Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 18 - Jiwa tak Dikenal


__ADS_3

Sesaat setelah Brian menjabat tangan sosok misterius itu, yang bahkan sama sekali tak terlihat wujud tubuh yang sebenarnya....


Seluruh dunia ini merasakan sebuah gelombang kejut yang cukup kuat.


Gelombang itu menyebar dengan sangat cepat dan menyadarkan siapapun yang memiliki kepekaan jiwa yang cukup tinggi.


Tak merusak apapun di dunia ini, tapi membuat siapapun yang cukup kuat menyadari gelombang aneh ini.


Di Ibukota Kekaisaran Luvelia, hal yang sama juga terjadi.


Keduabelas komandan perintah suci segera berlari menuju ke ruang tahta. Menghadap sang kaisar untuk melaporkan fenomena aneh ini.


"Yang mulia.... Barusan...."


Dengan tenang, sang Kaisar mengangkat tangan kanannya. Meminta mereka semua untuk diam.


"Kalian juga merasakannya? Bahkan bulu kudukku langsung berdiri. Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap sang Kaisar Starrus von Luvelia dengan senyuman yang lebar di wajahnya.


Kedua matanya terbuka lebar, memandang ke arah kejauhan. Berusaha untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pikirannya berputar dengan sangat cepat.


Tak berselang lama setelah itu....


"Yang Mulia?" tanya Aeryn kebingungan. Baru pertama kali komandan utama sebagai pemburu iblis itu melihat senyuman selebar itu di wajah sang Kaisar.


"Hahaha! Hahaha!!"


Tiba-tiba, Kaisar Starrus tertawa keras. Tangan kanannya juga terlihat memukul singgasananya berkali-kali dengan kuat.


"Yang Mulia?! Apa yang sebenarnya terjadi?! Apakah Raja Iblis Hecate baru saja dibangkitkan?!" tanya komandan perintah suci yang lain.


Mendengar pertanyaan itu, Kaisar Starrus secara perlahan mulai berhenti tertawa. Tapi senyuman lebar itu masih terpasang dengan jelas di wajahnya.


"Aah, bukan. Di hadapannya, bahkan Hecate hanyalah sebuah bidak catur tak berguna."


Semuanya tercengang setelah mendengar pernyataan sang Kaisar. Mata mereka terbelalak. Sebagian bahkan membuka mulut mereka lebar-lebar, namun tak mampu untuk berkata-kata.


"He-Hecate hanyalah sebuah bidak tak berguna?"


Aeryn yang terdiam dari tadi berusaha untuk berfikir dengan keras. Dan akhirnya, hanya ada satu jawaban yang tersisa.


"Yang Mulia, maaf kelancanganku tapi.... Jangan katakan salah satu dewa kuno...."


Kaisar Starrus menggelengkan kepalanya dengan senyuman.


"Seperti yang kita tahu, zaman para dewa telah berlalu. Semuanya telah musnah tak bersisa. Dan jika ada, hanyalah peninggalan mereka yang berupa relik.


Sama seperti kitab suci Dewi Cahaya yang memberkahi siapapun dengan kekuatan suci. Benar, sama seperti kalian dan para pahlawan. Tapi ini....


Tak ku sangka, tak ada seorang pun yang menyadari bahwa reliknya masih tersisa." jelas sang Kaisar panjang lebar.


Meski begitu, tak ada satu pun yang bisa memahami apa maksudnya. Karena informasi seperti itu cukup dirahasiakan oleh kekaisaran.


Setelah beberapa saat, Kaisar Starrus pun melanjutkan perkataannya.


"Kitab Dewi Cahaya, bab 6 - Kehancuran, paragraf ke 21. 'Dan ketika tiba hari dimana semuanya hancur akibat pertempuran abadi para dewa, Ia datang memperbaiki segalanya seakan-akan semua itu tak pernah terjadi.


Sebagai satu-satunya dari kami yang menjauhi pertumpahan darah demi keselamatan dunia ini.' Dengan kata lain...."

__ADS_1


......***......


Beberapa saat sebelumnya....


Di hadapan Brian, semuanya seakan tertarik oleh kekuatan misterius yang tidak ada bandingannya.


Darah yang mengucur dari leher Cecilia terlihat tertarik kembali ke dalam tubuhnya. Tak berselang lama, tubuh Cecilia terlihat terlempar ke udara.


Atau lebih tepatnya, terlihat melayang kembali ke arah tangan beberapa ekor Goblin yang membawanya.


Setelah itu, kepala sosok wanita tua yang telah hancur akibat gada itu kembali tersusun seakan-akan semua itu tak pernah terjadi. Begitu pula dengan gada yang bergerak semakin menjauhi kepala wanita tua itu.


Semakin lama, gerakan yang terjadi semakin cepat. Pandangan Brian menjadi kabur atas apa yang ada di hadapannya. Dimana cahaya bergerak kesana kemari dengan begitu cepatnya, membutakan pandangannya sesaat.


Dan tiba-tiba....


"Brian! Apa yang kau lakukan?! Cepat sembunyi dan selamatkan para warga selagi aku mengalihkan perhatian mereka!"


Di hadapannya, terlihat sosok Cecilia yang masih segar bugar. Tak ada luka sedikit pun di tubuhnya. Bahkan suaranya masih dipenuhi dengan semangat.


"Ini.... Ini mimpi?"


'Plak!'


"Kau sudah bodoh?! Cepat bersembunyi!" teriak Cecilia setelah menampar wajah Brian dengan keras.


Sesaat sebelum Cecilia berlari pergi, Brian dengan cepat menggenggam tangannya. Menahannya untuk pergi.


"Apa yang...."


Perkataan Cecilia langsung terhenti setelah melihat ekspresi tak karuan dari wajah Brian. Sebuah ekspresi yang dipenuhi oleh kebingungan, juga kesedihan.


'Bruukk! Bruuukk! Bruukk!'


Kawanan Goblin terlihat berusaha mengejar sosok Cecilia yang mereka pikir telah berlari menjauh keluar desa. Tapi pada kenyataannya, Cecilia hanya diam di tempat.


Bersembunyi di balik dinding yang dilahap oleh api membara.


"Brian, kau...."


'Braaakk!!'


Tiba-tiba, potongan kayu dari bangunan itu roboh.


"Awas!"


Setelah berteriak, Brian segera mendorong tubuh Cecilia menjauh dari reruntuhan bangunan kayu itu.


Runtuhnya sebagian bangunan kayu itu membawa api yang membakar sebagian tubuh Brian yang berdiri di bawahnya.


Tapi dari balik tumpukan kayu dan api itu, Brian bangkit dan berjalan keluar seakan tak merasakan rasa sakit.


"Brian, kau tak apa?" tanya Cecilia dengan penuh kekhawatiran di wajahnya.


"Tak masalah.... Yang lebih penting lagi...."


"Aneh, kenapa aku tak melihatnya?" ujar Cecilia kebingungan.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


Dengan mata yang terbuka lebar, Ia menatap Brian yang masih memadamkan api di tubuhnya itu.


"Aku tak bisa melihat bangunan ini runtuh, dan.... Kenapa aku tak bisa melihat masa depan lagi?"


Pertanyaan Cecilia itu langsung terjawab di dalam hati Brian. Hanya dengan satu kalimat sederhana yang diutarakan oleh sosok misterius sebelumnya.


'Lindungi mata ku.... Dia.... Siapa dia sebenarnya?'


Tak ingin memperpanjang perkara, Brian segera menarik pergi Cecilia. Menjauh dari desa yang terbakar habis itu.


"Tunggu! Tak jadi menyelamatkan mereka?"


"Jika melakukan hal itu, yang menanti kita berdua adalah kematian. Jumlah mereka terlalu banyak, pimpinan mereka juga cukup cerdik." balas Brian yang terus menarik tangan Cecilia untuk pergi menjauh.


"Yah, aku tak masalah dengan itu. Tapi.... Bagaimana dengan kedua orang tua itu? Kau yakin akan meninggalkannya?" tanya Cecilia dengan wajah yang berusaha untuk bersikap tegar.


Meskipun Brian sendiri tahu, di balik wajah itu terdapat kesedihan yang tertahan.


Seketika langkah kaki Brian terhenti.


Ia teringat atas sosok dua orang tua yang telah bersikap sangat baik kepadanya dan juga Cecilia.


Meninggalkan mereka untuk mati di tangan para Goblin itu....


"Cih...."


Brian berhenti melangkah, membalikkan badannya untuk melihat desa di kejauhan yang telah tenggelam dalam lautan api yang membara.


Lautan api yang menerangi gelapnya langit di malam hari ini.


Sesekali, teriakan para warga dapat terdengar dengan samar-samar dari alun-alun desa. Setiap kali mendengarnya, hati Brian semakin teriris.


Dan mungkin.... Juga semakin mengeras.


Harus kah Ia mempertaruhkan nyawanya menghadapi mungkin seratus ekor Goblin di balik panasnya bara api itu? Demi sekelompok orang yang baru dikenalnya selama satu hari?


Atau harus kah Ia lari bersama dengan Cecilia untuk memenuhi permintaan dari sosok misterius itu?


Meninggalkan semuanya dalam keputusasaan?


Nafasnya menjadi semakin berat. Detak jantungnya pun menjadi semakin kencang.


Setiap detik yang berlalu, mungkin saja satu nyawa telah melayang.


Tak ada banyak waktu untuk berfikir. Tapi dalam pilihan seperti ini, sebanyak apapun waktu yang dimiliki takkan pernah cukup untuk menentukan jawaban yang tepat.


Hingga akhirnya....


"Aaarrrgghh!!! Sialan! Masa bodoh dengan siapapun kau! Tapi aku akan tetap menyelamatkan mereka!" teriak Brian dengan begitu keras.


Senyuman yang lebar segera terlukis di wajah Cecilia setelah mendengar teriakan itu.


"Kau yakin?!" tanya Cecilia dengan penuh semangat.


"Ya! Kau sudah siap untuk mati demi semua ini?!"

__ADS_1


Dengan tatapan yang seakan dipenuhi dengan perasaan bangga, Cecilia pun menjawab.


"Tentu saja."


__ADS_2