Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Pergi bulan madu


__ADS_3

Zovita, telah melewati hari-hari sulit selama berbulan-bulan di desa kelahiran Ibu nya, melewati rasa trauma yang mendalam, hampir putus asa, namun kali ini, dia mulai bangkit, karena dia lelah terpuruk, sementara, dunia masih terus berjalan.


Dunia boleh meninggalkan nya, seluruh dunia boleh mencibir kondisi nya. Ayahnya sendiri tidak bisa menemani masa sulit nya, Zovita tahu pasti Ayah nya juga melewati masa-masa sulit di persidangan karena menangani kasus nya. Dan kenyataan, bahwa lelaki yang telah memperkosa nya ternyata seseorang yang memiliki hubungan dengan Ibu nya, padahal Zovita tidak pernah menemukan Ibu nya menjalin hubungan dengan seorang lelaki.


Kini, Zovita sudah mempersiapkan hari baru nya, di tempat yang baru, dengan suasana baru, dia tak peduli lagi dengan cibiran orang lagi, biarkan saja, dia hanya perlu menutup telinga.


"Vita!" Suara Rika memecahkan lamunan Zovita, perlahan, langkah nya semakin dekat.


"Hari ini, kita akan pulang, kamu jika perlu sesuatu langsung telepon saja ya," ujar Rika sembari berpamitan kepada Zovita.


"Iya, terima kasih, Ibu, sudah datang," sahut Zovita lalu tersenyum lembut.


"Sampaikan salamku untuk Ayah," imbuh Zovita.


Rika segera keluar dari halaman rumah itu, siang itu, Rika dan Rachel pun pergi, mobil Rika melaju dengan cepat, Zovita terus melambaikan tangan kepada Rika.


***


Di pagi hari.


Defa terpekik pelan, ia benci bangun dengan perasaan seolah ada yang sedang mencekik leher nya, dada nya terasa sangat sesak sekali.


Bulir-bulir air mata berdesakan keluar, dia menatap langit-langit dengan mata nanar. Defa sudah tidak bisa menghitung berapa kalu mimpi buruk itu membangunkan nya dengan perasaan nyeri menyerang dada nya.


'Vita'

__ADS_1


Hati nya terus memanggil nama itu.


'Maaf'


Defa masih merasa bersalah kepada wanita yang pernah menjadi kekasih nya itu, dia pikir, Zovita pasti mudah untuk di lupakan, namun kenyataan nya meski dirinya kini telah menjadi suami seseorang, perasaan cinta nya untuk Zovita tak pernah hilang.


Sejak saat itu, setiap pagi Defa selalu terbangun dengan perasaan sedih.


"Sepertinya, kamu butuh secangkir kopi, ini masih panas." Nikita begitu saja muncul di depan Defa membawakan secangkir kopi, lalu memberikan nya kepada Defa.


"Thank you," sahut Defa pelan.


Defa dan Nikita tengah berbulan madu di sebuah hotel yang telah di persiapkan oleh Ibu Defa, Defa berusaha menghormati Ibu nya dengan menyetujui keinginan Ibu nya itu.


"Tidak ada, hanya mimpi buruk," ujar Defa lalu perlahan menyeruput kopi nya.


"Kamu masih memikirkan Vita?" Nikita terus bertanya meski wajah nya terus melihat ke luar.


Defa tidak menyahut, hanya menarik nafas panjang, Defa selama ini harus hidup dengan perasaan bersalah di hati nya, setiap hari bagi nya sama seperti mimpi buruk, terus tersiksa sepanjang hari.


"Aku memaklumi, jika kamu belum bisa melupakan wanita yang pernah kamu cintai selama 3 tahun lama nya, aku juga takkan memaksa kamu untuk mencintai aku dalam waktu yang sangat singkat," ucap Nikita yang sontak membuat Defa terkejut mendengar nya.


Defa merasa aneh dengan sikap Nikita, karena Nikita yang kini bersamanya sangat berbeda dengan Nikita yang dia kenal selama menjadi tunangan nya, kini tempramen Nikita tidak seburuk saat belum menikahi nya, bahkan meskipun tahu Defa tidak mencintainya, Nikita biasa saja, tidak semarah saat belum menjadi istri nya.


"Ada apa denganmu? mengapa kamu sok bijaksana? apa kamu mau mencari perhatianku?" tanya Defa dengan wajah yang bingung, Defa menghampiri Nikita yang masih berada di dekat jendela besar.

__ADS_1


Nikita menoleh dan tersenyum.


"Defa, kamu belum tahu tentang makna pernikahan, pernikahan itu semacam bisnis, jadi ketika kita menikah artinya kita sedang membangun bisnis bersama," ujar Nikita sembari melemparkan senyuman tipis di depan wajah Defa.


Defa masih bingung, Defa mengernyitkan dahi nya, lalu kembali menyeruput kopi nya yang sedang dia pegang.


"Bisnis? kamu benar-benar berfikir begitu ya? jadi maksudmu kamu mau menikah denganku bukan dasar cinta?" Defa yang masih belum mengerti maksud Nikita terus di buat bingung.


Nikita tertawa menatap wajah polos Defa.


"Cinta itu buat orang seperti kita, hanya omong kosong, ku rasa aku tak membutuhkan itu lagi, cinta itu takkan bertahan lama, karena seumur hidup itu sangat panjang," timpal Nikita yang kemudian meletakan gelas kopi nya di atas meja, lalu Nikita duduk di sofa panjang.


Defa tidak menyahut lagi, hanya menghela nafas lalu berfikir, seperti nya dirinya kini memang sudah masuk dalam kubangan bisnis antara Ibu nya dan Nikita, Defa tak habis pikir jika ternyata dia tidak bisa hidup bersama dengan orang yang dia cintai.


Defa meraih ponsel nya, membaca sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenal, lalu mata Defa langsung terbelalak melihat isi pesan nya, Defa buru-buru memasukan ponsel nya ke dalam saku celana nya, lalu mengambil jaket yang tergantung di lemari, dengan langkah tergesa-gesa, Defa berlari ke luar kamar nya.


Nikita langsung berdiri berniat mengejar Defa, namun langkah nya tiba-tiba terhenti.


Nikita bergumam.


'Ada apa dengannya? ah, aku tak peduli, untuk apa aku ingin tahu urusan nya'


Nikita kembali duduk di sofa lalu menyender sambil memainkan ponsel nya.


____

__ADS_1


__ADS_2