
'Srassshh!!'
Brian menarik pedangnya dengan kuat. Menyipratkan darah dari serigala putih itu si sekelilingnya.
Secara perlahan, Ia mulai berlutut di tengah tumpukan bangkai serigala putih itu. Jumlahnya mencapai puluhan.
'Klaakk! Klaaakk!'
Dengan tubuh yang dipenuhi oleh darah itu, Brian memotong taring serigala putih di sekitarnya. Menggunakannya sebagai barang bukti perburuan mereka.
Sementara itu di kejauhan, Cecilia terlihat duduk dengan santai di atas dahan pohon sambil bernyanyi.
Nyanyiannya yang cukup merdu membuat Brian sama sekali tak mempermasalahkan gadis itu duduk diam tak membantu. Lagipula, sebelumnya Cecilia telah membantu memburu mereka.
Tak ada salahnya untuk mengerjakan hal membosankan seperti mengumpulkan taring ini sendirian.
"Ah! Benar! Brian! Bagaimana jika kita memburu Ogre?! Ku dengar masih ada Ogre yang yang tersisa di hutan dekat Grenary!" teriak Cecilia dengan penuh semangat.
Gadis itu segera melompat turun dari pohon setinggi 5 meter lebih itu. Menapakkan kedua kakinya di tanah subur perbukitan ini.
"Ogre? Apa itu?" tanya Brian singkat sambil terus melanjutkan pekerjaannya.
"Ogre ya Ogre! Mereka memiliki tubuh besar setinggi 1.5 hingga 2 kali manusia! Jika kita beruntung, kita bisa menemukan Ogre berkepala dua!" jelas Cecilia penuh semangat.
Selema beberapa Minggu ini, perburuan keduanya berjalan semakin lancar seiring dengan meningkatnya pengalaman mereka.
Brian yang semakin ahli dalam menggunakan pedang dan memanfaatkan kemampuan fisiknya, begitu pula Cecilia yang semakin lihai dengan busur dan panah nya.
Tak lupa kemampuannya dalam melihat secuil masa depan di hadapan mereka.
"Ditolak, itu terdengar sangat berbahaya." balas Brian.
"Eeeh?! Tapi uangnya...."
Tak lama kemudian, Brian segera berdiri. Mengikat kantung kulit kecil berisi taring serigala putih itu di pinggangnya.
Sebelum menjawab, Brian berfikir untuk sejenak.
Pekerjaan sebagai petualang memang sangat berbahaya dengan upah yang cukup rendah. Tapi sebaliknya, dengan kemampuan mereka berdua, pekerjaan berbahaya ini terasa begitu mudah.
Sama seperti Quest kali ini.
Memburu kawanan serigala putih yang mengganggu peternakan di wilayah Mapleford.
Hadiahnya?
Hanya untuk pekerjaan 2 hari memantau dan mencari keberadaan kawanan serigala itu, serta setengah hari untuk memburu mereka....
Keduanya akan mendapatkan bayaran 1 koin emas dan 30 koin perak. Tentu saja, Adelle akan memotong setengahnya untuk tutup mulut.
__ADS_1
Tapi tetap saja. Itu adalah bayaran yang sangat besar.
Lalu jika lawannya adalah monster semengerikan Ogre....
"Berapa hadiahnya?" tanya Brian singkat.
Seketika senyuman yang sangat lebar menghiasi wajah cantik gadis Elf itu.
Ia tak banyak berbicara, hanya mengangkat 4 jari di tangan kanannya. Mengarahkannya pada wajah Brian.
"Ka-kau bercanda?!"
"Yah, meskipun jika Ogre itu memang terbukti ada. Kita akan mendapatkan 4 koin emas per kepala." balas Cecilia.
"Tunggu apa lagi?! Cepat kembali ke kota dan ambil Quest itu. Ah, benar juga, beli beberapa perlengkapan dari Jareth."
"Siap laksanakan!"
......***......
Setibanya di Kota Mapleford, keduanya dikejutkan oleh keberadaan pasukan dalam jumlah yang sangat banyak.
Dan semuanya mengenakan zirah berjubah berwarna putih dengan lambang naga di punggung mereka. Di bawah lambang naga itu, terlihat lambang yang menunjukkan angka 9.
"La... la... la... Kuggh?!"
Dengan cepat, Brian membungkam mulut Cecilia dan menariknya pergi menjauh.
"Diam dan ikut aku." bisik Brian sembari terus berlari. Menjauhi jalanan utama dan menuju ke arah bukit di dekat Kota itu.
Di balik pepohonan yang cukup rimbun, Brian baru melepaskan Cecilia sembari melihat ke arah kota itu.
'*Sialan! Apa yang terjadi?! Kenapa perintah suci ada di kota ini?! Jangan katakan.... Persembunyian kami terbongkar?! Atau Adelle membuka mulutnya?
Tidak.... Adelle mendapatkan cukup banyak uang dari kami. Membuka rahasia ini justru sangat merugikannya. Lalu.... Kenapa*?' pikir Brian dalam hatinya.
Ia sangat ketakutan. Tubuhnya bahkan gemetar dengan sendirinya ketika mengingat sosok perintah suci.
Sosok yang membuat kedamaian sederhananya di dalam hutan rusak dengan mudahnya.
"Eh? Kenapa ada perintah suci?" tanya Cecilia panik.
"Kau pikir aku tahu? Apapun itu, sebaiknya kita bersembunyi terlebih dahulu untuk beberapa saat."
Dengan menahan lapar, keduanya pun menanti waktu berlalu di atas bukit itu. Persembunyian mereka cukup minim, tapi setidaknya cukup untuk memberikan mereka kesempatan memantau keadaan dari kejauhan.
Hingga akhirnya....
Saat hari telah cukup malam dan bulan telah cukup tinggi, barisan pasukan perintah suci itu meninggalkan kota.
__ADS_1
Barisan pasukan mereka terdiri dari setidaknya 1.000 ksatria yang terlatih. Sedangkan di bagian depan, Brian dapat melihatnya dengan jelas.
Sosok komandan dari perintah suci ke 9 ini, yang tak lain adalah seorang pemuda berambut kecoklatan yang lurus. Rambutnya cukup panjang hingga menutupi kedua telinganya.
Komandan itu memiliki tubuh yang agak pendek, yaitu sekitar 160cm. Sedangkan fisiknya sendiri tak begitu berotot. Justru masih terlihat layaknya bocah berumur 18 tahun pada umumnya.
Berbeda dari Ksatria pasukannya yang berzirah lengkap dan tebal, komandan itu bersama dengan 5 orang di sampingnya hanya mengenakan jubah putih dengan banyak alur hitam menghiasinya.
Tanpa adanya satu lempengan besi sedikitpun yang melindungi tubuhnya.
Brian yang terus melihat sosok itu dari kejauhan dengan kemampuan penglihatannya, berusaha untuk sangat berhati-hati.
Ia teringat atas pengalamannya dulu di dalam hutan.
Dan kali ini, Brian berhasil mengamatinya dalam diam. Tanpa membuat komandan perintah suci itu menyadarinya.
Atau setidaknya....
Itu yang dipikirkannya.
"Tuan Reverie, di bukit sana...." bisik salah seorang pengawalnya yang juga tak mengenakan zirah itu.
"Aku tahu. Biarkan saja. Mereka hanya iblis biasa." balas Komandan itu sembari terus melanjutkan perjalanan mereka. Wajahnya terlihat tetap tenang, tak sedikit pun terkejut atas hal itu.
"Tapi...."
"Tugas utama kita saat ini adalah mencari keberadaan pemuja iblis. Ingat, mereka baru saja memperoleh kembali lengan kiri Hecate. Kalian paham apa artinya itu kan?" jelas Komandan itu tanpa menoleh sedikit pun.
Bahkan tanpa memperlambat langkahnya sama sekali. Membuat Brian yang memperhatikan mereka dari kejauhan sama sekali tak menyadarinya.
Mendengar penjelasan itu, tak ada satu pun pengawalnya yang bisa membalas.
"Jika mereka berhasil menemukan sisa bagian tubuhnya, lengan kanan, jantung, dan kedua kakinya, Hecate akan kembali bangkit.
Atau setidaknya, sepengetahuan ku mereka belum menemukan hal itu. Sekarang, dua iblis yang dipenuhi bau darah serigala, dan kebangkitan Hecate. Mana yang lebih penting?" tanya Komandan bernama Reverie itu.
"Maafkan kami." balas mereka singkat.
Pasukan perintah suci ke sembilan itu pun melanjutkan perjalanan mereka tanpa banyak beristirahat.
Berusaha untuk mencari jejak atau pun informasi dari keberadaan para pemuja iblis.
Lalu memusnahkan sisa tubuh Hecate itu sepenuhnya.
Sementara itu jauh di atas bukit....
"Fuuuh, untung lah mereka segera pergi. Tapi, perintah suci ke sembilan ini tak begitu hebat ya? Bukankah yang dulu langsung menyadari keberadaan kita?" ujar Brian dengan lega.
"Hah! Sudah ku bilang, perintah suci yang paling berbahaya itu adalah yang ke enam!" balas Cecilia dengan bangga.
__ADS_1
Tanpa menyadari kebenarannya.