Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 6 - Keputusan


__ADS_3

Suara aliran air yang cukup deras terdengar begitu menyejukkan hati. Tak hanya itu, kicauan burung-burung di sekitar juga hanya memperindah orkestra alami ini.


Di tengah-tengah semua itu, terlihat sosok seorang manusia berambut hitam yang sedang menggendong sosok wanita berkulit putih pucat dengan kedua tangannya.


Ia tak lain adalah Brian.


Secara perlahan, Brian meletakkan tubuh Cecilia di dekat sungai yang mengalir cukup deras itu.


Dengan menggunakan kedua tangannya, Ia mengambil sebanyak mungkin air segar dan mulai membasuh wajahnya sendiri.


'Sialan.... Luka di pundak ku cukup parah juga. Tapi....'


Brian mulai melirik ke arah Cecilia yang masih terbaring tak berdaya.


Jantungnya masih berdetak. Nafasnya juga masih terdengar. Tapi semua itu sama sekali tak membuat Brian bahagia.


Setelah membersihkan dirinya sendiri sesaat, Brian segera beralih ke arah Cecilia. Tepatnya ke arah dua anak panah kecil yang masih menancap di tubuh wanita itu.


Cepat atau lambat, anak panah itu harus dikeluarkan. Dan mengingat kondisi saat ini sudah bisa terbillang cukup aman, Brian pun mulai mempersiapkan dirinya untuk mencabut anak panah itu.


Mulai dari beberapa robekan kain pakaiannya yang telah dibersihkan menggunakan air sungai yang begitu jernih itu. Serta persiapan mentalnya untuk melihat sesuatu yang sangat jarang dilihatnya ketika di bumi.


Yaitu darah dan tubuh yang terluka.


"Fuuuh...."


Setelah mengambil nafas dalam-dalam, Brian segera mulai merawat luka di tubuh Cecilia.


"Perlahan.... Perlahan...."


Setelah berhasil mencabut anak panah itu, darah mulai kembali mengalir dengan cukup deras dari tubuhnya.


Bermodalkan pengetahuan dasarnya mengenai pertolongan pertama, Brian segera mengganti kain yang membalut luka itu dengan kain yang baru.


Lebih bersih, juga dengan ikatan yang lebih baik.


Perawatan terus berlanjut selama beberapa puluh menit. Hingga akhirnya, semua berhasil dilakukannya dengan baik.


"Fyuh.... Ku harap kau baik-baik saja, Cecilia. Kau tahu? Masih banyak hal yang harus ku pelajari dari mu. Dan juga...."


Brian terus menerus berbicara kepada Cecilia seakan-akan wanita itu bisa mendengarnya.


Tapi setidaknya, hal itu bisa membantunya melewati hari yang sangat melelahkan ini.


......***......


Keesokan harinya....


"Uugh.... Dimana aku?" tanya Cecilia pada dirinya sendiri yang mulai sadarkan diri.


"Syukurlah kau selamat." ucap Brian yang sedang membakar beberapa ekor ikan di sampingnya.


"Eh?"


"Kau tahu, sihir ini sangat berguna. Apakah ada sihir lain yang kau miliki?"


Senyuman mulai menghiasi wajah cantik Cecilia. Bersamaan dengan itu, setetes air mata juga mengalir membasahi pipinya.


"Tu-tunggu dulu! Kenapa? Apakah kau masih merasa kesakitan?! Maaf karena aku tak begitu ahli dalam pengobatan dan...."


"Terimakasih.... Terimakasih...."


Cecilia benar-benar berfikir bahwa Brian akan lari meninggalkannya sendirian. Mati di tangan para Ksatria itu.


Bagaimana pun, tak ada alasan bagi Brian untuk menolongnya.

__ADS_1


Bahkan seharusnya Brian memiliki cukup banyak dendam padanya, karena menyeret Brian dalam situasi seperti ini.


Mengetahui bahwa Brian benar-benar berusaha untuk menyelamatkannya....


Sudah jauh lebih dari cukup untuk mengobati semua luka yang dialaminya selama ini. Luka yang membuatnya memutuskan untuk hidup sendirian di tengah kegelapan hutan


"Ini, makan lah." ucap Brian sambil menyerahkan satu tusuk ikan bakar kepada Cecilia.


Cecilia hanya bisa terdiam setelah menerima ikan bakar itu. Memandangi makanan yang ada di hadapannya dengan tatapan yang terlihat begitu kebingungan.


"Kau bisa makan ikan bukan?" tanya Brian sekali lagi untuk memastikan.


"Te-tentu saja bisa! Aku hanya tak menyangka kau bisa memasak."


"Bukankah itu terlalu meremehkan?!"


Keduanya pun menikmati sarapan pagi hari mereka sambil saling berbagi cerita. Terutama cerita, mengenai apa yang baru saja menimpa mereka.


"Jadi.... Siapa sebenarnya mereka dan apa mau mereka?" tanya Brian sekali lagi.


"Perintah suci ke 6, memusnahkan Iblis. Tujuan mereka ada hanya satu, yaitu untuk membersihkan dunia ini dari iblis." jelas Cecilia sambil menikmati ikan bakar itu secara perlahan.


Tatapan matanya terlihat memandang ke arah kejauhan di Utara. Tepatnya ke arah sebuah gunung yang sangat tinggi di kejauhan.


"Hanya itu?"


"Justru karena perintah ke 6 sangat lah sederhana yang membuat mereka sangat berbahaya bagi Iblis. Kau lihat itu?" balas Cecilia sambil menunjuk ke arah gunung di kejauhan itu.


Brian pun menoleh dan menatap gunung itu. Ukurannya benar-benar sangat besar, dan jauh melampaui apa yang pernah dilihatnya di bumi.


"Meskipun terlihat dekat, sebenarnya gunung itu sangat jauh. Ukurannya saja yang sangat besar." jelas Cecilia singkat.


"Ada apa dengan gunung itu?" tanya Brian penasaran sambil melirik ke arah Cecilia.


Brian terdiam, berniat untuk mendengarkan kisah yang akan diceritakan oleh Cecilia dengan seksama.


"Bagi umat manusia, Kekaisaran Luvelia adalah cahaya penyelamat yang paling terang. Tapi bagi ras Iblis seperti ku, Kekaisaran Luvelia adalah sebuah pembawa bencana.


Kaisar ke-3 mereka, Julius, berhasil membunuh Raja Iblis bersama dengan 6 pahlawan yang lain. Mengakhiri masa dimana umat manusia hidup dalam ketakutan atas bangsa Iblis.


Sejak saat itu, keseimbangan berbalik. Kini bangsa Iblis lah yang hidup di dalam ketakutan atas umat manusia. Tak berani memperlihatkan, bahkan meninggalkan jejak sedikit pun di sekitar manusia.


Karena kami semua tahu.... Dengan sedikit nya jejak yang tertinggal, keduabelas perintah Suci itu akan mengendusnya dan menghabisi Iblis yang tersisa. Tak peduli selemah apapun Iblis yang mereka hadapi....


Mereka akan selalu datang dengan kekuatan penuh. Tak ingin memberikan sedikit pun ruang atau pun kesempatan bagi Iblis untuk selamat."


Penjelasan Cecilia itu benar-benar membuka mata Brian sepenuhnya.


Sebelumnya Cecilia hanya melarang Brian untuk jauh-jauh darinya tanpa alasan yang jelas. Juga hanya fokus untuk mengajarkannya bahasa di dunia ini.


Tapi kini, setelah semuanya terjadi....


"Jadi begitu ya...." balas Brian dengan suara yang cukup lirih.


Dunia ini benar-benar berbeda atas apa yang diharapkan olehnya.


Sebagian besar cerita fantasi, atau permainan komputer yang ada di bumi selalu mengisahkan umat manusia yang tertindas oleh Iblis.


Dan setelah itu, menugaskan tokoh utama atau pemainnya menyelamatkan umat manusia dari Raja Iblis yang meneror itu.


Tapi di dunia ini....


"Tunggu, Pahlawan yang kau maksud itu...."


Sebelum menyelesaikan perkataannya, Cecilia mengangguk seakan paham atas apa yang akan ditanyakan oleh Brian.

__ADS_1


"Kau benar. Mereka adalah manusia dari dunia lain, mungkin dari dunia yang sama denganmu.


Mereka dipanggil ke dunia ini dengan tumbal yang sangat besar serta artifak yang kuat, membuat bahkan anak kecil sekalipun menjadi sekuat jendral besar bangsa Iblis." balas Cecilia.


Brian akhirnya paham.


Bukan dunia ini yang berbeda dari apa yang selalu didengarnya dalam berbagai cerita.


Hanya saja....


'Diriku yang berada di pihak yang berbeda....'


Sebuah perbedaan kecil, tapi mampu merubah sudut pandang orang yang terlibat di dalamnya.


Dan dalam hal ini, adalah Brian.


"Beberapa pemuja Raja Iblis masih berjuang di luar sana, mengumpulkan kembali pecahan kekuatan Raja Iblis, Hecate, untuk membangkitkan nya kembali.


Tapi jujur saja, aku sangat yakin bangsa Iblis akan segera berakhir. Cepat atau lambat." jelas Cecilia dengan tatapan yang seakan terlihat begitu putus asa.


Meski begitu, Ia masih berusaha untuk memaksakan senyuman di wajahnya.


Brian yang mengetahui semua ini merasa sangat kesal.


Apa yang diinginkannya hanyalah kehidupan damai yang tidak membosankan. Itu saja. Apakah terlalu berat meminta hal itu?


Tapi melihat situasi ini, hidup damai bagi dirinya yang sudah menjadi bagian dari ras iblis adalah hal yang sangat mustahil.


Oleh karena itu....


"Katakan, jika aku mengambil bagian lain dari Raja Iblis bernama Hecate itu.... Apakah aku akan bertambah kuat?" tanya Brian dengan tatapan yang begitu serius.


"Tentu saja. Tiga tetes darah di tubuh kita adalah buktinya. Jika kau bisa memperoleh lebih banyak lagi, tentu kau akan menjadi jauh lebih kuat. Tunggu dulu, jangan katakan kau...."


Brian pun tersenyum lebar.


Sebelum Cecilia sempat menyelesaikan kalimatnya, Brian telah membulatkan tekadnya.


"Sudah diputuskan. Aku akan mengumpulkan sisa kekuatan itu agar bisa hidup dengan damai tanpa ancaman seperti sebelumnya."


"Kau.... Jika kau melakukannya, tak hanya umat manusia yang akan memburu mu. Tapi juga para pemuja Raja Iblis. Tetes darah yang ku curi saja sudah membuat mereka sangat marah."


"Be-begitu kah?! Tunggu dulu! Kalau begitu rencana barusan sangat berbahaya?!"


Brian terkejut mendengar hal itu. Ia berpikir bahwa sesama ras Iblis akan saling memahami dan tidak menyakiti.


Tapi benar saja, lagipula tujuan Brian dan para pemuja Iblis itu berbeda jauh. Membuat bentrokan antara keduanya tak mungkin terelakkan.


Cecilia yang mendengar ide gila itu, justru merasa tertarik.


"Meski begitu.... Aku suka dengan idemu. Bagi setengah hasil jarahannya denganku, dan kita sepakat." balas Cecilia dengan senyuman yang lebar.


"Tidak! Lupakan ide itu! Aku tak ingin menambah musuh dan...."


"Tujuan pertama! Reruntuhan kota Baltmore di Timur! Raja Iblis pernah bertarung di sana, jadi pasti masih ada sisa-sisa kekuatannya di sana! Ayo!"


Segera setelah melempar tulang ikan dari tangannya, Cecilia segera menarik tangan Brian dan membawanya pergi.


'Sial! Kenapa justru menjadi seperti ini?! Aku hanya ingin hidup damai!'


Dengan penyesalan yang tak terucap dari dalam hatinya, Brian pun terpaksa untuk ikut andil dalam idenya sendiri.


Sebuah perjalanan, untuk mengambil alih tahta yang terkutuk milik Raja Iblis.


Atau lebih tepatnya, sisa kekuatannya.

__ADS_1


__ADS_2