Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 19 - Orkestra Kematian


__ADS_3

Dengan semangat yang masih membara di dalam tubuh keduanya, Brian dan Cecilia segera berbalik arah dan berlari kembali ke arah desa kecil itu.


Tangan kanan Brian menggenggam erat pedang tuanya. Menyeretnya di atas tanah yang gembur dan berumput itu.


Sedangkan Cecilia sendiri terlihat telah mengangkat busurnya dengan tangan kirinya. Anak panah telah ditarik dengan kuat pada busur itu menggunakan tangan kanannya.


Di jalanan yang dipenuhi oleh api ini, keduanya melaju secepat mungkin. Menghiraukan panasnya api yang ada.


"Graarrr!!"


Beberapa ekor Goblin yang melihat keduanya langsung bersiap untuk menyerang. Tapi berbeda dari sebelumnya....


'Zraaattt!!!'


Hati dan juga pikiran Brian sangat lah tenang. Ia tak memikirkan banyak hal, juga tak meragukan apapun.


Tubuhnya seakan-akan bergerak dengan sendirinya di tengah semua kekacauan ini.


Sedangkan tangannya sendiri, mengayunkan pedang tua itu dengan begitu ringan. Memenggal kepala salah seekor Goblin yang ada di hadapannya.


Tak banyak berbicara, Brian langsung berlari kembali. Menerjang lautan api ini.


Tanpa menyadari bahwa salah seekor Goblin sedang bersiap untuk menyerangnya dari samping. Tapi....


'Jleebbb!!!'


Sebuah anak panah secara tiba-tiba melesat dan mengenai tepat di telinga kanan Goblin itu. Menembus dan membunuhnya seketika.


Bukan tak menyadari keberadaan lawannya, lebih tepatnya Brian menyerahkan pertahanannya pada sosok Elf yang sangat dipercayainya, Cecilia.


'Klaangg!! Zraaatt!! Sraaaahhh!!!'


Satu demi satu, kepala para Goblin yang menghadang Brian terpenggal. Menggelinding di tanah sambil terus mengucurkan darah.


Bersamaan dengan itu pula, anak panah melesat dengan sangat cepat membunuh siapapun yang terlewatkan oleh Brian.


Tak ada satu pun anak panah yang melesat. Semuanya mengenai target dengan sempurna dan membunuh target seketika.


Rentetan anak panah yang menembus tubuh para Goblin itu, bersama dengan suara hantaman antar besi pada pedang Brian menimbulkan suara yang begitu indah di tengah lautan api ini.


Sebuah suara nyaring yang tak beraturan, namun sedikit demi sedikit.... Semuanya mulai terdengar dengan jelas.


Sebuah pembantaian sepihak yang membunuh puluhan Goblin hanya dalam sekejap itu menciptakan sebuah irama indah. Irama yang mempertajam seluruh indera Brian dan juga Cecilia.


Membuat keduanya, semakin fokus dalam pertempuran ini.


Tak ada sepatah kata pun dalam lagu ini. Meski begitu, keduanya bergerak seakan-akan memahami apa yang akan dilakukan partner mereka.


'Sruugg!!!'


Baru sesaat setelah Brian melompat mundur menghindari ayunan pedang salah seekor Goblin, sebuah anak panah telah melesat menembus wajah Goblin itu.


Belum cukup untuk membuat Goblin itu mati, Brian segera kembali melangkah maju sembari mengayunkan pedangnya.


'Zraaattt!!!'


Sebuah tebasan yang mengakhiri bukan hanya penderitaannya, tapi juga penindasan yang mereka lakukan.


Hingga akhirnya, setelah beberapa saat mereka berdua tiba di alun-alun desa.


Di sana puluhan Goblin yang tersisa masih berdiri dengan tenang. Menikmati 'hidangan' mereka tanpa menyadari apa yang baru saja terjadi.


'Sraasshh!'


Brian mengayunkan pedangnya ke udara sekuat tenaga. Menghempaskan darah merah gelap yang menempel di bilah pedang yang telah berkarat itu.


Di sisi lain, Cecilia nampak membuang busurnya. Mengganti senjatanya menjadi sepasang pisau yang dipungutnya dari para Goblin.


Anak panahnya telah habis. Tak mungkin lagi bagi Cecilia untuk menggunakannya.


"Setelah ini, tak ada kata mundur. Kau siap?" tanya Brian dengan tubuh dan wajah yang berlumuran dengan darah para monster yang dibantainya.


Cecilia terlihat memejamkan kedua matanya sesaat sambil menghirup nafas dalam-dalam.


Sembari membuka mata merahnya itu, Ia pun membalas.


"Tentu saja."


"Aku akan tangani yang besar, kau cukup jauhkan yang kecil selama beberapa saat." jelas Brian singkat sebelum segera kembali berlari.


"Dimengerti."


Darah dalam tubuh keduanya mendidih. Begitu pula dengan darah Hecate yang sangat haus akan pembantaian.


Sekalipun saat ini, yang dibantai adalah ras di bawah naungan Hecate itu sendiri.

__ADS_1


Tapi tetap saja, kekuatan dari tiga tetes darah Hecate itu sudah cukup bagi keduanya. Dalam kondisi yang sempurna, ketika keduanya mampu menarik seluruh kekuatan itu keluar....


Goblin bukan lah tandingan mereka sama sekali.


Terlebih lagi Cecilia yang memiliki secuil tanduk sang Raja Iblis di kepalanya. Membuat tak hanya fisiknya menjadi semakin kuat, tapi juga mentalnya.


'Tap!!!'


Keduanya segera berlari melesat ke arah alun-alun itu. Di satu sisi, Brian segera berlari ke arah Goblin abnormal dengan tubuh yang lebih besar dari yang lainnya itu.


Sedangkan di sisi lain, Cecilia mengambil ke arah samping. Dari arah dimana jumlah Goblin yang ada paling sedikit.


'Sraatt! Sraatt! Sraatt!'


Dengan tubuhnya yang ramping serta kemampuan fisiknya yang tinggi, Cecilia mampu membuat gerakan yang rumit sekaligus cepat.


Ia melompat dan memutar tubuhnya beberapa kali di udara, menggorok leher para Goblin di dekatnya dengan menggunakan dua pisau di tangannya.


Tanpa sempat menyadari apa yang baru saja terjadi, para Goblin yang masih asik menikmati hidangan mereka itu tak mampu untuk melawan balik.


Memberikan kesempatan yang begitu besar bagi Cecilia untuk membantai mereka semua.


Di sisi lain....


'Klaaangg!!!'


Ayunan pedang tua itu mengarah tepat ke arah kepala Goblin besar itu. Tapi reaksinya jauh lebih cepat dibandingkan dengan Goblin yang lain.


Dengan sigap, Ia mengangkat gada miliknya dan menahan tebasan dari Brian.


"Grrr.... Manusia bodoh...."


Tak membalas perkataan monster itu, Brian segera memutar tubuhnya. Memberikan tendangan yang kuat ke arah dada lawannya.


'Braaakkk!!!'


Tendangan itu cukup kuat hingga mampu mendorong lawannya hingga beberapa meter ke belakang.


Bahkan Brian sendiri tak menyangka kemampuan fisiknya akan setinggi itu.


Dari kejauhan, terlihat beberapa ekor Goblin mulai berlari ke arah Brian berada. Bermaksud untuk membantu pemimpin mereka.


Tapi di sisi lain, kali ini para warga desa yang menjadi sandera telah ditinggalkan begitu saja tanpa adanya pengawasan.


Brian secara diam-diam melemparkan sebuah pisau ke arah gadis desa di belakangnya. Mengisyaratkan pada gadis itu untuk menggunakan pisau tersebut demi membebaskan diri.


"Grrr.... Aku meremehkan mu, manusia. Kalau seperti ini...."


Goblin itu mulai meregangkan otot-otot di tubuhnya. Seakan-akan bersiap untuk melakukan serangan yang cepat.


Dan benar saja, dalam sekejap....


'Duaaarr!! Braaakk!!!'


Goblin itu melesat dengan sangat cepat ke arah Brian. Mengayunkan gada berpaku itu ke arah kepalanya dengan niat untuk membunuh yang sangat kuat.


'Swuusshh!!!'


Menyadari gerakan yang sangat jelas itu, Brian segera menundukkan badannya. Memutar kakinya dengan cepat untuk menjegal jatuh Goblin itu.


'Bruuukk!!!'


Tanpa persiapan dan pijakan yang kuat, Goblin itu segera terlempar ke tanah. Memberikan Brian kesempatan untuk menghadapi beberapa ekor Goblin lain yang menghampirinya.


'Zraaatt!! Sraaaasshh!!'


Tiap ayunan pedang tua itu mampu menebas tubuh Goblin yang kecil itu dengan mudahnya. Jika tak mati, mereka akan menerima luka yang parah.


Sesekali, Brian akan kembali mengalihkan perhatiannya ke arah pimpinan Goblin itu. Memastikan bahwa pimpinan itu masih terfokus padanya.


'Aku masih harus menahannya, setidaknya sampai Cecilia telah membantai cukup banyak dari mereka.'


Adrenalin yang terus terpompa di dalam tubuhnya membuat Brian sama sekali tak merasakan kelelahan ataupun rasa sakit.


Apa yang ada dalam pikirannya hanya satu. Yaitu memburu seluruh monster sialan ini dan menyelamatkan semuanya.


Itu saja.


Tapi....


'Braaakk!!!'


Tanpa disangka-sangka olehnya, saat Brian mengalihkan perhatiannya sesaat untuk menghadapi Goblin lain yang mengepungnya....


Ayunan gada berpaku itu mengenai tepat di lengan kirinya. Menghempaskan tubuhnya ke udara selama beberapa saat sebelum terjatuh kembali ke tanah.

__ADS_1


'Klaaangg!!'


Pedang di tangan kanan Brian pun terlepas dan terjatuh ke tanah.


'Bruuukkk!!! Sruuuggg!!!'


"Kugghh!!!"


Dengan segera, Brian memuntahkan darah dari mulutnya akibat serangan itu.


Pacuan adrenalin yang ada di tubuhnya juga mulai mereda. Membuatnya mulai merasakan rasa sakit yang sangat ekstrim di lengan kirinya.


Saat Ia menoleh, Ia melihat lengan kirinya yang telah remuk tak karuan dengan darah yang mengucur deras.


"Sialan.... Padahal sedikit lagi...." ucapnya dengan tubuh yang tak lagi mampu bergerak. Seluruh kelelahan dan stress pada ototnya mulai terasa.


Kedua kakinya mulai keram. Begitu juga lengan kanannya yang sedari tadi mengayunkan pedang tanpa henti.


Secara perlahan sang pemimpin Goblin itu datang menghampiri sosok Brian yang telah tergeletak tak berdaya.


Mengangkat tubuhnya dengan mencengkeram lehernya. Kukunya yang tajam menancap dan melukai leher Brian cukup dalam.


Tak ada lagi yang bisa dilakukannya dalam situasi seperti ini. Tak ada lagi harapan.


Apakah sosok misterius itu akan kembali menyelamatkannya?


Tidak mungkin. Bahkan Ia masih ingat dengan jelas jika kesempatan itu hanya ada satu kali saja.


Pada akhirnya, Brian hanya bisa terdiam. Dengan mulut dan leher yang terus mengucurkan darah serta lengan kirinya yang remuk tak karuan, Ia hanya bisa menatap ke arah mata kehijauan Goblin itu.


"Manusia.... Kau sekarang paham perbedaan kekuatan kita?" tanya Goblin itu.


Sekalipun ingin menjawab, Brian sama sekali tak bisa melakukannya. Lagipula cengkeram pemimpin Goblin itu sangat kuat sekalipun memiliki tubuh yang sedikit lebih pendek dari Brian.


"Bunuh dia." lanjut pemimpin Goblin itu sambil melempar tubuh Brian ke tanah. Ia bermaksud untuk kembali berpesta setelah menyelesaikan masalah ini.


Tapi....


"Hmm?"


Pimpinan Goblin itu kebingungan karena tak ada satu ekor Goblin pun yang menjawab perintahnya.


Dan saat Ia baru saja menolehkan kepalanya beberapa kali untuk memeriksa keadaan....


Sepasang pisau telah mengarah tepat ke wajahnya. Tanpa adanya suara, tanpa adanya peringatan, Ia datang tiba-tiba.


'Jleebb!!!'


Cecilia menancapkan kedua pisaunya dengan kuat ke arah kedua mata Goblin itu.


'Swuuushhh!!!'


Masih hendak melawan, Goblin itu mengayunkan gada berpakunya. Dimana Cecilia hanya perlu melompat ke belakang untuk menghindar.


Bersamaan dengan itu Cecilia segera mengambil pedang tua yang dijatuhkan oleh Brian barusan. Dan dengan cepat....


'Staabbb!!!'


Cecilia berlari dan menghunuskan pedang tua itu tepat ke arah jantung pimpinan Goblin itu. Tanpa mampu melihat, Ia sangat kesulitan memperkirakan keberadaan Cecilia yang mampu bergerak hampir tanpa suara itu.


"Nampaknya kau yang mati." ucap Cecilia singkat sambil memutar pedang di genggamannya itu. Memastikan agar jantung Goblin itu hancur sepenuhnya sebelum menariknya kembali.


'Srruuggg!!!'


Secara perlahan, tubuh Goblin itu mulai kehilangan kekuatannya. Tubuhnya pun langsung ambruk ke arah Cecilia berdiri, dimana Cecilia hanya melangkah ke samping untuk menghindar.


'Braaaakk!!!'


Akhirnya....


Keheningan pun kembali menyelimuti desa ini. Selain suara dari kobaran api, tak ada suara yang lainnya lagi.


Di kejauhan Cecilia dapat melihat para penduduk desa yang masih membebaskan diri mereka. Satu per satu, mereka mulai berlari meninggalkan lautan api yang kini bersimbah darah ini.


Kini perhatiannya beralih ke sosok seorang pria muda dengan rambut hitam yang sederhana. Ia memandang sosok pria itu dengan tatapan yang seakan dipenuhi perasaan bangga.


Senyuman terlukis di wajah Cecilia di saat Ia berjalan mendekat ke arah Brian.


"Kita berhasil, kau tahu? Tenang saja, aku akan segera merawatmu." ucap Cecilia yang langsung merobek kain pakaiannya sendiri. Menggunakannya sebagai kain untuk menutup dan menghentikan pendarahan di tubuh Brian.


Setelah semua lukanya mendapatkan penanganan pertama, Cecilia berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat tubuh Brian yang telah tergeletak tak berdaya itu.


"Hnggghh!!!"


Beberapa kali percobaan diperlukan baginya untuk mengangkat tubuh pria dewasa itu. Dan akhirnya, Cecilia berhasil. Ia mengangkat tubuh Brian dan membopongnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Membawanya ke tempat yang jauh lebih aman dibandingkan di pusat bencana ini.


__ADS_2