Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 28 - Acolyte


__ADS_3

'Srruugg! Srruug!'


Brian dan Cecilia, bersama dengan puluhan petualang lainnya masih terus menyusuri hutan yang gelap ini.


Satu demi satu wilayah mereka jelajahi. Tapi bukannya menemukan Ogre yang dicari-cari, mereka justru bertemu dengan kawanan Goblin.


'Klaang!! Klaangg!'


"Awas! Mereka dari sisi kanan!"


"Aku tahu! Dan kenapa kau yang memerintah kami?!" teriak para petualang yang tak mau saling bekerjasama itu.


"Ronald! Tolong bantu aku!"


"Tenang saja!"


'Klaaangg!!!'


Dengan menggunakan pedangnya, Ronald dengan mudah mampu menghadang serangan dari salah seekor Goblin itu. Melindungi sosok penyihir berjubah putih itu.


"Terimakasih...." ucap Vania setelah diselamatkan oleh pemuda itu.


"Hah! Tenang saja. Selama ada aku, semuanya akan baik-baik saja!"


Brian dan Cecilia yang melihat tingkah mereka dari kejauhan, hanya bisa memberikan tatapan mata yang sipit.


'Sraasshh!'


Setelah menarik pedangnya dari leher Goblin itu, Brian pun mengutarakan isi pikirannya.


"Bocah-bocah sialan itu.... Mereka pikir ini karyawisata?" keluh Brian.


"Biarkan saja. Jika mereka mati, bukankah itu hal bagus? Terutama bangsawan itu...." balas Cecilia yang sedang sibuk mengambil kembali beberapa panahnya di tubuh para Goblin itu.


Tatapan keduanya kini terpaku pada sang petualang bangsawan dengan zirah yang mengkilap itu.


Dan dengan cepat, Brian pun memahami apa yang dimaksudkan oleh rekan kepercayaannya itu.


"Aaah, kau benar. Jika dijual, itu akan menghasilkan cukup banyak uang bukan?"


"Benar sekali."


Setelah pertempuran singkat dengan kawanan Goblin, semua petualang ini melanjutkan perjalanan mereka.


Tak ada korban sama sekali dalam pertempuran barusan. Yang menunjukkan perbedaan besar kekuatan antara kedua kelompok itu.


Tapi kini....


Setelah melanjutkan kembali penjelajahan selama beberapa jam....


Salah seorang petualang berhasil melihatnya.


Sebuah api unggun yang menyala, menerangi kegelapan hutan di malam hari ini. Di atas api unggun itu, terlihat tubuh seekor rusa yang sedang dibakar.


Tapi yang paling penting, terlihat sosok berbadan besar yang sedang duduk di hadapan api unggun itu.


'Sreettt!'


Petualang yang berada di barisan paling depan segera mengangkat tangannya. Meminta agar semua yang ada di belakangnya berhenti.


Juga agar semuanya bergerak dalam diam.


"Tak salah lagi.... Itu dia." bisik Ronald kepada anggota kelompoknya.


Di sisi samping, kelompok yang dipimpin oleh seorang petualang bangsawan itu juga mulai bersiap.

__ADS_1


Mereka mengangkat senjata dan perisai mereka, mempersiapkan diri untuk pertarungan yang epik.


Ogre dikenal dengan kekuatannya yang mengerikan, bahkan mampu untuk menghancurkan sebuah desa sendirian.


Dan jika yang di hadapan mereka ternyata adalah Ogre berkepala dua....


Maka akan menjadikan situasi ini semakin mengerikan lagi.


Dengan tubuh setinggi hampir 3 meter, Ogre berkulit kebiruan itu masih duduk dengan tenang di hadapan api unggun buatannya.


Menanti hidangannya matang, tanpa menyadari ada kawanan manusia yang berusaha untuk memburunya.


Sementara itu....


"Oi, Cecilia? Ada apa?" tanya Brian dengan suara yang lirih.


Di sampingnya, terlihat sosok Cecilia yang terdiam. Tak bergerak sedikit pun dengan mulut yang menganga lebar.


Tak lama setelah itu, suara yang tak lagi asing di telinga Brian mulai terdengar.


"Lari!" teriak Orlog yang seakan terdengar dari dalam pikiran Brian sendiri.


'Kenapa? Apakah Ogre memang sekuat itu?' pikir Brian dalam hatinya.


Akan tetapi, tak ada jawaban lain lagi dari Orlog. Hanya sebuah suara dari arah api unggun Ogre itu.


'Srruugg! Braaakk!!'


Tak berselang lama, tubuh besar Ogre itu jatuh tersungkur begitu saja ke tanah. Dengan kepala, atau lebih tepatnya dua kepalanya yang telah terpenggal sedari tadi.


Di balik gelapnya hutan dan cahaya remang-remang dari api unggun itu, tak ada orang yang menyadari bahwa Ogre itu telah sejak lama mati.


Tapi baru kini, mereka menyadari satu hal yang pasti.


Di hadapan Ogre itu duduk, terdapat seorang pria yang duduk dengan santai. Tangan kirinya terlihat sedang membawa sebuah botol kaca dengan cairan kemerahan di dalamnya.


Perkataan Pria itu mampu terdengar dengan jelas di tengah heningnya hutan ini. Yang hanya dihiasi oleh suara berbagai jenis serangga.


Brian yang melihat sosok itu dari kejauhan, langsung menyadarinya.


Pria itu memiliki tubuh yang seukuran dengan manusia biasa. Hanya saja, pada keningnya terdapat sepasang tanduk hitam pekat yang cukup panjang.


Sklera pada mata sosok itu berwarna hitam pekat dengan pupil berwarna merah darah yang terang. Rambut kehitaman dapat terlihat di balik tudung pada jubah hitamnya.


"Si-siapa kau?!" teriak salah seorang petualang itu ketakutan.


"Sialan! Beraninya mencuri mangsa kami!"


Tapi berbeda dengan para petualang rendahan itu, kelompok yang dipimpin oleh seorang bangsawan itu segera menyadarinya.


"Iblis.... Iblis yang sesungguhnya.... Jangan katakan...."


Tubuhnya mulai gemetar sekalipun berlindung di balik zirah tebal yang mengkilap itu.


Sementara itu, sosok misterius itu segera berdiri dari duduknya setelah mengantungi botol kaca berisi darah itu.


Ia menatap ke arah kerumunan petualang di sekitarnya dengan tenang. Dan setelah beberapa saat....


"Aah, benar juga. Bukankah ini cukup dekat dengan pemukiman manusia? Tak ada salahnya memanen jiwa selagi aku di sini." ucapnya sembari mengangkat tangan kanannya.


Jari jemarinya bergerak seakan-akan sedang menarik sesuatu.


Seketika....


...'ZRAAAASSSHHHH!!! ZRAAATTTT!!!'...

__ADS_1


'Bruukkk!!'


Cecilia yang baru saja melihat apa yang akan terjadi berhasil menyelamatkan Brian dengan melompat bersamanya.


Tapi bagi yang lain....


Beberapa duri raksasa setinggi 2 meter lebih muncul dari tanah. Menembus tubuh mereka layaknya kertas. Tak hanya itu, ratusan duri kecil segera muncul setelah duri utama menusuk tubuh mereka.


Memastikan kematian dan kehancuran lawannya.


"Empat... lima... enam orang selamat?" ucap iblis itu sembari meletakkan tangannya di tanah.


Kini, tatapannya tertuju pada sosok seorang Pria dengan zirah yang tebal dan mengkilap itu. Sosok seorang bangsawan yang terjatuh di tanah dengan luka ringan di kakinya.


"Bagaimana kau bisa selamat? Aah.... Begitu ya? Manusia benar-benar pengecut." ucap iblis itu setelah melihat beberapa tubuh petualang lain tertusuk secara bersamaan.


Bangsawan itu menggunakan tubuh bawahannya sendiri sebagai perisai untuk melindunginya. Hasilnya, Ia selamat hanya dengan luka ringan.


Tapi memangnya kenapa?


'Sreeettt!!!'


Iblis itu kini mengangkat tubuh bangsawan itu dengan mencekik lehernya. Tubuh Pria dewasa dengan zirah yang tebal itu terkesan begitu ringan di hadapannya.


"Le-lepaskan! Kau tak tahu siapa aku?! Aku adalah putra dari keluarga Maverick! Jika kau membunuhku maka...."


"Kenapa? Keluargamu akan memburu ku? Bagus. Semakin banyak manusia yang ku bunuh, itu justru semakin bagus." balas Iblis itu dengan senyuman yang terkesan begitu jahat dan mengerikan.


Giginya yang dipenuhi dengan taring tajam nampak di balik senyumannya itu.


Sementara itu, kuku tajamnya dengan mudah menembus zirah tebal yang melindungi leher bangsawan itu.


"Kuughhh!!!"


Darah mulai mengucur melewati helmnya. Kedua tangan dan kakinya terlihat meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri.


Tapi apa daya, kekuatan yang ada di hadapannya sama sekali bukan lah tandingannya.


Dan setelah beberapa saat, gerakannya mulai melambat sebelum akhirnya terhenti sepenuhnya.


'Braaakk!'


Iblis itu membuang tubuhnya seperti sampah. Sebelum memutuskan untuk kembali memburu manusia.


Tapi bukan untuk memburu mereka yang selamat, melainkan memburu ribuan manusia yang ada di wilayah kota kecil Grenary.


"Jiwa kalian pasti akan memperkuat kebangkitan-Nya. Bersyukurlah, manusia." ucap Iblis itu dengan senyuman di wajahnya.


......***......


"Sialan! Apa-apaan itu barusan?! Oi! Cecilia!" Teriak Brian yang masih berusaha berlari sekuat tenaga di tengah gelapnya hutan ini.


Cecilia terus menggelengkan kepalanya dengan penuh rasa takut. Tapi akhirnya setelah beberapa kali paksaan, Cecilia akhirnya menjawab.


"Mereka adalah ras iblis, ras iblis yang sebenarnya." balas Cecilia dengan tubuh yang terus gemetar ketakutan.


Selama ini, apapun yang berkaitan dengan kejahatan selalu dilabeli sebagai ras iblis. Tapi itu adalah kesalahan persepsi para manusia dan juga makhluk lain yang telah menikmati masa kedamaian ini.


Karena pada kenyataannya, ras iblis seperti elf dan berbagai cabangnya, hanya mewarisi sedikit dari kekuatan iblis yang sebenarnya.


Terlebih lagi mereka yang jauh di bawah garis keturunan asli seperti Goblin dan monster lainnya.


Tapi mereka yang masih memiliki garis keturunan erat dengan iblis yang sebenarnya, memiliki kekuatan yang jauh melampaui ras lainnya.


Dan dulunya, mereka dikenal sebagai....

__ADS_1


"Archdemon...."


__ADS_2