
Sofie yang telah tinggal bersama ibu nya di rumah Zovita, merasa jenuh, karena dia tidak punya kesibukan seperti saat di rumah nenek nya, Sofie mencoba ingin melamar pekerjaan paruh waktu untuk mengisi waktu senggang nya saat masuk kuliah nanti.
Sofie melihat Zovita di halaman samping rumah sedang menatap sebuah laptop, Sofie segera menghampiri Zovita.
"Vita, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Sofie yang langsung mengambil sebuah kursi lalu segera duduk di samping Zovita.
"Hei, Sofie. Aku hanya sedang menulis suatu cerita, kamu tidak ke rumah nenek?" sapa Zovita, Sofie melirik ke arah laptop Vita.
"Cerita apa yang sedang kau tulis? kemarin aku baru dari rumah nenek," ujar Sofie terus penasaran ingin melihat tulisan Zovita.
"Bukan apa-apa, hanya sebuah cerita sehari hari, aku hanya bosan," timpal Zovita menarik perhatian Sofie, Sofie menatap wajah Zovita sedikit ketus.
"Oh gitu," ujar Sofie.
Sofie menatap Zovita, sepertinya ini waktu yang pas untuk mengungkapkan identitas Alan yang sebenarnya, karena dengan begitu pasti Zovita tak akan mau lagi dekat dengan Alan.
"Vita!" sapa Sofie.
Sofie terus mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kepada Zovita.
Zovita menoleh ke arah Sofie.
"Iya, kenapa, Sof?" tanya Vita menatap wajah Sofie.
Belum sempat Sofie mengatakan sesuatu, tiba-tiba Rika muncul, sontak membuat Sofie terkejut.
"Vita!"
Rika memanggil Zovita.
Zovita langsung menoleh ke arah Rika.
"Bisa bicara sebentar?" ujar Rika menarik tangan Zovita, Rika membawa Zovita masuk ke dalam rumah.
Sofie terus menatap wajah licik Rika, dia gagal kali ini.
"Sofie!" Bi Wati muncul dengan menarik tangan Sofie dan membawa nya ke dalam kamar.
"Aduh, sakit, Mah." Sofie melepaskan tangan Ibu nya.
"Sofie, kamu tidak bisa tinggal disini lagi, kamu harus kembali ke rumah nenek," lontar bi Wati dengan tatapan tajam.
"Apa yang kau maksud,Mah? mengapa aku harus kembali ke rumah nenek?" timpal Sofie menolak untuk pergi dari rumah itu.
"Kemasi barang-barang mu sekarang! ayo, Sofie!" perintah bi Wati semakin terlihat aneh di mata Sofie.
"Mah, ada apa sih? kenapa tiba-tiba sekali? aku kan baru beberapa hari disini," tanya Sofie yang merasa bahwa ada yang aneh.
"Sepertinya lahan rumah kita akan di gusur untuk pembangunan sebuah apartemen, kemarin mamah dengar dari tetangga, karena yang kita tempati adalah tanah sengketa," ujar bi Wati menjelaskan kepada Sofie, dia khawatir.
"Apa? siapa yang berani melakukan itu?" Sofie terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Dari PT apa, mamah juga tidak tahu, sebaiknya kamu tinggal sama nenek dulu, ya?" Bi Wati terus membujuk Sofie.
"Mah, aku akan mencari pekerjaan agar punya kegiatan, aku bosan," imbuh Sofie.
"Iya, mamah tahu, tapi kamu harus ke rumah nenek dulu karena takut ada apa-apa disana," pinta bi Wati yang telah mengemasi barang Sofie.
"Ah, baiklah, tapi nanti aku akan tinggal disini lagi ya?" tanya Sofie yang memohon kepada Ibu nya.
Bi Wati hanya mengangguk kecil, lalu segera membawa barang Sofie keluar, Sofie segera menuju rumah nya, dimana ada nenek yang sedang menunggu nya.
***
Hari itu, Rika meninggalkan desa dimana Zovita tinggal, Alan yang sudah berada di jalan raya bersama mobilnya, menatap mobil Rika yang melaju, Alan masih berada di dalam mobil agar Zovita tak melihatnya.
"Lan, jadi apa tugas kita sudah selesai?" tanya Bagus yang duduk di sebelah Alan.
"Belum, kita masih harus menunggu mantan tunangan Zovita datang," sahut Alan yang mata nya terus melihat ke arah rumah Zovita.
"Untuk apa? ngapain kita tunggu dia?" Bagus semakin penasaran.
"Mencegah pertemuan Zovita dengannya," timpal Alan.
"Ah aneh saja, biarkan saja mereka bertemu, ngapain ya ribet," ujat Bagus yang mengernyitkan dahi nya.
"Aku juga ingin sekali-kali memberinya pelajaran, biar dia kapok." Alan mengepalkan tangan nya ke stir mobil.
"Apa urusanmu, Lan? kamu kan hanya harus mencegah, mengawasi kan?" Bagus terus bertanya.
"Gus!" panggil Alan.
"Hah, iya?" jawab Bagus.
"Udah diem aja deh, jangan nyerocos mulu, pusing aku mendengarnya," sambung Alan lalu menyalakan mesin mobil dan segera melaju.
"Lan?" Kali ini Bagus yang memanggil Alan.
Alan mengangguk dan menoleh ke arah bagus.
"Kamu suka ya sama Zovita?" tanya Bagus yang membuat Alan terkejut hingga membanting setirnke kiri.
"Aduh," timpal Bagus yang kepala nya terbentur.
"Kamu sih, aneh aja nanya nya," ujar Alan menyalahkan Bagus yang terus bertanya.
"Selow aja Lan, kok kamu salting," sahut Bagus memiringkan bahu nya lalu menatap ke cermin.
"Apa itu salting?" tanya Alan bingung.
"Au ah, uda jalan terus." Bagus yang kesal karena dibuat benjol oleh Alan.
Mobil Alan dan Bagus memasuki pekarangan rumah yang mereka tinggali.
__ADS_1
Setelah turun dari mobil, di teras rumah, Alan melihat Sofie sedang berdiri di depan teras.
Bagus yang kegirangan melihat Sofie, langsung menghampiri Sofie begitu dia turun dari mobil.
"Sofie!!" sapa Bagus.
"Kamu sedang apa? pasti menunggu aku ya?" tanya Bagus dengan memasang wajah bahagia nya.
Sofie masih terdiam, menatap Alan yang segera muncul di hadapan nya.
Kedua tangan Sofie di silangkan di dada nya.
"Alan, boleh aku bertanya?" tanya Sofie yang menghentikan langkah Alan.
"Tanya apa?" sahut Alan singkat.
"Apa proyek pembangunan dari PT XX ada hubungan nya denganmu dan bos mu, wanita licik itu?" tanya Sofie secara jelas membuat Bagus melirik Alan.
Alan menarik nafas.
"Apa maksudmu? pembangunan apa?" Alan memasang wajah bingung.
"Ah sudah lah, Alan, jangan berlagak bodoh lagi, aku sudah tahu tentang identitasmu, jadi, jangan mencoba sembunyi lagi dari aku," pekik Sofie yang terlihat kesal, Sofie mencurigai bahwa proyek pembangunan yang akan menghancurkan rumah nya itu pasti ada hubungan nya dengan miss Rika.
"Sofie, aku tak mengerti ucapanmu, bahkan kamu terlalu berlebihan, kamu anggap aku ini mata-mata? agen rahasia?" sergah Alan menampik semua yang Sofie katakan.
"Jangan bersandiwara lagi, Alan, aku tahu kalian berdua adalah kaki tangan miss Rika, benar kan?" Sofie menatap wajah Alan yang memerah karena tertangkap basah.
Alan mencari alasan supaya Sofie tak lagi mencurigai nya.
Bagus hanya diam menunggu perintah Alan, karena Bagus belum terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Kamu mencurigai aku kaki tangan Ibu nya Zovita, karena pertemuan di cafe itu kan?" Alan melangkah lebih dekat ke arah Sofie, tepat di depan Sofie.
Sofie yang melihat Alan semakin dekat sangat gugup, jantung nya berdegup sangat kencang, nafas nya tak beraturan, Sofie pun melengos ke samping.
"Aku bahkan baru tahu kalau wanita yang ku temui di cafe adalah ibu Zovita, selain KKN, aku juga adalah seorang jurnalis yang sedang mewawancarai narasumber," ujar Alan dengan penjelasan yang membuat wajah Bagus semakin bingung, Sofie terus menyimak Alan.
"Apa?" Sofie tersenyum kecil, wajah nya masih tak mampu menatap Alan yang tepat berada di hadapan nya.
"Iya, Ibu Rika dan suaminya itu kan anggota D*R, aku ada tugas untuk wawancara dengan nya, karena isu yang beredar mengenai anak Bapak Irwan, dan ternyata anak nya itu adalah Zovita, dunia ini sungguh sempit sekali." Alan berhasil menyangkal Sofie, kini wajah Sofie berubah.
"Kamu masih tidak percaya? kamu cari di media sosial mengenai perusahaan tempat aku bekerja itu, PT XX," tambah Alan yang secara rinci memberi tahu Sofie.
Alan si jenius berhasil membungkam mulut Sofie yang terus mencurigai nya.
Bukan Alan namanya jika tidak berhasil, Alan selalu punya cara untuk menyelesaikan masalah nya.
Sofie di buat diam seribu bahasa, Sofie terlihat sangat malu untuk menatap wajah Alan, Bagus melirik Alan dengan senyuman meringis.
Alan langsung membuka kunci pintu rumahnya dan melewatkan tubuh Sofie yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
____