Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 21 - Penyelamat


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Brian hanya terdiam. Ia berjalan dengan tenang sambil terus memandangi langit yang cerah di dunia ini.


Tatapan matanya terkesan begitu kosong, begitu pula dengan pikirannya.


Ia hanya terus berjalan mengikuti jalanan tanah ini layaknya sebuah boneka yang bernyawa.


Cecilia yang memperhatikannya dari kejauhan merasa kebingungan.


'Harus kah aku mengajak berbicara? Atau membiarkannya saja?' pikir gadis Elf itu dalam hatinya.


Baru kali ini Ia melihat sosok Brian yang terkesan begitu kosong.


kejadian semalam mengenai serbuan para Goblin memang sangat mengerikan. Dan tak salah juga bila Brian mengalami trauma berat akibat pembantaian itu.


Lagipula, Cecilia juga paham dengan baik. Bahwa dunia tempat Brian tinggal sebelumnya adalah dunia yang damai.


Atau setidaknya, lingkungan tempat dimana Brian sebelumnya hidup.


Rasa bersalah mulai menggerogoti hati Cecilia yang secara tak sengaja menarik Brian dari kehidupan damainya, ke dalam dunia penuh pertumpahan darah ini.


"Brian, aku tahu ini sangat terlambat tapi.... Maaf karena telah membuatmu terdampar di dunia ini." ucap Cecilia dengan wajah yang dipenuhi rasa penyesalan.


Meski telah berkata demikian, Brian masih terdiam. Tak mau menjawab sepatah kata pun. Bahkan menoleh sedikit saja juga tak dilakukannya.


"Aku berjanji, aku akan mencari cara untuk mengembalikan mu ke dunia mu yang semula. Sesulit apapun itu...."


"Cecilia." balas Brian singkat memotong perkataan gadis itu. Ia menoleh sambil memberikan senyuman yang ramah.


"Aku sama sekali tak masalah dengan itu. Bahkan, aku benar-benar menyukai dunia ini. Hanya saja, ada sesuatu yang perlu ku pertimbangkan." lanjut Brian sebelum kembali memandang langit.


"Begitu kah? Ka-kau tak dendam padaku kan?"


"Tentu saja tidak. Justru, aku berterimakasih padamu karena telah membawaku ke dunia ini."


Brian mulai menyadarinya secara perlahan.


Dunia ini tentu sangat kejam dan dipenuhi dengan ketidakadilan. Berbeda sangat jauh jika dibandingkan dengan bumi.


Tapi di sisi lain, dunia ini juga begitu bebas. Satu-satunya aturan yang pasti, yaitu kekuatan adalah segalanya.


Selama memiliki kekuatan, kau bisa melakukan apapun.


Bukan hanya dalam batasan kekuatan fisik. Tapi juga kekuatan negosiasi seperti yang ditunjukkan Adelle sebelumnya.


Juga kekuatan diplomatis seperti yang dimiliki penguasa wilayah Kekaisaran ini. Semua itu adalah kekuatan.


Dan saat ini, Brian benar-benar menginginkan kekuatan untuk dirinya sendiri. Kekuatan apa? Kalau soal itu, tentu saja....


"Cecilia, kau masih ingat wajah ksatria yang memiliki darah Hecate itu kan?"


"Ya? Kenapa?"


Dengan senyuman di wajahnya, Brian pun membalas.

__ADS_1


"Kita akan memburunya."


......***......


Setelah perjalanan yang cukup panjang, keduanya akhirnya tiba di Guild kota Mapleford itu.


Mereka langsung berjalan ke arah pegawai Guild. Atau lebih tepatnya, menuju ke arah meja dimana Adelle berjaga.


"Entah kalian dapat quest itu darimana, tapi quest itu penuh kebohongan. Mana ada beberapa ekor Goblin? Desa itu bahkan diserang oleh 100 ekor Goblin. Lihat ini." ucap Brian sambil menunjuk ke arah luka di tubuhnya.


Adelle dapat melihat dengan jelas perban di leher Brian yang masih berdarah, serta lengan kirinya yang patah.


"Eh? Lalu bagaimana dengan desa itu?" tanya Adelle kembali. Ia terlihat cukup panik mendengar berita itu.


"Selamat, dengan cukup banyak korban."


Dengan segera, Adelle melaporkan hal itu pada beberapa rekan kerjanya. Terutama pada seorang pria tua berambut agak putih itu di belakang.


'Apakah dia ketua Guild ini?' pikir Brian sambil memperhatikan kepanikan mereka selama beberapa saat.


Dan akhirnya, pria tua itu berjalan ke arah meja tepat dimana Brian berdiri.


"Kau yang bernama Reux? Kau yakin dengan informasi itu?" tanya pria tua itu.


"Yakin? Dengar pak tua, aku juga menjadi korban di sana."


"Apakah kau memiliki bukti?"


"Bukti? Apa maksudnya itu?"


"Tentu saja bukti hasil buruan, atau serangan dari 100 Goblin itu. Misalnya potongan telinga mereka, atau senjata mereka." jelas pria tua itu dengan sabar.


"Hah?! Kau pikir di situasi seperti itu kami berdua sempat mengambil bagian tubuh mereka? Bahkan bertahan hidup saja sudah kuwalahan!"


Mendengarkan penjelasan Brian yang tak memiliki bukti, pria tua itu terlihat membelai jenggot putihnya sendiri sambil berfikir keras.


"Jika itu memang benar, Guild mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya pada kalian. Tapi jika itu bohong, kami akan mencabut keanggotaan kalian." balas pria tua itu.


"Kirim saja beberapa orang untuk memastikan. Desa itu juga tak terlalu jauh. Yang lebih penting lagi kompensasi! Mana bayaran kami?"


"Kami baru bisa membayar setelah memastikan kalian menyelesaikan Questnya. Dan sayangnya, kalian tak membawa bukti hasil buruan."


"Apa-apaan itu?!"


"Jadikan ini pelajaran untuk kedepannya." balas pria tua itu yang segera berjalan pergi.


Adelle terlihat mulai kembali ke mejanya dan membisikkan sesuatu pada Brian.


"Reux, aku akan membayar quest mu dari uangku sendiri. Sebagai gantinya, hadiah Quest mu akan menjadi milikku. Bagaimana?" ucap Adelle sambil menyerahkan kantung kecil berisi koin.


Saat menghitungnya, Brian benar-benar telah memastikan jumlahnya.


"50 koin perak dengan nyawa sebagai taruhannya. Hah, lebih baik daripada tak ada sama sekali. Terimakasih, tapi kau yakin? Aku tak membawa bukti kan?"

__ADS_1


Adelle segera melirik ke arah Reux dan juga Felix dengan senyuman tipis di wajahnya.


"Tentu saja. Aku melihat darah kalian bertambah." bisik Adelle.


"Aah, benar juga. Kalau begitu, terimakasih."


Sesaat setelah Brian dan juga Cecilia melangkah pergi, Adelle berbisik pada dirinya sendiri.


"Terimakasih kembali, jika perkataan kalian benar, aku akan mendapat setidaknya beberapa koin emas. Yah, aku akan memotong hutang kalian." bisik Adelle dengan tawa yang ringan.


......***......


Cahaya kehijauan yang indah nampak menyelimuti lengan kiri Brian di tengah ruangan yang kecil ini.


Di hadapannya, adalah sosok seorang gadis muda berambut hitam dengan seragam serba putih dengan lambang naga di dadanya.


"Ini benar-benar akan bekerja?" tanya Brian penasaran.


"Dewi Cahaya akan memberkahi tubuhmu dengan kesehatan. Jadi tenang saja."


Dari belakang, Cecilia yang berdiri sambil bersandar pada dinding pun berkomentar.


"Apakah Dewi Cahaya itu juga memungut biaya? Jujur saja 10 koin perak untuk jasa ini terlalu mahal. Yah, itu pun jika memang bisa berguna." ujar Cecilia sambil sedikit menyindir.


"Tapi kami juga masih perlu uang untuk bertahan hidup...." ucap gadis itu dengan wajah memelas.


Brian segera memelototi sosok Cecilia, mengedipkan satu matanya beberapa kali untuk memberikan kode.


Manusia manapun di bumi pasti paham bahwa kode yang dimaksud adalah untuk diam dan menghentikan hujatannya. Tapi....


"Lihat! Bahkan matanya mulai berkedip-kedip sendiri! Sudah pasti pengobatan ini tak berguna!" teriak Cecilia kesal sambil menunjuk ke arah Brian.


"Eh?! Benarkah?!"


Penyembuh itu pun mulai panik. Takut jika pada kenyataannya sihirnya mengalami kesalahan dan justru menyakiti orang lain.


Brian dan Cecilia memperoleh informasi mengenai jasa penyembuhan kekaisaran ini dari salah seorang petualang di Guild.


Mereka mengatakan bahwa pengobatan penyihir dari kekaisaran bernama Hella itu cukup manjur dan juga murah.


Meski begitu, mengingat kondisi keuangan mereka yang masih cukup tipi ini, keduanya masih berusaha untuk menurunkan harga.


Dengan cara apapun.


Melihat bahwa penyihir itu sedikit percaya atas perkataan Cecilia....


"Adududuh! Entah kenapa, mata ku berdenyut dengan sendirinya! Sialan! Kau yakin pengobatannya berfungsi?" ucap Brian sambil berpura-pura kesakitan.


"Eeh?! Tapi...."


"Kompensasi! Seharusnya kita mendapatkan diskon atas pengobatan yang buruk ini!" teriak Cecilia mengompori keadaan ini.


Dan akhirnya....

__ADS_1


Lengan Brian sembuh sepenuhnya dan keduanya melangkah pergi hanya dengan membayar 5 koin perak saja.


__ADS_2