Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 35 - Guild


__ADS_3

Setelah menghabiskan sebagian besar uang mereka berdua dengan berbelanja perlengkapan, kini Cecilia meminta untuk makan di sebuah restoran yang cukup mewah.


"Setelah pencapaian hebat itu, kita harus merayakannya!" teriak Cecilia sebelum melahap satu ekor bebek panggang utuh sendirian.


Brian yang menyadari pengeluaran mereka kali ini terlalu ekstrim, tahu bahwa cepat atau lambat Ia harus mengambil Quest baru.


'Hah.... Jika seperti ini terus, kapan bisa menabung untuk membeli rumah dan tanah? Sialan....' pikir Brian dalam hatinya sambil memakan nasi dan sepotong ayam bakar.


Setelah menghabiskan makanan mereka, hanya Brian yang masih bisa berjalan dengan tegak. Cecilia kini hanya bisa berjalan secara perlahan dengan perut yang mulai membesar di balik zirah barunya.


"Wuaaah.... Enak sekali." ucap Cecilia puas sambil terus mengikuti langkah kaki Brian.


"Enak? Bagus, karena barusan kita menghabiskan lebih dari 40 koin perak."


"Hah?! Apa?! Bagaimana bisa?!"


"Tanyakan pada semua makanan dan minuman di perutmu."


Kekaguman Brian sebelumnya atas kecantikan Cecilia kembali merosot jauh ke tanah. Kini yang ada di hadapannya, adalah seorang gadis yang rakus dan terkadang sedikit lambat.


Meski begitu....


Ia adalah satu-satunya sosok yang bisa Brian percayai sepenuhnya.


'Braaakk!'


Di balik pintu bangunan Guild ini, terlihat cukup sedikit petualang. Berbeda dari yang sebelumnya.


Saat Brian masih bertanya-tanya kenapa bisa demikian, Ia langsung teringat atas kejadian beberapa saat yang lalu.


'Aah, benar juga. Bukankah sebagian besar dari mereka terbunuh oleh iblis itu?' pikir Brian dalam hatinya.


Ia pun melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah papan pengumuman. Dimana banyak Quest ditempelkan, menanti untuk diambil petualang yang pemberani.


Hanya saja....


"Huwaah, banyak sekali. Kalian yakin tak mau merekrut petualang baru?" keluh Brian pada pegawai Guild yang kini berdiri di dekatnya.


Pegawai itu tak lain adalah Adelle.


"Sayangnya sebagian besar mati di wilayah Grenary. Akan butuh sedikit waktu untuk merekrut petualang baru." balas gadis itu.


'Tap!'


Secara diam-diam, Brian meletakkan sebuah koin emas di tangan Adelle. Dengan senyuman yang tipis, Adelle pun menerimanya sambil menganggukkan kepalanya.


"Brian! Bagaimana dengan Quest ini?!" tanya Cecilia sambil menunjuk ke sebuah poster.


"Mana lihat...."


Pada poster yang ditunjuk oleh Cecilia, terlihat sebuah gambar seekor wyvern yang terbang dengan banyak cap tengkorak berwarna merah di atas poster itu.


...[Wyvern dari Frostbite telah diketahui berkeliaran di wilayah Kekaisaran! Buru mereka dan bawa kepala mereka untuk mengambil hadiah. Total hadiah : 50 koin emas. Peringatan : Wyvern adalah naga kecil yang terbang dengan cepat. Sangat berbahaya.]...


Secara refleks, Brian langsung memandangi ke arah Cecilia dengan sinis.


"Kau.... Kau tahu kita baru saja hampir mati kemarin kan? Lalu apa-apaan ini?"


"Uang yang banyak!"


"Ditolak! Kau sudah gila?!"

__ADS_1


Brian langsung berusaha untuk mencari Quest yang lain. Tapi permasalahannya, Quest saat ini memiliki perbedaan tingkat kesulitan yang terlampau tinggi.


Di satu sisi, terdapat Quest untuk membersihkan selokan dari sampah yang kotor. Tapi di sisi lain, terdapat Quest untuk menyusup masuk ke wilayah Frostbite dan memburu ras Frost Elf.


Tak ada satu pun Quest dengan tingkat kesulitan di tengah-tengahnya.


Seperti memburu Goblin atau serigala. Sama sekali tak ada.


"Kau.... Kau menyabotase Quest ini?! Kenapa semuanya sesulit dan semudah ini?!" keluh Brian kepada Adelle yang masih berdiri di sampingnya.


Sambil menundukkan kepalanya, Adelle pun membalas.


"Maafkan kami, tapi keberadaan perintah suci ke sembilan di sekitar wilayah Mapleford membuat banyak monster terbunuh. Mengurangi jumlah Quest tingkat rendah hingga menengah menurun drastis."


"Sialan! Pasukan sialan itu mencuri pekerjaan kami?!"


"Kita. Guild juga merugi karena tak banyak mendapatkan Quest baru." lanjut Adelle.


Setelah melihat kembali papan Quest itu, Brian akhirnya menyerah. Tak ada satu pun Quest yang cocok dengan kekuatan mereka berdua saat ini.


Keduanya pun duduk di salah satu meja sambil memesan bir dingin. Memikirkan langkah yang selanjutnya.


"Kau tahu? Aku tak ingin membersihkan saluran air dari sampah." ucap Cecilia dengan wajah yang terkesan begitu malas.


"Kau pikir aku mau? Tapi mengingat uang kita.... Mungkin kita harus mengambil sesuatu yang mudah."


Keduanya meneguk bir mereka untuk menenangkan pikiran. Apakah uang mereka akan cukup untuk bertahan hingga quest yang layak muncul? Atau haruskah mereka terpaksa melakukan berbagai pekerjaan aneh?


Setelah beberapa saat, Cecilia menolehkan wajahnya. Melihat sosok yang cukup familiar.


'Tap! Tap!'


Cecilia langsung menepuk tangan Brian dan menunjuk ke suatu arah.


"Ronald. Hmm? Benar juga, mereka selamat ya?" balas Brian yang menoleh ke arah yang ditunjuk gadis Elf itu.


Di sudut aula utama Guild ini, terlihat sosok 4 orang yang duduk dalam diam. Wajah mereka terlihat begitu tegang, dan tak banyak kata yang keluar dari mulut mereka.


"Mereka nampak sangat depresi."


"Tentu saja, kau tak ingat apa yang iblis itu lakukan? Aku bahkan masih takut."


Tiba-tiba....


'BRAAAAKKK!'


Salah seorang dari kelompok Ronald memukul meja kayu itu dengan keras dan melemparkan gelas kayunya hingga jatuh ke lantai.


Ia langsung berdiri sambil berteriak.


"Sudah cukup! Aku sudah muak dengan petualangan ini! Aku akan kembali ke desa sebagai petani! Setidaknya nyawaku terjamin di sana!" teriak Pria berbadan besar itu.


"Tu-tunggu! Bagaimana dengan tujuan kita?" tanya Ronald sambil berusaha menahannya pergi.


"Tujuan hah?! Aaah, memburu naga?! Kau tahu seberapa kuat naga itu?! Bahkan satu iblis saja kita kuwalahan! Apalagi naga!" balasnya sambil mendorong Ronald dengan keras. Membuatnya terjatuh ke lantai.


Pemuda yang lain akhirnya juga bangkit dari kursinya.


"Dia benar. Lebih baik aku kembali menjadi pengrajin di pinggiran kota daripada menjadi makanan iblis." ucapnya yang langsung pergi meninggalkan Guild ini.


Untuk membuktikan tekad mereka, keduanya bahkan melemparkan kartu petualang mereka ke lantai.

__ADS_1


Ronald yang masih tersungkur tak bisa melakukan apapun selain memukul lantai. Mengungkapkan kekesalannya atas situasi ini.


Beberapa petualang lain di Guild yang melihat mereka, hanya bersikap dingin.


Lagipula, ini bukan lah kali pertamanya seorang petualang takut mati dan akhirnya berhenti. Bahkan, masih beruntung mereka memiliki kesempatan untuk berhenti.


Tak seperti mereka yang telah tiada tanpa kesempatan kedua.


Melihat dia rekan terdekatnya membuka pintu Guild ini dan pergi, hati Ronald terasa begitu teriris.


Di samping meja mereka, hanya tersisa sosok seorang gadis dengan pakaian penyihir berwarna putih.


"Vania.... Apakah kau juga akan pergi?" tanya Ronald dengan suara yang gemetar.


Vania hanya bisa diam. Tak menjawab sepatah kata pun sambil terus menatap air di gelasnya.


Setelah beberapa menit....


"Aaarrggh! Sialan! Sialan! Sialan! Sialaaaaan!!! Baiklah! Terserah kalian semua! Pergi saja! Memangnya aku bisa apa?!" Teriak Ronald penuh emosi.


Teriakan dan amarahnya membuat gadis itu semakin ketakutan. Ia memejamkan kedua matanya sambil terus berharap semua ini segera berakhir.


'Braaakk! Braaakk! Braaakkk!'


Ronald terus memukul mejanya beberapa kali dengan keras. Menumpahkan beberapa makanan di atas piring serta gelas milik Vania.


Kini gadis itu hanya bisa menutupi telinganya dengan kedua tangannya. Bersembunyi di balik ketakutan.


Dan sesaat sebelum Ronald membanting gelas berisi bir itu ke arah mejanya....


'Sreeettt!!'


Genggaman tangan yang sangat kuat menghentikan gerakannya sepenuhnya. Bahkan tangannya tak mampu bergerak sedikit pun.


Saat Ronald menoleh, Ia melihat sosok seorang pria dengan rambut kecoklatan dan mata kemerahan.


"Hentikan, kau menakutinya." ucap Brian dengan tatapan yang tajam.


Di depannya, sosok Cecilia telah duduk di atas meja. Menatap tepat ke arah mata Ronald dengan penuh kebencian.


"Tak masalah jika kau lemah, tapi jangan luapkan kekesalanmu pada orang lain. Terlebih lagi seorang gadis. Kau tahu? Aku sangat tersinggung dengan sikapmu." ucap Cecilia.


"Apa-apaan?! Apa yang kalian tahu?! Hah?! Apa yang...."


'Bruuuukkk!!!'


Brian menjegal kaki Ronald dan mengunci kedua lengannya di belakang sebelum kembali mengangkat tubuh Ronald. Menumpahkan gelas berisi bir itu ke lantai.


Ia kemudian melirik ke arah salah seorang pegawai Guild di dekatnya.


"Terimakasih telah membantu kami menjaga ketenangan tempat ini." ucap pegawai Guild itu sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Sama-sama." balas Brian singkat yang membawa Ronald keluar dari bangunan Guild ini.


Jika saja Brian tak bertindak, kemungkinan pegawai Guild juga akan melakukan hal yang sama.


Dan kini, setelah berada di luar Guild....


'Bruuukk!'


Brian melemparkan tubuh Ronald ke tanah.

__ADS_1


"Sialan! Kau?! Kau pikir siapa kau?! Hah?!


"Brian." balasnya singkat sebelum segera kembali ke dalam Guild. Meninggalkan sosok Ronald yang masih terus mengamuk itu sendirian.


__ADS_2