Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 37 - Pekerjaan Baru


__ADS_3

'Sruuugg! Sruuugg! Sruuuggg!'


Suara gesekan dari sikat kayu yang panjang itu terdengar menggema di lorong yang gelap ini. Saluran air yang tak begitu tinggi terlihat mengalir dengan tenang.


Di balik sikat kayu itu, terlihat sosok dua orang yang mengenakan pakaian tipis. Banyak kotoran dan cairan yang membahasi pakaian keduanya.


Tak hanya itu, lilitan kain yang cukup tebal menutupi hidung dan mulut keduanya.


"Bwian! Bwau Swekwawi! Kwenwapwa kwitwa mwembwewswikwan wuinwi?" ucap seorang gadis yang hanya mengenakan kaos tipis itu. Kotoran melumuri hampir sekujur tubuhnya.


"Mwawu bwagwamwanwa lwagwi? Dwua mwingwu kwitwa twak mwendwapwat pwekwerjwaan!" balas seorang pemuda yang juga berlumuran kotoran lorong saluran air ini.


Saat ini, keduanya mengambil pekerjaan sebagai pembersih selokan atau saluran air bawah tanah di kota Mapleford. Mengangkat sebanyak mungkin sampah agar mencegah tersumbatnya saluran air.


Sebuah pekerjaan dengan bayaran yang rendah serta dipenuhi dengan kotoran ini, tentu sama sekali tak populer di kalangan petualang.


Dan bahkan saat keduanya masih sibuk mengangkat berbagai sampah dari saluran air itu....


'Pyoookk!'


Sebuah kain kotor hanyut dan melilit kaki Cecilia. Membuatnya berteriak kencang. Bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa jijiknya terhadap semua ini.


'Sialan, baru saja ku pikir petualangan ku di dunia lain akan dimulai.... Ternyata aku kembali menjadi seorang buruh....' pikir Brian dalam hatinya.


Pekerjaan mereka pun berlanjut. Dari terbitnya matahari, hingga bulan sudah cukup tinggi.


'Srruuggg! Pyookk!'


Dengan pakaian yang basah kuyup, serta badan yang dipenuhi dengan kotoran, Brian dan juga Cecilia akhirnya keluar dari saluran air itu. Kembali ke permukaan tanah.


Cahaya rembulan yang redup menyinari sosok keduanya yang begitu kotor dan juga bau. Beberapa penduduk kota yang berada di sekitar mereka segera menjauh.


Tapi Brian dan Cecilia tak lagi peduli.


"Ayo, mandi dan laporkan pada Guild." ucap Brian singkat.


Cecilia pun menganggukkan kepalanya. Berjalan menuju ke sebuah pemandian umum di kota ini.


......***......


'Braak!'


Setibanya di Guild, Brian langsung meletakkan surat bukti pekerjaannya yang telah ditandatangani pengurus setempat.


Menunjukkan bahwa dirinya bersama dengan Cecilia telah bekerja lembur sejak pagi hingga malam.


Adelle membaca surat itu dengan jeli, tak melewatkan sedikit pun detail di dalamnya.


"Hmm.... 47 karung sampah.... Peningkatan yang pesat. Mungkin kalian berbakat menjadi tukang sampah?" ucap Adelle sambil memberikan cap pada surat itu.

__ADS_1


Ia kemudian meraih laci pada mejanya dan mengambil beberapa uang. Dengan rapi, Adelle menata uang koin perak itu secara bertumpuk. Setiap tumpuknya terdapat 10 koin perak.


"Jangan bercanda. Lebih baik aku mempertaruhkan nyawa untuk memburu Wyvern dibandingkan dengan ini." balas Brian kesal.


Cecilia yang berada di sebelahnya pun mengangguk dengan sekuat tenaga.


"Begitu kah? Baik, totalnya 94 koin perak dipotong pajak. Sehingga tersisa 65 koin perak. Silakan." ucap Adelle menyerahkan tumpukan koin perak itu.


Dengan nafas yang panjang, Brian pun menerima koin itu. Membaginya menjadi dua untuk dirinya dan juga Cecilia.


Dan dengan badan yang telah sangat kelelahan, keduanya kembali ke kamar.


Selama dua Minggu ini, keduanya selalu memesan kamar yang berbeda. Tapi mengingat keuangan mereka yang sudah sangat menipis, kini Brian dan juga Cecilia tinggal dalam satu kamar yang sama.


Sebagai gantinya, Brian membeli sebuah matras tipis agar dirinya bisa tidur di lantai.


Baru saja masuk kamar, keduanya langsung melemparkan badan mereka ke ranjang.


"Makannya?" tanya Cecilia sambil meraih sebuah kentang rebus di meja itu.


"Nanti, aku masih belum ingin makan." balas Brian yang masih mual akibat bau saluran air barusan.


"Hmm, benar juga."


Dengan hanya cahaya redup dari lentera di dinding kamar ini, keduanya telah bersiap untuk tidur. Mengistirahatkan badan mereka untuk pembersihan berikutnya.


"Hei, Brian. Apakah ini benar-benar kehidupan yang kita inginkan?"


"Apa maksudmu?" tanya Brian kembali.


"Maksudku.... Aku tahu kita sudah bisa hidup aman disini, di bawah nama Vallenhein tapi...."


Brian segera memahami maksud Cecilia. Tentu saja ini bukan lah pekerjaan impian. Tapi mau bagaimana lagi?


Dengan insiden salah seorang pendeta dari pemuja iblis itu, perintah suci mengerahkan pasukan secara besar-besaran.


Sebagai imbasnya, bukan hanya pada pengikut Raja Iblis Hecate yang diburu. Tapi juga para monster lain di sekitarnya. Terlebih lagi.... Secara gratis.


Pergerakan pasukan perintah suci itu benar-benar membuat seluruh wilayah di sekitar Mapleford dan juga Grenary sangat aman. Seluruh penduduk juga senang dengan semua ini.


Tapi para petualang menerima hal yang sebaliknya. Pekerjaan mereka benar-benar hilang.


Bahkan saat ini Guild sangat sepi. Hanya segelintir petualang yang mau melakukan pekerjaan kasar atau rendahan dengan bayaran kecil.


Yang lainnya? Kembali ke desa sebagai petani atau pengrajin. Bahkan pendapatan mereka lebih baik daripada petualang saat ini.


Tentu saja misi perburuan monster masih ada. Tapi hanya monster tingkat tinggi yang belum diketahui dengan pasti keberadaannya.


Seperti memburu Wyvern, atau naga kekaisaran yang lepas. Dan itu pun sangat lah sulit untuk dilakukan.

__ADS_1


Setelah berfikir sejenak, Brian pun membalas pertanyaan dari Cecilia.


"Besok kita akan mengambil misi memburu Wyvern."


"Kau serius? Tapi kau yakin? Semakin ku dengar kisah mengenai Wyvern dari para pegawai Guild, aku menjadi semakin ragu untuk melawan mereka."


Itu benar. Selama dua Minggu ini, Cecilia dan juga Brian menjadi semakin akrab dengan pegawai Guild. Mengorek berbagai informasi dari mereka.


Termasuk mengenai Wyvern.


Sosok yang merupakan setengah dari keturunan naga ini memiliki panjang tubuh mencapai 4 meter dengan sayap yang terhubung pada lengannya.


Berbeda dengan naga yang memiliki sayap di punggungnya.


Sebagai ganti tubuh yang jauh lebih kecil dari naga, serta kekuatan yang lebih rendah, Wyvern memiliki pergerakan yang jauh lebih lincah.


Ia mampu terbang dengan manuver yang sangat rumit. Bahkan di tempat yang rendah dan sempit sekalipun.


Memang, Wyvern tak bisa menyemburkan api seperti naga. Tapi kecepatan terbangnya jauh melampaui naga. Membuat perburuannya sangat lah sulit.


Dan itu pun....


Jika mereka bisa menemukan tempat persembunyiannya.


"Bagaimana jika kita mengajak orang lain? Mungkin peluang kita akan lebih besar?" tanya Brian.


Cecilia pun bangkit dari tidurnya. Menatap ke arah Brian di lantai.


"Orang lain? Hella?"


"Mungkin? Memiliki penyembuh di tim akan sangat berguna bukan?"


Seketika, Brian terpikirkan lagi satu orang lain. Yang mungkin akan sangat cocok untuk misi perburuan ini.


"Aah, bagaimana dengan Jareth?"


Dengan tatapan yang sinis, Cecilia pun membalas.


"Aku ragu dia akan ikut. Ingat, dia masih perlu menjaga tokonya untuk mendapatkan uang bukan? Agar bisa membawa keluarganya yang tersisa di kota."


"Hmm, benar juga. Tapi mungkin dia memiliki saran terkait hal ini?"


Diskusi mereka berdua pun berlanjut. Tapi satu hal yang pasti, keduanya telah sepakat untuk berhenti bekerja sebagai pembersih saluran air.


Bagi mereka berdua, lebih baik mati dalam kejayaan.


Tanpa menyadari, pecahan jiwa Orlog yang selalu berada di dalam diri Brian juga mendengar semuanya.


'Hah.... Rencana bunuh diri apa lagi ini? Apakah terlalu banyak jika meminta kehidupan damai selagi aku mengumpulkan kekuatanku sendiri?'

__ADS_1


__ADS_2