Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Rachel berkunjung


__ADS_3

"Kamu tidak berencana mengajakku bulan madu? bukankah kamu masih cuti?" tanya Nikita yang sangat berharap suaminya, Defa mengajaknya berbulan madu.


"Bukankah Ibuku sudah menyiapkan semuanya? kurasa aku tidak perlu bersusah payah mengajakmu berbulan madu, kita hanya menikah karena status, Nikita," ucap Defa dengan suara yang cukup lantang, Nikita sampai ingin menutup telinga.


"Mengapa kamu selalu menuruti apa kata Ibu mu, kamu itu manusia dewasa, benar-benar tidak konsisten," celetuk Nikita sedikit mencibir Defa.


Dalam hati Nikita sebenarnya dia sangat tidak sudi menjadi menantu Ibu Defa, semua nya dia lakukan hanya untuk uang, bagi hidupnya, Nikita hanya butuh uang, tidak peduli dengan cinta, karena menurutnya cinta itu omong kosong semata.


"Kamu sendiri untuk apa menuruti kemauan Ibu ku? kamu yang tiba-tiba datang ketika aku sedang mengalami masalah," timpal Defa yang terus berbicara sambil menatap ke luar jendela, Nikita bahkan tak pernah dia tatap saat berbicara.


Nikita tetap duduk santai di atas tempat tidur, dengan anggun Nikita memainkan jari jemari nya pada rambut nya, Nikita sangat jenuh berada di kamar itu, ingin pergi ke apartemen nya untuk melihat uang nya, namun dia selalu di telepon oleh Ibu Defa.


"Ibu mu sudah menyiapkan tiket untuk besok kita berdua ke Bali, suka tidak suka kamu jalani saja," ujar Nikita, Defa terperangah mendengar nya, benar saja yang dia pikirkan.


"Untuk apa? aku ada urusan besok." Defa menoleh ke arah Nikita, sangat tidak suka dengan kabar yang di bawa Nikita.


"Batalkan saja urusanmu! kalau kamu mau menolak, bilang sendiri kepada Ibu mu, aku malas berdebat," desak Nikita, Defa yang terlihat kesal mengepalkan kedua tangan nya, Nikita melihat nya sangat jelas di depan mata nya, namun Nikita melemparkan senyum yang sangat puas.


Defa pun keluar dari kamar nya dengan wajah yang sangat kesal, Nikita tahu sepertinya Defa akan menemui Ibu nya, Nikita tak peduli, segera meraih ponsel nya dan membuka sebuah gambar lalu dia tertawa bahagia, terus mengelus layar ponsel nya.


"Terima kasih, Defa, kamu benar-benar sumber uangku," celetuk Nikita dengan lirih sekali.


Nikita menghempaskan tubuhnya di atas kasur, melihat ke atas sambil terus tersenyum bahagia.


***

__ADS_1


Rika mengajak Rachel, putri sulung nya untuk menemui Zovita di desa, meski hubungan Rachel dan Irwan sangat renggang, dia tetap berhubungan baik dengan Zovita, karena Rachel sangat ingin mempunyai kakak perempuan.


Mobil yang di tumpangi Rika dan Rachel memasuki halaman rumah, bi Wati sudah menunggu kedatangan Rika di luar, lalu menyambut nya dengan senang.


Rachel segera turun dari mobil nya, di susul Rika.


Rachel menyapa bi Wati, tersenyum hangat sekali, lalu Rachel berlari mencari Zovita ke dalam rumah.


Rika sangat senang melihat Rachel terlihat bahagia akan bertemu Zovita.


Rachel menaiki anak tangga, memasuki kamar Zovita, ingin mengagetkan kakak tiri nya itu.


"Kakak!" teriak Rachel sambil membuka pintu kamar Zovita.


"Rachel, kau datang?" Suara Zovita membuat Rachel terkejut, karena ternyata Zovita sudah berada di belakang pintu.


Zovita masih berdiri, Rachel langsung memeluknya, terlihat Rachel sangat merindukan nya selama ini, ingin sekali sering mengunjungi kakak nya itu, namun Irwan selalu melarang nya dengan alasan jangan mengganggu kakak nya yang sedang berduka.


"Aku sangat merindukanmu, apa kau baik-baik saja?" ujar Rachel yang sangat mengkhawatirkan Zovita.


"Aku juga, apa kau lihat aku baik-baik saja?" ucap Zovita yang balik bertanya membuat Rachel bingung.


Rachel menggeleng, tapi kemudian tersenyum.


"Kamu terlihat lebih kurus, namun sepertinya sekarang kamu lebih bahagia, Kakak," timpal Rachel meledek Zovita.

__ADS_1


"Oh ya? selama disini aku makan banyak loh, tentu, harus lebih bahagia dong." Zovita tersenyum dan menarik tangan Rachel untuk duduk di atas tempat tidur.


Rachel menatap wajah Zovita yang masih menyimpan luka, namun selalu berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit nya itu, Rachel melihat sekeliling kamar Zovita, melihat banyak buku di atas meja dengan sebuah laptop, membuat Rachel lega karena kini Zovita tidak berlarut lagi dalam kesedihan.


"Aku senang melihat mu sekarang, Kak, apa selama disini kamu mengalami kesulitan? apa ada yang mengganggu mu?" Rachel terus bertanya, sangat penasaran dengan kehidupan kakak nya selama di desa.


"Ada satu orang yang sangat mengganggu ku," celetuk Zovita, Rachel penasaran ingin mendengar nya, Rachel menyibak rambut nya dan mendekatkan telinga nya ke arah Zovita.


"Siapa, Kak?" tanya Rachel.


Zovita melihat wajah penasaran Rachel.


"Kamu mau tau banget ya?" Zovita meledek Rachel yang sudah sangat penasaran, Rachel menepuk tangan Zovita kesal.


"Ih, Kakak, aku serius," desak Rachel.


Zovita masih terus tertawa kecil melihat wajah Rachel yang masih penasaran, padahal Zovita hanya sedang menggoda adik nya itu.


"Nanti saja deh, ku kasih tahu," ucap Zovita, Rachel menatap nya seperti seekor harimau yang bersiap menerkam mangsa nya, mata nya terus melotot, bibir nya sedikit manyun.


Zovita pun tertawa, Rachel yang kesal pun mencubit tangan Zovita yang membuat Zovita melenguh kesakitan, Rachel sadar jika dirinya sedang di ledek, lalu mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak di kamar.


Di luar kamar, ada Rika yang sedang berdiri di samping pintu kamar Zovita, Rika menguping Rachel dan Zovita, lalu tersenyum, meski Rika bahagia mendengar nya, namun di hati nya ada rasa penasaran, sepertinya Zovita sekarang sudah banyak berinteraksi dengan orang, Rika sangat penasaran dengan siapa saja Zovita bertemu.


Rika segera menuruni tangga untuk menanyakan kepada Bi Wati.

__ADS_1


_____


__ADS_2