Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 49 - Langkah Berikutnya


__ADS_3

Di dalam ruang tahta yang megah ini, dua orang komandan perintah suci berlutut di hadapan sang Kaisar.


Wajah keduanya hanya mampu menatap lantai, tanpa sedikit pun adanya keberanian menatap Kaisar Starrus.


"Apa yang terjadi di sana?" tanya Kaisar Starrus penasaran. Ia tak pernah melihat sosok kedua Komandan perintah suci itu begitu ketakutan.


Bahkan ketika menghadapi invasi dari pemimpin Frost Elf sebelumnya, tak ada sedikit pun yang menunjukkan ekspresi ketakutan sedalam ini.


"Yang Mulia.... Adakah di wilayah kekaisaran ini seorang penyihir yang lebih berbakat daripada Cassandra?" tanya Greyhart dengan suara yang sedikit gemetar.


"Lebih berbakat? Tidak. Seharusnya tak ada. Cassandra telah diadopsi dan dilatih menara sihir sejak kecil oleh para penyihir agung. Jadi seharusnya tak ada seorang pun yang lebih baik darinya di kekaisaran ini." balas sang Kaisar dengan penuh percaya diri.


Kaisar Starrus tahu dengan baik bagaimana Cassandra tumbuh dan dewasa. Bagaimana pun, mereka juga adalah sahabat yang dilatih bersama di menara sihir.


Dan sepanjang kepemimpinannya, tak ada seorang pun yang menunjukkan bakat sihir melebihi Cassandra.


Hal itu juga yang membuat gadis itu diadopsi oleh menara sihir, karena bakatnya yang mengerikan.


Tapi pertanyaan dari Greyhart benar-benar membuat Kaisar Starrus penasaran.


"Katakan, apakah yang menjadi lawanmu itu penyihir yang lebih baik daripadanya?" tanya Kaisar Starrus kembali sambil menatap ke arah Cassandra.


"Aku.... Aku tak tahu apakah lebih baik atau tidak tapi, Ia bisa meniru sihir original milik Cassandra dalam beberapa menit saja."


Mendengar jawaban itu, kedua mata Starrus langsung terbuka lebar. Ratusan asumsi mulai mengalir di dalam pikirannya.


Dan dalam sekejap, ketakutan mulai tumbuh dalam diri Kaisar itu.


"Jangan katakan...."


"Yang Mulia, maafkan aku. Sosok misterius itu berhasil meniru sihir teleportasi milikku."


Ketakutan Kaisar Starrus terbukti nyata.


Sihir yang menjadi ujung tombak bagi Kekaisaran Luvelia dalam membasmi para iblis itu, kini berbalik arah. Menjadi sebuah senjata untuk melawan umat manusia itu sendiri.


Dengan kemampuan dan peluang yang hampir tak terbatas, sihir teleportasi itu akan memberikan keunggulan yang sangat besar bagi bangsa Iblis dalam melawan manusia.


Tapi....


Semua itu masih dalam asumsi sang Kaisar saja. Hingga Greyhart memberikan penjelasan berikutnya.


"Masalahnya, salah satu dari mereka bukan lah iblis. Tapi manusia."


'Deg! Deg!'


Jantung Starrus mulai berdetak dengan kencang. Ketakutan tumbuh semakin cepat dalam dirinya. Kilas balik pun mulai terlintas dalam kepalanya.


Mengingatkannya pada kenangan yang telah lama dilupakannya.


"Manusia?! Seorang Pria?!"


Pertanyaan Kaisar Starrus membuat Greyhart mengangkat kepalanya.


'Hmm? Apakah Kaisar mengetahui sesuatu?'


Mengesampingkan kecurigaannya, Greyhart pun membalas sejujurnya.


"Bukan, seorang wanita. Bertubuh agak ramping tapi memiliki penampilan menyerupai iblis. Meski begitu, aku sangat yakin dia adalah manusia. Tak ada sedikitpun kekuatan iblis di dalam tubuhnya." jelas Greyhart.


"Hah...."


Kaisar Starrus terlihat bernafas lega setelah mendengar jawaban itu.

__ADS_1


Tapi sikapnya membuat Cassandra dan juga Greyhart semakin yakin. Bahwa sang Kaisar mungkin mengetahui sesuatu tentang semua ini.


'Jadi.... Bukan kau ya?' tanya Kaisar Starrus dalam hatinya. Dalam pikirannya, Ia teringat atas suatu kenalan di masa lalu.


Mengenai seorang pemuda berbakat yang dijumpainya di akademi.


......***......


...Kota Mapleford...


Matahari telah lama terbenam, dan kini kelompok Brian telah beristirahat dalam sebuah kamar dengan 4 ranjang itu.


Brian terlihat sedang membereskan perlengkapannya. Meletakkan zirah kulitnya agar bisa dibersihkan dan dikeringkan esok hari.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Cecilia tanpa begitu banyak perduli atas keberadaan Brian.


Berbeda dengan Hella yang harus turun ke bawah untuk mengganti pakaiannya.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Cecilia sambil merebahkan badannya di kasur empuk itu.


"Aarrggh! Aku sangat lelah. Cecilia, bagaimana jika kita pensiun saja?" tanya Brian.


"Tak masalah bagiku. Jadi di wilayah mana kita akan membeli tanah?"


"Eh?! Pensiun?! Tunggu! Setelah semua yang ku katakan barusan kalian akan pensiun?!" tanya Hella panik.


Sebelumnya, Hella telah rela mengesampingkan kepercayaannya demi kelompok ini. Tapi tak berselang lama, kelompok itu sendiri malah hendak pensiun.


Mengakhiri petualangan mereka.


"Ku pikir aku akan bertani. Bisa kah kau beternak?" tanya Brian menghiraukan pertanyaan Hella. Ia juga mulai merebahkan badannya pada ranjangnya.


"Jika aku bisa berburu, mungkin aku juga bisa beternak kan?"


Hella yang merasa diasingkan pada pembicaraan itu akhirnya bangkit dari duduknya. Melangkah menuju ke arah pintu kamar ini dengan lemas.


Hanya dengan kesedihan dalam hatinya, Hella mulai menarik pintu kayu itu. Berniat untuk melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


Sebelum akhirnya....


"Aaah, itu pasti akan menjadi kehidupan yang indah. Jika saja tak ada iblis yang mengganggu."


"Setuju. Sebelum itu, mungkin kita sebaiknya memburu lebih banyak iblis lagi? Hella, bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan setelah kita pensiun?"


"Hella? Kau mau kemana? Cari makan?"


Langkah kaki Hella segera terhenti setelah mendengar perkataan itu.


Petualangan yang dinantikannya, bersama dengan dua sosok yang cukup kuat itu, nampaknya masih berlanjut.


Sambil mengusap air mata di wajahnya, Hella pun membalas.


"Aku.... Aku ingin belajar memancing...."


......***......


Keesokan harinya di Guild....


"Kalian selalu mengambil Quest yang berbahaya ya?" tanya Adelle sebagai seorang pegawai Guild.


"Apapun asal hadiahnya besar." balas Cecilia.


"Tidak, sebenarnya kami ingin menjelajahi reruntuhan di sana. Sekalian mengambil Quest ini." balas Brian.

__ADS_1


Di selembaran kertas kecoklatan itu, terlihat sketsa pegunungan tinggi dengan hutan yang lebat.


Tulisan hitam tebal menegaskan misi apa yang mereka ambil.


...[Ksatria Kekaisaran membutuhkan bantuan Anda dalam memburu sisa iblis di wilayah Frostbite! Misi resmi dari Kekaisaran! Hadiah : 100 koin emas jika kalian bisa memburu setidaknya 300 iblis jenis apapun. Bukti hasil buruan wajib dilampirkan!]...


Sebuah Quest resmi dari Kekaisaran itu sendiri. Hadiahnya memang tak main-main. Tapi begitu juga dengan tugas yang dibebankan.


"Di-dia benar. Bukankah Quest ini terlalu berbahaya? Mengingat pimpinan Frost Elf baru saja dikalahkan?" tanya Hella.


Perkataan Hella memang ada benarnya.


"Tak semua Frost Elf ikut serta dalam pertempuran sebelumnya. Pasti masih ada yang tertinggal di wilayah Frostbite.


Dan mengetahui Raja mereka telah dikalahkan, kemungkinan besar mereka akan sangat agresif terhadap manusia. Kalian yakin?" tanya Adelle sekali lagi dengan tatapan yang serius.


Brian yang mendengar perkataan pegawai pemungut pajak itu sedikit keheranan. Ia mulai menyipitkan matanya sambil bertanya. Tentunya dengan berbisik.


"Hmm? Sejak kapan kau peduli hal lain selain uang yang kami hasilkan?"


"Bodoh, jika kalian mati aku akan kehilangan sumber penghasilan tambahan ku bukan?" balas Adelle.


"Ah, benar juga."


"Apa yang kau tunggu? Cepat berikan cap dan biarkan kami berangkat! Aku tak sabar membantai sebanyak mungkin iblis di sana!" ucap Cecilia dengan senyuman yang lebar.


Ia bahkan membuat pose dengan mengepalkan tangan kanannya. Tak hanya itu, Ia juga memamerkan otot tangan kanannya yang tak begitu terlihat itu.


"Hah.... Berhati-hati lah."


'Klak!'


Adelle menyerahkan salinan dari lembaran kertas itu setelah memberikannya cap stempel. Dimana Cecilia meraihnya dengan sangat cepat.


"Saatnya berburu!"


Dengan kertas itu di tangannya, Cecilia segera melangkah pergi meninggalkan Guild itu.


"Tu-tunggu! Cecilia! Kita harus mengamankan kertas itu! Biarkan aku yang membawanya!" teriak Hella berusaha mengejar langkah kaki gadis Elf itu.


Meninggalkan Brian sendirian yang masih ada di hadapan meja Adelle.


"Dasar.... Setidaknya tunggu aku dan...."


Tanpa di sangka, Adelle menghentikan langkah Brian dengan memegang tangannya.


"Hmm? Ada apa?"


"Tunggu sebentar." balas Adelle.


Ia terlihat mengambil selembar kertas kosong dan menggambar sesuatu di atasnya. Gambarnya menyerupai sebuah peta sederhana dengan penanda alam seperti gunung dan lembah.


Setelah beberapa saat, Adelle menyerahkan peta sederhana itu pada Brian.


"Diantara lembah gunung tertinggi ini, terdapat sebuah kastil es yang dihuni oleh para Frost Elf. Kau takkan melewatkannya karena gunung itu adalah yang tertinggi di sana.


Saranku, jauhi lah wilayah itu. Akan sangat berbahaya jika kau terlalu dekat dengan wilayah Frost Elf." jelas Adelle panjang lebar.


Brian mendengarkan semuanya dengan seksama tanpa melewatkan sedikit pun detail di dalamnya.


"Terimakasih. Aku tak menyangka kau akan peduli pada kami." balas Brian dengan senyuman yang ramah.


"Hah, aku hanya peduli pada sumber penghasil uangku."

__ADS_1


Dengan berbekal pengetahuan itu, Brian pun berjalan menyusul kedua rekannya. Memulai petualangan barunya di wilayah yang tertutupi oleh salju abadi.


__ADS_2