
"Uugh.... Dimana ini?"
Brian akhirnya sadarkan diri setelah beberapa waktu. Atau lebih tepatnya, semalam penuh.
Apa yang ada di pandangannya adalah sebuah atap bangunan bobrok yang telah hangus, serta langit biru cerah yang terlihat di baliknya.
Melihat sekelilingnya, Brian tersadar bahwa dirinya saat ini masih berada dalam desa itu.
"Tapi kenapa? Ku pikir aku telah...."
"Terimakasih banyak Nek! Ah, Brian? Kau sudah bangun?" ucap Cecilia yang masuk ke dalam rumah bobrok ini dengan membawa ember berisi air dan juga kain di dalamnya.
"Syukurlah.... Kau selamat...."
Hanya itu saja yang ada dalam pikirannya. Bukan karena permintaan sosok misterius itu sendiri. Melainkan dirinya yang tak ingin melihat gadis itu terluka.
"Tentu saja. Dan kau tahu?" bisik Cecilia tiba-tiba setelah meletakkan ember itu di tanah.
Ia merogoh kantung di celananya yang begitu lusuh dan kotor itu. Dari balik kantungnya, Cecilia mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dengan penutup kayu ala kadarnya namun cukup rapat.
"Lihat ini!" ucap Cecilia dengan senyuman yang lebar sambil memamerkan botol kaca itu.
Sebuah botol kaca yang hanya sebesar setengah ibu jari itu seharusnya tak begitu istimewa. Tapi di dalamnya, terdapat sedikit cairan kemerahan yang sangat kental.
Cairan itu terlihat sedikit bercahaya kemerahan dalam gelapnya ruangan ini.
"Jangan katakan itu...."
"Kau benar!"
Setelah berteriak dengan keras, Cecilia memasukkan kembali botol itu ke dalam kantung celananya dan berjalan mendekat ke arah Brian.
Membisikkan sesuatu langsung ke telinga kanannya.
"Goblin sialan itu ternyata memiliki lima tetes darah Hecate. Pantas saja dia jauh lebih kuat dan lebih cerdas dari Goblin yang lain.
Tapi apapun itu, Goblin tetap lah Goblin. Sekalipun memiliki lebih banyak darah Hecate, mereka tetap lah lemah." bisik Cecilia.
Tanpa di sangka, pimpinan Goblin dengan tubuh besar itu justru memiliki lima tetes darah Hecate dalam tubuhnya.
"Lalu.... Bagaimana kau bisa mengambilnya? Bukankah mata itu tak bisa berfungsi dengan baik sebelumnya? Uggh!!" tanya Brian penasaran. Tapi saat Ia menggerakkan lengan kirinya, rasa sakit yang luarbiasa mulai terasa.
"Aah, jangan banyak bergerak. Luka di lengan kiri mu cukup parah. Ku rasa beberapa tulang patah, jadi kita harus kembali ke kota untuk mencari penyembuhan."
Cecilia mengatakan hal tersebut sambil membantu Brian mengistirahatkan badannya agar tak lagi terasa sakit.
Lalu setelah rasa sakit yang dirasakan mereda, Brian kembali menatap ke arah Cecilia. Menagih jawaban atas pertanyaan sebelumnya.
"Soal itu? Aku tak tahu. Aku hanya curiga kenapa dia bisa sekuat itu dan menggunakan sihir yang sama seperti penggabungan sisa kekuatan Hecate.
__ADS_1
Tapi perbedaannya, aku menggunakan botol ini sebagai wadahnya. Dan benar saja, dari tubuhnya terangkat lima tetes darah yang bergerak ke arah botol kaca ini." jelas Cecilia panjang lebar namun tetap menjaga suaranya lirih.
Akan sangat buruk jika ada orang lain yang mendengar mengenai hal ini.
Sembari menjelaskannya, Cecilia mulai merawat beberapa luka di tubuh Brian dengan menggunakan kain yang dibasahi air itu.
Membersihkan luka-lukanya dari kotoran dan mengurangi peluang infeksi.
"Hah.... Jadi begitu ya? Aku tak tahu harus berkata apa. Hanya saja, terkadang aku lupa bahwa ini adalah dunia pedang dan sihir." balas Brian dengan wajah yang seakan kecewa pada dirinya sendiri.
"Hmm? Apa maksudmu dengan itu?"
"Seperti yang kau tahu, tak ada sihir di dunia ku. Jadi semua ini masih sedikit mengejutkanku, apalagi darah yang bisa terbang dan bergerak sendiri ke arah botol kaca."
"Apakah itu memang aneh?"
Brian berfikir bagaimana jika Ia menceritakan hal ini kepada rekan kerja di kantornya dulu. Mungkin orang akan menganggapnya gila karena mengatakan darah bisa terbang dan pindah tempat begitu saja.
"Hah.... Mungkin memang tidak aneh bagi dunia ini, tapi apakah tanganku bisa sembuh?"
"Tenang saja. Aku pernah dengar salah seorang komandan dari Perintah Suci bahkan bisa membangkitkan orang yang baru saja mati."
Pada saat itu juga, Brian merasa takkan ada hal yang lebih aneh lagi di dunia ini.
......***......
Hanya menyisakan lengan kirinya saja yang terluka cukup parah.
Cecilia membagi darah yang mereka peroleh dimana Brian mendapat 3 tetes tambahan sedangkan dirinya sendiri memperoleh 2 tetes.
Berbeda dari sebelumnya, Cecilia hanya membuat lingkaran sihir sederhana sebelum memisahkan kelima tetes darah itu. Dimana keduanya langsung meneguknya layaknya minuman.
Kekuatan Hecate langsung mengalir di dalam tubuh mereka. Tubuh yang telah menyesuaikan diri terhadap kekuatan terkutuk itu.
Kini, di bawah langit yang biru cerah, Brian kembali melangkah dengan tegap. Hanya saja pemandangan yang ada di hadapannya sama sekali tak sesuai dengan suasana hari yang indah ini.
Terlihat di kejauhan para warga desa yang masih bertahan hidup, dimana sebagian besar merupakan wanita, tengah menangis di hadapan beberapa papan kayu.
Papan kayu yang tak lain merupakan penanda makam dari mereka yang meninggal dalam pembantaian semalam.
Jasad para Goblin juga telah disingkirkan oleh para warga bersama dengan Cecilia di kejauhan.
"Kau tahu? Pria tua yang memberikan kamar kepada kita waktu itu, telah terbunuh." ucap Cecilia dengan wajah yang cukup datar.
Meski begitu, Ia menarik beanie yang menutupi kepalanya ke bawah. Menutupi kedua matanya.
Brian tak mampu berkata apapun. Memangnya apa yang bisa dikatakan?
Seandainya mereka berdua tidak tidur?
__ADS_1
Lagipula siapa yang akan menyangka para Goblin itu akan menyerbu desa?
Dan sekalipun memang telah memperkirakan hal itu, siapa yang akan menyangka mereka akan dipimpin oleh pengguna darah Hecate?
Terlebih lagi jumlah mereka hampir mencapai seratus ekor Goblin.
Tak ada yang bisa disesali. Semua ini telah terjadi, dan satu-satunya hal yang bisa dikatakan olehnya....
"Kita telah berjanji untuk menemui putra mereka, Jareth, di kota. Setidaknya, itu yang bisa kita lakukan. Mengabarkan hal ini kepadanya." ujar Brian sambil memandangi kerumunan warga desa itu di kejauhan.
"Kau benar. Kau masih punya alamatnya?"
Brian mengangguk secara perlahan. Setelah beberapa saat, Ia membalikkan badannya dan bersiap untuk berjalan pergi.
Meninggalkan desa ini.
Dengan pedang tua yang menggantung pada pinggang kirinya, Brian telah siap untuk menempuh kembali perjalanan menuju Kota. Melaporkan semua ini kepada Guild, juga kepada anak pasangan tua itu.
Cecilia mengangkat sedikit beanienya, melihat sosok para penduduk desa itu di kejauhan untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya turut mengikuti langkah Brian.
Baru beberapa langkah....
"Ah! Tunggu! Tunggu sebentar!" teriak seorang gadis muda. Ia terlihat berlari sekuat tenaga mengejar sosok dua petualang itu.
"Ada apa?" tanya Brian kepada gadis muda itu.
"Terimakasih banyak telah menyelamatkan kami, dan maaf.... Karena itu tangan Tuan...."
"Tuan?" tanya Brian kebingungan mendengar panggilan seperti itu.
Gadis itu segera meraih kantung di dalam sakunya. Kantung itu terlihat cukup berat. Dan dengan perlahan, gadis itu menyerahkannya pada Brian.
"Mungkin tak banyak, tapi setidaknya ini adalah ucapan terimakasih kami semua. Semuanya menyisihkan sedikit uang mereka untuk membayar kebaikan kalian berdua." jelas gadis itu panjang lebar.
Brian membuka kantung itu dengan satu tangan dan langsung terkejut ketika melihat isi yang ada di dalamnya.
Sekalipun terlihat besar, kantung itu berisi sebagian besar oleh koin perunggu.
'Yang benar saja.... Kalian pikir aku perampok? Bukankah kondisi kalian jauh lebih buruk?' pikir Brian dalam hatinya sambil memperhatikan para penduduk desa yang masih menangis di hadapan makam itu.
Tanpa berpikir panjang, Brian segera mengikat kembali kantung kulit itu dengan bantuan gigitannya dan mengembalikannya pada gadis itu.
"Tak butuh. Kota telah memberikan bayaran yang cukup untuk kami berdua. Kalau begitu, sampai jumpa lagi suatu hari nanti." ucap Brian sembari melepaskan kantung koin tepat di atas telapak tangan gadis itu.
"Eh? Tapi?!"
Cecilia terlihat tersenyum ramah dan melambaikan tangannya pada gadis itu. Sebelum dirinya, juga dengan Brian melangkah pergi.
Meninggalkan desa ini.
__ADS_1