
"Jika kalian membakarnya seperti ini, aromanya akan lebih harum." ucap seorang ibu-ibu sambil menata tumpukan kayu kering.
Beberapa ibu-ibu desa yang lain terlihat sedang menguliti rusa yang dibawa oleh Brian. Membersikan daging dan menyiapkannya untuk dimakan bersama.
"Bagaimana? Harum kan aromanya?" tanya ibu-ibu itu kembali setelah menyalakan api pada tumpukan kayu kering itu.
Asap mulai muncul dari kayu kering dengan warna agak keemasan itu. Aromanya benar-benar harum dan menggugah selera makan.
Brian yang mencium aroma wangi dari kayu itu segera merasa lapar.
"Ini.... Kenapa bisa seharum ini?" tanya Brian penasaran.
"Kayu dari pohon Oar memiliki warna keemasan dan akan menimbulkan aroma yang harum. Sangat cocok untuk membakar dan mengawetkan daging." jelas ibu-ibu itu.
Tangan kanannya nampak sibuk mengipasi tumpukan kayu itu agar apinya semakin menyebar.
"Oar, berarti emas bukan?" tanya Brian ke arah Cecilia.
"Benar sekali."
Di bawah rembulan dan bintang yang tertutupi oleh awan, penduduk desa bersama dengan Brian dan juga Cecilia ini menikmati daging bakar bersama.
Jumlahnya cukup untuk mengenyangkan penduduk desa yang hanya sebanyak 30 orang ini, termasuk beberapa anak kecil.
Tak hanya daging rusa, beberapa penduduk juga mengeluarkan simpanan mereka. Kentang, jagung dan juga berbagai sayur turut dikeluarkan.
Cukup jarang bagi mereka bisa menikmati daging rusa. Itu karena berburu rusa ke dalam hutan cukup berbahaya.
Karena itu lah, kini mereka merayakannya.
"Ini lezat sekali, aroma dan rasanya.... Sama seperti di restoran-restoran mahal." ujar Brian setelah mencicip satu potong daging itu.
"Restoran? Apa itu? Apakah enak?" tanya salah seorang bocah kecil yang duduk di dekat api unggun itu.
"Bukan, itu artinya tempat makan."
"Wuaah! Kalau begitu ibu bisa membuka restoran?!"
Melihat sikap lugu dari bocah itu mengingatkan Brian atas kedamaian yang telah lama hilang. Sebuah kedamaian di kehidupannya yang lalu.
Sedangkan Cecilia sendiri masih sibuk menikmati makanannya. Ia merasa telah kembali ke kehidupannya yang lama.
__ADS_1
Sebuah kehidupan sederhana dengan berburu dan meramu.
Sambil memperbincangkan berbagai hal, mereka semua menikmati malam ini dengan penuh kebahagiaan. Saat perut mereka telah penuh, semuanya pun beristirahat.
"Sekali lagi terimakasih, tak hanya telah membunuh seekor Goblin. Tapi kalian juga membawakan kami semua makanan yang lezat." ucap salah seorang pria tua di desa ini.
"Bukan masalah besar. Lagipula, kami juga akan melanjutkan perburuan Goblin esok hari. Jika ada hewan yang bagus, kami akan memburunya kembali." balas Brian dengan senyuman yang lebar.
"Aah, kami tak tahu lagi bagaimana harus berterimakasih."
"Kalian bisa tinggal di rumah kami. Meskipun hanya ada satu kamar, itu tak masalah bukan?" sahut istri pria tua itu.
Brian menoleh sesaat ke arah Cecilia. Dengan cepat, gadis Elf itu memberikan sebuah senyuman dan jempol seakan mengiyakan tawaran penduduk desa ini.
"Terimakasih banyak, bisa mendapat kamar saja sudah cukup beruntung."
"Kalau begitu mari, ikut dengan kami."
Pasangan tua itu menuntun keduanya ke arah rumah mereka. Sebuah rumah kayu tingkat dua yang sederhana dengan halaman kecil untuk tanaman hias mereka.
Dalam rumah yang hanya diterangi oleh cahaya dari lilin, keduanya mengantarkan Brian dan Cecilia di lantai dua. Ke dalam sebuah kamar yang terlihat telah lama tak dipakai tapi masih cukup rapi dan bersih.
"Kamar ini dulunya adalah kamar putra kami, tapi Ia telah menjadi pedagang yang sukses di Kota. Jadi gunakan saja." ucap sang pria tua itu dengan senyuman yang begitu ramah.
Ia teringat atas berita penguasa Elf dari wilayah Frostbite yang menghancurkan beberapa kota dan desa sebelumnya.
Meminta umat manusia untuk memaafkan iblis yang seperti itu, serta meminta bangsa Iblis memaafkan manusia yang memburu mereka....
Adalah sebuah hal yang mustahil.
'Brukk!'
Karena terlalu lama terdiam, Cecilia menyikut punggung Brian. Menyadarkannya dari pikirannya yang telah lari entah kemana.
"Aah, iya. Sekali lagi, terimakasih banyak atas kebaikan kalian. Jika kami menemukan putra Anda di kota, kami akan mengabarkan bahwa orangtuanya dalam keadaan yang sehat." balas Brian.
"Begitu kah? Terimakasih, kalau begitu terima ini. Ini adalah tanda pengenalnya." balas pria tua itu sambil mengeluarkan sebuah kartu yang terbuat dari kayu tipis.
Di atas kartu kayu tipis itu terukir nama dan juga alamat dari anak kedua orang tua itu.
"East Forgery, Jareth. Distrik Timur Mapleford sektor 4, jalan Veril nomor 28. Kami pasti akan kesana setelah membersihkan Goblin ini, tenang saja." balas Brian dengan senyuman yang ramah.
__ADS_1
Ia segera mengantungi kartu tanda pengenal itu di balik pakaian lusuhnya dan segera memasuki kamarnya.
Sebuah kamar sederhana dimana hanya ada sebuah ranjang, satu kursi kayu kecil dan sebuah meja dengan rak yang kosong. Tak ada apapun di dalamnya.
Lampu penerangan yang ada hanyalah sebuah lentera kecil dengan lilin yang telah leleh setengahnya.
'Ctik!'
Cecilia menjentikkan jarinya untuk menyalakan api pada lentera itu. Menerangi ruangan ini dengan cahaya kuning yang redup.
Bersamaan dengan itu, Cecilia juga segera menutup pintu kamar ini rapat-rapat dan melepaskan beanie yang telah seharian menutupi setengah kepalanya.
Memperlihatkan sebuah tanduk kecil di kening bagian kanannya serta sepasang telinga yang panjang dan runcing.
Mata merahnya memang cukup memancing perhatian, tapi mata merah juga tak begitu langka di dunia ini.
"Kau tidur saja di atas, aku akan tidur di sini." ucap Brian yang segera tidur di lantai dengan menggunakan tas sebagai bantalnya.
"Kau yakin? Aku tak masalah tidur di bawah sesekali kau tahu?" tanya Cecilia sambil mulai melepas pakaian bagian luarnya. Menyisakan hanya pakaian kain tipis di dalamnya.
"Sangat yakin."
Cecilia terdiam sesaat mendengar jawaban itu. Kedua matanya juga terus terpaku ke arah sosok Brian yang telah menghadap ke sisi dinding kayu itu.
"Kalau begitu, baiklah."
Gadis itu segera berbaring di atas ranjang dengan bantal yang empuk itu. Tak berselang lama, keduanya pun tertidur setelah seharian ini cukup kelelahan.
....
Keheningan menyelimuti seluruh desa ini. Bahkan awan juga turut melakukan hal yang sama, menutupi cahaya rembulan untuk menyinari desa di tengah kegelapan ini.
Suasana begitu tenang dan nyaman, terlebih lagi setelah pesta makan sebanyak itu semua orang tidur dengan sangat lelap. Tanpa menyadari di kejauhan....
Tepatnya di arah hutan yang gelap, terlihat beberapa cahaya kuning kemerahan yang mulai menyala.
Cahaya itu mulai bertambah sedikit demi sedikit hingga akhirnya mencapai puluhan. Memperlihatkan wajah monster berkulit kehijauan di balik gelapnya hutan.
"Graarrr! Gurr!!" ucap salah seekor Goblin dengan tubuh yang sedikit lebih besar dan wajah yang memiliki bekas luka tebas serta mata yang telah rusak sejak lama.
Mendengar ucapannya, semua Goblin yang mencapai hampir seratus ekor itu terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
Taring mereka terlihat begitu tajam. Begitu pula air liur yang menetes dengan deras saat membayangkan mangsa di hadapan mereka.
Yaitu penduduk desa itu sendiri, bersama dengan seluruh ternak mereka.