
"Hah.... Hah.... Hah...."
Di balik hutan yang lebat, Brian baru mulai memperlambat langkah kakinya. Berhenti untuk beristirahat bersama dengan kedua rekannya.
"Brian? Ada apa?" tanya Hella dengan nafas yang terpatah-patah.
"Apakah kau sudah mulai gila? Tidakkah kau berfikir seberapa banyak uang yang bisa kita peroleh jika mengalahkannya?" timpal Cecilia.
Saat ini hanya Brian yang tahu masa depan seperti apa yang menanti mereka, jika memaksa untuk melawan iblis itu.
'Harus kah aku mengatakannya pada mereka mengenai semua ini?' pikir Brian dalam hatinya.
Jujur saja, saat ini Brian telah muak dengan semua ini. Entah apakah nasibnya yang memang sial atau apa. Tapi Ia selalu berhadapan dengan maut yang sama sekali tak bisa dilawan.
Dan pada saat yang bersamaan, memaksanya harus melihat kematian orang-orang terdekatnya di dunia ini.
Tanpa disangka, Orlog membalas pemikiran Brian itu. Meskipun....
"Kau tahu apa yang telah kau lakukan?" tanya sosok yang mengaku sebagai dewa takdir itu.
Brian hanya bisa terdiam. Dirinya tahu bahwa tak mengindahkan peringatan Orlog sebelumnya adalah sebuah kesalahan yang besar.
Dan harga yang dibayarkan untuk itu sangat lah mahal.
"Kau baru saja membuatku mengumumkan keberadaan ku di dunia ini, sekali lagi."
Perkataan Orlog itu segera membuat Brian tersadar. Terlebih lagi, mengingat situasi dunia ini yang memiliki hukum rimba.
Mereka yang kuat akan memaksakan aturan mereka pada yang lemah. Sedangkan yang lemah, hanya bisa menerima tanpa bisa melawan aturan itu.
Mengingat sihir Orlog adalah salah satu sihir tertua dan yang terkuat di dunia ini, membuat siapapun yang menyadari keberadaannya akan segera berlomba-lomba.
Berusaha untuk memperoleh kekuatan itu bagi diri mereka sendiri.
Entah itu iblis, atau pun umat manusia itu sendiri.
Dan entah dengan cara seperti apa mereka akan merebut kekuatan itu dari Brian. Yang pastinya bukanlah sesuatu yang indah.
'Maaf....' balas Brian dalam hatinya.
"Hanya dengan sihir ku barusan, aku telah menggeser takdir cukup jauh. Setidaknya aku tahu ada beberapa orang yang menyadarinya.
Meskipun, aku tak lagi tahu takdir seperti apa yang akan menanti. Aku juga memiliki batasan atas apa yang bisa ku lihat." jelas Orlog.
__ADS_1
Takdir yang sebelumnya telah sepenuhnya tergeser oleh takdir yang baru. Sebuah takdir dimana beberapa orang dengan kekuasaan paling besar di dunia ini, mulai menyadari keberadaannya.
Terlebih lagi bagi mereka yang cukup akrab dengan sihir kuno seperti ini. Yaitu sang Kaisar dan 12 komandannya sendiri, yang sangat dekat dengan artifak Dewi Cahaya berupa kitab suci itu.
Sebuah buku dengan sampul emas yang indah serta cahaya abadi, yang memberikan kekuatan bagi siapapun yang memperoleh berkah darinya.
Kekuatan yang sama yang digunakan oleh para komandan perintah suci.
"Brian? Ada apa? Katakan sesuatu." ucap Hella sambil memegang pundak pria itu. Yang saat ini terlihat begitu ketakutan.
"Maaf.... Aku hanya takut atas iblis barusan. Apakah kalian tak menyadari seberapa mengerikannya dia?" tanya Brian.
"Hmm? Tidak." balas Cecilia polos sebelum mendekatkan wajahnya untuk membisikkan sesuatu pada Brian. "Dia tak memiliki setetes pun darah Hecate. Jadi kenapa takut?"
Tanpa disadarinya, Hella mendengar bisikan itu.
"Eh? Darah.... Ka-kalian.... Kenapa membicarakan hal terkutuk seperti itu? Dan kenapa kau tahu iblis itu tak memilikinya?"
Pertanyaan Hella seketika memicu ledakan di dalam kepala Brian. Pikirannya yang sebelumnya telah begitu pening dan sakit, kini menjadi semakin parah.
Ia tak tahu harus bagaimana menyembunyikan fakta ini lagi di hadapan Hella.
"Aaah, tidak. Kau salah dengar. Maksudku iblis itu tak terlihat kuat. Itu saja."
Alasan Cecilia benar-benar tak masuk akal. Bahkan sama sekali tak bisa menutupi rahasia mereka.
Tak lagi ingin ambil pusing, Brian akhirnya mengutarakan semuanya.
"Hella, aku akan jujur padamu. Kami berdua menggunakan darah Hecate untuk memperkuat diri kami. Jika kau tak suka, kau bisa pergi. Kau tahu, mungkin akan lebih aman bagimu."
"Brian! Apa yang kau katakan?!" teriak Cecilia panik.
"Sudah lah. Cepat atau lambat dia pasti juga akan menyadarinya. Dan jika dia bisa jauh dari bahaya, aku sudah cukup senang."
Brian segera membaringkan tubuhnya di tumpukan dedaunan itu. Memandangi langit yang tertutupi oleh dedaunan lebat.
Wajah Hella terlihat begitu kebingungan untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya memutuskan untuk melangkah pergi, meninggalkan keduanya.
"Tunggu! Hella! Aku bisa menjelaskannya padamu!" teriak Cecilia.
Tak hanya kagum atas kemampuan Hella, tapi Cecilia juga sudah mulai cukup dekat dengannya sebagai sesama wanita.
Melihat sosok rekan barunya itu hendak pergi meninggalkannya....
__ADS_1
"Biarkan saja dia pergi." balas Brian dengan suara yang semakin lemas.
Dirinya telah lelah dengan semua ini. Lelah dengan beban yang kini mulai terasa di pundaknya. Sebuah beban untuk tetap menjaga rahasia keberadaan Orlog dalam jiwanya.
Ia takkan pernah tahu apa yang akan terjadi jika orang lain tahu.
Mungkin dibunuh dan diperebutkan. Atau lebih buruk lagi, orang lain yang mampu memanfaatkan kekuatan Orlog akan menghancurkan dunia ini.
Tapi....
'Sejak kapan aku sebegitu pedulinya dengan dunia ini?' tanya Brian pada dirinya sendiri.
Tak perlu waktu lama baginya untuk mengetahui jawabannya. Sesaat setelah pandangannya menoleh pada sosok seorang wanita berambut perak itu, Brian tersadar.
'Aah, benar juga. Semua ini....'
"Brian! Jangan hanya diam! Hentikan dia dan...."
"Diam lah. Sekarang aku sedikit mengerti bagaimana perasaan Ronald saat rekan-rekannya mulai meninggalkannya. Balasan untukku? Tapi setidaknya, aku takkan menyalahkannya jika Ia semarah itu padaku."
"Hah?! Kenapa kau membahas orang itu?! Yang lebih penting lagi...."
Keduanya mulai berdebat selama beberapa menit tanpa adanya satu pun pihak yang terlihat akan menyerah.
Sebelum Cecilia dan juga Brian sempat menyelesaikan perdebatan mereka yang tak berujung itu, Hella tiba-tiba kembali.
Melangkahkan kakinya kembali ke tempat dimana Brian dan Cecilia berada.
"Eh? Kenapa kau kembali? Pergi lah. Kau tak ingin berasosiasi dengan orang-orang seperti kami kan? Akan sangat berbahaya bagi keselamatan mu. Terlebih lagi jika perintah suci...."
Hella memotong perkataan Brian dengan melemparkannya sebuah buku saku. Buku saku yang hanya seukuran genggaman tangannya itu memiliki sampul putih dengan beberapa alur hitam yang sederhana.
'Brukk!'
Buku saku itu jatuh tepat di atas dada Brian yang masih terbaring di tanah itu.
Dengan senyuman yang tipis, gadis berambut hitam itu mulai mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Salinan dari sebagian kitab Dewi Cahaya. Bab peperangan, paragraf ke tujuh. Meskipun memerintahkan manusia untuk melawan iblis, tak pernah menyebutkan mengenai larangan memanfaatkan kekuatan mereka untuk melawan iblis yang lain.
Jadi ku rasa.... Tak masalah bukan? Untuk kita tetap berpetualang bersama? Kau tahu, aku.... Mulai merasa nyaman di sini." jelas Hella cukup panjang lebar.
Di satu sisi, Cecilia terlihat begitu senang karena rekan barunya tak jadi pergi. Dimana Cecilia langsung berlari untuk memeluk Hella.
__ADS_1
Tapi di sisi lain....
'He-Hella benar-benar seorang pendeta?!' pikir Brian terkejut dalam hatinya setelah melihat salinan kitab Dewi Cahaya itu.