
'Braaakk!!!'
Jareth memukul meja kayu itu dengan sangat keras hingga membuat retakan. Wajahnya terlihat dipenuhi dengan amarah dan kekesalan.
Semua itu terjadi setelah Brian dan juga Cecilia menceritakan segala yang terjadi di desa itu.
"Sialan! Sialan! Sialan!" teriak Jareth penuh amarah sambil terus memukuli meja kayu itu hingga remuk.
"Maaf."
Hanya satu kata itu yang bisa keluar dari mulut Brian saat ini. Memangnya apa lagi? Harus kah dia berbohong dan membuat berbagai alasan?
'Braaakk!! Kraaakk! Klaangg!!!'
Brian dan juga Cecilia hanya bisa duduk diam di sebuah kursi. Sedangkan Jareth sendiri masih mengamuk, membanting dan menjatuhkan banyak rak dagangannya.
Setelah cukup memporak-porandakan tokonya sendiri, Jareth berjalan secara perlahan ke arah pintu. Membalik sebuah papan penanda di depan pintu tokonya.
Menandakan bahwa toko ini telah ditutup.
Kembali ke dalam toko, Jareth segera mengunci pintu. Tangannya terlihat terluka dengan darah yang terus mengalir akibat tergores oleh banyak senjata besi di rak dagangannya.
Meski begitu, Ia tetap berjalan dengan tenang.
Kini, kembali duduk di belakang meja kasir yang telah remuk itu. Ia menarik rambut kecoklatan nya ke belakang, yang secara tak langsung mengotori sedikit wajah dan rambutnya dengan darah di tangannya.
"Hah...."
Jareth mulai menarik nafas panjang. Mengatur emosinya sedikit demi sedikit sebelum akhirnya kembali tenang.
"Maaf, aku hanya.... Ayahku adalah sosok yang sangat penting bagi ku. Semua ini?" ucap Jareth sambil membentangkan tangannya di toko ini.
"Adalah ajaran darinya." lanjut Jareth. Ia berusaha dengan keras untuk menahan air matanya.
"Dan aku telah berjanji untuk membawa mereka berdua ke kota setelah aku punya cukup uang tapi.... Hahaha.... Aku terlambat."
Kalimat terakhir itu cukup menyayat hati Brian.
Jika saja Ia berada dalam posisi yang sama, apakah Brian bisa bertahan dan tetap setenang ini? Mungkin tidak.
"Kau tahu? Masa bodoh dengan toko ini. Aku akan menjual semuanya dan menyewa rumah kecil di kota untuk ibu ku. Setidaknya, aku masih bisa melindunginya dan...."
"Kau yakin?" tanya Brian memotong perkataannya.
"Hah? Tidakkah kau lihat semua ini?" tanya Jareth singkat sambil menunjukkan rak yang masih terisi penuh.
"Sejujurnya, kalian adalah pelanggan pertama bulan ini. Aku harus akui, aku tak berbakat dalam menempa. Dan mungkin itu lah kenapa...." lanjutnya.
Brian segera berdiri. Begitu pula dengan Cecilia yang sedari tadi duduk dalam diam.
"Bagus atau tidak itu tergantung pemakai nya. Bukankah benar begitu?"
"Kau benar, Bri... Reux. Akan kami tunjukkan pada dunia bahwa tempaanmu juga tak kalah bagus. Setidaknya, itu yang bisa kami lakukan untuk membantu mu." balas Cecilia dengan senyuman yang ramah.
"Tunggu dulu! Kalian...."
"Diam dan bereskan toko ini. Kemudian jemput ibu mu atau semacamnya. Kami akan membantu dengan cara kami sendiri." ucap Brian.
__ADS_1
Wajahnya memberikan senyuman dengan tatapan penuh rasa percaya diri.
Tak seperti sebelumnya, Brian telah melampaui rasa takut dan keraguannya dalam pertarungan. Kali ini, terlebih lagi dengan kekuatan Hecate yang lebih banyak lagi....
Brian yakin.
Keduanya segera berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar. Sesaat sebelum membuka pintu itu, Cecilia menoleh untuk terakhir kalinya.
Memberikan sedikit penyemangat pada sosok pemuda itu.
"Tenang saja. Meskipun seperti ini, kami berdua cukup kuat. Nantikan saja kabar baik dari kami."
Brian dan juga Cecilia telah sepakat tanpa kata. Sepakat untuk melambungkan nama pandai besi ini dengan perolehan mereka di Guild.
Dengan begitu....
Setidaknya, Jareth dapat memperoleh cukup uang untuk merawat ibunya.
Dan juga, sebagai penebusan rasa bersalah keduanya.
Tapi saat Cecilia hendak membuka pintu, Jareth kembali memanggil mereka.
"Tunggu!"
"Tenang saja, kau cukup bekerja seperti biasa dan...."
Sebelum perkataannya selesai, Cecilia kebingungan karena pintu di hadapannya tak bisa terbuka.
'Cklak! Klasik!'
Beberapa kali Cecilia mencobanya, tapi tak juga kunjung terbuka.
Brian dan juga Cecilia segera terdiam. Kejadian ini membuat keduanya dipenuhi rasa malu. Dan sikap sok pahlawan mereka berdua sebelumnya, seketika sirna.
....
Di luar toko East Forgery
"Hah, itu sangat memalukan...."
"Hentikan. Aku tak ingin mengingatnya." balas Cecilia yang menarik beanienya hingga menutupi hampir seluruh wajahnya.
Kini dengan perlengkapan baru, keduanya merasa lebih siap untuk menghadapi bahaya yang lebih beras.
Dan dengan penuh rasa percaya diri, keduanya pun melangkahkan kaki mereka menuju Guild. Mencari Quest perburuan lain untuk mereka ambil sembari mencari kamar untuk beristirahat.
......***......
...- Blancfall -...
Beberapa hari kemudian....
Di kota jauh jauh di Timur ini, sebuah bencana yang dahsyat sedang terjadi.
"Tembak!!!" teriak salah seorang komandan pasukan di atas dinding batu itu.
Dengan serempak, semua prajurit pun mengikuti perintahnya. Menembakkan ribuan anak panah secara bersamaan ke arah Barat.
__ADS_1
Ribuan anak panah yang seharusnya menghujani pasukan frost Elf itu....
'Swuuusshhh!!!'
Tiba-tiba terhempas begitu saja oleh angin kuat yang muncul. Sebuah angin yang diciptakan oleh sihir dari puluhan Frost Elf secara bersamaan.
"Hiii!!! Tidak, ini tidak mungkin!"
"Bagaimana melawannya?!"
"Bodoh! Balista! Tembakkan balista!" teriak salah seorang prajurit ketakutan.
Dengan segera, beberapa prajurit berlari ke arah Balista di sudut dinding pertahanan ini. Sebuah alat berat dengan wujud busur panah raksasa ini segera dipersiapkan.
Menggunakan anak panah yang sebesar lengan dan sepanjang tinggi badan manusia, busur raksasa itu seharusnya dapat memberikan kehancuran yang cukup besar.
"Bidik dengan baik!" perintah komandan prajurit disamping pengguna balista itu.
Apa yang mereka bidik, adalah sosok Frost Elf yang memimpin semuanya. Ia memiliki badan yang sedikit lebih besar dan kekar dari yang lain.
Tapi yang membuatnya sangat mencolok, adalah zirah tebal dengan dekorasi yang indah. Serta pada tiap langkah kakinya, membawa hawa yang cukup dingin untuk membekukan tanah di sekitarnya.
Selain itu....
"Apa-apaan monster itu?! Apa-apaan dengan lengan kirinya?!" teriak salah seorang prajurit dengan ketakutan.
Ia melihat lengan kirinya yang sangat kontras dengan bagian tubuhnya yang lain.
Monster itu memiliki lengan kiri yang berwarna hitam pekat dan seakan memiliki alur kemerahan yang menyala. Hawa panas dari lengan itu bahkan dapat dirasakan dari kejauhan.
"Musnahkan semuanya." perintah pemimpin ras Frost Elf itu, Freisch.
Setelah Ia mengangkat tombaknya, pasukannya pun menyerbu.
Tapi....
'Swuuusshhh!!!'
Anak panah raksasa dari balista itu melesat tepat ke dada Freisch dengan sangat cepat. Dan sesaat sebelum mengenainya....
'Taapp!!! Kraaaakkk!!!'
Hanya dengan lengan kirinya, Freisch dapat menghancurkan panah raksasa itu dengan mudah. Bahkan membakarnya hingga hangus tak bersisa dalam sekejap.
"Ini.... Ini tak mungkin?!"
Hujan anak panah kembali terjadi. Tapi kali ini, berasal dari sisi Frost Elf. Membantai banyak manusia di balik benteng Blancfall yang tak lama lagi akan runtuh.
"Bertahan lah! Ksatria dari perintah suci akan tiba beberapa saat lagi!" teriak salah seorang komandan.
Beberapa prajurit pun melihat ke arah selatan. Di kejauhan, di balik gelapnya hutan, mereka dapat melihat panji-panji dengan dengan lambang naga putih.
"Komandan benar! Panji itu.... Tak salah lagi!"
"Perintah suci! Perintah suci datang untuk menyelamatkan kita! Semuanya! Bertahan lah!"
Akhirnya....
__ADS_1
Salah satu pertempuran terbesar di masa damai kekaisaran Luvelia ini pun terjadi di Blancfall.