Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 40 - Perburuan


__ADS_3

Pagi harinya....


"Semua sudah siap?" tanya Brian singkat.


Cecilia dan juga Hella segera menganggukkan kepala mereka. Dan dengan jawaban itu lah, perburuan mereka dimulai.


Dimana tim dibagi menjadi dua. Brian bergerak sendiri di arah hutan dekat dengan wilayah Frostbite. Sedangkan Cecilia dan juga Hella bergerak di dalam reruntuhan kota.


Mereka memulai pencarian Wyvern itu dengan mendaki sisa-sisa reruntuhan menara pengawas di kota Baltimore ini.


Memperhatikan ke berbagai arah untuk melihat tanda-tanda pergerakan Wyvern itu.


Pagi mulai berganti menjadi siang.


Dan tanpa terasa, matahari nampak mulai bersiap untuk terbenam.


Meski begitu, pencarian mereka bertiga sama sekali tak membuahkan hasil. Brian yang harus menyusuri hutan yang berbatasan dengan wilayah dingin itu mulai kesal.


Untuk melampiaskan emosi sekaligus memenuhi kebutuhan timnya, Ia memburu seekor rusa. Berniat untuk menjadikannya sebagai makanan selama beberapa hari.


Setelah hari cukup gelap, Brian akhirnya kembali lagi ke persembunyian mereka di reruntuhan ini. Membawa seekor rusa di pundaknya.


"Bagaimana?" tanya Brian singkat sambil melemparkan rusa itu ke tanah.


"Sama sekali tak ada apapun." balas Cecilia kesal. "Aku jadi ragu apakah Guild benar-benar memiliki informasi yang tepat." lanjutnya.


Di sisi lain, Hella sedikit bersyukur karena tak menemukan apapun selama seharian ini. Ia masih takut jika harus berhadapan langsung dengan monster mengerikan itu.


"A-aku akan menyiapkan makanan...." ucap Hella sambil menarik belati di pinggangnya. Tanpa perintah, Hella langsung menguliti dan membersihkan daging rusa itu.


Sedangkan Brian mulai menyiapkan api unggun nya.


......***......


Sudah 10 hari lebih mereka berusaha mencari jejak keberadaan Wyvern ini. Tapi tak ada sedikit pun jejak yang mereka temukan.


Yang ada, hanyalah kekesalan serta menipisnya persediaan mereka.


"Bagaimana ini? Bukankah kalian pikir Wyvern ini tak pernah ada di sini?" tanya Brian putus asa.


"Wyvern selalu meninggalkan cukup banyak jejak, terutama pada sarangnya. Jika telah mencari sebanyak ini dan tak menemukan apapun...." balas Hella.


Tim Brian telah mencari di hampir setiap reruntuhan perumahan di Kota Baltimore ini. Tapi tak ada sedikit pun tanda-tanda rumah itu dijadikan sebagai sarangnya.


Yaitu dengan adanya tumpukan dedaunan kering yang digunakan Wyvern untuk tempat bersarangnya.


"Aaarrgg! Sudah cukup! Aku akan protes pada Guild dan...."


"KRAAAAAAAAKK!!!"


Teriakan Cecilia yang cukup keras, seakan memanggil sosok yang lain di sekitar mereka bertiga.


Sebuah suara teriakan seperti dari seekor burung yang sangat keras.


"Suara ini...."


Tanpa berfikir lebih lama lagi, ketiganya segera berlari ke arah sumber suara. Yaitu di arah hutan.


"Brian! Bukankah kau yang mencari di sana?! Kenapa kau tak menemukannya?!"


"Hah?! Kau pikir hutan itu sempit?"


Langkah kaki Hella yang cukup pendek dan pelan membuatnya sangat mudah tertinggal oleh keduanya.


Brian yang melihat hal itu segera memperlambat langkah kakinya, sebelum menggendong Hella di punggungnya.

__ADS_1


"Maaf tapi kita harus cepat." ucap Brian singkat.


Setelah beberapa saat berlari, mereka kembali tiba di dalam hutan. Hutan ini cukup rimbun dengan banyak pepohonan yang tinggi dan saling menaungi satu sama lain.


Mencari sesuatu di balik kayu dan dedaunan yang rimbun ini tentunya tak mudah.


"Sialan! Dimana?!" teriak Brian.


Suara teriakan dari monster misterius itu telah berhenti sejak tadi. Tapi ketiganya yakin bahwa sumber suara berasal dari sini.


"Burung sialan! Keluar dan biarkan kami membu...."


'SRRUUGGG! SRRUUGG!! BRAAAAKKK!!!'


Dari arah belakang ketiganya, sesuatu yang besar seakan-akan baru saja terjatuh ke tanah. Dengan rasa takut yang tak tertahankan, ketiganya pun menoleh.


"Grrrrrrr...."


"A-apa yang?!"


"KRAAAAAAAKKKK!!!"


Sosok monster yang tak lain adalah Wyvern itu tiba-tiba berteriak dengan sangat kencang ke arah kelompok Brian.


Suara teriakannya yang sangat keras benar-benar memekikkan telinga ketiganya. Tak hanya itu, tekanan angin yang sangat kuat bahkan mendorong ketiganya untuk terlempar sejauh beberapa meter.


'Brruukk! Srruugg!!'


Di samping Brian, terlihat sosok Cecilia yang membuka mulutnya. Seakan-akan sedang meneriakkan sesuatu. Tapi tak ada sedikit pun suara yang bisa didengarkan oleh Brian.


Hanya lah dengungan yang nyaring, yang memenuhi pendengarannya.


Brian yang penasaran mencoba untuk meneriaki Cecilia kembali. Tapi hal yang sama terjadi. Ia bahkan tak bisa mendengar suaranya sendiri.


Sementara itu, Wyvern dengan tubuh setinggi 2 meter lebih itu mulai berjalan mendekat.


'Sialan! Apa-apaan ini?! Hanya dari teriakannya?!'


Di belakang Brian, Hella mulai sadarkan diri setelah kepalanya terbentur pada batang pohon itu.


Dengan segera, Hella menggunakan sebuah sihir penyembuhan skala besar. Dengan fokus utama untuk menyembuhkan telinga ketiganya.


Lingkaran sihir yang besar dengan banyak tulisan rumit muncul di atas tanah setelah Hella menghentakkan tongkat kayunya itu.


Sedikit demi sedikit....


"Brian! Brian!! Brian!!!"


Teriakan Hella mulai terdengar dengan jelas setelah telinganya sembuh.


Tapi....


"Lari!!!"


'Swuuusshhh!!!'


Belum sempat bereaksi, Wyvern itu melompat ke depan dengan cepat. Ia mengangkat lengan kanannya. Dan dengan cakar yang tajam itu, berniat untuk menebas tubuh Brian.


'Sreeettt! Klaaaaangg!!!'


Untungnya dengan kekuatan dari darah Hecate, membuat tubuh Brian jauh lebih kuat dibandingkan manusia biasa.


Membuatnya mampu menarik pedang besarnya di saat-saat terakhir, sebelum cakar itu mengenainya.


'Sreeett! Sraaaasshh!!'

__ADS_1


Hanya saja, berhasil menahan cakarnya masih belum cukup. Sekalipun dengan darah Hecate, Brian masih lah sebatas manusia.


Dan di hadapan monster dengan tubuh yang berkali-kali lipat lebih besar darinya....


'Blaaaarrr!!!'


Brian terlempar dengan begitu mudahnya. Menghantam ke arah salah satu batang pohon.


"Kuggh! Sialan!"


Darah mulai mengalir dari bibirnya. Tapi Ia masih bisa menjaga kesadarannya. Brian dengan cepat mengelap darahnya sebelum kembali berlari ke arah Wyvern itu.


Cecilia sendiri, segera melompat mundur. Menjauh dari garis depan dan mempersiapkan busur dan panah nya.


Pada tubuh Brian, terlihat cahaya kehijauan yang lembut menyelimutinya. Cahaya itu tak lain adalah sihir penyembuhan yang dilakukan oleh Hella.


Memberikan regenerasi yang kecil pada pemuda itu.


'Itu benar.... Kali ini ada Hella, aku tak perlu khawatir. Yang perlu ku lakukan hanyalah....'


Pegangan kedua tangannya pada pedang besar itu sangat lah kuat. Brian hanya menanti jaraknya cukup dekat untuk mengayunkan pedangnya.


Dan ketika momen yang dinantikannya tiba, Brian mengayunkan pedang besarnya secepat mungkin.


'Swuuusssh!'


Hanya saja....


Wyvern itu menghindarinya dengan sangat mudah. Hanya dengan mengepakkan sayapnya dan terbang ke udara.


"Hah?! Apa-apaan itu?! Kembali kesini dan bertarung lah dengan jantan!" teriak Brian kesal.


Cecilia terlihat telah membidikkan anak panahnya. Siap untuk menembak kapan saja dengan anak panah besi itu.


Setelah incarannya terasa sempurna, Cecilia segera melepaskan anak panahnya.


'Swuuusshh! Jleeebb!!'


Arah tembakannya memang telah benar, yaitu di sayap Wyvern itu. Tapi permasalahannya, tembakan anak panahnya tak mampu untuk menembus sayapnya.


Apalagi merobeknya untuk membuatnya tak bisa terbang.


"Cih! Brian! Aku akan menggunakan panah dari Jareth!" teriak Cecilia kesal.


Ia sebenarnya sangat ingin menghemat anak panah itu. Agar bisa memperoleh lebih banyak uang. Tapi mau bagaimana lagi? Sayap kulit dari Wyvern itu jauh lebih tebal dari yang terlihat.


Di bagian belakang, Hella masih terdiam sambil menyembuhkan tubuh Brian secara perlahan.


Tapi....


Secara perlahan, wajah Hella mulai mengerut. Keringat mulai mengucur dengan deras. Hawa dingin juga mulai menggerogoti tulangnya.


"Bri-Brian.... Cecilia.... Ku rasa kita sebaiknya kabur." ucap Hella dengan suara yang gemetar.


"Kenapa? 50 koin emas di depan mata kita!" balas Cecilia yang telah menyiapkan anak panah Runic milik Jareth itu.


Dengan tubuh yang gemetar, Hella menunjuk ke arah langit. Tepatnya pada salah satu pohon yang dituju oleh Wyvern itu.


"Wy-wyvern itu.... Betina.... Dengan kata lain...."


'KRAAAKK! KRAAAAKK! KRAAAK!!"


Beberapa suara teriakan yang begitu keras mulai terdengar dari arah yang sama.


Kini dari udara, terlihat sosok 4 ekor Wyvern muda dengan tubuh yang sedikit lebih besar dari manusia.

__ADS_1


"Bu-bukankah ini cukup gawat?"


__ADS_2