
'Ttraang! Klaangg! Ttrraangg!'
'Bruuukk! Kraaakk!!'
Suara yang sangat berisik dapat terdengar dari luar. Membangunkan Brian dengan segera.
"Sialan, siapa yang merenovasi rumah di pagi hari seperti i...."
Perkataannya segera terhenti setelah melihat ke arah luar jendela. Dimana langit masih terlihat gelap dengan cahaya bulan tertutupi awan yang begitu redup.
'Kreettakkk!'
Tak berselang lama, cahaya kemerahan dapat terlihat melintas di jendela kamarnya.
Pada saat itu lah, Brian langsung tersadar dari tidurnya.
'Sreeett! Bruk! Bruk! Bruk!'
Segera setelah menarik pedangnya, Brian langsung berlari ke arah ranjang Cecilia tidur.
"Oi! Bangun! Kita diserang!" teriak Brian sambil beberapa kali menampar ringan wajah gadis Elf itu.
"Hah?! Apa kau bilang?!"
Diluar perkiraannya, Cecilia segera terbangun. Dengan cepat Ia langsung mengambil busur dan panah serta menutupi kepalanya dengan beanie itu.
Keduanya berniat untuk berlari menuruni tangga dari rumah ini. Tapi pada kenyataannya, api telah melahap hampir sebagian besar rumah ini.
Suhu yang sangat panas dapat dirasakan bahkan dari kejauhan. Tak hanya itu, asap hitam yang pekat juga menyesakkan nafas mereka berdua.
"Sialan! Cecilia, lewat jendela!"
Kini mereka berdua kembali ke arah kamar mereka dan melompat melalui jendela itu.
Hanya saja....
Pemandangan desa di hadapan mereka telah berubah 180 derajat. Sebuah desa yang begitu tenang dan damai, kini dipenuhi oleh lautan api di segala arah.
"Tidak! Tolong jangan putriku! Tidak! Aargggh...."
Suara teriakan seorang wanita terdengar dari kejauhan sebelum akhirnya menghilang.
"Grahahahaha! Graaaa!!!"
Bersamaan dengan hilangnya teriakan wanita itu, suara tawa dari monster dapat terdengar dengan jelas.
"Disana!" teriak Cecilia yang segera berlari sambil menghindari kobaran api.
Brian menyusulnya dari belakang. Arah yang dituju Cecilia sangat yaitu ke alun-alun desa. Dan apa yang mereka berdua lihat di sana, adalah sebuah mimpi buruk yang bahkan tak pernah terbayangkan.
Puluhan Goblin terlihat menarik dan mengumpulkan para warga desa.
Atau lebih tepatnya, gadis dan wanita desa yang masih cukup muda di tengah alun-alun. Mengikat mereka semua dengan tali yang sangat erat.
"Graaa! Grahahaha!!!"
Para Goblin itu terlihat tertawa puas sambil menikmati hidangan mereka bersama-sama.
Brian yang tak sanggup melihat pemandangan gila seperti itu, secara refleks hendak berlari ke arah kerumunan Goblin itu.
Tapi Cecilia dengan tanggap segera menghentikannya. Ia menahan lengan kanan Brian dengan kuat.
__ADS_1
"Kau ingin bunuh diri?"
"Tapi...."
"Jumlah mereka ada puluhan. Dan mungkin masih ada lebih banyak lagi diluar sana. Kita tak mungkin selamat." lanjut Cecilia menyela perkataan Brian.
"Lalu kau minta aku tetap diam melihat semua itu?!"
Cecilia sama sekali tak menjawab. Ia hanya mengangkat busur dengan tangan kirinya sembari menarik anak panah dengan tangan kanannya.
Mengarahkan pada salah seekor Goblin di kejauhan.
'Swuuusshh!!! Jleebbbb!!!'
Anak panah yang ditembakkannya mengenai tepat di tengah kepala Goblin itu. Membunuhnya seketika.
Bersamaan dengan itu, para Goblin lain yang menyadarinya segera menoleh ke arah asal tembakan panah itu.
'Sreett! Bruuukk!!!'
Dengan kuat, Cecilia menarik Brian dan melemparkannya ke belakang salah satu bangunan.
"Sialan! Apa yang kau...."
"Aku disini! Goblin sialan!!!"
Tanpa di sangka, Cecilia berteriak dengan sangat keras. Berusaha sekuat tenaga untuk memancing perhatian para Goblin itu.
"Grrrr!!!"
"Graaa!! Sraggg!!!"
Dengan bahasa yang sama sekali tak bisa dimengerti, salah satu dari mereka terlihat menunjuk ke arah Cecilia.
"Brian, aku akan memancing mereka. Sisanya aku serahkan padamu."
"Tunggu! Apa yang...."
Tak menunggu jawaban dari Brian, gadis Elf itu segera berbalik arah dan berlari menjauh. Tapi Ia menjaga kecepatannya agak rendah sehingga bisa dikejar oleh para Goblin itu.
'Gruuduukk! Gruudukk! Gruudukk!'
Puluhan ekor Goblin berlari melewati tubuh Brian yang bersembunyi di dekat dinding rumah itu. Berusaha tak bersuara atau pun bergerak sedikit pun.
Tidak ada satu pun Goblin yang menyadarinya.
Dan rencana Cecilia untuk mengalihkan perhatian para Goblin itu berhasil dengan sempurna. Tapi....
'Serahkan sisanya? Lalu bagaimana denganmu?' pikir Brian dalam hatinya.
Kini Ia justru ragu harus bagaimana.
Di satu sisi, Ia benar-benar ingin menyelamatkan semua orang di desa ini. Tapi di sisi lain, Cecilia adalah satu-satunya orang terdekatnya di dunia ini.
Kehilangannya sama saja kehilangan arah dan tujuan di dunia ini.
Tapi nasi telah menjadi bubur.
Jika Ia menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan oleh Cecilia seperti ini.... Brian takkan lagi mampu menatap sosok Cecilia lagi tanpa rasa malu.
'Sreettt!!!'
__ADS_1
Dengan cepat, Brian segera berlari. Ia melewati lautan api yang membara itu.
'Sialan! Panas sekali!'
Tak seperti yang dilihatnya dalam berbagai film atau pun komik, menerjang lautan api sangat lah panas dan menyakitkan. Tapi hanya itu yang bisa dilakukannya.
Setibanya di alun-alun, Brian langsung memotong ikatan tali para penduduk desa dengan cepat.
"Syukurlah, tolong kami...."
"Putriku...."
"Ayah...."
Wajah semua orang dipenuhi oleh kesedihan dan juga air mata. Membuat hati Brian semakin teriris ketika mendengarkan mereka semua.
"Tenang saja, aku akan menyelamatkan kalian semua." ucap Brian yang terus memotong ikatan tali di tangan mereka semua.
Brian terus melanjutkan penyelamatannya selama beberapa menit.
Di sampingnya, sosok wanita tua yang memberikannya tempat tinggal terlihat tersenyum puas.
"Terimakasih, berkatmu...."
"Bukan masalah besar. Lagipula...."
'Braaakkk!!!'
Saat Brian masih membalas perkataan wanita tua itu, sebuah gada menghempaskan kepala sosok wanita tua itu. Meninggalkan hanya lehernya yang telah terpenggal.
'Spraaasshhh!!'
Darah menyembur ke segala arah selama beberapa saat sebelum akhirnya berhenti. Beralih menjadi tetesan dan aliran darah yang lembut.
Tak berselang lama, tubuh wanita tua itu pun terjatuh ke tanah. Tak lagi berdaya.
Di baliknya, terlihat sosok seekor Goblin yang sedikit lebih besar dari yang lainnya. Tapi mengatakannya sedikit mungkin terlalu meremehkan.
Jika sebagian besar Goblin hanya memiliki tinggi sekitar 120cm, maka Goblin yang ada di hadapan Brian saat ini....
Memiliki tubuh dengan tinggi 160cm dan badan yang lebih kekar dari Goblin lainnya.
Tangan kanannya membawa sebuah gada dengan banyak paku yang menancap di kepala gada itu.
"Grrr.... Manusia, beraninya mencuri makananku...."
'Dia bisa berbicara?!'
Tanpa disadarinya, beberapa ekor Goblin terlihat muncul dari segala arah. Perlahan tapi pasti, mereka semua mendekat ke arah Brian berada.
'Sialan?! Sejak kapan mereka....'
'Braakkk!!!'
Beberapa ekor Goblin terlihat melemparkan sesuatu ke arah Brian layaknya sebuah barang tak berharga.
Melihat apa yang ada di hadapannya, kedua matanya pun terbelalak. Tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya.
Sosok seorang gadis Elf dengan rambut perak dan mata kemerahan tergeletak tak berdaya di hadapannya. Tubuhnya terlihat dipenuhi dengan luka tusuk dan memar di balik pakaiannya yang telah robek di berbagai sisi itu.
Darah terus mengalir dari seluruh bagian tubuhnya, dan tatapannya pun terlihat begitu lemas.
__ADS_1
Meski begitu, gadis Elf itu masih sempat berbicara.
"La... ri...."