Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 24 - Pertumpahan Darah


__ADS_3

'Klaaangg!! Ttrraangg! Klaangg!!!'


Suara benturan antar besi dapat terdengar begitu keras, menggema di lembah pegunungan ini.


Dari satu sisi, pasukan dari perintah suci keenam yang dipimpin oleh Aeryn memiliki persenjataan dan zirah yang sangat kuat.


Bahkan anak panah dari seorang Frost Elf sekalipun tak mampu menembus barisan perisai dari perintah suci keenam ini.


Tapi di sisi lain, umat manusia tak memiliki pertahanan yang cukup untuk melawan sihir tingkat tinggi dari Elf.


'Kreettakk! Ttraakk! Kreettaakk!'


Di udara, pasukan perintah suci dapat melihat terciptanya serpihan es yang kecil dalam jumlah juga dalam wilayah yang cukup luas.


Serpihan-serpihan es itu secara perlahan membuat sebuah tombak es yang cukup besar.


Bersamaan dengan perintah dari 100 lebih penyihir Frost Elf, tombak itu segera menghujani barisan perintah suci.


'Swuuushh!!! Jleebbb!! Staabb!! Kraakkkk!!'


Dengan mudahnya tombak es itu menembus zirah tebal mereka layaknya selembar kertas yang tipis.


"Dewi Cahaya Lumina, berkahi kami dengan kekuatanmu." ucap ratusan pendeta secara serempak di barisan belakang.


Seketika, lingkaran sihir yang besar dengan warna keemasan muncul di atas langit. Menciptakan sebuah perisai besar yang menahan hujan tombak es sekaligus menyembuhkan para ksatria yang terluka.


Sementara itu, pusat dari semua kehancuran terjadi dari pertempuran pemimpin keduanya.


Freisch sebagai pemimpin dari Frost Elf, serta Aeryn sebagai pemimpin dari perintah suci keenam.


'Klaaanggg!!! Blaaaarrr!!!'


Tubrukan antara pedang Aeryn dengan tombak dari Freisch menciptakan hentakan yang sangat kuat. Meremukkan tanah di sekitar mereka dan juga menghempaskan beberapa prajurit di sekitarnya.


'Kuat sekali.... Pengaruh dari lengan kiri Hecate? Sekuat ini?' pikir Aeryn sambil terus melirik ke lengan kiri Freisch.


Di sisi lain, Freisch juga kebingungan dengan kekuatan manusia di hadapannya.


'Gadis kecil ini.... Bagaimana bisa mengimbangi kekuatan lengan Hecate?! Dia manusia kan?!'


Kedua belah pihak saling memberikan pukulan satu sama lain. Pertempuran terus berlanjut hingga sekitar 20 menit lebih.


Tapi bahkan setelah selama ini, kedua belah pihak masih belum bisa memperoleh keunggulan di atas lawan mereka.


Kedudukan masih seimbang tak tak berubah jauh.


Hanya saja....


Semuanya seketika berubah. Ketika Aeryn dan juga Freisch mulai kelelahan. Keduanya menghabiskan banyak tenaga mereka dalam pertempuran ini.


Memberikan kesempatan....


Bagi pihak yang lain.


'Swuusshh! Tap!'


Ratusan sosok dengan jubah hitam pekat dengan lambang tiga buah tanduk merah di punggung mereka tiba-tiba muncul di tengah pertempuran ini.

__ADS_1


Semuanya mengenakan jubah dengan tudung yang menutupi kepala mereka. Menyembunyikan wajah mereka dengan baik.


Dan pada saat yang bersamaan pula...


Melawan kedua belah pihak itu.


'Sraasshh! Zraasshh! Sraasshh!'


Ratusan sosok berjubah hitam itu bergerak dengan sangat cepat ke berbagai arah. Memenggal kepala siapapun yang bukan pihak mereka dalam sekejap.


Hal itu sangat mudah bagi mereka karena kedua belah pihak telah sangat kelelahan akibat pertempuran ini.


"Ka...."


'Blaaarrrr!!!'


Sebelum Aeryn sempat berbicara, pukulan yang sangat kuat melemparnya hingga puluhan meter ke belakang.


Saat Aeryn melihatnya, sosok yang memukulnya memiliki tubuh yang besar dan tinggi namun juga tertutupi oleh jubah hitam.


'Penyembah iblis....' pikir Aeryn dalam hatinya. Ia tahu persis lambang tiga tanduk merah itu.


Dengan cepat, Aeryn mencoba untuk bangkit dan melawan mereka.


Tapi tak ada satu pun dari para penyembah iblis yang memperdulikannya. Karena fokus mereka saat ini....


Adalah Freisch. Atau lebih tepatnya, lengan kiri Tuan mereka.


Enam penyembah iblis telah mengunci gerakan Freisch dengan sihir kegelapan. Terlihat lengan kematian mengunci dan menahan tubuh Freisch dari bawah tanah.


"Ssstt.... Diam." ucap salah seorang penyembah iblis itu sembari mendekat.


Ia menarik sebuah belati dengan bentuk yang cukup aneh. Belati itu memiliki gagang dengan bentuk bulan sabit serta bilah utama yang berbentuk melengkung layaknya ekor ular.


Gagangnya sendiri memiliki ukiran kepala ular yang menggigit sebuah bola kristal kecil berwarna hitam pekat.


Beberapa penyembah iblis yang lain tak membuang banyak waktu mereka. Dengan cepat, segera memotong lengan kiri Freisch, memisahkannya dari lengan Hecate.


Sedangkan yang lainnya lagi segera menusuk tubuh Freisch dengan 6 buah pedang.


"Kuuughh!!!" teriak Freisch kesakitan sembari memuntahkan darah dalam jumlah yang sangat banyak.


Aeryn yang melihat semuanya dari kejauhan, tertahan oleh empat penyembah iblis yang menahannya.


Satu dari mereka memiliki tubuh besar setinggi 2.5 meter dan tanduk besar di kepalanya. Satu lagi memiliki ekor hitam panjang bersisik.


Sedangkan dua lagi tak memiliki ciri khusus yang terlihat. Menyerupai ras humanoid biasa.


"Diam dan kami takkan melawan." ucap salah seorang penyembah iblis itu dengan suara yang merdu.


"Kau pikir kami akan diam?! Semuanya! Bersiap untuk...."


Saat Aeryn menoleh ke arah belakang, Ia melihat hampir seluruh pasukannya dalam kondisi tersandera dengan pisau yang mengarah ke leher mereka.


Sedangkan yang sisanya lagi hanya bisa diam, tak ingin rekan mereka terbunuh.


Sementara itu pasukan Frost Elf di bawah pimpinan Freisch memperoleh nasib yang jauh lebih buruk. Dimana semuanya dibantai dengan kondisi yang mengerikan.

__ADS_1


Tubuh terpotong-potong, dan darah berceceran di segala tempat.


Menyisakan hanya Freisch sendiri yang masih hidup. Dan itu pun....


"Gaaarrgghhh!!!"


Teriakan kesakitan dari Freisch dapat terdengar dengan sangat jelas.


Setelah menancapkan keenam pedang itu, sosok penyembah iblis yang membawa pisau aneh itu mulai berlutut. Mendekat ke arah Freisch sambil berkata.


"Hukuman bagi mereka yang menodai tubuh-Nya, adalah kematian abadi. Setidaknya, bersyukur lah karena jiwa mu akan digunakan untuk membangkitkan-Nya." ucap penyembah iblis itu.


Sekilas, wajahnya terlihat di balik kegelapan jubahnya. Menunjukkan sosok pria dengan penampilan yang cukup rupawan serta mata berwarna hitam pekat.


Segera setelah mengatakan hal itu....


'Jleeebb!!!'


Ia menancapkan pisaunya. Menusuk tepat di jantung Freisch. Saat pria itu menariknya, terlihat jiwa Freisch tertarik dan seakan termakan oleh ukiran ular di gagang pisau itu.


Memasukkannya ke dalam kristal yang digigitnya.


Sedangkan penyembah iblis yang lain terlihat menggunakan sihir untuk menarik sisa darah Hecate di dalam tubuh Freisch.


'Swuuusshhh!!!'


Darah merah pekat itu tertarik secara perlahan. Jumlahnya tak main-main, bahkan membentuk bola kecil di telapak tangan penyihir itu.


Dengan cepat, Ia memasukkan darah Hecate ke dalam botol kristal yang dibawa oleh rekannya.


Setelah menyimpan kembali pisaunya, pria itu langsung membalikkan badannya. Menatap ke arah Aeryn di kejauhan.


Tatapannya terpaku pada kalung dengan gantungan kristal putih cerah di lehernya itu.


"Bagaimana dengannya?" tanya salah seorang penyembah iblis dengan tubuh yang cukup besar itu.


"Tak bisa. Ia di lindungi."


"Dimengerti." balas penyembah iblis bertubuh besar itu sembari membawa lengan kiri Hecate.


Secepat kedatangan mereka, para penyembah iblis itu segera melompat pergi. Menjauh dan segera menghilang di balik kegelapan hutan.


Menyisakan hanya sisa pasukan perintah suci keenam, bersama dengan Aeryn. Juga dengan beberapa pasukan dari Blancfall yang masih bertahan.


"Komandan...." ucap salah seorang Ksatria di samping Aeryn.


"Kita akan segera melaporkannya kepada Kaisar." balas Aeryn singkat.


Ia sama sekali tak menyangka akan bertemu dengan para penyembah Iblis. Pada umumnya, pergerakan mereka sangat lah rapi dan tak terdeteksi.


Sangat rapi dalam Kegelapan hingga membuat banyak orang tak percaya atas keberadaan mereka.


Tapi kali ini, mereka benar-benar menunjukkan diri mereka secara langsung.


'Semua itu demi menyelamatkan lengan Hecate?'


Setidaknya, Aeryn bisa bernafas sedikit tenang karena dirinya bisa selamat. Berkat perlindungan dari salah relik Dewi Suci Lumina dalam bentuk kalung di lehernya.

__ADS_1


__ADS_2