
'Vita, sebarapa sakitnya ketika aku meninggalkanmu? bahagianya, aku bisa bertemu denganmu lagi, aku senang mendengar kamu masih tetap kokoh, seakan kejadian itu tidak pernah terjadi, luka-luka itu, semuanya dan luka yang memborok di dalam hatimu, karena egoku'
Defa terus bergumam sepanjang perjalanan nya menuju ke tempat Zovita, matanya nanar terus mengingat wajah wanita yang ia cintai, Zovita pasti akan sakit sekali, ketika melihat seseorang yang ia cintai tiba-tiba muncul setelah meninggalkannya tanpa pamit.
Di tangan kiri Defa, menggenggam selembar kertas yang menunjukkan alamat Zovita. Sore itu ia sudah tepat berada di depan halaman rumah yang tertera di kertas itu, Defa mengingat beberapa bulan lalu, ia pernah kesini, dan ini benar rumah itu, rumah yang dulu ia tuju.
Defa memakirkan mobilnya di pinggir jalan, langkahnya perlahan memasuki halaman rumah itu, ia tak mau langsung memencet bel, Defa diam-diam menyusup ke halaman rumah, melalui samping rumah Defa terus berjalan ke arah belakang, gerak-geriknya mirip seseorang yang mau mencuri.
Ketika melihat seseorang yang sedang bermain bersama kucingnya, di halaman belakang rumah, Defa tercengang, tubuhnya kaku tak bergerak.
Tiba-tiba Zovita melihat ke arah nya, sangat syok dengan apa yang ia lihat, Zovita tak berkedip meski kucing nya berlari, ia tak mengejarnya, Zovita tetap berdiri, karena mendadak kakinya sangat berat untuk melangkah.
Defa perlahan menghampirinya, lebih dekat lagi. Zovita menatap pria di hadapannya dengan pandangan kaget dan tidak mengerti, ia melihat pria itu menghampirinya dengan linangan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.
Defa mendekat dan memanggil. "Vita!!"
Zovita masih membisu, mengedipkan kelopak matanya yang buram, namun air matanya justru jatuh.
"Ken- Kenapa kau ada disini?" Dengan terbata-bata, Zovita bertanya.
Refleks, Defa menariknya ke dalam pelukannya, Defa sangat lega mengetahui orang yang menyiksanya dalam rasa bersalah, kini berada dalam dekapannya. Rupanya Defa tak mau melepaskan pelukannya, sekuat tenaga Zovita melepaskannya dan segera mendorong tubuh nya menjauh.
Zovita terus menatap Defa. "Kenapa kau menangis?"
Defa menyungging senyum lemah dengan matanya yang sembab. "Tidak apa-apa."
"Vita, maaf--" ujar Defa yang tak sanggup untuk meneruskan ucapannya.
__ADS_1
"Untuk apa?" Zovita dengan lembut berusaha menanggapi Defa.
"Maaf telah meninggalkanmu, membiarkanmu melewati masa sulitmu seorang diri," jawab Defa yang sangat sakit untuk mengungkapkan nya di depan Zovita.
Zovita menghapus air matanya, menyunggingkan bibirnya, ingin tertawa tapi sangat sakit sekali, ingin menangis, namun sudak tak ada gunanya lagi.
Zovita membuang wajahnya ke rerumputan di sampingnya.
"Untuk apa kamu datang? mau memberitahu tentang pernikahanmu?" singgung Zovita yang tak mau menatap wajah Defa.
"Aku telah dihukum, Vita, aku terus di siksa rindu, di siksa rasa bersalahku padamu, aku bahkan belum sempat mengucapkan sepatah dua patah kata padamu, tapi..." ujar Defa yang kembali berderai air mata.
Lutut Defa terasa sangat lemas, sehingga dia bersimpuh di depan Zovita, Zovita langsung melangkah mundur, dadanya sangat sakit sekali, bahkan terasa sesak.
Zovita menghela napas lelah. Ia sangat lelah dengan segala drama dan air mata.
Zovita menatap Defa dengan tajam dan dingin, Defa menengadah sesaat dan mengusap air matanya.
Defa berusaha meraih tangan Zovita, namun segera di tampik oleh Zovita. Kini apa yang diinginkan Defa ada di depan matanya, namun Defa justru merasa pedih, seandainya saja ia menemani masa sulit Zovita, pasti kehadirannya merupakan keajaiban bagi Zovita, tapi wanita yang ada di depannya masih tetap berdiri kokoh, dan baik-baik saja setelah kepergiannya.
"Vita, aku tahu sekarang kamu tak mempercayai siapapun, bahkan Tuhan sekalipun, aku tidak pernah bisa melupakanmu, aku selalu mencintaimu," ungkap Defa terus menjelaskan perasaannya.
Rasa bersalah adalah siksaan paling berat di muka bumi. Kejadian itu merupakan neraka bagi mereka, hanya saja neraka yang paling beratlah yang di alami wanita yang ada di depannya itu.
Zovita terduduk di kursi besi yang berjejeran dengan tanaman di halaman belakang rumahnya itu, Defa ikut duduk di sampingnya.
"Aku tidak mau mengingat kejadian yang menyakitkan itu, itu sudah cukup membuatku tahu siapa saja orang-orang yang mencintaiku, dan membuangku," ujar Zovita dengan lirih, Defa melirik ke arahnya.
__ADS_1
"Terima kasih, karena kamu telah mengajari makna cinta yang sesungguhnya," imbuhnya.
Defa seperti ditusuk oleh ribuan jarum mendengar ucapan Zovita. Ia adalah orang yang paling bodoh karena mengikuti ego nya, padahal dia tetap mencintai Zovita bagaimana pun kondisinya, sekarang semua sudah terlambat, ia takkan pernah mendapatkan cinta itu lagi dari Zovita. Terlebih dirinya kini sudah berstatus suami orang.
"Kamu benar-benar hebat, Vita, kamu tetap kuat seperti ini, aku memang bodoh tidak mengikuti isi hatiku, aku mohon padamu untuk memaafkan aku yang bodoh ini," timpal Defa yang pandangannya tak pernah lepas, mengharapkan wanita di sampingnya akan memaafkan nya.
"Aku lelah hidup dalam rasa bersalah, aku tidak bisa tidur dengan tenang, aku tidak mampu berfikir jernih, aku selalu memikirkanmu," imbuhnya.
"Aku tidak pernah menyalahkanmu, hanya ekspektasiku yang terlalu tinggi, siapapun orang nya jika di posisimu akan melakukan hal yang sama," sahut Zovita yang terus memandang ke depan, untuk menatap wajah Defa saja ia tak mau lagi.
Di balik jendela, bi Wati menyaksikan itu semua, bi Wati mendengar jelas percakapan Zovita dan Defa kemudian melaporkan nya kepada Rika.
Defa menoleh. "Tidak! hanya aku orang yang paling bodoh, Vita."
"Kelak, jika kamu menemukan seseorang yang mencintaimu, jangan pernah meninggalkannya dalam kondisi apapun," imbuh Zovita, lalu ia berdiri dengan tubuh yang terasa lemas Zovita memasuki rumah dan meninggalkan Defa sendirian dengan wajah yang basah karena air matanya yang terus mengalir.
Tangan Defa yang membeku tak mampu meraih tangan Zovita. "Vita..."
Ingin rasanya dia berlari dan kembali memeluk Zovita, namun Defa tahu pasti Zovita akan berusaha keras untuk melepaskannya.
Defa terus memohon maa. "Maaf, Vita."
Sebelum berlalu, ia menatap jendela rumah itu, masih berharap bahwa wanita yang ia cintai melihat nya, namun harapannya harus terkubur bersama penyesalan yang semakin mendalam.
'Aku melihat, di matamu sudah tak ada lagi cinta untukku, Vita. Pasti sangat sakit sekali luka yang membekas di hatimu, semoga kelak kamu menemukan seseorang yang tulus mencintaimu, aku menyesal telah meninggalkan wanita yang kuat sepertimu. Aku takkan pernah melupakanmu, Vita.'
Defa terus bergumam, menyesali kebodohannya, ia memang pantas untuk menerima hukuman atas perbuatannya.
__ADS_1
Mobil itu segera melaju kencang, meninggalkan sebutir penyesalan dan kenangan yang buruk di desa itu.
____