Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Hari yang paling di nanti


__ADS_3

"Vita, tunggu!" Alan bergegas menyusul langkah Zovita yang keluar dari minimarket.


"Biar ku antar, ya?" pinta Alan dengan satu tas belanjaan di tangan nya.


"Belanjaan mu banyak sekali, temanmu memang tukang ngemil, ya?" Zovita melihat tangan Alan yang menenteng tas berisi cemilan.


"He, nanti kalau kamu lihat orang nya pasti kamu juga kaget, dia sangat besar," ujar Alan meragakan tubuh Bagus.


Zovita tertawa kecil, terus melangkah bersama Alan, bagi Alan ini pertama kali melihat Zovita berjalan dengan wajah tanpa beban, dengan jiwa yang bebas tanpa memendam kesedihan.


Alan terus memperhatikan wajah Zovita, yang terus tersenyum, sangat manis sekali, rambut nya yang terurai sesekali tertiup oleh semilir angin, jantung Alan berdegup sangat kencang, mengapa hanya jalan kaki bersama seorang wanita saja Alan dibuat gugup? Alan terus menggigit bibir bawah nya, untuk menyeka segala rasa yang aneh di hati nya.


"Oh, ya, Alan, omong-omong kamu mahasiswa mana ya? fakultas apa?" tanya Zovita penasaran dengan kampus Alan, ini kesempatan bagi Zovita untuk mencari informasi.


"Di Unp*d, Vita, aku di fakultas hukum, memangnya kenapa?" jawab Alan senang sekali karena merasa Zovita ingin tahu lebih jauh tentang kehidupan pribadi nya.


"Wah, kebetulan sekali ya, aku berencana kuliah disini, mau mendaftar di fakultas kedokteran," seru Vita dengan bahagia karena lewat Alan dia akan lebih banyak mendapat informasi.


"Kedokteran? bukankah kamu di fakultas hukum ya waktu kuliah di kota?" tanya Alan sontak membuat Zovita terkejut, karena selama dirinya disini tak ada yang tahu tentang kehidupan nya selama di kota.


"Kamu tahu darimana? siapa yang memberitahu mu?" tanya Zovita bingung, Alan keceplosan sekarang, bingung mau alasan apa kepada Zovita.


"I-itu Zovita, maaf ya, aku lihat berita mu di sosial media, kamu anak dari Bapak Irwan Suryadarma kan?" Jawaban Alan membuat Zovita memasang wajah takut, sedih sekaligus malu, ternyata cerita nya telah di ketahui banyak orang.


Zovita tertunduk.


"Jadi, kamu tahu dengan apa yang terjadi padaku?" tanya Zovita tak berani melihat ke arah Alan, pandangan terus menatap ke jalan.


Alan mengangguk.


Alan merasa bersalah karena telah membuat Zovita merasa malu, padahal Alan sendir hanya kaget mendengar bahwa Zovita ingin kuliah disini.

__ADS_1


"Vita, sudah dari kapan aku ingin bilang ini ke kamu, tapi kurasa belum tepat waktu nya," ucap Alan yang melihat Zovita tak lagi menatap nya.


Langkah Zovita semakin cepat, membuat Alan sedikit berlari agar posisi nya sejajar.


Zovita tak menyahut.


"Aku mau bilang ke kamu, bahwa kamu harus tetap mejadi diri kamu, kamu harus semangat, kamu tidak boleh putus asa, dan kamu jangan pernah menganggap semua orang memandang mu kotor," ungkap Alan akhirnya apa yang selama ini ada di hatinya di katakan di depan Zovita.


Langkah Zovita seketika berhenti, lalu menatap wajah Alan, Zovita memastikan bahwa Alan tidak sedang mengejeknya.


"Alan!!"


Alan kemudian menghentikan langkah nya, menoleh kepada wanita yang ada di sebelahnya.


"Sebelumnya terima kasih karena berusaha menghiburku, tapi apa menurutmu semua orang memiliki pandangan sepertimu?" ungkap Zovita, kemudian melanjutkan langkah nya.


"Vita, kamu tidak perlu memikirkan pandangan orang terhadapmu, jangan berusaha memuaskan semua orang, kamu harus percaya pada dirimu sendiri, hanya kamu yang bisa," ujar Alan terus memberi Zovita semangat.


"Kamu benar? seharusnya kamu berterima kasih kepada dirimu sendiri, karena sudah melangkah sejauh ini, sudah tetap kuat dan berusaha tegar, Vita."


Alan melangkah dan menghadapkan diri nya di depan Zovita, seketika Zovita pun berhenti.


Zovita sambil terus memeluk kucing nya, melihat wajah serius Alan.


Zovita mendongak karena postur tubuh Alan yang tinggi, kali ini Zovita benar-benar di posisi yang sangat dekat dengan Alan, seketika darah di dalam tubuhnya mengalir deras, Zovita mundur satu langkah karena muncul perasaan yang membuat tubuh nya gemetar.


"Alan, di depan sudah terlihat pagar rumahku, aku pergi dulu ya!" Zovita menunjuk ke arah pagar rumahnya, lalu berlari melewati Alan yang tengah berdiri di depan nya.


Alan berbalik melihat Zovita yang berlari ke arah rumahnya, Alan menatap Zovita tak berkedip, tiba-tiba muncul senyuman bahagia menghiasi wajah nya, di dalam hatinya ingin berusaha memanggil nama nya, namun bibir nya seperti membeku, padahal dia tak pernah begitu.


Alan pun kembali ke rumah nya, melangkah perlahan dengan senyum yang masih merekah.

__ADS_1


***


Defa tiba di tempat Ibu nya memesan gaun pengantin bersama Nikita, Defa di perintah kan Ibu nya untuk mencoba baju pengantin bersama Nikita.


Nikita turun dari mobil menggandeng tangan Defa, Defa langsung menarik tangan nya dan menunjukan wajah tidak senang nya kepada Nikita.


Nikita tak peduli, dia tak membutuhkan empati dari Defa lagi karena sebentar lagi Defa akan menikahinya, dengan begitu rencana yang di susun oleh Nikita berjalan lancar.


Senyum Nikita terus mengembang.


"Defa, aku tak peduli sikap mu bagaimana kepadaku, tapi nanti di hadapan para tamu setidaknya kamu harus menunjukan wajah bahagia," pinta Nikita yang memasuki sebuah butik.


"Aku melakukan itu hanya karena Ibuku, jangan pernah berharap aku akan memperlakukanmu dengan baik, aku menikahimu hanya untuk status," pekik Defa dengan nada kesal.


Nikita hanya tersenyum, Nikita juga tak mengharapkan cinta Defa, ada hal lain yang lebih dia prioritas kan, semua nya akan dia dapatkan setelah dia melaksanakan ijab kabul dengan Defa.


Nikita di sambut oleh designer pilihan nya, Nikita tak sabar segera mencoba gaun pengantin yang sangat dia impikan, raut bahagia nya membuat wajah Defa semakin tak enak, Defa terus memandangi wajah Nikita dengan perasaan benci.


"Defa, segera coba baju mu lalu kita foto," pinta Nikita yang menyuruh Defa untuk segera mencoba baju pengantin yang berada di tangan Nikita.


"Di foto untuk apa? sudah lah tak perlu, aku tidak bisa berlama-lama disini, masih banyak urusan," seru Defa menolak ajakan Nikita untuk berfoto.


"Ibumu yang meminta, kamu pikir aku yang mau?" sahut Nikita.


Defa segera menuruti Nikita untuk berfoto memakai gaun pengantin di depan cermin.


Selesai mengambil foto, Defa langsung buru-buru melepaskan baju itu, kemudian meletakan begitu saja di sofa, Nikita melihat dengan tatapan sinis, dia tak peduli lagi dengan lelaki sok oke itu, pikirnya.


Nikita segera mengirim foto nya dan Defa kepada seseorang, lalu menatap ke cermin dengan senyuman puas.


Defa tidak menyadari bahwa Nikita hanya menganggap dirinya sebagai mesin pencetak uang, bagi Nikita Defa bukan siapa-siapa, Nikita menikahi Defa untuk mendapatkan keuntungan dari seseorang yang tak lain adalah Rika.

__ADS_1


____


__ADS_2