannya untukmu."


Rika menatap layar ponsel itu dengan seksama, "Ada apa? sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?"


Rika masih belum bisa melupakan pertemuan awal dirinya dengan Irwan, meski ia seorang anak dari keluarga konglomerat, Rika bersedia menikah dengan seorang lelaki beranak satu, Rika terpesona oleh sikap Irwan yang memperlakukannya dengan istimewa, itu sebelum Irwan berhasil menduduki kursi politik yang panas.


"Kamu adalah wanitaku satu-satunya, Rika. Terima kasih mau menerimaku menjadi suamimu."

__ADS_1


Dengan menikahi Rika, Karir Irwan di politik semakin melejit, membuat Rika kehilangan kehangatan Irwan terhadapnya, Irwan terus disibukkan dengan pekerjaan yang sangat menguras waktunya, bahkan setelah anak keduanya lahir, Irwan jarang sekali kembali ke rumah.


Hingga suatu hari Rika mendengar sesuatu yang mengejutkan, yang membuatnya semakin membenci suaminya sendiri, orang suruhan Rika memberitahunya bahwa Irwan telah memiliki anak bersama wanita lain, bahkan itu sebelum Irwan menikahinya.


Rika terus mencari informasi tentang keberadaan anak itu. Rika tidak akan membiarkan Irwan tahu bahwa ia memiliki anak dari perempuan yang pernah menjadi selingkuhannya.


***


Zovita terbangun dari tidurnya yang sangat tidak enak, kepalanya pusing, dadanya terasa sesak sekali. Ia menatap jam yang menunjukan pukul 06.00 WIB, lalu segera beranjak dari atas tempat tidurnya, memandang jendela kamarnya, menatap pepohonan yang tertiup oleh udara segar pagi itu, Zovita mengingat kembali keputusannya untuk tetap tinggal di desa itu.


'Disini, aku menaruh sebuah harapan. Melupakan kenangan kelam yang terus mengusik hidupku, aku ingin menghirup udara tanpa polusi. Alan benarkah kamu seperti yang aku pikirkan?'


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamarnya, Zovita menoleh dan segera membukanya.


"Vita, bi Wati sudah menyiapkan sarapan. Ayo turun!" ajak bi Wati melebarkan senyumnya.


"Apa Sofie masih ada?" tanya Zovita.


"Sofie? sudah pergi menemui neneknya, karena semalaman dia merasa bersalah tidak pulang kesana," ujar bi Wati dengan raut bingung.


"Aku mandi dulu, baru turun," ucap Zovita yang kembali menutup pintu kamarnya.


'Ada sesuatu yang membuatku belum bisa meninggalkan tempat ini, aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia diatas penderitaan anakku.'


Tak sengaja, bulir air mata itu jatuh di pipi bi Wati, tatapan nya penuh ambisi. Wajahnya yang lugu dan sederhana itu, berubah menjadi seseorang yang mengerikan, bi Wati perlahan menuruni anak tangga, sambil terus mengusap air matanya, bayangan masa lalunya itu muncul di kepalanya.


Kejadian beberapa puluh tahun silam yang membuat ia harus menanggung malu, karena telah hamil dan melahirkan Sofie diluar nikah, semua orang mencibirnya lalu ia diasingkan oleh keluarganya, kemudian diterima dirumah nenek Zovita layaknya keluarga karena bi Wati juga telah bekerja lama dirumah itu.


"Mah, kenapa melamun?" Sofie menyadarkan lamunan Ibunya yang masih berdiri di bawah tangga.


"Sofie kamu sudah kembali? apa nenek memarahimu karena semalam tidak pulang?" tanya bi Wati sambil mengusap sisa air mata di wajahnya.


Sofie menggeleng, "Tidak. Apa mama menangis?"


Bi Wati mengajak Sofie duduk dimeja makan, lalu menyendokan nasi goreng ke piring yang sudah ada di depannya.


"Mah, apa terjadi sesuatu?" Sofie masih terus penasaran.

__ADS_1


"Tidak, mama hanya mengkhawatirkanmu." Bi Wati berlalu ke dapur setelah menyiapkan nasu goreng untuk Sofie.


"Jangan bohong, aku tidak suka. Apa ada yang membuatmu sedih?" Sofie bertanya sambil menyuap nasi goreng ke mulutnya.


Sofie tidak mendengar sahutan Ibunya, terus melanjutkan makanan nya, tak berselang lama Zovita muncul sambil menatap Sofie yang melahap nasi goreng itu dengan serius, seperti orang kelaparan.


"Sofie? kata Ibumu kamu ke rumah nenek," sapa Zovita kemudian duduk dikursi tepat didepan Sofie.


"Hanya sebentar," sahut Sofie singkat.


"Sepertinya kamu sangat lapar." Zovita menyendokkan makanan ke atas piring.


"Tentu lapar, aku bekerja seharian di cafe lalu saat pulang ke rumah sudah lelah sekali, tidak sempat makan," ujar Sofie yang terus melahap makanannya.


Zovita merespon Sofie hanya tersenyum.


"Kamu mungkin tidak akan merasakan seperti aku, karena kamu tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu kan?" Sofie menatap Zovita dengan tatapan sinis.


Zovita belum sempat menyuap makanan itu, menaruh kembali sendok yang ia pegang ke atas piring.


Bi Wati jelas mendengar apa yang telah di ucapkan putrinya itu, berdiam sejenak melihat ke arah Sofie di meja makan.


"Sofie, sesuatu yang menurutmu terlihat menyenangkan, belum tentu bagi orang lain itu menyenangkan." Zovita memberi penjelasan kepada Sofie, lalu melahap nasi goreng ke mulutnya.


"Tapi, Vita. Jika aku di posisimu aku akan senang karena memiliki segalanya, apa yang orang lain tidak punya, kamu punya," celetuk Sofie membuat Zovita tidak bernafsu lagi menyantap makanan itu, meskipun sangat lezat tapi yang dikatakan Sofie membuatnya perutnya mendadak penuh.


"Kamu benar, Sofie. Aku juga pasti akan senang jika di posisimu, aku tidak akan merasa malu dan membenci tubuhku sendiri," timpal Zovita lalu meletakkan sendok di atas meja kemudian ia berlalu dengan langkah terburu-buru menuju tangga.


Sofie sejenak terdiam. Melihat Zovita yang berlalu seperti itu, sedikit membuat Sofie merasa bersalah karena pasti Zovita begitu karena ucapannya.


Bi Wati segera menghampiri Sofie, berdiri di sampingnya, Sofie menatap Ibunya sambil menarik nafas, "Apa ucapanku membuatnya kesal?"


Bi Wati menggeleng sambil mengangkat kedua bahu nya.


"Kamu lanjutkan makan saja, lalu segera bersiap untuk pergi, bukankah kamu kehilangan ponsel? kita beli yang baru," timpal bi Wati sambil membereskan makanan Zovita yang tidak selesai di makan.


Sofie tertawa bahagia mendengarnya.

__ADS_1


___


__ADS_2