
Jauh dari pusat kejadian gelombang misterius itu, tepatnya di ibukota Kekaisaran Luvelia, terdapat sekelompok orang lain yang dapat merasakannya.
Sekalipun gelombang itu sangat lah lemah karena terlalu jauh.
"Yang mulia...." ucap seorang pria berambut perak yang menutupi hingga telinganya.
Sang kaisar yang duduk di singgasananya segera menganggukkan kepalanya. Memahami apa yang diucapkannya.
"Sihir kuno ini lagi. Apapun yang terjadi, kekuatan itu harus jatuh di tangan umat manusia." ucap Kaisar Starrus yang telah menyadari gelombang sihir misterius ini.
Dari kejauhan, seorang wanita dengan rambut merah yang mengombak terlihat berjalan dengan tenang. Ia menggunakan tongkat sihir mithril berwarna perak itu sebagai tumpuannya.
"Sihir itu berasal dari kota Mapleford. Perlu kah aku mengejarnya?" tanya wanita dengan paras yang menawan itu.
Pakaiannya yang tak lain adalah jubah putih dengan lambang naga itu terlihat begitu mengintimidasi.
Di bagian belakangnya, terlihat simbol angka Romawi VII yang berarti wanita itu adalah komandan dari perintah suci ke 7.
"Untuk berjaga-jaga ajak Greyhart bersama denganmu, Cassandra." balas sang Kaisar.
Pria berambut perak itu pun bangkit dari posisinya sebelumnya yang terus berlutut menghadap sang kaisar.
Tanpa sepatah kata ataupun perubahan ekspresi di wajahnya, pria bernama Greyhart itu berjalan mendekat ke arah Cassandra.
Jubah putih miliknya hampir serupa dengan yang dikenakan oleh Cassandra. Dengan pengecualian yaitu keberadaan zirah besi dibaliknya, serta angka Romawi yang berbeda di punggungnya.
Di bawah lambang naga putih itu, tertulis dengan jelas angka I berwarna keemasan. Menandakan bahwa dirinya merupakan komandan dari peri tah suci pertama.
Sebuah perintah paling penting di kekaisaran ini, yaitu untuk menjaga dan melindungi umat manusia.
"Ku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri, tapi terserah lah." ucap Cassandra sambil mulai merapalkan mantra sihirnya.
Dari batu kristal biru cerah di ujung tongkat sihirnya, mulai muncul lingkaran sihir kebiruan yang indah.
Bersamaan dengan itu, huruf Runic yang sangat sulit dibaca itu mulai bermunculan. Membentuk sebuah lingkaran di tempat mereka berdua berdiri. Sebelum akhirnya....
"Sampai jumpa nanti lagi, Yang Mulia." ucap Cassandra sebelum pilar cahaya mulai menyelimuti keduanya. Menghapus keberadaan mereka dari ruang tahta ini sepenuhnya.
"Aku mengandalkan kalian."
......***......
"Tuan, ku rasa ini sangat buruk." ucap Naila melihat pilar cahaya yang muncul tepat di samping posisi Aeshma berdiri.
"Cih, secepat ini?"
Aldebaran terlihat cukup kesal dengan keadaan saat ini. Terlebih lagi, setelah Ia melihat sosok di balik pilar cahaya putih itu.
"A-apa yang.... Kenapa dia ada di sini?!" teriak Naila terkejut setelah menyadari siapa yang datang ke tempat ini.
"Pemburu naga, Greyhart. Aeshma sudah pasti akan mati di hadapannya. Terlebih lagi di sampingnya hadir salah satu penyihir terkuat di kekaisaran ini."
Aldebaran nampak kebingungan atas apa yang sebaiknya Ia perbuat.
Di satu sisi, Ia baru saja menikmati keberhasilannya memberikan tubuh pada Aeshma. Sebuah tubuh yang memiliki cukup amarah dan kebencian untuk ditinggalinya.
Juga cukup kuat untuk menahan kekuatan Aeshma itu sendiri, sekalipun tak sempurna. Tapi sekarang....
"Tuan Aldebaran. Mohon perintahmu." ucap Naila yang kini berlutut di hadapan pria misterius itu.
'Akan sangat sulit memulihkan kembali Aeshma jika Ia diburu oleh mereka. Dan itu pun jika Aeshma bisa selamat dari pemurnian Cassandra. Tapi melawan mereka berdua di sini....'
Setelah memikirkannya sejenak, Aldebaran akhirnya telah memutuskan.
"Alihkan perhatian mereka sesaat, lalu bawa Aeshma pergi." balas Aldebaran.
"Dimengerti."
Tubuh pelayan wanita itu mulai berubah sedikit demi sedikit. Telinganya mulai memanjang layaknya seorang elf. Sementara itu kulitnya terlihat mulai berubah menjadi abu-abu gelap dengan kuku yang menghitam.
Perubahan itu terus menyebar secara merata di sekujur tubuhnya, termasuk merubah warna matanya menjadi hitam pekat dengan rambut abu-abu gelap.
Dengan penampilan seperti itu, Ia menanggalkan pakaian pelayannya. Memperlihatkan hanya kaos hitam dan celana kulit di balik roknya itu.
"Jaga dirimu." balas Aldebaran yang juga mulai mempersiapkan dirinya untuk yang terburuk. Ia mengambil sebuah pisau dengan bentuk aneh itu dan menyimpannya di balik pakaiannya.
Jika keadaan semakin memburuk, Aldebaran akan secara terpaksa membunuh Aeshma dengan tangannya sendiri. Setidaknya dengan pisau penghisap jiwa itu, Ia masih bisa menyelamatkan jiwa Aeshma.
Keduanya pun mulai bergerak. Bersiap untuk mempertahankan bidak terbaik mereka.
......***......
"Hmm? Iblis? Di tengah kota seperti ini?" tanya Cassandra sambil sedikit memiringkan kepalanya. Ia kebingungan melihat sosok Aeshma yang masih terus mengumpulkan kembali kekuatannya di tengah kota ini.
Sementara itu, Greyhart merasakan sesuatu yang sangat buruk segera mendekat ke arahnya. Dengan cepat, Ia menarik pedang besar di punggungnya.
Pedang itu memiliki bilah yang berbuku-buku dengan warna keemasan. Warna itu berasal dari sisik naga yang pernah diburunya. Mengubah lawan menjadi senjatanya sendiri.
Dengan kedua tangannya, Greyhart bersiap untuk menahan apapun yang akan datang padanya.
Tiba-tiba....
'Kretttaakkkk!!!'
__ADS_1
Sesuatu nampak melesat dengan sangat cepat. Mengarah tepat pada leher Greyhart. Tapi sayangnya pergerakannya terhenti akibat keberadaan perisai tak kasat mata di depan kedua komandan itu.
"Hoo, ada yang bisa meretakkan perisaiku?" tanya Cassandra sambil tersenyum. Ia lebih terlihat kagum dibandingkan ketakutan atas iblis yang tiba-tiba menyerangnya.
"Gggrrrrr.... Graaaaahhh!!!" teriak Iblis yang tak lain adalah Naila itu layaknya hewan buas.
Bersamaan dengan teriakan itu, Naila memutar tubuhnya dan memberikan tendangan sekuat tenaga pada perisai sihir itu.
Dan kali ini....
'Pyaaaaaarrr!!!'
Layaknya sebuah kaca yang tipis, perisai sihir itu hancur berkeping-keping setelah menerima tendangan Naila.
Membuat tak hanya Cassandra yang terkejut, tapi juga Greyhart.
'Iblis ini.... Tidak mungkin.... Bagaimana bisa?' tanya Greyhart dalam hatinya kebingungan.
Dengan hanya sedikit perubahan gerakan di tubuh Naila, Greyhart segera menyadari apa yang akan dilakukan lawannya.
Ia dengan cepat menendang Cassandra sejauh mungkin sebelum Naila merubah gerakannya di udara. Yang pada saat itu mengarahkan cakar di kedua lengannya untuk memenggal leher Cassandra.
'BLAAAAARRRRR!!!'
Hantaman dari kedua lengan Naila cukup untuk menghancurkan jalanan batu itu dengan mudah. Bahkan membuat kerusakan hingga radius 5 meter lebih dari pusat serangannya.
Cassandra yang terlempar cukup jauh segera memahami situasi darurat ini.
'Bertarung di dalam kota pasti akan menghancurkan semuanya. Karena itu....'
Saat Cassandra baru saja mengangkat kembali tongkat sihirnya, berniat untuk melemparkan mereka bertiga ke tempat yang jauh dari penduduk, Naila segera menoleh ke arahnya.
Seakan-akan memahami atas niatan Cassandra.
'Tap! Swuusshh!'
Naila menghentakkan kakinya sekuat tenaga dan melesat tepat ke arah Cassandra.
'A-apa?!'
Lingkaran sihir kebiruan di ujung tongkatnya seketika berubah setelah mendapati situasi mencekam ini.
Dalam sekejap, warna biru itu tergantikan oleh warna kehijauan yang terang. Menembakkan gelombang angin yang sangat kuat ke arah Naila.
'Blaaaaaarr!!!'
Hentakan angin itu cukup kuat untuk tak hanya menghentikan pergerakan Naila ke arahnya, tapi juga melemparkannya sejauh puluhan meter ke belakang.
Dimana Greyhart telah menanti kesempatan emas itu untuk menebas lawannya.
Ayunan pedangnya sangat lah cepat, juga akurat. Tak diragukan lagi pedang besarnya akan membelah tubuh Naila menjadi dua secara horizontal.
Terlebih lagi, Naila dalam keadaan terlempar dan berada di udara. Menghindari di udara adalah hal yang sangat sulit, bahkan bisa dikatakan mustahil.
Tapi....
Tangan Naila seakan-akan dapat menggunakan udara sebagai pijakannya untuk sesaat. Memungkinkan dirinya untuk mengubah arah pergerakannya dengan sangat cepat.
Menghindari tebasan pedang Greyhart dengan sempurna.
'Iblis ini.... Bagaimana bisa?'
Greyhart dan juga Cassandra merasa sangat dirugikan dalam pertarungan ini. Di satu sisi, mereka menghadapi iblis dengan gerakan yang begitu cepat serta serangan yang sangat mematikan.
Yang tentunya, tak memperdulikan nasib manusia di sekitarnya.
Tapi di sisi lain, Greyhart dan juga Cassandra tak mampu mengeluarkan kekuatan terbaik mereka. Karena hal itu pastinya akan melukai, bahkan menghancurkan kota manusia yang seharusnya mereka lindungi ini.
Pertarungan mereka bertiga pun terus berlanjut. Yang secara perlahan semakin menjauh dari lokasi Aeshma berada.
Sementara itu di kejauhan....
"Aeshma, perintah untukmu. Bantu Naila dan bersiaplah untuk kabur bersamanya jika kau mau hidup. Ikuti saja perintahnya. Mengerti?" ucap Aldebaran dengan tenang.
Selama identitas dan keberadaannya sama sekali belum diketahui umat manusia, Aldebaran tak begitu memperdulikan banyak hal.
Bidak dan bawahan selalu bisa digantikan di lain waktu. Tapi keamanannya dari mata para perintah suci takkan pernah bisa diperoleh kembali sekalinya hilang.
Hanya saja....
"Ha.... Hahaha! Kau! Kau pikir siapa kau?! Sekarang setelah aku memiliki kekuatan ku, aku hanya akan tunduk pada Tuan Hecate dan...."
Seketika tubuh Aeshma sama sekali tak bisa digerakkan setelah menatap tepat ke arah mata hitam pekat itu.
Aeshma merasakan kegelapan yang begitu mengerikan di balik tatapan mata Aldebaran. Bukan sesuatu yang panas dan membakar layaknya apa yang dilihatnya di mata Hecate.
Tapi sesuatu yang sangat dingin dan membekukan siapapun yang melihatnya terlalu lama.
"A-aku.... Kenapa tak membunuh mereka berdua?" tanya Aeshma yang secara tak sadar langsung tunduk di hadapan pria misterius itu.
"Di tengah kota ini, mereka memang takkan berdaya menghadapi kalian. Tapi aku takkan pernah tahu rahasia apa yang dimiliki penyihir itu.
Dan jika entah bagaimana caranya penyihir itu membawa kalian keluar dari kota, kematian kalian akan dipastikan." jelas Aldebaran selagi kedua komandan perintah suci itu disibukkan oleh Naila.
__ADS_1
"Ba-baiklah...."
Semakin lama Aeshma berada di hadapan pria itu, Aeshma merasakan udara di sekitarnya menjadi semakin dingin. Bahkan tubuhnya mulai gemetar.
Pada kenyataannya, semua itu hanya dikarenakan oleh rasa takut Aeshma pada Aldebaran. Sebuah rasa takut yang sama sekali tak bisa Ia jelaskan dengan kata-kata.
'Aku tak mengerti.... Kenapa manusia seperti ini, memiliki kegelapan yang bahkan melampaui Tuanku?'
Dengan pemikiran yang Ia pendam dalam-dalam, Aeshma segera berdiri dan terbang ke udara. Bergerak ke arah dimana Naila bertarung menghadapi dua komandan perintah suci sendirian.
Dari udara, Aeshma melihat sosok Naila. Bertarung dengan seimbang, bahkan mengungguli kedua komandan itu.
'Dan dia.... Bagaimana bisa memiliki kekuatan sebesar itu? Lalu.... Apakah dia manusia? Atau iblis?' pikir Aeshma.
Dengan cepat, Aeshma mendarat ke tanah. Menghantamkan kedua kakinya sekuat tenaga, hingga menghancurkan jalanan di sekitarnya.
Berbeda dengan Naila, Aeshma memiliki kekuatan dan daya hancur yang jauh lebih besar.
Melihat sosok Aeshma yang benar-benar menggambarkan iblis yang sebenarnya, Greyhart menjadi sangat yakin.
'Sudah ku duga, gadis ini.... Manusia.' pikir Greyhart dalam hatinya sambil memperhatikan sosok Naila.
Ia menyadarinya setelah membandingkannya secara langsung dengan Aeshma yang baru saja muncul.
'Klaaangg!!!'
Aeshma segera melancarkan pukulan yang sangat kuat tepat ke arah kepala Greyhart. Tapi Ia menahannya dengan menggunakan pedang besarnya.
Suara benturan yang sangat keras dapat terdengar. Tak hanya itu, lengan Aeshma bahkan terluka setelah memukul pedang sisik naga keemasan itu.
"Kuuughh! Sialan!" teriak Aeshma kesakitan.
Tanpa membalas, Greyhart segera mengayunkan kembali pedangnya tepat ke arah leher Aeshma.
'Sraaassshhh!!!'
'Deg! Deg!'
Hampir saja pedang itu memenggal kepalanya seutuhnya. Jika bukan karena Naila yang menarik tubuh Aeshma ke belakang, mungkin Ia sudah mati.
Hanya saja....
'Krettaakk!!'
Sedikit demi sedikit, dari bekas sayatan yang ada di lehernya mulai mengeras dan berubah menjadi batu. Sebelum akhirnya perubahan itu terhenti karena hanya menggores sedikit lehernya.
Naila mulai melirik ke arah pedang Greyhart setelah melihat luka di leher Aeshma.
'Sisik Fafnir, jadi kemampuannya itu benar-benar nyata?'
Naila semakin menyadari perbedaan kekuatan mereka. Dan tak mungkin, bahwa mereka bisa menang.
Dengan cepat, Naila menarik Aeshma dan membawanya kabur.
"Cepat kepakkan sayapmu dan kabur dari sini." bisik Naila singkat.
'Swuuushh! Swuuusshh!!'
Baru beberapa kali sayapnya dikepakkan, sihir milik Cassandra telah selesai. Rangkaian lingkaran sihir serta tulisan Rune mulai menyebar dengan sangat cepat di jalanan batu ini.
Masing-masing mengikat di kaki keempat orang itu. Yaitu Aeshma, Naila, Greyhart dan juga Cassandra sendiri.
Dalam sekejap....
'Swuuuussshhh!'
Rune yang menyerupai rantai itu menarik keempatnya ke tengah. Tepat dimana lingkaran sihir selebar 5 meter lebih tercipta.
"Sialan! Apa-apaan ini?! Hancur lah!" teriak Aeshma kesal berusaha untuk melepaskan rantai yang berupa huruf Rune kuno itu.
Tapi seberapa kuat pun Ia berusaha, rantai huruf itu sama sekali tak bisa terlepas. Bahkan tak tergores sedikit pun.
"Percuma melawan, ini adalah sihir original milikku sendiri. Takkan ada siapapun yang bisa terlepas dari sihir ini." ucap Cassandra dengan senyuman di wajahnya.
Sihir ini lah yang sering digunakannya untuk menangkap penjahat dan melemparkannya langsung ke penjara bawah tanah. Atau menangkap iblis lalu mengirim mereka ke tempat interogasi.
Sebuah sihir yang sama sekali tak bisa dihindari dan juga tak bisa dicegah. Belum pernah sekalipun sihir ini gagal untuk menangkap lawannya.
Sekalipun, itu adalah iblis bawahan Hecate. Takkan ada yang bisa lepas dari rantai Rune itu.
Sosok Naila dan juga Aeshma terlihat terseret dari udara untuk kembali ke permukaan tanah. Sebelum secara perlahan diseret ke pusat lingkaran sihir itu.
Setelah masuk ke dalamnya, lingkaran sihir itu pun segera aktif.
Membuat pilar cahaya yang melemparkan mereka berempat ke wilayah yang jauh dari kota ini.
Tepatnya, di padang rumput wilayah Grenary.
Sementara itu, sosok Aldebaran terlihat di atap salah satu bangunan. Memperhatikan seluruh kejadian barusan.
'*Seperti yang diharapkan dari penyihir paling jenius di wilayah kekaisaran ini. Naila, Aeshma, bertahan lah sebentar.
Aku akan menyelamatkan kalian berdua dari sana*.' pikir Aldebaran dalam hatinya sambil menggambar ulang seluruh rangkaian dan formasi sihir yang sebelumnya digunakan oleh Cassandra di atas kertas secepat mungkin.
__ADS_1
Termasuk seluruh huruf Rune yang muncul. Dengan niatan utama, untuk menirukan sihir itu serta memahaminya. Lalu menggunakannya untuk menarik kembali Aeshma dan juga Naila dari sana.