Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Rasa kecewa


__ADS_3

Sofie tiba dirumah dengan wajah kesal dan kusut, muncul di depan ibunya yang hendak mengunci pintu gerbang, bi Wati melihat Sofie yang acak-acakan segera menghampiri putrinya itu.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya bi Wati mendekat ke arah Sofie yang terduduk dikursi depan rumah Zovita.


"Aku kesal, Ibu tahu nenek sihir itu? wanita yang menyebalkan?" tanya Sofie membuat bi Wati penasaran.


Bi Wati mengangguk, "Maksudmu, siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan ibu tirinya Vita, mama!" seru Sofie masih menekuk wajahnya.


"Miss Rika?" tanya bi Wati bingung.


"Ponselku dicuri orang, disaat yang bersamaan disana ada wanita itu, dan mama tahu tidak dia bersama siapa?" Sofie masih terus membuat Ibunya kebingungan


"Siapa? kenapa kamu bertele-tele sih, sebenarnya apa maksudmu?" Bi Wati menggaruk kepalanya karena semakin dibuat bingung dengan penjelasan Sofie.


"Alan. Aku melihatnya berbicara secara empat mata dengan Alan, sangat serius sekali," timpal Sofie menatap dalam wajah Ibunya.


Bi Wati terbelalak, "Apa? kamu tidak salah lihat?"


"Mana mungkin aku salah lihat, mataku masih normal, Mah. Aku bahkan merekam mereka, anehnya selesai merekam, tiba-tiba ponselku dicuri orang," ucap Sofie dengan lugas.


Bi Wati masih dibuat bingung, karena melihat hari sudah mulai malam, mengira bahwa mungkin Sofie lelah, namun terbesit rasa penasaran yang terus menderu hatinya.


"Maksudmu, Alan dan Miss Rika itu saling mengenal?" tanya bi Wati lagi, kali ini ia mengecilkan volume suaranya agar Zovita tak mendengarnya.


"Aku yakin sekali. Tidak mungkin jika hanya urusan wawancara, aku bahkan memergoki mereka sudah dua kali, Mah," jelas Sofie.


"Ada hubungan apa mereka? sebetulnya mama juga mencurigai kehadiran Alan yang secara tiba-tiba ada di desa ini, bersamaan dengan Vita ke rumah ini," ujar bi Wati sambil melirik Sofie, Sofie juga membalas lirikan ibunya sambil menyeringai.


"Mama bilang, wanita itu sangat licik bukan? bahkan dia memiliki banyak mata-mata, aku yakin Alan adalah orang suruhannya," tambah Sofie, bi Wati menatap langit yang semakin gelap kemudian membawa Sofie masuk.


Bi Wati segera mengunci pintu dan menarik Sofie menuju kamarnya.


"Kamu tidur disini malam ini ya, kamu pasti lelah, mama buatkan makanan dulu." Bi Wati tidak merespon Sofie justru menyuruhnya untuk berdiam dikamarnya.

__ADS_1


"Mah, apa mama tahu sesuatu tentang mereka?" Sofie menghentikan langkah Ibunya yang hendak menarik pintu kamar.


"Sofie, mama sudah berkali-kali bilang agar kamu tidak usah mencampuri urusan mereka, kita ini bukan lawannya," jawab bi Wati merespon Sofie tanpa membalikan tubuhnya, bi Wati tidak menatap Sofie.


"Apa maksudnya? lawan apa? apa itu artinya mama mau melakukan apa saja untuk mereka? meskipun itu tidak benar?" Sofie dengan ucapan lantang berdiri lalu menghampiri Ibunya yang berdiri berlawanan arah dibalik pintu.


Dengan wajah tertunduk lesu, bi Wati menarik nafas, sangat dalam sekali, Sofie terus menghampiri Ibunya, menghadapkan tubuhnya tepat didepan tubuh ibunya.


Bi Wati sedih, malam itu perasaannya semakin dicampur aduk oleh anaknya sendiri, ia tahu Sofie kini bukanlah anak kecil lagi, anaknya itu kini sudah tumbuh dewasa meski tanpa sosok seorang ayah di hidupnya.


"Ma, apa yang membuatmu tidak bisa pergi dari sini? bahkan ibu Vita sudah tiada, kenapa mama menyiksa diri disini?" ucap Sofie lirih tepat menatap wajah Ibunya.


Bi Wati membalas tatapan Sofie, dengan lembut berusaha meraih tangan putrinya itu, "Sofie, ada sesuatu yang membuatku belum bisa meninggalkan tempat ini, kelak kamu akan tahu."


"Apa itu? jelaskan padaku, Mah." Sofie terus mendesak ibunya untuk berkata jujur.


Dua orang itu berdiri di depan pintu kamar bi Wati, saling berpandangan, bi Wati tidak mungkin menjelaskan nya kepada Sofie tentang sesuatu itu, pasti itu akan melukai hatinya.


Suasana malam itu sangat sunyi dan dingin, Zovita terbangun dari mimpinya, perutnya terus berbunyi, lalu sambil memegangi perutnya Zovita menuruni anak tangga dan menyaksikan Sofie tengah berada di hadapan bi Wati dengan tatapan serius.


"Vita, kamu harus tahu sesuatu tentang Alan!" Sofie mendekati Zovita dengan wajah serius.


Zovita dengan lugu bertanya, "Sesuatu? apa?"


Sofie semakin mendekati Zovita, "Alan itu...."


"Sofie! kamu lelah, kamu capek, cepat bersihkan dirimu!" bentak bi Wati yang berusaha memotong ucapan Sofie.


Sofie menoleh kearah ibunya, "Kenapa mah? kenapa aku tidak boleh mengatakan kepadanya?"


"Apa yang kalian bicarakan? bi Wati?" Zovita menatap serius wajah bi Wati.


Sofie yang semakin tidak tahan dengan suasana itu, ingin secepatnya mengatakan tentang apa yang dia lihat di cafe itu.


"Sofie?" Zovita terus dibuat penasaran.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, Vita. Sofie, sebaiknya kamu membersihkan dirimu!" seru bi Wati mempersilakan Sofie untuk kembali ke kamarnya.


"Tidak. Aku sudah tak tahan lagi, Vita kamu harus tahu apa yang aku lihat tadi siang di cafe," celetuk Sofie tidak peduli dengan Ibunya yang terlihat kesal kepadanya.


Zovita menarik nafas, bersiap mendengarkan Sofie, "Apa? katakan!"


"Aku melihat Ibu tirimu sedang bertemu dengan Alan, hanya berdua, sangat karab sekali." Sofie tersenyum menyeringai.


"Alan? kamu yakin? mungkin ada wawancara?" Zovita mencoba mengelak Sofie dan meyakinkan dirinya sendiri.


"Kamu benar, Vita. Bukankah Alan seorang jurnalis?" timpal bi Wati sambil menarik lengan Sofie, Sofie dibuat meringis kesakitan.


"Bohong, Vita. Alan tidak pernah menjadi jurnalis, kamu hanya dibohongi, dia pasti punya hubungan dengan ibu tirimu, dia pasti salah satu suruhannya." Sofie semakin tersulut emosi karena bi Wati selalu menahannya memberi penjelasan.


Bi Wati terbelalak, "Sofie!"


Zovita terkejut mendengar penuturan Sofie, meski sedikit tidak percaya dengan ucapan Sofie, namun Zovita berfikir lagi bahwa yang dikatakan Sofie bisa saja benar. Ia tau betul siapa Ibu tirinya itu, ia akan melakukan apapun karena merasa dia bisa membayarnya dengan uang.


"Apa kamu yakin?" Zovita memastikan tentang kebenarannya, Sofie mengangguk.


Bi Wati tertunduk, karena merasa khawatir dengan ekspektasi Zovita, takut Zovita down lagi, padahal semenjak pertemuannya dengan Alan membuat hari-hari Zovita kembali berwarna.


Bi Wati perlahan mendekati Zovita, menepuk bahunya dan menatap nya dengan tajam. "Vita..."


"Bi, sudahlah jangan mencoba menghiburku, semoga yang dikatakan Sofie tidak benar, semoga ini tidak seperti yang kupikirkan." Zovita tersenyum namun wajah kecewanya, raut sedihnya tidak bisa ia sembunyikan.


Bi Wati terus memandangi Zovita, Sofie dihadapkan situasi yang semakin membuatnya kesal, melihat Ibunya sendiri memiliki perasaan yang sangat tulus kepada Zovita yang bukan anaknya, sementara Sofie yang anaknya sendiri seakan tidak dipedulikan.


Sofie terus menggerutu, menyaksikan Zovita kembali menaiki tangga.


'Kenapa kamu lebih memikirkan perasaan wanita itu, mah? kenapa kamu tidak peduli pada perasaan anakmu sendiri? sangat tidak adil.'


Bi Wati masih memandangi Zovita yang terus berjalan di tangga, malam yang dingin itu menyelimuti hati yang terbakar oleh rasa kecewa di hati Zovita.


____

__ADS_1


__ADS_2