Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 45 - Amarah


__ADS_3

"Aku bisa bebas kan?" tanya Aeshma melalui jantung hitam di tangan Aldebaran itu.


"Jika kau memang bisa selamat, tubuh itu sepenuhnya milikmu."


Aldebaran hanya memberikan tatapan mata yang kosong pada jantung hitam itu. Tanpa sedikit pun ekspresi di wajahnya. Sebelum akhirnya meletakkan jantung itu di atas meja.


Dengan langkah kaki yang ringan, Ia duduk di sebuah kursi untuk memperhatikan kerusuhan yang akan terjadi di kota ini.


"Tuan, apakah kau yakin? Melepaskan Aeshma di tengah kota seperti ini?" tanya Naila juga tanpa perubahan ekspresi di wajahnya.


"Tenang saja, aku akan menariknya kembali sebelum dia mati."


"Tapi bukan itu yang ku khawatirkan...."


Naila sendiri mengkhawatirkan mengenai hancurnya kota ini, mengingat Aeshma merupakan salah satu iblis kuno bawahan Hecate secara langsung.


Sekalipun tak memiliki tubuh aslinya, tapi jiwanya masih utuh. Kekuatannya mungkin cukup untuk memporak-porandakan kota ini.


Di sisi lain....


Aeshma kini telah memperoleh kendali penuh tubuh Ronald. Merubah tubuh manusia itu menjadi iblis seutuhnya.


Penampilannya benar-benar mengerikan dengan ciri khas ras iblis yang sangat jelas.


"Hahaha.... Hahaha!!!"


Semua orang yang masih berada di sekitar tempat itu segera lari terbirit-birit. Meninggalkan beberapa prajurit penjaga kota yang kebingungan.


Di satu sisi, mereka juga sangat ketakutan atas apa yang ada di hadapan mereka.


Tapi di sisi lain, mereka juga punya tugas untuk melindungi warga kota ini. Tak boleh kabur dan meninggalkan tugas utama mereka.


"Aaarrggh.... Arrrghh!!!" teriak salah seorang prajurit yang berlari maju. Mendekat ke arah sosok iblis itu.


Tapi dalam sekejap saja....


'Blaaaaarrr!!!'


Iblis itu mengayunkan lengannya dengan cepat. Membuat kepala prajurit yang dilindungi helm besi itu terlepas sepenuhnya. Sebelum akhirnya diangkat oleh Iblis itu, diarahkan tepat di atas mulutnya.


'Tikk! Tikk!!'


Tetesan darah dari penggalan kepala prajurit itu mengalir tepat ke arah mulut Aeshma. Dengan lidah yang menjulur panjang, Ia nampak sangat menikmati darah itu.


"Aaah, menyegarkan sekali. Entah kapan terakhir kali aku minum darah manusia?" tanya Aeshma pada dirinya sendiri.


Sesaat setelah meneguk darah segar itu, tubuhnya kembali berubah sedikit demi sedikit. Seakan-akan hendak kembali pada wujud aslinya.


Kekuatannya mulai pulih.


Dan di tengah lautan manusia yang disebut sebagai kota ini, Aeshma sangat yakin. Bahwa dirinya akan bisa bangkit sepenuhnya.


Tapi....


'Jleebbb!!!'


Sebuah anak panah tiba-tiba menembus tubuh Aeshma tepat di dadanya.


Tak ada darah yang menetes. Tak ada pula teriakan rasa sakit darinya. Hanya sebuah tatapan kebingungan yang ditujukan pada anak panah itu. Sebelum akhirnya menatap tepat ke arah sosok pelakunya.


Yaitu Cecilia.


"Hmm? Kenapa seorang Elf memihak pada manusia? Terlebih lagi kau...."


Tiba-tiba, kedua mata Aeshma terbelalak. Tak percaya atas apa yang dilihat di hadapannya.


"Ka-Kau...."


Cecilia, Hella dan juga Brian yang melihat reaksi itu sedikit kebingungan. Tapi satu hal yang pasti, iblis di hadapan mereka bukanlah sosok yang bisa diajak berdamai.


Ketiganya mempersiapkan senjata mereka masing-masing. Bahkan Hella telah mulai merapalkan mantra di ujung tongkat sihirnya.


"Beraninya kau.... Menodai darah Tuan kami.... Mati.... Tidak, itu terlalu mudah.... Harus menghukum mereka yang menodai darah-Nya...."


Seketika terlihat ekspresi amarah dan kegilaan yang begitu luarbiasa di wajah Aeshma.


Dengan tatapan mata yang penuh atas kebencian itu, Aeshma melesat dengan cepat ke arah Cecilia.


'KRAAASSSHHHH!!!'


Tangan kanan Aeshma menusuk tepat di dada Cecilia.


"Kugghh!!!"

__ADS_1


Tanpa sempat bereaksi sedikit pun, Cecilia memuntahkan darah dari mulutnya. Darah dari dadanya yang kini berlubang juga segera mengucur dengan deras.


Dengan cepat, Aeshma menarik kembali tangannya. Menggenggam jantung Cecilia dengan erat sebelum meremasnya hingga hancur seutuhnya.


'Brruuukkk!!!'


"Cecilia!" teriak Hella panik melihat tubuh Cecilia yang terjatuh begitu saja.


'BRAAAAKKK!!!'


Aeshma menghempaskan sayapnya, mengenai tepat di wajah Hella. Dengan tulang hitam yang keras itu, sayapnya menghancurkan kepala Hella sepenuhnya.


Membunuhnya seketika.


"Berisik." ucap Aeshma singkat sebelum mengalihkan pandangannya pada sosok Brian di kejauhan.


"Hah.... Apa yang...."


Tubuhnya gemetar tanpa henti. Ia tak pernah merasa setakut dan tak berdaya seperti ini sebelumnya.


Melihat sosok iblis di hadapannya, Ia hanya bisa berdiri diam sambil menggenggam pedang besarnya.


"Dan kau. Kau itu apa?" tanya Aeshma sambil berjalan secara perlahan ke arah Brian. Ia memasang wajah kebingungan yang terlihat dengan jelas.


Seakan-akan tak bisa memahami apa yang dilihat di depannya.


Sudah sangat jelas bahwa Brian hanyalah manusia. Selain itu, Ia juga memiliki darah Hecate di dalamnya. Juga berasal dari dunia yang berbeda.


Seharusnya tiga hal itu cukup lazim dan bisa dipahami dengan jelas oleh siapapun di dunia ini.


Tapi kenapa?


Brian tak bisa memahami makna dari pertanyaan iblis di hadapannya itu. Juga tak memiliki waktu santai untuk memikirkannya.


"Aneh, aku mencium darah Tuan ku di tubuhmu. Dan jiwa mu bukan dari dunia ini. Apakah kau pahlawan dari dunia lain?" tanya Aeshma yang semakin mendekat.


Tanpa jawaban, Brian hanya melangkah mundur secara perlahan. Berusaha untuk menjauh dari terror di hadapannya.


"Tapi kenapa selemah ini? Sepengetahuanku, pahlawan dari dunia lain selalu memperoleh berkah yang kuat dari Dewi Cahaya. Tapi ini?"


Aeshma kini telah berdiri tepat di depan Brian. Ia memiringkan kepalanya beberapa kali, berusaha untuk melihat sosok Brian dengan lebih jelas.


Hanya saja....


Ada sesuatu di tubuh pria itu, yang sama sekali tak bisa dipahaminya. Sesuatu yang sama sekali tak dikenalinya.


Menyadari kematian mungkin telah berada tepat di hadapannya, Brian hanya bisa berharap satu hal. Yaitu keinginan kuat dari Orlog untuk bertahan hidup.


Hanya itu lah satu-satunya harapan Brian.


Tapi masalahnya, Orlog tak lagi bersuara sejak tadi. Apakah Ia menyerah? Apakah Ia takkan berusaha menyelamatkan dirinya?


Seperti dulu saat hampir terbantai oleh kawanan Goblin itu?


Kini wajah Aeshma berada tepat di depan wajah Brian. Mata merah gelapnya yang berada di atas sklera hitam itu seakan penuh dengan tanda tanya.


Menatap tepat ke arah mata Brian.


"Kau.... Sebenarnya apa?"


'Bzzzttttt!!!'


Distorsi mulai muncul di hadapan Brian. Seluruh pandangannya nampak mengalami kecacatan.


Warna mulai memudar. Cahaya mulai menghilang. Gerakan mulai terhenti.


Sosok iblis yang ada di hadapan Brian kini hanya nampak seperti gambar hasil salinan dengan warna hitam putih.


Dalam keadaan yang masih dipenuhi rasa takut dan kebingungan, suara yang tak lagi asing baginya kembali muncul.


"Sudah ku bilang untuk lari kan?"


Suara Orlog terdengar begitu berat dan dipenuhi oleh amarah.


Orlog sama sekali tak ingin menggunakan kekuatannya sebelum jiwanya pulih sepenuhnya. Tapi entah kenapa, Brian selalu terpojok dalam situasi yang membahayakan keselamatannya sendiri.


"Maaf...."


Hanya itu lah balasan yang bisa diberikan oleh Brian. Ia menyadari seberapa besar kesalahan yang dibuatnya karena tak mendengarkan Orlog.


Kini, untuk yang kedua kalinya....


Brian harus melihat kematian Cecilia. Tubuhnya tergeletak di ujung pandangannya. Dengan warna hitam putih itu, Ia tak lagi bisa melihat keanggunannya.

__ADS_1


Hanya cairan hitam keabu-abuan yang mengalir dari dadanya.


Tapi kini bukan hanya Cecilia. Bahkan Hella juga terlibat di dalamnya. Dengan wajah yang hancur dan darah yang masih terus mengalir.


"Ku katakan sekali lagi, lari."


Dengan kalimat itu, distorsi yang terjadi di hadapan Brian menjadi semakin parah.


Pada awalnya terlihat sosok iblis di hadapan Brian yang berjalan mundur. Langkah demi langkah, Ia semakin menjauh.


Detik demi detik, gerakannya semakin cepat. Memundurkan seluruh kejadian yang baru saja terjadi.


Termasuk kejadian dimana Hella dan Cecilia terbunuh.


Tapi....


Kemunduran waktu itu semakin melambat. Dan akhirnya terhenti sesaat setelah Aeshma mulai mengambil alih tubuh Ronald.


Sebelum akhirnya, seluruh distorsi di hadapan Brian mulai menghilang. Warna juga kembali menghiasi dunia hitam putih ini.


"Lari lah." ucap Orlog sekali lagi setelah waktu kembali berjalan.


Tanpa sedikit pun keraguan, Brian segera berlari ke arah Cecilia yang sedang bersiap untuk menarik busurnya.


"Cepat kabur dari sini!" teriaknya putus asa.


"Eh tapi...."


"Tak ada waktu lagi! Cepat!" balasnya sambil menarik keduanya pergi sejauh mungkin dari tempat ini.


Pada akhirnya, keduanya pun menurut dan segera berlari menjauh. Meskipun dengan penuh tanda tanya di dalam kepala mereka.


Hella yang melihat sekilas wajah Brian mulai bertanya-tanya.


'Apa yang terjadi padanya? Kenapa membuat wajah seperti itu?'


Saat ini, Brian membuat wajah yang dipenuhi oleh rasa takut. Juga dengan ekspresi yang penuh atas kesedihan.


Bahkan air mata nampak menetes membasahi pipinya saat mereka masih terus berlari. Meninggalkan tempat terkutuk ini.


......***......


Di sisi lain....


Aldebaran melihat kelompok Brian kabur meninggalkan iblis itu.


"Pilihan yang bagus untuk kabur. Tak masalah, aku juga tak peduli dengan kalian. Setidaknya aku bisa memanggil Aeshma dan...."


'Deg!'


Tiba-tiba, jantungnya berdetak dengan sangat kencang untuk sesaat. Semua itu diakibatkan oleh gelombang sihir yang misterius.


Hentakan yang cukup lemah itu dapat dirasakan hampir semua orang yang memiliki energi sihir cukup tinggi.


Layaknya sebuah gelombang, hentakan itu akan semakin melemah ketika semakin jauh dari pusatnya.


Dan bagi Aldebaran yang berdiri tepat di depan pusat asal gelombang itu, Ia merasakannya dengan sangat jelas.


Untuk pertama kalinya, Ia membuat sebuah ekspresi di wajahnya. Dengan kedua mata yang terbuka lebar, serta mulut yang menganga.


"Tuan Aldebaran.... Ini...." ucap Naila juga dengan ekspresi yang hampir serupa.


"Tidak mungkin.... Di sini? Di tempat seperti ini? Dimana? Sihir sekuat ini.... Sihir kuno seperti ini.... Jangan katakan...." ucap Aldebaran yang mulai merasa panik.


Aldebaran menolehkan pandangannya ke berbagai arah. Berusaha untuk mencari tumpukan beberapa buku yang dibawanya.


Dengan terburu-buru, Ia membolak-balikkan halaman berbagai buku itu. Berusaha untuk mencari penjelasan atas apa yang baru saja dirasakan olehnya.


Naila yang hanya bertugas sebagai pelayannya membantunya membereskan buku yang telah selesai dibolak-balikkan.


Tapi setelah beberapa menit....


"Tak ada.... Tak ada penjelasannya.... Ini tidak mungkin.... Masih ada sihir kuno yang setara dengan peninggalan Dewi Cahaya di dunia ini? Sebuah sihir yang tak ku ketahui?" ucap Aldebaran


"Tapi sihir seperti itu, kenapa ada di sini? Dan siapa yang menggunakannya?" tanya Naila penasaran.


Seberapa keras pun Aldebaran memikirkan dan mencarinya, Ia tak bisa menemukan sumbernya.


Hanya saja, satu hal yang pasti.


Bahwa kini Aldebaran mulai menyadari bahwa masih ada kekuatan kuno yang tersisa.


Semakin membeberkan keberadaan Orlog di dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2