
"Uhuk! Kugghh!"
Brian terlihat batuk sambil mengeluarkan darah dari mulutnya. Lukanya telah diobati oleh Cecilia, tapi tetap saja dirinya menerima cukup banyak tusukan dan tebasan.
Dengan tubuh yang hanya bisa berbaring lemas di rumah sementara itu, Brian terus memikirkan apa yang baru saja terjadi padanya.
"Ce-Cecilia...."
"Ya?" balas Cecilia yang duduk di sampingnya sambil membaca sebuah buku. Buku yang telah rusak dan sobek di beberapa bagian.
"Ka-kau pikir.... Apakah aku lemah?" tanya Brian singkat.
"Tentu saja. Begitu pula dengan diriku. Dengarkan aku, lain kali jangan maju menghadapi 6 orang sendirian dan sadari batas kemampuanmu."
Perkataan dari Cecilia benar-benar menusuk tepat di hatinya.
Selama ini, Brian berpikir bahwa dirinya adalah tokoh utama dalam dunia ini. Tapi pukulan telak kemarin menyadarkannya dengan jelas.
Bahwa dirinya bukan lah siapa-siapa.
"Dengar, Brian. Sekalipun kita memiliki darah Hecate, kita bukan lah siapa-siapa. Ksatria yang berpengalaman sekalipun bisa membunuh kita.
Terlebih lagi mereka yang diberkati oleh dewa sebagai pahlawan, atau mereka yang dipanggil dari duni lain dengan ritual yang sempurna. Jadi jangan berpikir bodoh seperti sebelumnya." jelas Cecilia panjang lebar.
Mendengar semua itu, Brian hanya terdiam dan mengangguk. Hatinya begitu kecewa dengan dunia lain yang sangat jauh diluar ekspektasinya ini.
Tapi di saat harapannya hampir pupus....
"Meski begitu, dengan kekuatan mata ini aku bisa mencari sisa kekuatan Hecate dengan lebih baik. Ditambah lagi, aksimu barusan memberikanku sedikit ide." jelas Cecilia.
"Ide?"
......***......
Beberapa hari kemudian....
"Jadi, apa maksudnya ini?" tanya Brian kebingungan sambil melihat sosok Cecilia di depannya.
"Kita akan menjadi manusia!"
Di hadapannya, Brian melihat sosok Cecilia dengan kulit putih agak pucatnya mengenakan beanie atau kupluk kain hitam yang menutupi kepalanya. Terutama telinga panjang dan runcingnya.
"Uhh.... Aku tak paham dengan apa yang kau maksud."
Pada saat ini, Brian mulai berfikir mungkin.... Mungkin saja. Kecerdasan Cecilia memang sedikit di bawah rata-rata.
"Masih tak paham?"
Setelah mengutarakan hal itu, Cecilia meraih sesuatu dalam tasnya. Mengambil sesuatu yang menyerupai seperti kartu dengan warna kecoklatan.
"Jeng jeng! Kartu petualang!" teriak Cecilia sambil memamerkan 6 buah kartu kecoklatan itu di tangannya.
Kartu itu terlihat cukup tebal karena terbuat dari lempengan tembaga. Tulisan yang ada di atasnya menunjukkan identitas dari pemiliknya.
__ADS_1
Dengan melihat hal itu, Brian mulai paham.
"Jangan katakan...."
"Hmm.... Ini jelek. Aku tak suka nama ini. Hmm.... Bagaimana dengan ini?"
Sambil menghiraukan seluruh perkataan Brian, Cecilia masih terus memilih satu diantara keenam kartu itu. Mencari nama yang cukup bagus untuknya.
Jika Ia tak menyukainya, Cecilia segera melemparkan kartu petualang itu ke tanah.
"Hah.... Setidaknya jangan buang sembarangan. Aku belum memilih kau tahu?" keluh Brian. Ia mulai membungkukkan badannya untuk mengambil salah satu kartu petualang itu.
"Ini dia! Mulai hari ini, nama ku di dunia manusia adalah Felix! Nama ini setidaknya cukup netral untuk seorang wanita!"
Sambil bergembira, Cecilia terlihat memeluk kartu petualang itu dengan erat.
Sedangkan Brian sendiri masih memilih dari kelima kartu yang tersisa.
"Reux, Ganthore, Krestine, Hugo, Trestle.... Jujur saja semua namanya sangat aneh." keluh Brian sambil membaca beberapa informasi dalam kartu petualang itu.
...[Reux]...
...[Peringkat : Perunggu - II]...
...[Keahlian - Petarung jarak dekat - Tingkat I]...
'Serius, apa-apaan ini?! Hanya ini saja informasi dalam kartu? Bukankah ini sangat mudah dipalsukan?!' pikir Brian dalam hatinya.
"Apakah kau siap, Reux?! Kita akan menjelajahi wilayah umat manusia untuk mencari sisa kekuatan Hecate dan hidup nyaman di sana!" teriak Cecilia yang kini penuh dengan semangat.
"Siapa yang menentukan aku akan memilih nama itu?"
......***......
Pada akhirnya, Brian terpaksa untuk memilih nama Reux. Keduanya mulai berjalan untuk menyelinap ke arah salah satu kota besar di kekaisaran Luvelia, Mapleford.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua mencoba melihat efek dari beanie sederhana yang digunakan untuk menutupi kepala bagian atas Cecilia.
Hasilnya benar-benar efektif. Mereka tak hanya percaya bahwa Cecilia adalah seorang manusia, tapi juga bersikap baik padanya.
"Kau lihat? Sangat efektif bukan?" ucap Cecilia dengan bangga sambil meninggalkan karavan pedagang yang lewat itu.
"Jujur saja aku tak yakin...."
Brian sendiri masih memiliki bentuk fisik yang sama seperti manusia pada umumnya. Membuatnya tak perlu melakukan apapun untuk menyembunyikannya.
Tapi ada satu hal yang masih mengganggu pikiran Brian.
"Tunggu, bukankah wanita itu bisa mengetahui keberadaan kita? Bahkan menyadari bahwa kita iblis dari kejauhan?" tanya Brian.
Wanita yang dimaksudkan olehnya tak lain adalah Aeryn. Pemimpin dari Perintah Suci ke enam.
"Tenang saja. Sosok yang diberkati oleh kekuatan seperti itu cukup langka. Terlebih lagi bukan berarti kita akan hidup di kota, melainkan menggunakannya sebagai basis untuk memperkuat diri."
__ADS_1
Penjelasan Cecilia tentunya membuat Brian cukup tertarik.
"Memperkuat diri? Jelaskan lebih lanjut." balas Brian dengan penuh rasa penasaran.
"Singkatnya, selama ini kita selalu hidup berburu dan meramu dengan perlengkapan rendahan." jelas Cecilia sambil memperhatikan pakaian tipis mereka dan juga busur dan pedang yang sudah tua.
"Oleh karena itu, sambil mencari sisa kekuatan Hecate, kita akan mengambil misi dari Guild. Memperoleh uang dan mendapatkan akses untuk membeli perlengkapan yang lebih baik dari wilayah manusia."
'Tunggu! Dia sebenarnya sangat cerdas?!' pikir Brian setelah mendengar rencana sederhana namun sangat brilian itu.
"Tak hanya itu, ku dengar di kota-kota besar mereka menjual perlengkapan sihir. Seperti pedang yang bisa menebas dari jarak jauh, atau perisai yang tak bisa rusak. Terlebih lagi...."
"Hmm?"
Cecilia tiba-tiba terdiam. Sama seperti sebelumnya, Ia melihat sesuatu dalam pandangannya.
Tapi kali ini, penglihatannya cukup buram dan terkesan sangat jauh.
"Cecilia? Kau baik-baik saja?" tanya Brian penasaran.
Elf berambut perak itu masih terdiam di tempat. Dari kejauhan terlihat mata kanannya bereaksi dan mulai bersinar, memancarkan cahaya kemerahan yang redup.
Tubuhnya mulai gemetar dan merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam tulangnya.
Dengan gemetar, Cecilia mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke arah Kota Mapleford di kejauhan.
"Bri.... Brian.... Ini tak mungkin...." ucap Cecilia dengan suara yang terpatah-patah.
"Ada apa? Apakah mata mu melihat sesuatu lagi seperti sebelumnya?"
Dalam pandangannya, Cecilia melihat sosok seorang Ksatria yang berjalan bersama dengan pasukannya. Dari tubuhnya terlihat lima garis kemerahan yang membentuk seperti aliran darah.
'Braakk!!!'
Berkat kekuatan matanya, Cecilia baru menyadari kenyataan dari dunia ini.
Sebuah dunia yang sebelumnya dianggap layaknya hitam dan putih, dengan umat manusia sebagai pembela kebenaran yang mutlak dan iblis sebagai penjahat yang keji.
Tapi kini....
Apa yang dilihatnya....
"Aku melihat seorang Ksatria manusia berjalan di jalanan ini bersama dengan prajuritnya."
"Bodoh! Kalau begitu cepat bersembunyi dan...."
Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya dan menarik Cecilia pergi menjauh dari jalanan utama, Elf berambut perak itu kembali berbicara.
Mengatakan suatu hal yang benar-benar mengejutkan Brian.
"Dia memiliki lima tetes darah Hecate."
"Hah? Apa kau bilang?!"
__ADS_1