
"Vita, ku dengar kamu mau tetap disini? apa benar kamu sudah memilih kampus untuk melanjutkan studi mu?" tanya Rika yang menghampiri Zovita di kamar nya.
Zovita sedang merapikan buku-buku nya di atas meja.
"Iya, aku sudah memutuskan mau kuliah dimana, aku masih belum siap untuk kembali ke kota," sahut Zovita sambil menata buku.
"Apa kamu sudah memberi tahu ayahmu? ayahmu takkan setuju, dia berencana mengirimmu ke luar negeri, Vita," ujar Rika yang ikut menata buku Zovita ke meja nya.
"Dia pasti sudah mendengar nya bukan? selama ini bukankah kalian mengirim orang-orang untuk mengawasiku disini?" timpal Zovita membuat Rika terkejut, ternyata selama ini Zovita tahu bahwa dirinya tengah di awasi.
"Maksudmu? mungkin jika ayahmu memerintah kan seseorang, itu karena dia sangat peduli padamu," ucap Rika berpura-pura tidak mengerti.
Zovita terus sibuk menata buku nya, bahkan saat Rika berbicara, Zovita tidak menatap ibu tirinya itu, Rika yang masih berdiri mematung merasa tidak nyaman dengan situasi itu, Rika sedikit khawatir jika selama ini rencana nya di ketahui oleh Zovita.
"Jika kamu sudah memikirkan dengan matang rencana mu itu, aku akan coba membujuk ayahmu agar setuju, lagi pula dia sendiri sibuk dengan urusan nya," imbuh Rika mencoba meyakinkan Zovita, agar Zovita semakin mempercayai nya.
"Aku tahu dia tidak benar-benar peduli padaku, dia hanya menjaga citra nya, bukan putri nya." Zovita langsung berhenti menata buku nya, terdiam sejenak menatap wajah Rika yang terkejut mendengar penuturan Zovita.
"Vita, kamu--" Rika belum sempat melanjutkan ucapan nya, Zovita langsung memotong ucapan Rika.
"Tidak perlu di jelaskan secara detail, aku selama ini sering menonton nya di televisi, meskipun selama ini kita jarang bertemu, aku sudah tahu pasti di belakang layar, dia tak begitu," ucap Zovita dengan nada sedikit emosional, Rika tak berkutik, hanya menatap wajah Zovita lebih dalam dan menarik nafas panjang.
Rika yang selalu terlihat baik-baik saja, terlihat sangat bijaksana dan tegar, malam itu, dia tak sengaja meneteskan air mata, tubuh nya sangat lemas sehingga dia terduduk di atas tempat tidur Zovita, bukan hanya Zovita, bahkan Rika sendiri sangat kurang kasih sayang dari suaminya.
Banyak hal yang tidak Zovita tahu tentang sikap ayah nya kepada Rika, Rika selama ini hanya berpura-pura terlihat bahagia, agar semua orang menganggap pernikahan nya dengan Irwan sangat sempurna.
"Kamu benar, Vita, aku sendiri selama ini berusaha agar orang mengira bahwa pernikahan kami sangat sempurna, bahkan meskipun kita tinggal satu atap, kita seperti orang asing," ungkap Rika sambil mengusap air mata nya yang terjatuh di pipi nya.
Zovita menghampiri Rika, duduk di samping Rika, Zovita sangat tahu bagaimana perasaan Rika yang pasti sangat sakit karena terus menghadapi sikap ayahnya itu.
"Apa kamu mencintai ayah?" tanya Zovita yang duduk di samping Rika, sontak saja pertanyaan Zovita membuat Rika kaget.
__ADS_1
"Kenapa kamu bertanya begitu? bodoh nya aku, selama ini sangat mencintai ayahmu, meskipun dia menikahiku hanya untuk bisnis," ujar Rika mengutarakan kekecewaan nya di depan Zovita.
"Mungkin, jika ayahku tidak menikahimu, dia akan jadi gelandangan di luar sana, dia sangat beruntung karena masuk ke keluargamu," ucap Zovita dengan lembut.
Kali ini Rika seperti di tampar oleh ucapan anak tiri nya sendiri, Rika selalu di buai oleh cinta yang tak masuk logika, Rika selama ini selalu mengedepankan perasaan nya, padahal orang yang dia cintai ternyata hanya memikirkan citra nya.
Rika merasa bodoh karena telah mencintai Irwan yang tidak pernah memikirkan perasaan nya, seandainya saja dulu dia tak mengikuti kemauan ayah nya, Rika tak mau menikahi Irwan.
"Vita, inilah pernikahan, memang sangat menjebak, kelak, menikahlah dengan orang yang mencintaimu, dia akan menjadikan mu ratu." Rika menepuk bahu Zovita yang masih duduk di atas kasur nya, Rika segera berdiri dan keluar dari kamar Zovita.
Zovita tersenyum, melihat Rika yang berlalu dengan mata yang basah, malam itu, Zovita tiba-tiba memikirkan bayangan seseorang, Zovita kali ini sangat aneh dengan pikiran nya, karena merasa sangat ingin melihat Alan.
Rika dan Rachel bermalam di rumah nenek Zovita.
***
Di pagi hari, Rachel mengintip keluar jendela kamar nya, melihat ke bawah, Rachel melihat sosok laki-laki yang tak asing bagi nya sedang berbincang dengan bi Wati di samping halaman rumah.
Rachel yang penasaran, segera keluar kamar dan menuruni tangga, segera berlari ke halaman dimana bi Wati sedang menyiram tanaman.
"Rachel, kamu kenapa berlari?" tanya bi Wati penasaran.
Rachel melirik ke tangan bi Wati yang menenteng sebuah makanan.
"Itu apa bi?" Rachel kembali bertanya.
"Oh, ini ada titipan makanan buat neng Vita," sahut bi Wati sambil menunjukan makanan di tangan nya.
"Dari laki-laki tadi?" tanya Rachel penasaran.
Bi Wati mengangguk, melihat wajah Rachel yang terus menoleh ke samping dimana Rachel melihat sosok laki-laki yang tak lain adalah Alan berlalu dengan mobil nya.
__ADS_1
"Bibi kenal dengan dia? mengapa dia berada disini?" tanya Rachel yang semakin membuat bi Wati bingung.
"Maksud kamu? kenal? iya, namanya Alan, memang kamu kenal dia?" Bi Wati kembali bertanya kepada Rachel.
"Iy--" Belum sempat Rachel menjawab, Rika muncul dengan memotong pembicaraan Rachel dan bi Wati.
"Wati, kenapa kamu belum menyediakan sarapan untuk kita? ayo ini sudah jam berapa?" timpal Rika dengan wajah yang masih mengantuk, terus menguap.
"Oh, iya, Miss, kalau gitu saya ke dapur dulu." Bi Wati pun langsung menuju dapur meninggalkan Rachel dan Rika di halaman.
Rika menghampiri Rachel yang sedari tadi memasang wajah bingung.
"Kamu kenapa?" tanya Rika.
"Mam, itu tadi bukan nya Alan ya?" ucap Rachel, Rika langsung menepuk tangan Rachel dan memberi isyarat untuk tidak bicara terlalu kencang.
"Ssssttt," ujar Rika.
"Kenapa sih mam?" Rachel masih bertanya-tanya karena dirinya tidak mengerti.
"Kamu jangan bilang kenal sama Alan di depan Vita atau si Wati," ujar Rika.
"Memangnya ada apa? aku tidak mengerti, lalu mengapa Alan ada disini?" ucap Rachel yang semakin bingung dengan Ibu nya.
Rika belum menjawab Rachel, namun wajah Rachel terlihat sedang menebak sesuatu.
"Jangan-jangan--" ucap Rachel.
"Ssssttt, ayo ikut mami ke atas," ajak Rika yang menarik tangan Rachel.
Rika dan Rachel pun menaiki tangga, dengan hati-hati Rika membawa Rachel memasuki kamar nya.
__ADS_1
Dengan suara yang sangat pelan, Rika menjelaskan kepada Rachel tentang kedatangan Alan dan misi yang di berikan Rika kepada Alan, Rachel hanya mengangguk dan tersenyum, Rachel mengerti selama ini Ibu nya menerima informasi tentang Zovita dari siapa.
___