
Zovita mulai menikmati hidup di desa, suasana nya asri, tenang dan lingkungan yang tidak banyak polusi seperti di kota, ingin terus tinggal di desa itu, namun Zovita juga punya impian yang harus dia kejar, kini dia harus bangkit dari keterpurukan ini.
flashback satu tahun yang lalu.
"Aku ingin menjadi seorang dokter, Ibu." Hari itu saat Zovita berencana untuk memilih kampus.
"Dokter? Vita, bukan Ibu tak setuju dengan pilihanmu, namun Ibu sangat ingin sekali kamu menjadi sarjana hukum," ucap Ibu Zovita, yang langsung membuat mental Zovita down.
"Aku tak suka menjadi sarjana hukum, aku ingin menjadi dokter karena menjadi dokter itu pekerjaan yang sangat mulia, Ibu." Zovita menarik sebuah kertas dari dalam tas nya, lalu memperlihatkan kepada Ibu nya.
"Ibu tidak setuju! pokoknya kamu jangan jadi dokter, kalau kamu memang sayang sama Ibu, kamu pasti akan mendengar kan Ibu mu ini, Vita." Ibu Zovita segera meninggalkan nya dengan raut sedihnya, harapan Zovita sirna, mimpi yang selama ini dia perjuangkan ternyata sia-sia.
Zovita terduduk lesu, dia merasa bahwa Ibu nya telah menghancurkan impian nya, bahkan di saat dirinya butuh seseorang untuk berbagi kisah, Ayah nya juga sibuk dengan keluarga baru nya.
Dari situ lah, Zovita memulai hari-hari nya yang penuh tekanan, sejak saat itu Zovita menjadi mahasiswa hukum, dia rela meninggalkan mimpi nya untuk menjadi dokter karena menuruti keinginan Ibu nya untuk menjadi sarjana hukum.
Bahkan Ayah nya tak berusaha mendukung mimpi nya, Zovita harus menerima nya karena merasa bahwa Ibu nya lah yang dia punya satu-satu nya.
Entah, sampai saat ini, Zovita masih tidak mengerti mengapa Ibu nya sangat tidak setuju dengan cita-cita nya, padahal sejak kecil Zovita selalu berkhayal saat dewasa nanti dia akan menjadi dokter.
***
Sekarang, Zovita terus mencari informasi di internet, untuk memulai kuliahnya dari awal, dengan masuk ke fakultas kedokteran, awalnya ingin kembali ke kota, namun sepertinya kota itu akan terus memberikan rasa trauma nya muncul.
"Bi, perguruan tinggi terdekat disini, dimana ya? " tanya Zovita yang menghampiri bi Wati di dapur.
"Ada, Vita, di jatinang*r itu, memang mau masuk fakultas apa?" sahut bi Wati.
"Kedokteran, Bi. aku ingin disini, sepertinya aku tidak perlu ke kota, disini sangat asri dan tenang, Bi," ujar Zovita lalu duduk di kursi makan.
"Sofie juga mau masuk situ tahun ini, tapi masuk fakultas ekonomi dan bisnis, memang nya kamu sudah bilang ayahmu?" tanya bi Wati, Zovita menggeleng.
Zovita khawatir, ayahnya takkan setuju karena pasti ayahnya menginginkan dia untuk melanjutkan karir nya, sementara Zovita tak menyukai nya.
"Aku mau cari informasi detail nya dulu, Bi, baru nanti aku bicara pada Ayah." Zovita berlalu dari hadapan bi Wati.
__ADS_1
Zovita yang sekarang lebih semangat menjalani kehidupan, membuat bi wati ikut bahagia melihat nya.
Sore itu, Zovita mengajak Katy untuk keliling kampung pertama kali, Zovita menyusuri jalan hanya menggunakan sandal jepit, dengan memakai setelan jaket bombers dan celana jeans, selalu tak lupa jaket saat keluar rumah karena udara disana sangat dingin.
Zovita berjalan kaki, melalui jalan yang turun naik, dia menyadari betapa segarnya udara luar disana.
Saat melewati sebuah warung kopi, Bagus melihat Zovita yang sedang berjalan menggendong seekor kucing, Bagus terkejut segera berlari ke rumah dan memanggil Alan.
"Lan!!!" panggil Bagus dengan nafas terengah-engah.
"Apa sih, Gus? kenapa lari-lari mau ikut lomba?" sahut Alan yang tengah sibuk dengan tugas kuliah nya di depan laptop.
"Aku lihat si Vita, Lan, dia sedang berjalan bersama kucing nya diluar," ujar Bagus memberi tahu Alan, Alan yang ikut terkejut langsung berdiri.
"Serius?" tanya Alan masih tidak percaya.
"Yeh, serius lah," timpal Bagus.
Alan pun bejalan keluar pintu, di teras rumah Alan melihat kanan kiri, tak menemukan Zovita seperti yang Bagus katakan.
"Tidak ada, Gus, sepertinya kamu sedang halusinasi," timpal Alan yang membuat Bagus segera berlari ke arah nya.
"Oh, pantas," sahut Alan.
"Ya kejar dong! kan tugasmu mengawasi dia, kamu tak tahu kan dia mau kemana? kalau dia kabur gimana?" sambung Bagus menyuruh Alan untuk mengejar Zovita.
Alan berfikir.
"Benar juga kau Gus, eh tapi kan ini tugasmu juga, kenapa hanya aku?" ucap Alan yang menarik tangan Bagus.
"Lan, kamu aja, aku masih mabar nih tanggung, tugas nya gak berat kan, ya kamu aja ya? oke," pinta Bagus melepaskan tangan Alan dari tangan nya.
"Bisa aja kau, ya sudah." Alan segera mengambil ponsel nya dan melangkah ke arah kanan seperti yang Bagus tunjukkan.
Alan terus berjalan sangat cepat agar langkah nya cepat sampai dengan Zovita, Alan merasa aneh dengan Zovita karena tidak biasanya dia berjalan jauh dari rumah nya, biasanya dia hanya pergi ke taman di samping rumah nya.
__ADS_1
Semakin jauh melangkah, Alan menyadari bahwa arah nya merupakan jalan menuju pasar, di depan, Alan melihat Zovita yang tengah menggendong Katy sedang membuka sebuah pintu minimarket, ini lumayan jauh Zovita berjalan.
Alan terus mengikuti Zovita di belakang, namun dia takut Zovita melihat, Alan pun memutuskan untuk masuk ke dalam minimarket dan berpura-pura mencari sesuatu.
"Hei, Vita!! kau disini?" sapa Alan yang melihat Zovita sedang memilih sebuah susu.
Zovita menoleh.
"Alan? kamu disini juga?" jawab Zovita tersenyum.
Alan di buat meleleh dengan respon senang Zovita.
"Iya, aku mau membeli makanan ringan untuk si Bagus" ucap Alan yang refleks malah mengatakan untuk Bagus.
"Bagus? temanmu?" tanya Zovita sambil melihat ke belakang Alan.
"Iya, dia di rumah, karena lagi tidak enak badan makanya aku diminta untuk membelikan makanan ringan untuk nya," timpal Alan yang membuat alasan.
"Wah, beruntung nya dia punya teman sepertimu, ya." Zovita tersenyum karena senang melihat sikap Alan yang peduli kepada teman nya.
"Ah, ini bukan apa-apa, kamu sendiri sedang mencari apa? ini pertama kali aku melihatmu kemari, Vita," tanya Alan yang terus mengikuti langkah Zovita.
"Iya, tiba-tiba aku ingin sekali keluar rumah dan kebetulan susu untuk Katy sudah habis, makanya aku mampir kesini," jawab Zovita yang menaruh beberapa kotak susu UHT ke dalam keranjang yang dia jinjing.
"Buat Katy? kukira buat kamu." Alan menggaruk kepalanya antara bingung dan terkejut.
"Dia kan masih kecil, kamu lihat kan?" Zovita menunjukan kucing nya di depan Alan.
Alan mengangguk dan tersenyum, ternyata seperti itu tampilan wajah Zovita jika sedang bahagia.
Alan terus berjalan di belakang Zovita, lupa bahwa dia mengatakan kepada Zovita akan membeli beberapa makanan ringan, hingga mengikuti Zovita ke arah kasir.
"Hei, mana belanjaanmu?" tanya Zovita menatap tangan kosong Alan.
Alan terkejut, lalu melihat kedua tangannya kosong, Alan sadar bahwa dirinya hanya berjalan mengikuti Zovita di belakang nya, Alan tersipu malu kemudian mengambil keranjang dan meraih makanan ringan untuk di masukkan ke dalam keranjang di tangan nya.
__ADS_1
Mata Alan masih melihat Zovita yang tengah membayar di kasir, Alan meraih apapun di tangan nya tanpa melihat barang yang dia masukkan ke dalam keranjang, Alan terburu-buru agar tidak ketinggalan langkah Zovita.
____