Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Alan si misterius


__ADS_3

"Siapa kamu sebenarnya? dan apa tujuanmu?"


Alan di kagetkan oleh suara bi Wati yang tiba-tiba sudah berada di belakang nya.


Bi Wati menatap Alan dengan penuh kecurigaan.


"Maaf ibu, saya tidak ada maksud apa - apa, kebetulan saya hanya lewat saja dan melihat ada seorang gadis sedang bermain dengan kucing nya, seperti nya sangat bahagia."


Dengan senyuman yang manis Alan menjelaskan kedatangan nya kepada bi Wati, Alan merasa bahwa wanita yang ada di hadapan nya sangat hati - hati, apa mungkin dia sudah tau keberadaan nya?


"Jangan panggil saya ibu, saya ini orang desa, saya baru melihat kamu disini, saya tebak kamu bukan orang sini?" tanya bi Wati yang sangat tidak suka basa basi karena orang nya simple.


"Kebetulan saya adalah seorang mahasiswa Unp*d yang menyewa rumah di dekat warkop sana, maaf jika saya mengganggu. Saya hanya mau melihat keadaan gadis yang kemarin hampir tertabrak mobil saya," jawab Alan tak kehabisan akal, dia tidak gugup sama sekali.


Selain anak buah Rika, Alan juga adalah seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di kota itu, mengambil pekerjaan yang di tawarkan oleh Rika untuk membiayai kuliah nya.


"Lalu kenapa kamu hanya melihat dari jauh? kalau kamu berniat baik kenapa tidak datang dan menyapa kita?" Bi Wati terus membuat Alan semakin kebingungan.


Sambil sejenak berfikir mencari alasan, apa yang mau dia katakan agar dia tidak di curigai lagi.


"Saya rasa gadis itu sangat bersenang senang bersama kucing nya, jika saya datang dan menyapa nya, saya takut akan mengganggu suasana hati nya."


Alan selalu berhasil merangkai kata, dengan lancar dan sangat jelas Alan memberikan alasan agar bi Wati percaya.


"Bukan kah kamu orang yang beberapa hari ini selalu mondar mandir dengan mobil mu di samping rumah ini? "


Sontak Alan kaget dengan ucapan yang bi Wati katakan, ternyata selama ini ada yang melihat Alan.


Wajah Alan berubah, dia tak punya lagi alasan untuk mengelak, namun ini tentang hidup dan mati, jika bi Wati tahu misi nya datang kesini dan bos nya Miss Rika tahu bisa gawat, menurut nya.


Karir nya bisa terancam.


"Sebenar nya saya sedang ada tugas kampus, sekali lagi saya minta maaf, ternyata saya membuat suasana tidak nyaman." Alan terus mengeluarkan senjata jitu nya yakni alasan - alasan yang logis, dan selalu menebarkan senyum nya yang sangat manis.


Mungkin siapapun wanita yang melihat senyum nya pasti akan meleleh, tapi ini Bi Wati, dia tak akan goyah hanya dengan senyuman manis apalagi usia bi Wati tidak lagi muda.


Bi Wati segera beranjak meninggalkan Alan masih di tepi jalan, tapi lirikan mata nya membuat Alan sangat penasaran apakah dia benar - benar tidak tahu dengan misi nya? apa bi Wati ini berpura pura tidak tahu?


Entahlah, Alan menarik napas lega, mungkin bi Wati ini memang hanya sangat berhati - hati saja terhadap orang asing yang datang untuk melindungi Zovita.

__ADS_1


Alan pun pergi bersama mobil nya meninggalkan rumah itu.


***


Di kota yang berbeda, Nikita dan Ibu Defa sedang berada di dalam sebuah mobil yang melaju.


Nikita yang menyetir sementara ibu Defa berada di sebelah nya, mereka nampak akan mengunjungi suatu tempat.


"Tante, apa tante serius mau ke rumah Ibu tirinya Zovita? bukan kah dia sangat angkuh dan tante tidak menyukai nya?"


Nikita bertanya dan memulai sebuah obrolan kepada ibu nya Defa.


Di siang itu, tanpa sepengetahuan Defa, ibu nya mengajak Nikita untuk datang ke rumah Ayah Zovita, Irwan.


"Tante hanya mau meyakinkan mereka saja bahwa Defa itu mau menikah, biar si Irwan tidak lagi mengharapkan Defa, sekaligus mencari info tentang keberadaan anaknya, si Zovita itu," jelas Ibu Defa.


"Untuk apa tante?"


Nikita agak sedikit kesal mengetahui calon mertua nya yang masih ingin tahu keberadaan Zovita.


"Mau kasih undangan pernikahan kalau tante sudah tau tempat nya, biar Zovita ini tau kalau Defa sudah tidak mau lagi sama dia."


Tiba di alamat rumah ayah Zovita, Irwan.


Belum sempat masuk ke dalam, di pintu gerbang mobil nya di stop oleh petugas keamanan, yang bertugas di pintu gerbang rumah Irwan.


"Maaf apa anda punya janji dengan bapak Irwan atau Ibu Rika?"


Keamanan itu bertanya dengan perawakan tegap menanyai Ibu Defa dan Nikita.


"Tidak, namun saya ada perlu dengan si Rika? ini sangat penting," ujar Ibu Defa.


"Tapi maaf nyonya, anda tidak bisa masuk tanpa membuat janji dulu, saya hanya bertugas dan saya tidak boleh membiarkan sembarangan orang masuk."


Petugas keamanan itu tak juga membukakan pintu gerbang nya.


Sementara Ibu Defa sangat tak tahan dan segera turun dari mobil nya, dia geram karena mau masuk rumah Rika ini seperti mau masuk rumah orang penting saja, pikirnya.


"Baiklah, coba kamu bilang dulu sana sama nyonya mu, bilang saya Ibu nya Defa mau ketemu sama dia, pasti di suruh masuk kok saya ini kan orang penting." Ibu Defa memaksa petugas keamanan untuk memberitahu Rika, agar dia segera di bukakan pintu gerbang nya.

__ADS_1


"Baik tunggu sebentar!"


Petugas keamanan itu pun berlalu.


Rika yang sedang bersantai di kolam renang pun di hampiri oleh asisten nya.


"Miss, petugas keamanan bilang di luar ada yang mau bertemu miss," ujar Susi, asisten Rika.


"Siapa? di tengah hari begini?"


"Katanya Ibu Defa," lanjut Susi.


Rika kaget.


Mau apa ibu Defa kesini? ujarnya. Rika sejenak berfikir, bukan nya mereka sudah tidak ada urusan lagi.


"Suruh dia masuk!" perintah Rika.


Petugas keamanan pun kembali ke pintu gerbang dan segera membuka nya, lalu membiarkan mobil Ibu Defa masuk.


Ibu Defa tersenyum puas.


"Tuh kan, si Rika itu mana berani macam-macam sama saya." Ibu Defa masih dengan nada sombong nya berucap.


Ibu Defa dan Nikita pun keluar dari mobil dan memasuki halaman rumah Rika.


Asisten Rika menyambut nya di depan pintu masuk, dan mempersilahkan nya masuk.


"Silahkan nyonya ikut saya, Miss Rika sedang menunggu di ruang tengah."


Asisten Rika membawa Ibu Defa dan Nikita ke ruang tengah, dan Rika dengan gaya nya yang super elegan itu sedang menunggu.


Rika tengah asik memainkan ponsel di tangan nya, dengan duduk menyilangkan kedua kaki nya yang putih dan mulus.


Ketika Ibu Defa dan Nikita muncul di hadapan nya, Rika melebarkan senyuman khas nya, senyum licik mengandung kebencian dan penuh dendam.


Sementara Ibu Defa membalas Rika dengan tatapan sinis, senyuman nya hanya di ujung bibir nya yang berwarna coklat.


______

__ADS_1


__ADS_2