Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 44 - Kejadian tak Terduga


__ADS_3

"Ini untuk tiga panahnya. Kau tahu? Ku rasa aku akan membeli 2 lagi jika kau punya. Cukup berguna untuk saat-saat kritis." ucap Brian sambil menyerahkan 10 koin kepada Jareth.


Jareth yang tentu saja cukup senang karena mereka bertiga selamat, kini merasa terheran-heran atas perkataan Brian.


"Ka-kau? Sejak kapan kau sekaya ini?"


"100 koin emas setelah memburu Wyvern. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada itu kau tahu?" balas Brian.


Cecilia dan juga Hella terlihat sedang berkeliling. Memperhatikan bahwa koleksi Jareth kian hari semakin menurun.


"Jareth?! Daripada banyak berbicara bagaimana jika kau bekerja?! Stok perlengkapan mu semakin menipis! Aku bahkan tak menemukan anak panah yang kuinginkan!" keluh Cecilia dari kejauhan.


"Batu Mana.... Kenapa tidak ada disini...." ucap Hella yang sibuk mencari di tumpukan bebatuan itu.


Belum sempat Cecilia kembali mengeluh, seseorang nampak membuka pintu dari toko ini. Membunyikan lonceng yang ada di bagian pintu itu.


'Kling! Kling!!'


"Permisi." ucap Jareth singkat yang segera meninggalkan Brian dan kelompoknya.


Satu hal yang telah membuat Brian curiga adalah sebuah kenyataan bahwa Jareth telah mengenakan pakaian rapi sejak awal.


Dimana biasanya, Jareth masih sibuk menempa di balik pintu itu. Mengenakan hanya pakaian tipis dan dalam kondisi penuh keringat.


"Huwaah, kau serius? Sekarang toko ini memiliki pengunjung?" keluh Cecilia sambil mendekat ke arah Brian.


"Bukankah itu hal bagus? Sejak awal, ini adalah tujuan kita kan? Selalu belanja disini hingga tokonya cukup ramai. Tapi.... Kenapa? Padahal kita belum banyak membuat prestasi?"


Rencana Brian adalah terus mengenakan perlengkapan dari tempaan Jareth. Tak hanya murah, tempaannya juga cukup berkualitas.


Dan jika seseorang membuat prestasi besar dengan tempaan Jareth, maka reputasi perlengkapan buatannya akan meningkat drastis. Membuat tokonya semakin ramai dan mungkin juga akan laku keras.


Tapi saat ini, Brian dan kelompoknya belum banyak membuat prestasi. Perburuan Wyvern yang terbilang cukup hebat itu juga baru saja selesai.


Kenapa toko ini telah ramai?


"Eh? Itu tujuan kita? Bukan untuk menjadikan toko ini sebagai markas utama?"


"Kau...."


"Tapi syukurlah. Jareth nampak seperti pria yang baik." timpal Hella yang kini tengah bersiap untuk membayar barang belanjaannya. Terlihat di tangannya beberapa batu sihir dan juga aksesoris.


......***......


"Membosankan sekali. Kita tak lagi bisa bersantai di tempat Jareth?" keluh Cecilia.


"Sejak awal itu bukan lah tempat bersantai." balas Brian.


"Apakah kita akan mengambil Quest baru?" tanya Hella.


Pembicaraan ketiganya nampak tidak begitu menyambung. Dengan tiga buah pemikiran yang berbeda, tentu itu adalah hal yang wajar.


Di satu sisi, Cecilia yang telah merasakan kenyamanan di wilayah manusia ini mulai membaur dengan baik. Bahkan terlalu baik hingga sikapnya menjadi jauh lebih santai dari yang sebelumnya.


Kemudian di sisi lain, Brian yang telah menyadari bahwa dirinya bukan lah tokoh utama di dunia ini, mulai memikirkan hal-hal untuk bertahan hidup dengan lebih baik.


Salah satunya, dengan memperkuat dirinya sendiri. Baik secara fisik, pikiran, maupun finansial. Membuat pikirannya hampir selalu serius.


Dan terakhir, Hella yang secara perlahan mulai melupakan rasa takut atas masa lalunya, kini mulai membuka dirinya pada kelompok baru ini.


Mulai tak takut untuk mengakrabkan diri, dan bersemangat untuk terus memulai petualangan baru.


"Dengar, kita baru saja menghasilkan cukup banyak uang. Bagaimana jika sedikit beristirahat?" usul Brian.


"Setuju!" teriak Cecilia dengan keras.


"Eh? Istirahat? Tapi bagaimana dengan Quest yang lain?"


Sambil membenahi pedang besar di punggungnya, Brian pun membalas.


"3 hari lagi kita akan berpetualang. Oh iya, dimana kau akan tinggal? Apakah kau mau tinggal dekat dengan kami berdua?"


"Mmm.... Kurasa bukan ide yang buruk. Baiklah aku akan...."


Sebelum Hella sempat menyelesaikan perkataannya, seorang Pria tiba-tiba datang menghalangi jalan mereka bertiga.


"Hah.... Hah.... Hah...."


Pria itu memiliki penampilan yang cukup lusuh dengan pakaian yang compang-camping. Rambutnya cukup panjang hingga menutupi telinganya, dengan warna hitam pekat.


Tak hanya itu, terlihat banyak bekas luka di sekujur tubuhnya.


"Hmm? Ada yang bisa kami bantu?" tanya Brian.


"Kau.... Gara-gara kalian berdua...." ucap Pria itu dengan suara yang begitu berat.


"Brian, kau kenal dengannya?" tanya Cecilia penasaran.


"Tidak...." balas Brian sambil menggelengkan kepalanya. Brian mulai mengerutkan keningnya dan memperhatikan sosok pria itu dengan seksama.


Sedikit demi sedikit, Brian bisa mengingat sosok Pria itu. Dan pada saat itu, kedua mata Brian terbuka lebar.


Setelah menyadari sosok pria itu yang sebenarnya.


"Hahahaha.... Hahahaha!!!"


Pria itu tertawa dengan begitu keras, layaknya orang yang telah kehilangan akalnya. Memancing perhatian cukup banyak penduduk kota di siang hari ini.


Secara tiba-tiba....

__ADS_1


'Brruuukkkk!!!'


Sebuah pukulan yang sangat kuat mengarah tepat ke arah dada Brian. Brian yang memiliki cukup refleks mampu menahan pukulan itu dengan kedua lengannya.


Tapi sayangnya, pukulan itu cukup kuat untuk melemparnya sejauh puluhan meter.


'Braakkk! Bruuukk! Srruuukkk!!!'


Tubuhnya terseret di atas jalan bebatuan itu. Tapi zirah kulit yang dikenakannya mampu melindungi Brian dengan baik.


"Hahaha! Mati! Kau akan mati!!!" teriak Pria itu sambil terus tertawa.


'Kuat sekali?! Dia.... Dia Ronald kan? Apakah dia memang sekuat ini?' pikir Brian dalam hatinya sambil memperhatikan kedua lengannya.


Tak banyak luka yang dideritanya, hanya sedikit rasa sakit karena pukulan itu saja.


"Hella, bisa kah hentikan dia?" tanya Cecilia singkat.


"Tidak tanpa membunuhnya.... Tapi.... Siapa dia? Dan kenapa?"


"Cih, begitu ya? Kalau tak salah namanya Ronald. Mungkin dia dendam pada kami berdua karena kami ikut campur dalam urusannya? Tapi kenapa sekarang? Dan kenapa penampilannya seperti itu?"


Di kejauhan, terlihat sosok Ronald yang terus menerus menyerang Brian dengan tangan kosong. Memberikan pukulan dan tendangan yang cukup kuat untuk melemparkan tubuh Brian.


Pada sisi yang lain, Brian sendiri hanya bertahan. Bukan karena Ia tak bisa melawan balik. Tapi....


"Oi! Ronald! Apa yang terjadi padamu?! Kenapa kau seperti ini?!"


"Diam! Diam!! Diam!!! Kau hanya perlu mati karena telah memisahkan ku dengannya!" balas Ronald terus dengan amarah.


Terlihat mata Ronald memerah, seakan penuh luka. Tatapannya pun dipenuhi dengan amarah dan kebencian yang begitu dalam.


'Brukk! Brukk!! Bruuukkk!!!'


Rentetan pukulan diberikan oleh Ronald. Tapi Brian menahan semuanya dengan kedua lengannya. Tak memberikan balasan sedikit pun.


'Aku masih bisa menahannya. Apakah ini efek dari tambahan darah Hecate itu? Atau memang Ronald tak sekuat itu?'


"Berhenti di sana dan...."


Saat salah seorang prajurit penjaga kota hendak menghentikan perkelahian keduanya....


"Diam!"


'Blaaaarrr!!!


Ronald mengayunkan lengan kirinya ke arah kepala prajurit penjaga itu. Menghempaskan dan menghancurkan kepalanya dengan mudah.


Layaknya lengan yang menghancurkan buah-buahan. Darah pun terciprat ke segala arah.


"Tidak.... Tidaaaaaaaak!!!"


Menyisakan Brian hanya dalam keadaan menganga.


'Ya-yang benar saja?! Hanya dengan sebuah pukulan ringan?! Dengan kata lain....'


"Sialan! Kenapa kau tak mau hancur seperti mereka?! Seharusnya kau sudah hancur sejak tadi!!!" teriak Ronald dengan amarah yang semakin meledak-ledak.


Secara tiba-tiba....


'Jleebbb!!!'


Sebuah anak panah menembus tepat di bagian dada sebelah kiri Ronald. Mengenai tepat di jantungnya.


"Kugghhh!"


Darah mulai menetes dari dada dan mulut Ronald. Akan tetapi....


'Klaaakkk!'


Ronald mematahkan anak panah itu dan membalikkan badannya. Menatap sosok Cecilia yang sedang memegang busur di kejauhan.


"Kau juga.... Perempuan sialan sepertimu...."


"Eh? Aku meleset?"


Ronald berjalan secara perlahan menuju ke arah Cecilia. Mengepalkan kedua tangannya, bersiap untuk melayangkan pukulan pada gadis itu.


Tapi....


'Kreettakk!! Ttraakk!'


Tiba-tiba, kedua kaki Ronald tak mau bergerak. Tak ingin digerakkan sedikit pun. Saat Ia menoleh ke tanah, terlihat es telah menyelimuti kedua telapak kakinya.


Membuat Ronald tak mampu untuk melangkah tanpa menghancurkan kedua kakinya sendiri. Setelah itu, Ronald melihat ke arah seorang gadis dengan rambut hitam.


Gadis yang berdiri di samping Cecilia itu mengangkat tongkat kayunya, dengan lingkaran sihir kebiruan di ujungnya. Di sekitarnya terlihat beberapa prajurit penjaga.


"Kenapa.... Kenapa.... Kenapa?!! Kenapa semuanya ikut campur dengan urusanku?!!" teriak Ronald dengan amarah yang membara.


"Lepaskan!! Cepat lepaskan aku!!! Kenapa tak ada yang membiarkan ku membunuh mereka berdua?! Kenapa?!"


"Tuan penjaga, apa yang sebaiknya kami lakukan?" tanya Hella.


Beberapa penjaga yang ada di samping Hella hanya diam. Mereka takut pada kengerian yang dibawa oleh pria bernama Ronald itu.


Tapi di sisi lain, membunuh target secara langsung tanpa melalui proses hukum oleh Perintah Suci juga bukan lah hal yang baik.


Mereka seharusnya menangkap dan mengadilinya dengan layak atas semua perbuatannya.

__ADS_1


Hanya saja di situasi seperti ini....


"Bu-bunuh dia." balas salah seorang prajurit penjaga kota itu.


"Dimengerti." balas Hella singkat sebelum memperkuat sihir es miliknya.


Di kejauhan, tepatnya di dalam salah satu kamar penginapan di dekat lokasi kejadian....


Seorang pria berambut hitam dengan pakaian bangsawan yang rapi sedang memperhatikan semuanya dari balik jendela.


Ia menggenggam sebuah gumpalan daging dengan warna kemerahan di tangan kanannya, yang tak lain adalah sebuah jantung.


Darah terlihat terus mengalir membasahi lengannya.


"Tuan Aldebaran...." ucap seorang pelayan dengan rambut hitam panjang yang terurai itu.


"Aku mengerti, Naila. Dia takkan bertahan lebih lama lagi. Nampaknya batas tubuh manusia hanya sejauh ini. Karena itu...." balas pria itu.


Pria itu mulai mengarahkan telapak tangan kirinya, dan dengan cepat beberapa lingkaran sihir berwarna hitam pekat mulai muncul di sekitar jantung itu.


'Deg! Deg!!'


Detak jantung di genggaman tangannya semakin cepat. Juga semakin kuat.


Secara perlahan, warna kemerahannya mulai berubah menjadi hitam pekat. Begitu pula dengan darahnya yang semakin mengental dan berubah menjadi kehitaman.


Dengan sihir yang tak diketahui itu, Pria itu pun kembali berbicara.


"Mengamuk lah, Aeshma. Raga itu sepenuhnya untukmu."


'Deg! Deg!'


"Kuuughhh!!!" teriak Ronald kesakitan.


"Huh? Apa yang kau lakukan?" tanya Cecilia pada Hella.


"Bersiap untuk membekukan seluruh tubuhnya?" balas Hella.


"Kuuaaaghhh!!!"


Tak berselang lama, Ronald mulai memuntahkan darah dari mulutnya. Tapi bukan darah merah, melainkan darah dengan warna hitam pekat yang kental.


Brian yang melihat hal itu dari sisi sebaliknya, merasa sangat kebingungan.


"Apa yang terjadi? Sihir milik Hella?"


'Spraaassshhh!!!'


Sesuatu nampak muncul dari punggung Ronald, menyerupai sebuah sayap. Tapi hanya tulangnya saja, dengan warna kehitaman dan sedikit jaring-jaring di sekitarnya.


"Aarrggh! Apa yang.... Aaaaarrrghhhhh!!!'


'Spraaasssshhh! Bruukk!'


Dengan teriakan Ronald itu, Ia segera terjatuh ke tanah. Kakinya yang telah membeku segera remuk dan hancur.


Tergeletak di atas jalanan batu yang keras ini, tak bergerak sedikit pun.


"Apa yang terjadi?"


"Sudah selesai?"


Entah kenapa, Brian merasakan hawa yang sangat jahat dan sangat mengerikan di sekitar tubuh Ronald.


Itu semua hanya lah firasatnya. Hingga....


"Lari!"


Teriakan dari Orlog terdengar dengan jelas di dalam kepalanya.


Dalam dunia ini, hanya ada dua hal yang pasti bagi Brian.


Yang pertama, adalah sebuah kenyataan bahwa dirinya bukan lah siapa-siapa di dunia ini.


Dan yang kedua....


Adalah sebuah kenyataan, bahwa peringatan dari Orlog berarti bahaya yang sangat besar. Dengan kata lain....


Kematian.


'Kraaak! Kraaaakkk! Spraaaasshh!!!'


Dari tubuh Ronald, kakinya yang telah terputus kembali tumbuh. Tapi dengan daging dan kulit hitam pekat yang mengerikan.


Tak hanya itu, sayap yang sebelumnya masih belum sempurna, kini mulai menumbuhkan kulit yang memungkinkannya untuk terbang.


Terakhir....


"Gaaarrggh!! Sialan, kenapa aku harus mengendalikan tubuh selemah ini? Setidaknya berikan aku tubuh komandan perintah suci atau semacamnya...." ucap Ronald, tapi kini dengan suara yang berubah total.


Suaranya terdengar seperti suara wanita. Dengan nada yang cukup rendah, serta diselimuti oleh hawa kejahatan yang pekat.


Secara perlahan, dua buah tanduk hitam yang panjang dan melengkung mulai tumbuh di keningnya.


Jari jemarinya mulai berubah menjadi cakar yang tajam, dengan kuku hitam pekat. Begitu pula dengan matanya yang berubah menjadi hitam.


Sedangkan mulutnya sendiri kini dipenuhi dengan taring tajam yang siap menerkam mangsanya.


Setelah melihat penampilan itu, Brian akhirnya tersadar.

__ADS_1


Atas teriakan Orlog sebelumnya.


__ADS_2