Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Kecurigaan Bagus kepada Sofie


__ADS_3

Saat Alan tiba di rumah, Sofie sedang menunggu nya di teras, Sofie duduk di sebuah kursi yang terbuat dari rotan, Sofie yang menyadari mobil Alan tiba, langsung berdiri menyambut Alan.


Alan dan Bagus melihat Sofie yang sudah ada di teras rumah nya, perasaan Alan mulai tidak enak, karena Sofie selalu punya maksud lain jika tiba-tiba muncul di rumah nya.


Alan turun dari mobil, Bagus menyusul langkah Alan, dengan sebuah kaca mata hitam yang di pakai Alan dan Bagus, Sofie terus memperhatikan penampilan mereka.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Bagus penasaran.


Sofie terus tersenyum melihat Alan, ucapan Bagus tidak di respon sedikitpun.


"Alan, penampilan mu seperti ini terlihat seperti seorang bodyguard, benar kan?" ujar Sofie seraya melemparkan senyum kepada Alan, namun Alan tidak menghiraukan nya.


"Memang bodyguard itu seperti ini ya? aneh masa penampilan begini di bilang kaya bodyguard," sahut Bagus mengalihkan pandangan Sofie yang terus menatap Alan.


"Kalian dari mana?" tanya Sofie.


"Dari kampus, ada tugas," jawab Alan singkat.


Bagus begitu saja melewati Sofie yang masih berdiri di depan Alan, sehingga Alan sangat kesulitan untuk melangkah ke dalam rumah.


"Kampus? dengan pakaian ini?" ucap Sofie memandang pakaian Alan dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Bagus yang duduk di sofa dari dalam rumah, terus mencari ide agar Sofie tidak semakin memancing identitas nya.


"Apa yang salah dengan pakaian ini?" tanya Alan sambil berlalu ke dalam rumah, Sofie menyusul Alan ke dalam.


"Kau mau kemana?" Alan berdiri di depan pintu menghalangi Sofie masuk.


"Kamu tidak mempersilahkan aku masuk?" Sofie sangat berharap Alan mempersilahkan dia masuk.

__ADS_1


"Untuk apa? ada urusan apa? denganku atau Bagus?" Alan semakin menjerat Sofie dengan banyak pertanyaan.


"Setidaknya ijinkan aku masuk dahulu, aku kan tamu," ujar Sofie dengan pede nya melewati tubuh Alan yang masih berdiri di pintu.


Tanpa di persilahkan duduk, Sofie langsung duduk di sofa, Alan sangat jengah dengan sikap Sofie yang semena-mena, sayang Alan tidak ingin berbuat kasar kepada perempuan, Alan memberi isyarat kepada Bagus, Bagus pun mengangguk, Alan tidak ikut duduk, langsung berlalu menuju ke kamar nya.


Sofie terus melihat langkah Alan, dia tahu bahwa Alan sangat tidak suka dengan kehadiran nya.


"Sofie, jika ada urusan kamu bisa bicara denganku, katakan saja!" Bagus yang duduk tepat di depan pandangan Sofie menatap Sofie dengan wajah serius.


"Tidak! aku hanya ingin bertamu, apa salahnya sebagai tetangga kita bersilaturahmi?" ujar Sofie dengan senyum tipis yang di lontarkan kepada Bagus.


Sebenarnya Bagus tertarik dengan Sofie, namun ternyata Sofie lebih tertarik kepada Alan, Bagus tahu Alan takkan tertarik kepada perempuan seperti Sofie makanya Bagus santai saja.


"Kalau begitu tunggu, aku ambilkan minuman dulu," pamit Bagus menuju ke dapur.


Tak lama, Bagus membawa dua buah minuman dan meletakkan nya di atas meja.


"Kamu dan Alan sepertinya habis menemui seseorang?" ujar Sofie yang membuat Bagus terkejut, Bagus dan Alan memang habis mengadakan pertemuan dengan Rika dan semua pengawal Rika yang lain.


"Maksudmu?" tanya Bagus bingung.


"Aku hanya menebak, karena pakaian kalian mirip para pengawal di drama gitu," timpal Sofie lalu tertawa kecil.


Bagus terus melihat wajah Sofie yang sangat penasaran, Bagus tahu sepertinya Sofie hanya sedang memancing nya agar Bagus mengatakan yang sebenarnya.


"Kamu percaya adegan di drama itu ada di dunia nyata?" tanya Bagus.


"Justru adegan di drama itu berdasarkan kisah nyata kan?" ujar Sofie simple, Bagus sangat suka dengan gaya santai nya, Sofie selalu terlihat tenang dan tetap anggun, bahkan di situasi yang terdesak pun, Sofie tidak kelihatan gugup sama sekali.

__ADS_1


Bagus berdiri menghampiri Sofie dengan membawa sebua gelas kopi, Sofie melangkah ke luar rumah, mamandang setiap orang yang berlalu lalang di depan rumah itu.


"Sebenarnya sebuah adegan di drama itu hanya sebuah omong kosong kan? jika membuat penonton percaya, artinya dia berhasil memainkan drama nya dengan sempurna," jelas Bagus lalu menyeruput kopi yang berada di tangan nya.


Sofie menoleh ke arah Bagus, sangat kagum dengan jawaban yang Bagus ucapkan, di mata Sofie, baik Alan maupun Bagus dari cara bicara nya sepertinya sangat profesional, Sofie menebak bahwa Alan dan Bagus sering terbiasa menghadapi berbagai jenis lawan bicara, bahasa nya tertata rapi seperti sebuah dialog di drama yang sering Sofie tonton.


"Kamu dan Alan satu fakultas?" tanya Sofie yang mengalihkan pembicaraan.


Bagus mengangguk.


"Fakultas hukum?" sambung Sofie, Bagus belum sempat menjawab namun Sofie sudah tahu.


"Dari mana kau tahu? aku dan Alan belum pernah memberitahu kepada siapa pun kita di fakultas apa," celetuk Bagus yang curiga bahwa Sofie mengulik tentang nya.


Bagus bingung bagaimana bisa Sofie, seorang gadis desa begitu banyak tahu tentang nya yang notabene orang asing di desa itu, bahkan nama Bagus atau Alan tidak muncul di pencarian internet, karena Bagus maupun Alan bukan selebritis.


Sofie tidak kesulitan menjawab setiap pertanyaan kecurigaan Bagus, selalu terlihat santai tanpa terlihat canggung.


"Sepertinya Alan pernah memberi tahu seseorang, apakah dia tidak ingat?" ucap Sofie yang segera meletakkan gelas yang sedari tadi di pegang nya ke atas meja.


"Oh ya? mungkin." Bagus mengangkat kedua bahu nya, melihat wajah Sofie yang menurutnya penuh dengan kecurigaan.


"Aku harus pergi, sepertinya aku melupakan sesuatu, selamat berjumpa lagi," pamit Sofie lalu tersenyum melewati tubuh kekar Bagus, Bagus hanya bengong melihat langkah Sofie di samping nya.


Bagus hanya membalas senyum Sofie, lalu mengangguk pelan, Bagus terus memperhatikan langkah Sofie yang semakin jauh.


Bagus pun tersenyum.


____

__ADS_1


__ADS_2