
Dari seberang jalanan yang tak jauh, Sofie menyaksikan Alan yang mendekati Zovita, ada perasaan iri, dan cemburu di hatinya. Alan yang dibuat penasaran oleh Zovita, padahal Sofie berusaha welcome kepada Alan malah tak mendapat respon apapun dari Alan.
Sofie yang awalnya merasa iba kepada Zovita, kini perasaan itu berubah jadi bumerang baginya, dia merasa bahwa Alan lebih tertarik kepada Zovita di banding dirinya.
Padahal Sofie merasa dia tak kalah cantik dari Zovita, dia memikirkan cara agar bisa dekat dengan Alan, dari awal pertemuannya dengan Alan, Sofie langsung tertarik. Bagaimana tidak, Alan itu good looking dan si pemilik senyum menawan, wanita manapun akan jatuh hati melihatnya.
Sofie mendekat ke arah Alan yang masih terus menatap kepergian Zovita dari pandangan nya.
" Ehemmm..." Sofie mencoba berdehem.
Alan langsung sadar ada suara di belakangnya.
" Apa yang kamu lihat? apa kamu memandang wanita itu? tatapanmu seperti mengisyaratkan sesuatu," ucap Sofie menyadarkan pandangan Alan.
" Apa maksudmu? aku hanya melihat wanita itu aneh sekali karena seharian hanya bermain bersama kucingnya, kenapa dia tidak berbaur dengan orang di sekitarnya?" tanya Alan seolah penasaran.
" Kamu tidak tahu kenyataan pahit apa yang dia alami, sehingga membuatnya begitu, dia mengasingkan diri dari semua orang." timpal Sofie membuat Alan semakin ingin tahu lebih jauh lagi ( Alan berpura-pura).
" Oh ya??? maksudmu dia punya kenyataan pahit apa? apa itu alasan dia berada disini untuk menjauh dari orang-orang?"
Alan menyimak.
" Iya.. dia seperti wanita polos kan kelihatannya? tapi kamu tidak tahu kenyataan sebenarnya, makanya dia juga di tinggalkan oleh kekasihnya padahal hanya hitungan hari dia akan melangsungkan pernikahan." menurut Alan Sofie ini tipe wanita yang masuk daftar orang dikatakan Zovita, orang yang tidak bisa di percaya.
Padahal ibu nya, bi Wati sudah seperti keluarga bagi Zovita, tapi anaknya malah seperti tidak suka, pikir Alan.
" Kamu bukannya keluarganya? kulihat dia tinggal bersama ibumu?" tanya Alan lagi.
" Ibuku hanya bekerja untuk keluarganya, kita tak memiliki hubungan keluarga sama sekali, ibuku hanya simpati kepadanya karena sudah mengabdi pada keluarga itu sangat lama," jawab Sofie yang dikira Alan Sofie akan menganggap Zovita seperti saudaranya, ternyata tidak, padahal Alan jauh lebih tahu tentang mereka.
" Ibumu pasti menganggap dia seperti anaknya sendiri? kulihat ibumu orang yang tulus." kata Alan terus menyambung kalimat.
" Ibu ku hanya kasian kepadanya, karena Ayahnya itu Irwan Suryadarma tak pernah memperhatikan nya sejak dia bercerai dengan ibun Zovita, apalagi semenjak dia menikah, sepertinya Irwan dibuat lupa kepada anaknya." sontak ucapan Sofie kali ini membuat Alan kaget, ternyata dimata orang lain Irwan itu orang yang menjengkelkan.
Mungkin hanya Alan yang menganggap Irwan baik karena sudah menampung dia dan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Alan harus terlihat tidak tahu apa-apa agar Sofie tidak curiga kepadanya.
Belum sempat Alan merespon ucapan Sofie, Sofie sudah bertanya lagi.
" Hei.. lelaki yang bersamamu itu apa temanmu?" tanya Sofie, Alan yang sedang berdiri tertegun kaget, karena Sofie banyak tahu tentang dirinya, bahkan dia tahu bersama siapa dia tinggal.
" Bagaimana kamu tahu? apakah kamu memata matai aku?" ujar Alan yang sedikit curiga, apa Sofie mengikuti dia selama ini.
" Ha ha, apa maksudmu memata-matai? kamu pikir aku detektif? aku tahu saja, karena hampir setiap hari aku melihat nya di warkop," jawab Sofie memberi tahu Alan bahwa Bagus setiap malam nongkrong di warkop dekat rumah Sofie.
'Wah sialan si Bagus ini' ngapain dia nongkrong di warkop? pikir Alan.
Alan harus segera menegur Bagus untuk tidak sering nongkrong di warkop karena khawatir identitasnya terungkap.
Sofie masih fokus menatap Alan.
Sesekali Alan menelan ludah, menarik perhatian Sofie yang terkagum-kagum terhadapnya.
" Oh sorry, aku harus segera pergi. Aku melupakan sesuatu."
Sofie tersenyum sedikit kesal, bahkan saat berbicara dengannya Alan sama sekali tak menatap wajahnya, sial sekali dia.
Sofie seperti sedang berfikir dan membuat rencana agar dirinya bertemu lagi dengan Alan.
****
Di sebuah Cafe, Miss Rika sedang menunggu seseorang, dia tampak gelisah.
" Siang, Miss." akhirnya yang di tunggu telah tiba.
Namun miss Rika kesal sekali karena dibuat menunggu terlalu lama.
" Hei sialan!!! kenapa lama sekali? kamu pikir saya tidak punya acara lagi? kamu membuang waktu saja," Rika dengan kesal menyemprot seseorang yang tak lain adalah Alan.
Ternyata Alan punya janji untuk bertemu dengan Rika, namun di jalanan dia melihat Zovita yang membuat dia lupa akan pertemuannya.
__ADS_1
" Maaf miss, saya benar-benar minta maaf, tadi di jalan ada sedikit masalah." ucapnya sedikit khawatir akan semakin membuat Rika emosi.
" Ah sudahlah,, bagaimana dengan lelaki brengsek itu? apa dia datang menemui Zovita?" tanya Rika tak sabar mendengar jawaban Alan.
" Tidak Miss, sepertinya sampai saat ini dia tak tahu keberadaan Zovita, karena orang yang dia mintai alamat sudah saya handle, jadi yang diberikan alamat palsu," jawab Alan menyeringai kecil.
Rika ikut senang mendengarnya, dari wajahnya yang kesal berubah perlahan dengan senyumannya.
" Bagus. Lalu bagaimana dengan kucing nya? apakah Zovita menyukainya?" sambung Rika.
" Sesuai rencana Miss, dia sangat menyayangi kucing itu, bahkan berkat kehadiran kucing itu, Zovita bisa menghirup udara segar diluar." jawaban Alan benar-benar membuat Rika selalu puas.
" Very nice, oke Alan karena kerja kamu bagus saya akan transfer bonus ke rekening kamu, tapi khusus untuk kamu, kamu juga harus awasi temanmu si Bagus itu, dia mudah tergoda oleh wanita." Miss Rika lalu mengeluarkan handphone dari tas nya.
Dugaan Alan selama ini ternyata benar, bagaimana Miss Rika tahu kalau Bagus tergoda wanita? pasti ada juga yang di tugaskan Miss Rika untuk mengawasi dia juga.
" Oke Miss, terima kasih banyak. Saya harus pergi lagi karena tidak bisa berlama-lama disini khawatir ada yang tahu." Alan pamit kepada Rika, Rika yang hendak menelepon seseorang hanya merespon Alan dengan kode jari jempolnya yang menunjukan oke.
Rika masih stay sendiri di cafe itu, lalu segera menuju ke mobilnya.
" Pak Jodi, antarkan saya ke jalan cendrawasih, hanya lewat saja, saya ingin melihat susasana tempat Zovita tinggal." perintah Rika kepada sopirnya.
" Baik, Bu." jawab pak Jodi.
Mobil yang di tumpangi Rika pun melaju ke arah tempat tinggal Zovita.
Rika masih sibuk berinteraksi dengan seseorang melalu handphone nya.
Saat mobil Rika pergi, tak jauh dari sudut cafe ternyata ada Sofie yang sedari tadi memperhatikan dan menguping pembicaraan Rika dan Alan.
Sofie yang menyimpan kecurigaan kepada Alan akhirnya kini puas bahwa asumsi nya selama ini ternyata benar.
Sofie kini punya rahasia besar, dia bermaksud untuk menyembunyikan nya dari Ibunya.
Sofie hanya memandang mobil Rika dengan senyuman licik.
__ADS_1
_____