Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 36 - Kegelapan di balik Cahaya


__ADS_3

"Sialan! Persetan dengan semua ini!"


Ronald masih marah dan melampiaskan semua emosinya pada benda-benda di sekitarnya. Termasuk gentong kayu yang tak bersalah sekalipun.


Ia menendangnya hingga hancur tak karuan. Bahkan pemiliknya sekalipun tak berani untuk menegurnya.


Mengingat.... Ronald masih membawa sebuah pedang di pinggang kanannya.


"Sialan! Apa-apaan ini?! Kelompok yang telah kubangun sejak lama.... Hancur begini saja?! Sialan!!!"


Kemarahannya menjadi pemandangan yang buruk di sekitar bangunan Guild ini. Semua orang pun segera menjauhinya, takut jika terkena imbas amarahnya.


Akan tetapi, ada satu orang.


Satu orang yang justru berjalan mendekatinya. Dengan lembut, pria berambut hitam pekat itu menepuk pundak Ronald.


"Tenangkan dirimu." ucap Pria dengan pakaian yang rapi, layaknya seorang bangsawan itu.


"Hah?! Kau juga ingin...."


Sebelum Ronald melayangkan tinjunya, Pria itu telah menendang perut Ronald dengan lututnya. Membuat pemuda itu memuntahkan sebagian yang baru saja dimakannya barusan.


"Sudah tenang?" tanya pria itu sekali lagi.


Saat Ronald melihat ke arahnya, tatapan yang terkesan kosong di balik pupil hitam itu dapat terasa dengan jelas.


Hawa dingin menusuknya begitu dalam, hingga membuat sekujur tubuhnya gemetar.


Sambil membenahi kacamatanya, pria itu pun kembali berbicara.


"Katakan, apa yang terjadi?"


"Aku.... Aku.... Kelompokku meninggalkanku."


Tanpa sedikit pun perubahan ekspresi di wajahnya, pria itu kembali bertanya.


"Hmm, malang sekali. Kenapa?"


"Kami menjumpai iblis yang sangat kuat, dan.... Mereka semua berfikir, tak lagi layak mempertaruhkan nyawa sebagai petualang...."


"Dengan kata lain, kalian lemah?"


Balasan pria itu sontak membuat Ronald emosi. Tapi Ia masih bisa menahan diri, dengan rasa sakit di perutnya yang masih tersisa.


Meski begitu, perkataan pria itu ada benarnya.


Jika saja Ronald dan kelompoknya lebih kuat, mungkin mereka bisa bertahan.


Tidak....


Mungkin saja, mereka justru bisa melawan. Memenggal kepala iblis itu dan memperoleh hadiah besar. Mungkin juga mendapatkan gelar pahlawan atau semacamnya.


Tapi semua itu tak bisa terjadi, karena memang kelompoknya lemah.


Secara perlahan, Ronald pun menganggukkan kepalanya.


Layaknya malaikat yang turun dari langit di sore hari ini, pria itu pun memberikan sebuah tawaran. Tawaran yang sangat menggoda, dan sangat sulit untuk ditolak.


"Kau mau ikut denganku? Aku akan memberikan kekuatan untukmu."


"Eh?"


Kebingungan mulai dirasakan oleh Ronald.


Apa maksudnya dengan memberikan kekuatan? Apakah kekuatan merupakan sesuatu yang bisa diberikan begitu saja? Dan bukannya diperoleh dengan latihan yang keras?


"Itu jika kau tertarik. Jika tidak, aku juga tak masalah." balas Pria itu yang segera membalikkan badannya.


Berniat untuk pergi meninggalkan Ronald sendirian.


Di tengah-tengah tekanan antara waktu dan juga ketidakberdayaan, Ronald akhirnya luluh.


Tak ingin kehilangan kesempatan ini, Ia pun menerimanya.


"Tunggu! Aku mau!" teriaknya sambil mengejar langkah kaki pria misterius itu.


Pria itu kemudian menolehkan wajahnya sambil memandangi sosok Ronald yang begitu putus asa. Tapi masih saja tanpa sedikit pun ekspresi di wajahnya, Ia membalas.


"Kalau begitu ikuti aku."

__ADS_1


Langkah demi langkah terus menerus dilalui oleh Ronald. Di kejauhan, terlihat matahari mulai terbenam. Melenyapkan cahaya yang sedari pagi telah menyelimuti kota ini.


Setelah beberapa saat, Ronald akhirnya bisa melihat tujuan mereka. Yaitu sebuah kastil kecil yang sedikit berjauhan dari balai kota.


Meskipun, menyebutnya kecil juga kurang tepat. Dengan dinding batu yang cukup tebal, kastil itu memiliki 5 buah lantai dengan dua menara pengawas yang menjulang tinggi.


Beberapa penjaga nampak berdiri di samping pintu utama. Menjaga tempat ini dengan tombak.


"Selamat datang kembali, Tuan." sapa para penjaga itu sambil memberikan hormat.


Pria itu sama sekali tak menjawab dan hanya melanjutkan langkah kakinya. Sikapnya yang dingin membuat Ronald cukup terkagum.


Baginya, itu adalah sosok keren yang selalu diidamkannya. Sosok yang pendiam, namun memiliki status yang tinggi dan juga kuat.


'Tak salah lagi! Jika aku mengikutinya, aku pasti bisa mendapat kekuatan!' pikirnya dengan senyuman yang lebar.


Akan tetapi, setiap langkah yang diikutinya hanya membuat Ronald semakin merasa aneh.


Selain dua penjaga di depan, di dalam kastil ini juga dipenuhi dengan penjaga dan juga pelayan dengan seragam mereka masing-masing.


Permasalahannya adalah mereka semua....


Memiliki tatapan mata yang kosong. Dan bergerak layaknya sebuah boneka.


Sesekali terlihat langkah kaki kanan mereka yang tidak sinkron dengan kaki kirinya. Membuatnya tersandung sebelum bangkit kembali.


Dan bahkan dengan kejadian itu, tatapan mata mereka semua masih tetap datar.


'Apa.... Apa yang terjadi?!'


Tanpa disadarinya, kini Ronald telah berada di bawah tanah. Dimana ratusan prajurit terlihat sedang berlatih melawan boneka kayu yang diberi zirah besi itu.


Semuanya terlihat normal dari kejauhan, tapi setelah mendekat....


Hal yang sama bisa ditemukan di semua prajurit yang sedang berlatih ini.


Mereka mengayunkan pedang, atau menusukkan tombak dengan tatapan mata yang kosong. Seakan tak ada jiwa di balik tubuh mereka semua.


Hati Ronald berteriak keras bahwa dirinya harus segera keluar dari sini. Tapi pikirannya masih berusaha untuk menganggap semua ini normal.


Lagipula, Ia sangat menginginkan kekuatan.


"Pe-permisi Tuan.... Ini.... Jalan yang benar?" tanya Ronald yang ragu. Tapi langkah kakinya masih mengikuti pria itu.


Tak ada jawaban yang diperolehnya.


Pria itu masih tetap berjalan ke ujung aula besar di bawah tanah ini.


Mengingat kembali kekuatan tendangan pria itu, Ronald sangat yakin bahwa sosok ini bisa memberikannya kekuatan.


Tapi kenapa situasi tempat ini begitu aneh? Itu lah yang ada di dalam pikirannya.


Hingga akhirnya, pria itu membuka sebuah pintu yang memperlihatkan tangga spiral di baliknya. Menuntun keduanya semakin jauh di bawah tanah.


Cahaya hanya berasal dari obor di setiap duapuluh anak tangga. Membuat tangga ini begitu gelap .


Hawa yang lembab juga dapat dirasakan oleh Ronald saat ini. Di dalam kepalanya, ratusan pertanyaan masih belum terjawab.


Tapi Ia harus ikut. Ia sangat membutuhkan kekuatan itu.


Dan akhirnya....


Mereka tiba di dasar.


Tempat pijakan mereka adalah bebatuan keras yang telah retak, dengan banyak kotoran serta sampah yang berserakan dimana-mana.


Dalam sebuah koridor yang sangat panjang ini, terlihat puluhan, mungkin ratusan ruangan dengan pintu besi layaknya sebuah penjara.


"Aaarrrgghh! Tolong! Ampuni aku!!!"


Dari kejauhan, sebuah teriakan seorang wanita dapat terdengar. Sebuah teriakan yang dipenuhi oleh rasa sakit itu menjadi peringatan terbesar Ronald atas semua keanehan ini.


Ia mulai melangkah mundur. Takut untuk tetap mengikuti langkah kaki pria itu.


Tapi baru saja beberapa langkah....


'Cepyok!'


Ia menginjak sesuatu yang basah dan sedikit kental. Dan saat Ia menoleh untuk melihatnya, cairan merah gelap itu mengalir dari salah satu ruangan di sebelahnya.

__ADS_1


'Darah?!'


Di kejauhan, pria misterius itu akhirnya membalikkan badannya. Menatap ke arah Ronald sembari bertanya sekali lagi.


"Kenapa? Bukankah kau menginginkan kekuatan?" ucapnya dengan tatapan yang kosong.


Kedua tangannya nampak melepas pakaian bangsawan nya, memperlihatkan sebuah kaos hitam di baliknya.


Ronald hanya bisa terdiam.


'Apakah aku bisa lari?! Apakah aku bisa kabur darinya?!'


Pertanyaan itu lah yang menjadi pengekang bagi kaki Ronald yang sedari tadi, sudah ingin pergi meninggalkan tempat terkutuk ini.


Beberapa saat kemudian, dua orang pelayan wanita dengan seragam hitam dan putih yang rapi datang dari ujung lorong. Membawakan sebuah jubah dan juga mengambil pakaian bangsawan milik pria itu sebelumnya.


Pria itu segera mengenakan jubah hitam itu. Sedangkan kacamatanya, Ia lepas dan berikan pada salah seorang pelayan wanita itu.


Setelah semuanya beres, Ia kembali fokus menatap ke arah Ronald yang mundur sedikit demi sedikit.


Tapi....


'BRAAAAKK!!!'


Pintu yang menghubungkan antara koridor ini dengan tangga spiral barusan, tiba-tiba tertutup rapat.


Ronald berlari secepat mungkin, berusaha untuk membuka pintu kayu itu. Tapi seberapa keras pun Ia berusaha, pintu itu sama sekali tak bisa bergerak.


Sementara pria misterius itu berjalan mendekat secara perlahan. Sikapnya terlihat begitu santai, seakan-akan ini bukan lah kali pertamanya.


"Kau takkan bisa membuka pintu itu." ucap pria misterius itu.


Telapak tangan kanannya terlihat memancarkan cahaya kebiruan, dengan aliran cahaya tipis yang mengarah pada pintu kayu itu.


"Jangan katakan...."


"Karf, sihir sederhana untuk mengunci pintu." balasnya yang kini hanya berjarak beberapa langkah saja dari Ronald.


Dengan tubuh yang gemetar, Ronald pun bertanya pada pria misterius itu.


"Siapa kau sebenarnya?! Ka-kau iblis?! Kenapa bisa ada di kota manusia?! A-apa yang akan terjadi padaku?!"


Masih dengan wajahnya yang tak memiliki ekspresi, Pria itu pun membalas sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak, kau salah. Aku bukan lah iblis. Aku adalah manusia. Sedangkan apa yang akan terjadi padamu.... Entah lah, kita akan lihat nanti."


Rasa takut telah memenuhi seluruh tubuh Ronald. Kini, tak ada lagi harapan baginya.


Jika saja Ia tak pernah menerima tawarannya, mungkin Ia masih bisa selamat. Tapi sekarang....


"Tuan Aldebaran. Persiapan untuk ritual telah selesai." ucap seorang wanita di belakangnya. Ia memiliki rambut hitam panjang yang terurai indah, dengan gaun putih bersih.


Wanita itu, adalah satu-satunya sosok manusia yang tidak memiliki tatapan mata kosong seperti yang lainnya.


Ia adalah satu-satunya manusia yang terkesan benar-benar hidup.


Tapi....


'Aldebaran? Ritual? Apa yang....'


Sebelum Ronald sempat menyelesaikan pemikirannya, sebuah pukulan yang kuat mengenai lehernya.


Membuatnya pingsan seketika.


Pandangannya pun mulai buram dan secara perlahan menjadi gelap seutuhnya.


Setelah itu, pria misterius yang nampaknya bernama Aldebaran itu mulai mengangkatnya. Membawa Ronald memasuki salah satu ruangan di koridor ini.


Di bagian punggungnya, terlihat lambang tiga buah tanduk kemerahan. Terpampang jelas pada jubah hitamnya itu.


Dan dengan sikap yang dingin sama seperti sebelumnya....


"Terimakasih, Naila. Mungkin dengan jiwa yang dipenuhi amarah ini, kita bisa memperoleh sesuatu yang baru."


Sejak saat itu, sosok Ronald tak pernah lagi terlihat di kota Mapleford ini. Beberapa mantan rekannya berfikir bahwa Ronald telah pindah ke kota lain.


Atau mungkin....


Telah menemukan kelompok baru yang masih berani untuk berjuang, di tengah kejamnya dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2