
"Grrr.... Manusia, bagaimana jika kita bermain?" ucap Goblin besar yang tak salah lagi merupakan pimpinan kawanan Goblin itu.
Ia mulai berjongkok di hadapan Brian sambil mengangkat kepala Cecilia dengan kasar.
Ekspresi gadis Elf itu terlihat begitu kesakitan ketika terkena kuku panjang dan tajam dari Goblin itu.
"Bermain?" tanya Brian kebingungan.
Ia sama sekali tak bisa memikirkan cara untuk selamat dari situasi ini. Tidak selama masih ada puluhan Goblin di sekitarnya. Masing-masing membawa senjata yang cukup untuk membunuh semuanya.
"Itu benar. Permainan ini sederhana, dan aku yakin sangat dikuasai manusia." balas Goblin itu.
Kini, Ia mulai mengangkat kepala Cecilia. Mendekatkannya ke arah wajahnya sendiri.
Dari balik mulut dan giginya yang penuh taring itu, lidah panjang yang berwarna agak gelap itu menjulur keluar. Menjilati wajah Cecilia layaknya makanan.
"Tak perlu ku sebutkan, kau tahu maksudku bukan?" lanjut pimpinan Goblin itu dengan senyuman yang lebar di wajahnya.
"Kau sialan!"
Saat Brian hendak mengayunkan pedang di tangan kanannya ke arah leher pimpinan Goblin itu, 4 ekor Goblin segera menerjang ke arahnya. Masing-masing mengarahkan pisau mereka tepat ke leher Brian.
Tak hanya itu, beberapa Goblin yang lain juga terlihat menggunakan korban yang masih selamat sebagai sandera.
"Oooh, tak semudah itu. Aturannya sederhana. Jika gadis ini bisa bertahan sampai pagi, aku akan membebaskan kalian berdua. Jika Ia 'rusak' terlebih dahulu, maka gadis ini beserta seluruh penduduk desa akan mati.
Sebaliknya, jika kau bisa bertahan untuk diam di tempat sampai pagi, aku akan melepaskan mu. Hanya dirimu. Jika tidak? Keempat Goblin itu akan segera membunuhmu. Mengerti?" jelas Goblin itu dengan senyuman yang terkesan begitu menjijikkan.
Brian tak menyangka bahwa dirinya akan terjebak dalam situasi seperti ini.
Apapun yang dipilih olehnya, semuanya serba salah. Tak ada pilihan dalam situasi ini.
Yang ada, hanyalah sebuah keputusasaan.
Antara membiarkan Cecilia hancur di tangan para monster itu demi menyelamatkan dirinya sendiri....
Atau membiarkan dirinya sendiri terbunuh untuk peluang kecil Cecilia selamat. Bahkan, perkataan monster itu juga sama sekali tak bisa dipercaya.
^^^'Monster.... Sekarang aku paham, kenapa umat manusia memburu kalian semua.... Dan karena perilaku kalian ini, bangsa Iblis yang tak bersalah juga terkena imbasnya....'^^^
Dalam hati Brian, saat ini hanya ada satu emosi saja. Sebuah emosi yang sangat kuat dan memenuhi seluruh bagian tubuhnya.
Yaitu kebencian.
Bukan hanya kepada perilaku monster di hadapannya. Tapi juga pada betapa lemahnya dirinya saat ini.
Tak mampu melakukan apapun untuk menggapai situasi yang diharapkannya.
Jika ini dalam sebuah video permainan, atau sebuah komik, seorang Ksatria berkuda putih pasti datang menyelamatkan semuanya.
Hanya saja, ini adalah dunia nyata.
__ADS_1
Di sebuah desa yang jauh dari peradaban yang lain, terlebih lagi di tengah gelapnya malam ini.... Takkan ada satu pun yang datang menyelamatkan mereka.
Sekalipun Brian berdoa pada seluruh dewa yang ada di dunia ini, itu pun takkan berguna.
Tanpa disadarinya, tatapan mata Brian kini mulai dipenuhi dengan emosi kebencian yang kuat. Memelototi sosok pemimpin Goblin itu terus menerus.
"Hoo, tatapan macam apa itu? Kau ingin aku melepaskannya? Bagaimana jika tidak?" balas Goblin itu sambil menancapkan kuku tajamnya di leher Cecilia. Darah kembali mengalir secara perlahan.
Dan dengan sikap barbarnya, Goblin itu meneguk beberapa tetes darah Cecilia. Seakan-akan terasa begitu nikmat.
"Aah.... Darah elf benar-benar lezat.... Baru kali ini aku merasakan yang selezat ini." ucap Goblin itu sambil terus menjilati darah yang masih tersisa di ujung kukunya.
"Sialan.... Sialan!!!"
Semua Goblin terlihat tertawa puas setelah menyaksikan betapa putus asanya sosok Brian.
Mereka merasa bahwa ini adalah sebuah kemenangan yang sangat besar.
"Hari ini kita awali dengan sebuah desa, dan lusa akan kita awali dengan sebuah kota!!!" teriak pimpinan Goblin itu dengan lantang.
Semuanya turut berteriak dengan keras. Merayakan kemenangan mereka dengan sebuah pesta besar di tengah alun-alun desa ini.
Cahaya api yang membakar seluruh rumah warga menjadi penerangan utama mereka di tengah kegelapan ini.
Sedangkan Brian, hanya bisa terdiam.
Terpaku di tanah dalam kebingungan atas apa yang sebaiknya dilakukannya.
'Sialan.... Apa-apaan ini? Yang benar saja.... Semua akan berakhir sekarang? Saat kami bahkan belum memulainya?!'
Sedangkan kedua telapak tangannya, hanya bisa mengepal di tanah. Menyeret tanah di dekatnya dengan sekuat tenaga.
'Tak ada kah yang bisa ku lakukan?! Apakah benar-benar tak ada?! Jika terus seperti ini.... Maka Cecilia....'
Seketika, pandangannya berubah total.
Apa yang sebelumnya merupakan mimpi buruk dimana sosok yang dikaguminya dipermainkan oleh monster, kini berubah menjadi kegelapan.
Hal terakhir yang dilihatnya, adalah tatapan mata Cecilia yang penuh air mata. Seakan memohon untuk diselamatkan dari penderitaan ini.
Tak ada apapun.
Hanya kegelapan yang menyelimuti seluruh pandangannya.
Kemanapun Brian mengarahkan pandangannya, yang Ia lihat hanyalah kegelapan yang amat dalam. Tak ada setitik pun cahaya.
"Apa-apaan ini?! Apakah aku sudah mati?!"
Brian beberapa kali mencoba menggerakkan badannya dan melukai dirinya sendiri. Hasilnya, apa yang dirasakannya itu masih nyata.
Seakan-akan dirinya memang masih hidup.
__ADS_1
Beberapa saat setelah itu....
"Aku benci menyerahkannya pada manusia, tapi apapun yang terjadi... kau harus menyelamatkan mataku."
Suara itu muncul dari segala arah. Berapa kali pun Brian menolehkan kepalanya, suara yang didengarnya tetap sama persis. Tak berubah sedikit pun.
"Kau.... Hecate?" tanya Brian.
Nama itu lah yang langsung berada di kepalanya ketika mendengar perkataannya. Sebuah kalimat dengan nada yang terdengar sangat angkuh dan percaya diri.
Tak salah lagi, bahwa sumber suara ini adalah Raja Iblis yang menjadi ancaman seluruh umat manusia sebelumnya.
"Hecate? Siapa itu?"
"Eh?!"
Seketika, pikiran Brian membeku. Tak mampu untuk memproses apa yang baru saja didengarnya.
Setelah beberapa saat terdiam, sosok misterius itu kembali berbicara.
"Aah.... Iblis malang itu. Maaf, tapi kau salah orang. Aku tak yakin apakah peradaban masih mengingatku saat ini tapi.... Itu bukan hal yang penting." jelas sosok misterius itu.
Perkataannya semakin membuat Brian kebingungan.
Ia segera teringat perkataan Adelle dimana penglihatannya sama sekali tak menyadari keberadaan mata itu.
Sebuah mata dengan kekuatan luarbiasa yang mampu melihat sedikit ke masa depan. Sekaligus mampu untuk melihat keberadaan darah Hecate dalam diri seseorang.
Sebelum sempat membalas, sosok misterius itu kembali berbicara.
"Dengar, apapun yang terjadi mata itu harus selalu tersembunyi dengan aman, tak ada siapapun yang boleh mengetahuinya. Setidaknya, jauh lebih aman di tangan kalian berdua." lanjut sosok misterius itu.
"Meski kau bilang seperti itu, bukan berarti aku bisa menyelamatkannya dari kondisi seperti ini kau tahu?" balas Brian kesal.
Situasinya memang sangat buruk. Dan tak mungkin Brian bisa menyelamatkannya tanpa bunuh diri. Sekalipun bunuh diri, belum tentu juga Cecilia akan selamat.
"Hah.... Inilah kenapa aku benci manusia.... Tentu saja. Aku akan membantumu. Kemari lah."
Kali ini, suara misterius itu berasal tepat di depan Brian.
Dengan samar-samar, sosok seseorang dapat terlihat. Meskipun apa yang dilihatnya hanyalah gambaran gelap yang terdistorsi.
Secara perlahan, sosok misterius itu pun mengulurkan tangannya. Meminta agar Brian menjabatnya.
"Setelah kau menjabat tanganku, kau akan memperoleh sebagian kecil pecahan jiwaku. Tapi sebagai gantinya, ingat! Aku hanya bisa melakukannya satu kali, jadi apapun yang terjadi, mata ku harus selamat."
"Eh?!"
Mendengar tawaran yang sangat mencurigakan namun menggiurkan ini....
Brian tak lagi memiliki pilihan lain.
__ADS_1
Selain menjabat tangannya dengan kuat, dan menyerahkan sisanya kepada gerigi takdir.
Tapi setidaknya, Ia bisa menyelamatkan Cecilia.